"Makan yang banyak biar gemuk badanmu, ya Sapi," kata Radjini pada satu kucing berwarna hitam putih berkelamin jantan yang sedang menikmati nasi bercampur ikan di sebelahnya.
"Kamu ngapain di sini?" Windy datang membawa sepiring cireng lengkap dengan sambal kecap.
"Aku tunggu Bang Tigor."
"Ada perlu apa lagi? Bukannya surat lamaran sudah dikumpulkan."
"Iya, tapi suruh kirim ulang. Kemarin banyak surat lamaran yang dibuang. Cak Imin kemarin dapat banyak kertas dari Resort."
"Kertas?" Windy memasang wajah tak mengerti apa hubungannya Resort baru dan kertas-kertas yang didapat Cak Imin yang memang pekerjaannya adalah pengepul kertas bekas.
"Itu kertas lamaran yang sudah tidak terpakai."
"Oh, jadi Cak Imin ambil kertas-kertas itu?"
"Iya. Makanya kata Bang Tigor mau kirim link, biar kesempatannya kerja di sana lebih cepat. Aku tunggu dari tadi nggak ada Kang Kurir yang datang. Padahal katanya hari ini."
"Owalah... link? Kalau link ya nggak pake kurir, bestie. Hapemu mana?"
"Ada di kamar."
"Tunggu ya."
Windy lantas masuk ke kamar Radjini dan mengambil ponsel di atas nakas.
"Ya ampun, Ini. Ini batre hape sisa 3% kenapa nggak dicolokin." Windy menunjukkan ponsel dengan batre sekarat itu sebelum kemudian mengisi dayanya di dekat Radjini duduk.
"Aku 'kan nggak pake. Masa iya habis batrenya?"
"Ya iya lah. Kecuali kalau kamu matikan."
"Tapi kenapa masih perlu begini ya? Bukannya Bang Tigor itu agency. Seharusnya tinggal masukkan orang saja 'kan? Apa iya nanti kamu juga masih diwawancara HRD, kok ribet sih?"
Radjini mengedikkan bahunya. "Nggak tahu. Pokoknya asal Ini kerja aja, udah."
"Ye, nggak boleh gitu juga tauk! Harus tahu nanti siapa yang gaji kamu, terus kerjaannya apa aja, di devisi apa dan lain-lain."
"Katanya sudah diurus Bang Tigor. KTP Ini juga baru. Bapak yang buatkan. Ini juga punya buku tabungan. Windy mau lihat?"
Wajah Radjini sangat berseri-seri saat mendapatkan KTP baru dan juga sebuah buku tabungan. Ia merasa hidupnya sudah kembali normal walau merasa ada yang hilang. Tetapi ia tak mau merasa sedih. Apapun yang terjadi saat ini ia harus bisa bersyukur. Masih ada orang-orang baik hati yang mau menerimanya.
"Nanti aja aku lihat kalau tabunganmu sudah banyak."
"Sudah kok, ada empat juta. Katanya Mas Woko bisa buat beli burung warna-warni, yang ada di kontes-kontes itu."
"Iya lah. Itu 'kan uang yang aku kasih. Jangan gampang percaya sama Woko. Dia mah, burung aja diurusin. Ingat pesan Bapak jangan gampang percaya sama orang."
"Tapi kenapa, Mas Woko bohong ya? Harga burungnya lebih mahal pasti ya. Soalnya 'kan juara-juara gitu? Bukannya Mas Woko baik? Bapak saja sering suruh Mas Woko jagain Ini. 'Woko titip Ini sebentar ya. Woko jaga Ini jangan sampai di dapur sendirian.' Hi hi hi, memangnya Ini anak-anak."
Windy menanggapi dengan memutar bola matanya malas dan menepuk dahi yang kemudian tangannya digenggam oleh Radjini yang menggeleng sedih.
"Jangan ditepuk dahinya nanti sakit."
"Kamu 'kan memang polos seperti anak-anak, ngegemesin banget," seloroh Willy yang baru datang.
"Aku sampai nggak bisa berword-word kalau dia lagi mode polos begini. Pingin tak cubit pipi gempilnya itu, gemes aku!" ujar Windy.
Radjini menangkup kedua sisi wajahnya. "Jangan cubit, sakit. Ini haus. Ini ambil minum dulu ya," ujarnya mencari celah untuk kabur supaya tidak dicubit oleh Windy.
"Ambilkan untuk kami juga ya. Minta Mbok Dah, jangan ambil sendiri nanti Bapak marah," kata Windy.
"Siap, siap."
"Perasaanku nggak enak membiarkan dia kerja di sana," ujar Willy begitu sosok Radjini sudah tidak terlihat.
"Positif thinking, Mas. Nanti kalau dia nggak betah. Pasti juga akan keluar," ujar Windy seraya mencari pesan dari Tigor di ponsel Radjini.
"Baca apa kamu?"
"Aku lagi cari pesan dari Bang Tigor. Ini disuruh kirim surat lamaran ulang."
"Memang kenapa dengan surat lamaran yang lama?"
"Entah. Ini disuruh kirim via google form."
"Oh iya sih lagian mana bisa, keluar seenak jidat. Tempat Tigor itu 'kan agency. Pasti ada kontrak kerjanya sekian bulan, begitu."
"Kalau yang aku dengar dari Kak Tiur. Minimal tiga bulan sih kontraknya. Semoga aja dia nggak menyusahkan dengan kepolosannya."
"Ya kita berharap yang terbaik saja."
*
"Resort baru sudah mau dibuka. Kemarin Ando bilang kalau sudah banyak pelamar dari sekitar resort. Beberapa perwakilan dari Kelurahan sudah datang membawakan dokumen lamaran."
"Bukankah sistem lamaran sudah memakai daring?" tanya Agha yang kini sedang berada di sebuah restoran Sundanese bersama dengan Devan sepupunya.
"Sudah. Tapi ya tahu sendiri sekelas tukang kebun dan lainnya masih suka dengan cara konvensional."
Agha mengangguk. "Siapkan orang yang mewawancara mereka. Tahap seleksi tetap diadakan."
"Sudah beres. Untuk OG dan OB juga kita pakai jasa. Bukan dari warga sekitar."
"OG dan OB di kantor maksudmu 'kan?"
"Iya, dan aku menemukan sesuatu yang menarik. Kamu pasti suka," ujar Devan dengan seringainya.
"Apa?"
Devan membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat.
"Apa ini?"
"Lihat saja. Aku bekerja lebih cepat daripada detektif bayaranmu."
Agha penasaran dan seketika membukanya. Ia pun tertegun saat melihat pas foto dan print KTP berwarna yang ada di sana.
"Jini," ujarnya dengan nada ragu.
"Iya." Devan mengangguk semangat.
"Dia melamar di resort?"
Kembali Devan mengangguk.
"Bagaimana bisa?"
"Lewat agency itu. Aku mencuri berkasnya."
"Kamu apa?!" tanya Agha kaget.
"Seperti yang aku bilang. Kamu lupa kalau aku yang memilih langsung agency tenaga kerja yang akan bekerja sama dengan kita. Orang yang ada di dalam dokumen yang kamu kirim ke Shandi itu adalah pemilik salah satu agency. Aku sengaja ke kantornya dan kebetulan melihat dokumen itu. Sepertinya karyawannya agak ceroboh membuka dokumen seseorang dan meninggalkan begitu saja di atas meja."
"Justru aku yang tidak habis pikir. Bagaimana bisa kamu yang ambil? Bagaimana kalau tertangkap CCTV?"
Agha kembali menunduk memperhatikan foto Radjini. Tiga tahun berlalu tetapi wajah dalam foto itu tidak berubah hanya sorot matanya yang sedikit terlihat serius.
"Ah, gampang kalau soal itu. Yang terpenting adalah aku sudah lebih dulu menemukannya."
"Apa maksudmu?"
"Kamu tahu maksudku. Kamu akan lepaskan dia begitu kalian bertemu 'kan? Jadi aku cepat-cepat segera untuk mempertemukan kalian. Supaya kalian segera mengakhiri semuanya."
Agha mendengkus jengah, masih berusaha meredam gejolak amarah. Apapun yang terjadi mereka sedang berada di tempat umum walau sebetulnya kepalan tinjunya sangat haus darah saat ini. Ingin rasanya meninju hidung mancung Devan.
Devan adalah satu dari tiga laki-laki yang tidak pernah setuju ia menikahi Radjini sejak awal. Terlebih karena mereka mengklaim bahwa sudah lebih dulu menyukai istrinya tersebut. Tetapi Agha yang memenangkannya. Bagaimana tidak menang, jelas Agha punya cara jitu agar Radjini menuruti keinginannya. Radjini yang baik hati dan polos yang kemudian berubah menjadi perempuan tidak berperasaan.
"Aku sudah bilang sejak dulu bukan, jika kamu tidak bisa membahagiakannya lepaskan dia," ujar Devan seraya bangkit dan meninggalkan meja. "Aku serius, kalau-kalau kamu lupa," tambahnya sebelum benar-benar berlalu.
Tbc