Sea - 17

2056 Words
 Kia terbangun. Ia merasakan kantung kemihnya yang penuh. Dilihatnya jam dinding yang berada di tembok seraya menyipitkan matanya. Pukul 5 pagi ternyata. Wanita itu pun langsung mengikat rambutnya dengan cepat dan memakai kerudungnya. Sudah waktunya ia untuk memasak sarapan. Kia berdiri dari kasur dan menatap sejenak suaminya yang masih tertidur. Ia pun langsung berjalan keluar dari kamarnya. Menutup pintunya kembali dengan pelan, tiba-tiba saja indra penciumannya mencium bau-bau masakan. Kia mengernyitkan dahinya, lalu mendengar keributan yang berasal dari dapur. Siapa yang berada di dapur? Karena panik, takut itu adalah orang jahat atau maling, Kia pun segera berjalan cepat menuju dapur. Dan saat sampai ... ia melihat seorang gadsi tengah sibuk memotong sesuatu seraya mengecek wajan penggorengan yang berada di atas kompor yang menyala. “Jinan?” panggilnya. Gadis itu pun menoleh dan tersenyum melihat kedatangannya. “Kak Kia udah bangun,” ucapnya. Kia langsung berjalan mendekati Jinan. Ia berdiri di samping gadis itu dan memperhatikan kegiatan yang tengah dilakukan olehnya. “Kamu masak?” tanyanya. Jinan mengangguk dengan antusias. “Iya, aku masak, Kak ... mudah-mudahan hasilnya enak seperti yang diajarkan Kak Kia,” jawabnya. Kia tersenyum melihatnya. “Kenapa nggak bangunin Kakak? Kan bisa minta bantuan sama Kakak ... nggak usah ngerjain sendiri,” ujarnya. Jinan yang selesai memotong sayuran, langsung memasukkannya ke dalam sebuah mangkok besar. “Nggak apa-apa, Kak ... lagian juga aku emang pengen masak sendiri,” jawab Jinan dengan lembut. “Sebentar Kak, aku mau nyuci sayurannya dulu.” Setelah mendapat anggukan dari Kia, Jinan pun berjalan menuju kamar mandi. Ia mencuci sayuran yang sudah dipotong dalam mangkoks besar itu dengan bersih. Setelehnya, ia pun kembali ke dapur. Dilihatnya Kak Kia yang sedang membalikkan daging ayam di penggorengan. “Kak ... aku mau masak sendiri ... jadi, Kak Kia lebih baik kembali tidur aja ... nanti aku bangunin kalau masakannya udah siap!” Jinan menatap Kak Kia dengan senyumannya. Ia berharap Kia bisa mengerti dan membiarkannya memasak sendiri. Karena ia ingin melihat kemampuannya dalam memasak sampai mana dan seberapa enak masakannya nanti. Ah ... ia jadi tak sabar untuk segera menyicipinya ketika sudah matang. Kak Kia langsung menatapnya sambil menyipitkan mata. “Beneran? Kamu nggak apa-apa masak sendirian?” tanyanya lagi. Jinan mengangguk yakin. “Iya ... percaya sama aku, Kak!” Lalu, Kak Kia pun mengangguk. “Ya sudah ... kalau sudah matang bilang ya! Kakak nggak sabar mau nyobain ... pasti enak banget!” ucapnya. Jinan pun mengangguk senang. “Kalau gitu, Kakak mau wudhu dulu ... belum solat subuh. Kamu udah solat?” “Udah, Kak,” jawab Jinan cepat. “Alhamdulillah, ya sudah ... hati-hati memasaknya. Kakak tinggal dulu.” Setelah itu, Kak Kia pun pergi dari dapur. Jinan pun kembali fokus kepada masakannya. Ia mulai memotong lagi rempah-rempah dapur seperti cabai, bawang merah, bawang putih dan lain-lain. Setelah itu, ia menyiapkan wajan di atas kompor yang kosong. Ia menyalakan apinya, lalu memasukkan sedikit minyal. Ia pun menyampurkan yang tadi telah ia potong ke dalamnya dan mulai mengaduknya hingga tercium wangi sedap. Setelah dirasa pas, Jinan memasukkan sayuran yang sudah dicuci tadi ke dalamnya. Ia tersenyum senang seraya mengaduk-ngaduk masakannya. Tak lupa ia menatap wajan sebelahnya yang tengah menggoreng ayam. Salah satu tangan Jinan yang menganggur langsung membalikkan ayam di wajan sebelah. Ternyata ... memasak itu cukup merepotkan apalagi jika dilakukan sendirian seperti ini. Waktu belajar memasak bersama Kak Kia ... Jinan tak banyak membantu hanya melihat prosesnya saja.  Lalu, ia terbayang wajah Randu ketika menyicipi makanannya. Wajah pria itu sumringah dengan senyuman manisnya. Dan ia ... memuji masakannya. Jinan jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. Ia tak sabar masakannya dicicipi oleh pria itu. “Sedang apa?” Hampir saja tangan Jinan menyenggol wajan panas di sebelahnya. Ia terkejut saat mendengar suara yang sangat ia kenali terdengar tiba-tiba begitu saja. Mana tadi dia sempat melamun. Jinan menoleh dan mendapati pria yang tadi ia bayangkan sudah berdiri di belakangnya seraya menatapnya dengan intens. Jinan menyiapkan jantungnya. Dari jarak sedekat ini, selalu saja ia merasa jantungnya tak pernah berdetak dengan normal. “Kamu nggak punya mata? Aku sedang apa pasti kamu melihatnya sekarang,” Jinan berusaha berucap senormal mungkin, walaupun jantung dan hatinya bereaksi tak normal. Gadis itu merasakan bahwa pria itu berjalan mendekatinya. Jinan menahan napasnya saat merasakan bagian punggungnya sudah berjarak sekitar 2 senti saja dari tubuh pria itu. Tangannya pun yang sedang mengoseng sayur langsung gemetar. Jarak mereka sangat dekat, bahkan rambut Jinan sudah menyentuh handuk yang berada di pundak pria itu. “Oh ... sedang memasak rupanya,” ucap pria itu. “Wanginya sangat sedap ... aku harap rasanya pun tak mengecewakan,” lanjutnya. Jinan menoleh dan wajahnya langsung menubruk dagu pria itu. Gadis itu pun meringis memegangi keningnya. “Aduh ... kamu munduran dikit, Randu ... jadi kena kan!”  Randu terkekeh pelan. Pria itu pun memundurkan tubuhnya seraya mengelus dagunya yang ditumbuhi jambang, ia pun merasakan sedikit sakit di dagunya saat bertubrukan dengan kening Jinan. “Maaf ... saya mau mandi dulu, saat selesai mandi, semoga makanannya sudah selesai,” ucapnya. Lalu, pria itu pun pergi dari dapur dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di sebelahnya.  Jinan menatap tubuh pria itu yang sudah masuk sepenuhnya ke dalam kamar mandi. Langsung saja Jinan menghela napasnya dalam seraya memegang da-danya dan mengelusnya pelan. Ia tak percaya efek Randu bisa sampai membuatnya seperti ini. Ini seperti bukan dirinya saja. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Jinan melirikkan matanya dan melihat Randu sedang keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah masakannya. Ia menghela napasnya pelan, untung saja pria itu sudah memakai bajunya ... jika belum mungkin saja dirinya melihat lagi da-da telanjang milik Randu seperti saat itu. “Masih belum selesai?” tanyanya. Jinan menoleh dan menggeleng. “Belum.” “Hm ... ya sudah.” Randu berbalik ingin pergi, namun tiba-tiba saja suara Jinan membuatnya menghentikan langkahnya. “Kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah mandi begini?” tanya Jinan. Randu tersenyum kecil. “Nggak ... cuma gerah aja makanya mandi,” jawabnya. “Oh ...” Jinan menganggukan kepalanya. Randu mengernyitkan dahinya sambil menatap Jinan. “Tumben kamu tanya begitu sama saya ... biasanya tidak.” “Eh ...” Jinan merasa salah tingkah ditanya seperti itu sama Randu. Apa terlalu terlihat perbedaannya ia yang sekarang dan ia yang dulu? Sekarang ... ia sangat ingin tahu apa saja yang akan dilakukan pria itu, tak seperti dulu. “Ah ... aku cuma penasaran saja,” lanjutnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Randu menganggukkan kepalanya. “Kamu lanjutkan masaknya ... saya tunggu di depan.” Jinan langsung tersenyum dan mengangguk antusias mendengar ucapan Randu. Rasanya hatinya berbunga-bunga sekarang. Randu menunggu masakannya. Pria itu tak sabar untuk menyicipi masakannya. Ia pun tak sabar untuk mendengar pujian dari pria itu nanti. ••••• “Kak ... dimana Randu?” tanyanya saat selesai menata masakannya di lantai yang sudah dilapisi oleh karpet. Ia menatap Kak Kia, Bang Danu dan juga Cantika secara bergantian. Ia tak melihat pria itu sama sekali. Katanya ... ia ingin menunggu masakannya. Buktinya ... pria itu malah pergi entah kemana. “Mungkin di luar ... tadi dia izin sama Kakak ingin ke rumah Anita.” Deg! Jantung Jinan terasa seperti lepas dari tempatnya. Pria itu tadi ketika ia tanya hanya menjawab bahwa dirinya gerah. Randu berbohong kepadanya. Ternyata ... pria itu mandi sepagi ini hanya untuk menemui Anita. Jinan jadi berpikir memang sepertinya ada hubungan spesial antar dirinya. Ya Tuhan ... kenapa ia merasakan perih di hatinya saat memikirkan hal itu? “Assalamualaikum.” Yang ditunggu-tunggu datang. Namun, ada yang membuatnya terpaku kepada satu objek yang datang bersama Randu. Ya, pria itu tak datang sendirian melainkan bersama seorang wanita. Dapat Jinan tebak wanita itu adalah Anita. Jinan menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki wanita itu. Tak dipungkiri memang bahwa wanita itu cantik. Wanita itu juga terlihat sopan dengan celana panjang berwarna hitam dan kaos berwarna biru yang melekat tubuhnya. Tak lupa juga rambutnya yang diikat bagaikan buntut kuda. Jinan menghela napasnya sejenak. “Eh ... Anita?” ucap Kak Kia dengan senyumannya yang mengembang di wajahnya. “Kak ... apa kabar?” Anita pun langsung duduk di sebelah Kia. Wanita itu memeluk Kak Kia dengan erat. “Baik ... kamu apa kabar? Sudah lama nggak main ke sini, padahal kan dekat,” ucap Kak Kia lagi. Jinan masih terus diam seraya memperhatikan mereka. Lalu ia pun duduk di sebelah Cantika. Terdengar suara kekehan dari wanita itu. “Iya, Kak ... aku sibuk ngurusin warung di sana. Banyak anak-anak yang beli soalnya ada menu makanan baru yang mereka suka.” “Oh ... syukurlah kalau begitu, semoga selalu laris dagangannya ya,” ucap Kak Kia. Wanita bernama Anita itu pun mengangguk. “Ehm ... Nit, ini Jinan yang saya ceritakan sama kamu,” ucap Randu seraya menatap Jinan yang juga tengah menatapnya. “Oh ... dia?” ucap Anita seraya menatap Jinan dengan senyumannya. “Memang benar katamu ... dia sangat cantik.” Jinan memaksakan senyumannya ketika mendengar hal itu. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Namaku Anita ... senang berkenalan denganmu, Jinan.” Jinan mengangguk pelan. “Senang bertemu denganmu, Anita.” Lalu ia menghela napasnya berat. Lebih baik kamu cepat pergi dari sini. Batinnya. “Randu mengajak Anita untuk sarapan di sini,” ucap pria itu. “Sekalian juga katanya dia ingin bertemu dengan Kakak,” lanjutnya. “Hm ... kalian sangat cocok,” celetuk Bang Danu. Jinan yang mendengarnya merasa tak suka. Ia menekuk bibirnya seraya menatap masakan di hadapannya dalam diam. Ia memasak untuk dicicipi Randu, Kak Kia, Bang Danu dan juga Cantika ... bukan untuk wanita itu. Dan ia mulai kesal kepada Bang Danu sekarang ... karena pria itu selalu saja berusaha membuat Randu dekat dengan Anita. Kenapa pria itu tak bilang yang lain saja? Seperti ... Randu kamu cocok dengan Jinan ... misalnya. Pasti ia sangat senang mendengar hal itu. “Bang ... jangan mulai lagi,” Randu mengucapkan itu kepada Bang Danu karena ia tak enak jika didengar oleh Anita. “Sudah ... Cantika lapar! Kapan kita makannya?” ucap Cantika kesal. Mereka semua tertawa. Jinan pun ikut tertawa juga.  “Ya sudah ... mari kita makan,” ucap Kak Kia. “Ayo ... Anita makan juga.” Wanita itu pun mengangguk. Lalu, mulai menyendokkan nasi ke piring, dan mengambil beberapa lauk pauk. Jinan diam, gadis itu tak bergerak sedikit pun untuk mengambil makanannya walaupun dirinya sudah sangat lapar dan cacing di perutnya mulai meronta-ronta minta diisi. Namun, tatapannya terus terpaku kepada Anita. Ia memperhatikan wanita itu. “Bagaimana rasanya?” tanya Kak Kia. “Ehm ... enak ... cuma menurutku rasa sayurnya sedikit asin,” ucapnya. Jinan yang mendengar hal itu merasa kesal. Apanya yang asin? Sayurnya asin? Enak saja ... tadi ia sudah menyicipnya dan rasanya enak-enak saja tuh. Wanita itu saja yang berlebihan. “Kak Kia mau menikah lagi ya? Sampai membuat masakan yang asin?” kelakar Anita. Kak Kia terkekeh pelan. “Ini semua Jinan yang memasak.” “Eh ... maaf ... aku kira Kak Kia yang memasaknya.” Ania menatap Jinan dengan senyumannya. “Tapi masakanmu memang enak kok, Jinan ... hanya sedikit asin sayurnya.” Jinan tersenyum miring. “Iya, terima kasih.” “Kamu bisa belajar sama Anita, Jinan ... pasti masakanmu nanti akan seenak dia,” celetuk Bang Danu. “Anita mau kan mengajarkan Jinan memasak?” Anita mengangguk. “Tentu saja. Mungkin kita akan semakin dekat nanti.” Tentu saja aku tak mau! Ingin Jinan membalasnya seperti itu. Namun, itu semuanya hanya tertahan di tenggorokannya. Ia tak mungkin juga berani mengucapkannya, karena pasti itu sangat tak sopan. Ia boleh tak suka kepada wanita di hadapannya itu, namun ia juga harus mengetahui batasannya. Ia tak boleh berlebihan dan harus tetap menjaga sikapnya. “Tapi menurut saya ... enak semua kok, rasanya pas, lain kali masak lagi, saya akan habiskan semuanya,” ucap Randu. “Iyakan, Cantika? Masakan Kak Jinan enak?” tanyanya kepada Cantika. “Hm ... enak banget, Pa’ade. Cantika suka.” Jinan yang tadinya merasa kesal langsung berubah senang mendengar ucapan Randu. Ia menatap Anita dengan sinis, lalu senyuman miring terbit di wajahnya. Ia tak mau kalah dari Anita ... dan ia akan berusaha membuat Randu menyukainya juga. Dan membalas perasaannya. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja ... Jinan akan berusaha semampunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD