Tubuh yang kini terpasang alat dengan kabel yang terkoneksi pada sebuah layar yang menampilkan tanda-tanda vital pasien itu kiri menggerakan jari jemarinya. Perlahan ia buka mata dengan iris berwarna coklat itu. Melirik ke kanan dan kiri. Hidung yang mancung mencium aroma bau obat-obatan rumah sakit yang menyengat. Tangan yang terpasang infus terasa sakit. Paha yang terbalut perban terasa teramat perih. Ia berusaha hendak bangun tapi seseorang menahannya. "Kau belum pulih, Joe. Kau harus beberapa hari di rawat disini!" ujar Brian yang sudah lumayan segar menerima cairan infus yang diberikan vitamin semalaman. "Aku harus mencari Chyntia, Bri." Joehan kembali hendak bangun. Brian kembali menahan tubuhnya. "Untuk apa mencari dia. Dia seorang penipu!" "Biar begitu aku tetap mencintainya,

