"Berliana. Sedang apa kamu di sini?"
Suara Jonathan yang dingin membuat Berliana terhenyak. Dia menelan saliva, mencoba bersikap biasa. "Aku mau keluar cari makan."
"Cari makan? Tanpa membawa dompet dan ponsel?" Wajah Berliana berubah merah saat mendengar sindiran itu.
"Aa-ku bawa uang tunai, kok," kilah Berliana yang tak ingin bertambah malu.
"Joe? Siapa perempuan ini?"
Berliana segera menoleh ke arah Clara, dia tertegun saat wanita itu melihatnya dengan tatapan meremehkan. Pikiran buruk segera menguasai dirinya, dia merutuk di dalam hati karena tindakan impulsifnya yang mengikuti Jonathan.
Jonathan tersenyum, senyum yang membuat bulu kuduk Berliana meremang. "Oh, dia ini adikku. Lebih baik kalian berdua berkenalan. Clara, ini Berliana. Semoga ke depannya kalian dapat menjadi teman dekat."
Tadinya Berliana ingin mengulurkan tangan, tapi melihat tatapan jijik dari Clara, membuatnya mengurungkan niat itu. Akhirnya dia menggenggam tangannya sendiri.
"Aku pergi dulu, perutku sudah lapar," ucap Berliana yang tak ingin terlihat semakin menyedihkan.
Namun baru saja melangkah, dia terjungkal. Ringisan kesakitan keluar dari bibir Berliana saat kedua lututnya menghantam lantai.
Berliana mendongak dan melihat senyuman kepuasan tersungging pada wajah Clara, saat itulah dia sadar jika wanita itu berniat mempermalukannya di depan umum. Apalagi beberapa orang mulai melihat ke arah mereka bertiga sembari berbisik-bisik.
"Aduh. Kakimu pasti sakit. Makanya kalau jalan itu hati-hati," ucap Clara dengan nada manis yang dibuat-buat.
Berliana beralih menatap Jonathan, namun pria itu hanya menampilkan ekspresi wajah dingin. Dia mengembuskan napas kasar, berusaha bangun meskipun kedua lututnya terasa sakit.
"Aku sudah sangat lapar, jadi bisa jatuh." Bukannya menegur Clara, Berliana justru membuat alasan agar dapat segera pergi dari tempat ini.
Berliana mencoba bangun, namun sialnya dia baru menyadari jika kedua kakinya terlalu sakit untuk digerakkan.
Kerumunan kecil mulai terbentuk di sekitar mereka. Beberapa orang berhenti sejenak, memperhatikan kejadian itu dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, sementara sebagian lainnya berbisik pelan.
Berliana menunduk dalam-dalam, mencoba menutupi wajahnya yang merah karena malu.
Tangan kanannya menopang tubuh, sementara tangan kirinya berusaha menyeka air mata yang hampir jatuh. Dia bisa merasakan pandangan tajam Clara menelusuri setiap gerakannya.
Wanita itu melangkah pelan ke sisi Jonathan, lalu menggenggam lengan pria itu sambil tersenyum manja.
"Joe, biar petugas hotel aja yang bantu adikmu. Aku nggak mau kamu repot," ucapnya dengan lembut tapi menyindir.
Sementara Jonathan menatapnya dingin, nyaris tanpa ekspresi.
Berliana menatap keduanya dengan hati yang semakin hancur.
Kalimat Clara seperti tamparan kedua setelah dirinya terjatuh tadi.
Namun sebelum Berliana sempat menjawab, terdengar sebuah suara yang sangat dia kenal. Oliver. "Liana. Wajahmu terlihat pucat. Apa kamu mau ke klinik?"
Tanpa menunggu jawaban, pria itu mengangkat tubuh Berliana. Memposisikan wajah wanita itu tepat di dadanya.
"Oliver. Sedang apa kamu di sini?" tanya Berliana dengan raut wajah bingung
"Tentu saja untuk mengajakmu makan. Tapi siapa sangka aku malah menemukanmu dalam keadaan sakit seperti ini," jawab Oliver dengan nada santai.
Rasa sakit pada kakinya, membuat Berliana hanya dapat meringis. Dia menoleh sekilas ke arah Jonathan yang menampilkan raut wajah tegang.
"Tapi aku penasaran akan satu hal, Liana. Kenapa dia tidak menolongmu dan malah hanya diam seperti orang bodoh?"
Jonathan membeku. Wajahnya menegang, matanya menatap Oliver dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
Sementara Clara tampak tidak senang karena perhatian orang-orang kini beralih pada mereka, terutama kepada Oliver yang tiba-tiba muncul dan membawa Berliana seperti pahlawan di film drama.
Berliana meneguk saliva dengan susah payah. Dia harus segera keluar dari situasi yang tak mengenakan ini.
"Oliver ... tolong cepat bawa aku pergi dari sini. Aku merasa semakin 'sakit'," ucap Berliana menekankan kata sakit.
Oliver menangkap nada getir dalam suara Berliana. Dia menatap wajah pucat wanita itu sejenak, lalu mengangguk tanpa banyak bicara. "Baik. Pegangan yang kuat, ya."
Dengan langkah mantap, Oliver membawa Berliana keluar dari lobi hotel, meninggalkan tatapan heran para tamu dan pegawai yang masih bergumam penasaran.
Jonathan mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. "Oliver," gumamnya pelan, hampir seperti desisan.
Clara yang berdiri di samping Jonathan menatap pria itu dengan gusar. Setelah terdiam beberapa saat, wanita itu akhirnya berbicara. "Sepertinya adikmu punya hubungan dekat dengan pria itu, Joe. Mungkin kapan-kapan kita bisa double date dengan mereka."
Jonathan lantas menoleh ke arah Clara dengan senyum tipis. "Boleh juga usulmu. Nanti akan aku atur waktunya."
"Joe. Aku capek banget dan mau cepat tidur. Ayo antarkan aku ke kamar," suara Clara memecah lamunan Jonathan.
Pria itu segera mengambil koper Clara, dan wanita itu langsung mengamit tangan kiri Jonathan. Rasa muak tiba-tiba muncul dalam dirinya, dan ingin menepis tangan yang dipoles oleh kutek berwarna merah menyala itu.
Namun saat mengingat tujuan awalnya memanggil Clara, membuat Jonathan membiarkannya saja. Selalu ada yang harus dikorbankan jika ingin mendapatkan sesuatu. Begitu pikir Jonathan.
***
Sementara itu di parkiran hotel Oliver menurunkan Berliana perlahan ke kursi mobil. "Lebam di lututmu lumayan parah. Aku bawa kamu ke klinik dulu, baru kita makan."
Berliana menunduk. "Tapi aku nggak bawa dompet dan ponsel, Ver. Belikan aku obat di apotik, biar aku obati sendiri di kamar."
Oliver menghela napas, lalu menatapnya lembut. "Kalau kamu takut soal biaya, biar aku yang bayar. Aku nggak mau dengar kata penolakan lagi."
Berliana mengembuskan napas kasar, jelas enggan menerima bantuan dari Oliver. "Tapi bagaimana dengan pasporku, Ver? Aku merasa tidak tenang kalau nggak bawa paspor saat jalan-jalan di luar negeri.
Oliver hanya terdiam, dia tahu maksud Berliana yang sebenarnya. "Kamu tunggu di mobil. Biar aku yang ambilin paspor, dompet dan handphone kamu."
Berliana segera menyerahkan kunci hotelnya kepada Oliver.
"Tunggu di sini. Aku nggak lama," ucap Oliver pelan sebelum menutup pintu mobil dan berjalan cepat kembali ke dalam hotel.
Berliana memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Namun semakin dia memaksa untuk melupakan, bayangan Jonathan dan Clara justru semakin jelas di pikirannya. Senyum meremehkan Clara dan tatapan dingin Jonathan membuat dadanya terasa sesak.
"Kenapa aku begitu sial, sampai harus berurusan dengan mereka?" gumam Berliana lirih.
Tangan kanan Berliana mengusap lembut area lutut yang lebam. Dia menahan nyeri yang menusuk hingga matanya memanas.
Beberapa menit kemudian, pintu mobil terbuka dan Oliver masuk dengan napas sedikit tersengal. Di tangannya ada tas kecil Berliana.
"Ini tasmu. Paspor, dompet dan handphone semuanya ada di sini," katanya seraya duduk di kursi kemudi.
"Terima kasih, Ver," ucap Berliana pelan.
Oliver menatap wajahnya yang murung melalui pantulan kaca spion. "Sama-sama." Setelah mengatakan itu, mobil Oliver melaju meninggalkan hotel.
Rasa canggung tiba-tiba terasa pekat, Berliana mengembuskan napas kasar, memutuskan untuk memulai percakapan agar suasana menjadi lebih santai.
"Aku nggak nyangka kamu tahu di mana hotel tempatku menginap. Kamu tahu dari mana, sih?" tanya Berliana penasaran.
Oliver menoleh Berliana sekilas, lalu fokus kepada jalan yang ada di depannya. Tiba-tiba terbersit pikiran ingin mengusili Berliana. "Aku tahu hotel tempatmu menginap dari kuku."
"Oliver! Jangan bercanda, deh. Cepat bilang, kamu tahu dari mana aku menginap di hotel Horizon?" tanya Berliana dengan nada sebal.
Oliver tertawa kencang, merasa lucu saat melihat wajah marah Berliana yang menggemaskan.
"Aku tahu dari sekretaris bosku. Ternyata perusahaan kita bekerja sama dalam tender pembuatan roti dan pastry. Jadi Liana, kita bisa bersenang-senang berdua setelah tugas dari perusahaan selesai," ucap Oliver setelah tawanya mereda.
Berliana membelalakan mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tanpa sadar tangannya memukul lengan Oliver yang sedang mengemudi.
"Hey! Kenapa aku sial sekali harus terus bersamamu saat berada di Havana?!"
"Liana! Stop, jangan pukul lagi atau kita akan mengalami kecelakaan!"
Namun sayang ternyata peringatan Oliver terlambat, dia kehilangan kemudi dan membuat laju mobil tak terkendali.
"Oliver! Awas ada pohon di depan!" teriak Berliana sebelum semua terasa gelap.