"Ma!" teriak Dilara sambil mengangkat tangannya. Sontak, Guzel menoleh dan melangkah mendekat. Begitu pula dengan Dilara yang berlari. "Ya ampun, Sayang. Mama sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu, hum?" ujarnya sambil menarik putrinya ke dalam pelukan. "Lara juga rindu, Mama. Lara baik, kok," Dilara balas memeluk ibu tidak kalah erat. Sepasang ibu dan anak itu saling menumpahkan kerinduan mereka. Satu bulan tidak bertemu rasanya seperti berbulan-bulan. Itu yang Guzel rasakan dan berlaku juga bagi Dilara meskipun ia sendiri yang dengan sengaja menghindar. "Ngomong-ngomong, kenapa Mama ajak Lara bertemu di sini? Apa sekarang Mama bekerja perusahaan ini?" tanya Dilara mengedar pandangan menatap setiap sudut lobby perusahaan. "Tidak, Sayang. Mama ke sini karena sengaja ingin membawakan

