8. Janda Lebih Menggoda

1000 Words
Manik mata Serkan terbelalak sambil menahan nafas. Seumur-umur, ia belum pernah yang namanya berciuman. Bahkan sekedar berpacaran saja belum pernah. Tidakkah kalian penasaran dengan apa yang Serkan rasakan saat ini? Entah sudah berapa lama mereka berdua berada dalam posisi itu. Jarum panjang jam dinding terus bergerak memutar. Dan tiba-tiba, Guzel menggeliat melepaskan tangannya dan meringkuk. "Ini tidak enak," lirihnya dengan manik mata yang masih terpejam sempurna. Mendengar hal itu, manik mata Serkan membola karena terkejut. "Apa kau bilang?" geram pria itu. Bagaimana bisa Guzel berkata seperti itu setelah merenggut ciuman pertama Serkan? Hal itu membuat sang empu tidak terima dan marah. Lihat saja, wajah yang memerah, gigi yang saling dieratkan, dan tangan yang terkepal kuat. "Sial!" umpat Serkan kesal. Ia beranjak berdiri dan menyugar rambutnya ke belakang. Andai saat ini Guzel tidak sedang tidur. Mungkin Serkan sudah membuat pembalasan telak. Entah itu dengan sebuah kecupan menggebu atau lebih dari itu. Yang paling penting, ia harus menunjukkan bahwa ucapan Guzel tentang bibirnya tidak benar. "Mandi. Yah, aku harus mandi. Kalau aku tetap berada di sini yang ada aku bisa lepas kendali." Serkan bergumam sambil melepas jasnya. Lalu, ia bergegas beranjak ke kamar mandi merasakan amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun. Tanpa melepas pakaian, pria itu berdiri di bawah dinginnya air mengalir. Ia berusaha mendinginkan kepala dan tubuhnya. Pikirannya yang mulai memikirkan hal nakal dan tubuhnya yang kian merespon. "Lihat saja nanti. Akan kubalas di waktu yang tepat. Akan kutunjukkan betapa nikmatnya permainan bibir ini," batin Serkan bertekad sambil menyentuh bibirnya. Ia menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan raut yang sangat menjengkelkan. Serkan bergegas menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dengan mengenakan bathrobe. Baru melangkah keluar, tatapan matanya langsung menyapu bagian tubuh Guzel yang terekspos. "Astaga Tuhan." Tidak sanggup melihat hal itu, Serkan meraup wajahnya kasar. Ia terus saja mengumpat sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Lalu, berjalan menunduk ke arah ruang ganti. Ia bergegas memakai piyama dan meraih selimut baru di tempat penyimpanan. Setelah itu, ia keluar dan menyelimuti tubuh mulus Guzel hingga yang terlihat hanya kepalanya saja. "Nah, kalau begini 'kan aman." Serkan melipat kedua tangannya di depan, "Aku tidak menyangka kalau ternyata janda lebih menggoda," imbuhnya sambil tersenyum. Bukan hanya Serkan saja yang berpikir seperti itu. Di luaran sana, banyak orang yang membenarkan tanggapan itu. Apalagi jandanya seperti Guzel yang cantik dan memiliki banyak pengalaman. Entah itu di bidang mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami, dan yang paling penting urusan ranjang. "Sial! Kenapa aku malah memuji Guzel?" umpat Serkan lagi menyadari kesalahannya. Ia lekas berbalik berencana untuk membaringkan tubuhnya. Namun sayang, ia mendengar suara Guzel dan suara pergerakan lain. Jadi mau tidak mau, ia menoleh ke belakang. "Panas, ini panas sekali," lirih Guzel sambil menendang-nendang selimut. "Astaga! Apa lagi ini?" desis Serkan frustasi. "Panas," lirih Guzel sambil menyentuh lehernya yang basah. Memang benar, saat ini Guzel sedang kepanasan. Lehernya yang basah karena keringat dan rambut yang menempel membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Rasanya, pendingin di ruangan itu sama sekali tidak berfungsi. "Astaga!" kata Serkan terkejut. Melihat lingerie Guzel naik ke atas, sontak Serkan langsung menutup matanya. Sekilas, ia melihat segitiga berwarna hitam yang melekat ketat di bawah sana. "Kalau begini terus, aku bisa kelepasan," gumam Serkan frustasi. Perlahan, ia berjongkok dan tangannya terulur meraih selimut di lantai. Sesekali ia akan menoleh ke belakang untuk memasangkan kembali selimut itu di tubuh Guzel. "Oke selesai. Sekarang, aku mau tidur," gumam Serkan sambil menggosok kedua telapak tangannya. Pria itu melangkah maju dan duduk di tepi ranjang untuk bersiap berbaring. Sebelum itu, manik matanya menatap Guzel yang kembali menendang-nendang selimut. "Lama-lama, aku kasih pelajaran juga ini janda," geram Serkan. Sebenarnya, siapa yang janda di sana? Bukankah status Guzel telah berganti satu hari yang lalu menjadi Nyonya Serkan? Sepertinya pria itu lupa status wanita yang ia sebut sebagai janda itu. Meskipun berkata demikian, tetapi Serkan tetap membaringkan tubuhnya. Ya, meskipun tatapan matanya tetap tertuju pada istrinya. Ia bahkan sampai memiringkan tubuhnya. Sepersekian detik kemudian, kedua sudutnya perlahan mulai naik ke atas. "Sepertinya aku sudah gila. Bagaimana bisa aku tersenyum hanya karena tingkah konyol Guzel. Bahkan dia sendiri tidak sadar," bisiknya sambil menggeleng pelan. Aksi ketidaksadaran Guzel membuat pria yang jarang tersenyum itu menyunggingkan seulas senyuman. Padahal hanya karena menendang-nendang selimut saja. "Ayo terus tendang selimutnya sampai jatuh. Setelah itu, kau akan merasakan nikmatnya permainan bibirku." Serkan tersenyum menyeringai. Kemudian, berubah muram secara tiba-tiba. "Beraninya kau mengatakan bibirku tidak enak." Sikap Serkan kali ini benar-benar konyol dan kekanakan. Sayangnya, ia tidak menyadari akan perbuatannya itu. Satu detik, dua detik, hingga lima detik berlalu tatapan mata Serkan masih fokus pada gerakan kaki Guzel. Ia berpikir, kenapa selimut itu tak kunjung jatuh? Padahal ia sudah menunggu cukup lama. Apa? Lama? Hanya lima detik saja dibilang lama. Sepertinya, Serkan memang sudah tidak sabar ingin menikmati bibir pink tanpa perona itu. Akan tetapi, ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. "Nah, ini dia." Serkan bersorak kegirangan. Pria tampan itu lekas bangun dan melangkah ke arah sofa. Ia mendorong meja sedikit menjauh agar bisa bergerak dengan leluasa. "Kalau diperhatikan dari dekat, kau jauh lebih cantik daripada putrimu." Serkan merapikan rambut Guzel yang berantakan dan menyelipkannya di belakang telinga, "Jadi, apa kau sudah siap menerima hukuman?" imbuhnya bertanya. Posisi Guzel miring dan tepat menghadap ke arah Serkan yang sedang berjongkok. Hanya perlu memajukan wajahnya sedikit, bibir mereka bisa bersentuhan. "Hadeeeh." Serkan menghela nafas berat. Tatapan matanya beralih ke bagian bawah tubuh Guzel. Lalu, mengulurkan tangannya dan merapikan lingerie yang istrinya kenakan. "Kenapa pula kau harus memakai pakaian haram seperti ini, Guzel? Kenapa tidak pakai piyama saja? Kau ini benar-benar, ya." Setelah selesai merapikan, jemari Serkan menyentuh bibir Guzel dari ujung kiri ke ujung kanan. Sepersekian detik kemudian, ia mendekatkan wajahnya dan perlahan mulai menutup mata. Kecupan pertama yang Serkan berikan hanya sekedar kecupan singkat. Kecupan kedua, ia mulai melumat dan kecupan ketiga, ia mulai berani menelusupkan lidahnya. Apalagi mendengar lenguhan yang tiba-tiba keluar dari mulut Guzel. "Belum apa-apa sudah melenguh. Sepertinya aku memang berbakat dalam hal ini," batin Serkan tersenyum menyeringai. Kemudian, ia melanjutkan ciuman yang menggebu bahkan Guzel membalasnya dengan tidak kalah menggebu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD