Cintanya Richie

1090 Words
" i...ini dapurnya ? ". Jollyn gugup sampai mempertanyakan hal yang sudah jelas. " menurut Lo apa ? kuburan ? ". Tanpa basa-basi lagi Richie pergi meninggalkan Jollyn yang sekarang semakin kebingungan dan tak tahu harus melakukan apa. Ditengah kebingungan Jollyn tak lama ada seorang perempuan paruh baya menghampiri, sepertinya dia salah seorang asisten rumah tangga disini. " tuan memerintahkan saya untuk menemani anda disini!". ucapnya tegas. " hufttt...". Jollyn menarik nafas lega. " silahkan masak sesuai yang anda bisa ". " emmm... tapi bagaimana cara menyalakan kompor ini, soalnya kompor ini tidak seperti yang saya punya?". tanyanya polos. staf itu sedikit tersenyum melihat tingkah laku Jollyn yang sedikit kampungan. staf itu muali imut membantu Jollyn didapur. sementara Richie kini tengah duduk di ruang tamu megahnya, dia hanya menatap kosong kedepan seperti sedang memikirkan banyak hal dikepalanya. di keheningan itu terdengar suara langkah sepatu yang cukup keras sepertinya seseorang sedang menghampirinya secara terburu-buru, tapi dia masih tak bergeming karena sudah sangat hafal dengan suara langkah itu. Ya, itu pasti yg datang adalah Aubrie atau yang sering dia panggil Brie. Dia adalah asisten pribadi Richie, dia yang mengurus segala jadwal pekerjaan yang akan dilakukan Richie. Gadis itu sebetulnya adalah saudari kembar dari mantan tunangan Richie yang hilang beberapa tahun lalu dan sampai saat ini masih belum ditemukan keberadaannya. " Brie...!". Richie memastikan bahwa itu benar Brie. " saya Bos ". jawabnya sopan dan formal. Richie berdiri dan berjalan menuju Brie, kini mereka saling berhadapan langsung seolah tidak ada jarak diantara mereka, ya... sebenernya hal seperti ini yang diinginkan Richie tidak adanya jarak dan formalitas diantara mereka. " Brie disini hanya ada kita berdua kita jangan terlalu formal ya...". pintanya. " saya karyawan anda, itu cukup jelas menurut saya ". jawabannya tegas langsung memberikan gambaran posisi diantara mereka. " sudah aku bilang Brie... aku tidak ingin ada jarak antara aku dan kamu !". tegasnya sambil memegang erat kedua bahu asistennya itu. " saya disini karena saya bekerja untuk anda dan anda membayar saya, tidak ada alasan lain bagi saya untuk lebih dekat lagi dengan anda ". Brie melepaskan paksa cengkraman tangan bosnya itu. Richie yang kecewa mundur beberapa langkah dari hadapan Brie dia mengerutkan keningnya seolah tidak faham dengan situasi seperti ini. " baiklah ... baiklah... ciptakan saja jarak itu, aku tidak peduli ". Richie kembali duduk di sofa ruang tengah yang megah itu. Dengan canggung Brie mendekat dan berdiri disampingnya, kemudian menanyakan perihal wanita penyusup yang tadi mengacaukan pesta. " bagaimana dengan wanita penyusup itu? ". tanyanya canggung. " dia sedang memasak didapur ". jawab Richie singkat. " hah?". Brie sedikit kaget mendengar jawaban tak masuk akal Richie. " tenang tak usah kaget, itu cara ku untuk mengetahui dia penyusup atau bukan. Lihat saja jika didapur dia berusaha melakukan hal-hal yang merugikan kita seperti berusaha bunuh diri atau membakar dapur rumah ini aku pastikan dia penyusup ". ucapnya terhenti. " ya aku faham..." potong Brie yang faham maksud bosnya. disituasi seperti itu jika wanita itu suruhan dari klan lain maka dia akan mengambil kesempatan untuk kabur,bunuh diri atau bahkan melakukan hal-hal lain yang akan membuat keributan dikediaman Richie. *** Kembali kedapur. Jollyn dibantu oleh wanita paruh baya yang merupakan kepala asisten rumah tangga itu sedang asyik masak-memasak. Bahkan menurut pengamatan Bu Rieri selaku kepala asisten rumah tangga yang mengawasi Jollyn dia memang tidak mencurigakan sama sekali, dia selalu menurut ketika diberi bimbingan didapur dan terlihat polos. " Jollyn saya akan menemui Mr. Richie sebentar, ingat bawahan saya dan beberapa bodyguard mengawasi kamu. jadi jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu sendiri ". ucap Bu Rieri langsung berlalu meninggalkan Jollyn dan beberapa bodyguard serta bawahannya didapur. *** Bu Rieri melangkah menuju ruang tengah untuk memberikan informasi bahwasanya sepertinya Jollyn bukan lah orang yang berbahaya. " Mr. Richie ". sapa Bu Rieri sambil menundukkan kepalanya. " bagaimana Bu?". tanyanya. " sepertinya dia memang tidak ada hubungannya dengan klan yang lain dan terlihat tidak berbahaya ". jelas Bu Rieri. mendengar itu Richie hanya tersenyum dan menyuruh untuk melepaskan gadis itu setelah selesai uji coba memasak. " kalau begitu lepaskan dia setelah selesai ". perintahnya dan Bu Rieri hanya mengangguk tanda mengerti akan perintah dari tuannya. ketika Bu Rieri hendak meninggalkan tempat itu untuk kembali kedapur Brie menghentikan Bu Rieri. " tunggu Bu!". " ya Mrs." " pastikan perempuan itu tidak mbawa atau memasukkan racun kedalam masakan dan bahan makanan serta air di rumah ini !". " baik Mrs, akan saya pastikan untuk memeriksa gadis itu secara detail". " baik kembali lah Bu ". ucap Brie tersenyum hangat. Bu Rieri berlalu meninggalkan mereka berdua disana. *** Richie tersenyum getir melihat keramah tamaham yang ditunjukkan Brie kepada Bu Rieri, dia berfikir kenapa wanita ini tidak pernah tersenyum manis seperti itu kepadanya. " kenapa anda tersenyum seperti itu?". tanya Brie. " kenapa memangnya?". bukannya menjawab dia malah bertanya balik. " itu menakutkan !". gumamnya lalu membalikkan badan Hendak pergi dari tempat itu tapi tiba-tiba tangannya ditarik Richie dengan keras sehingga dia mundur menimpa Richie yang duduk di sofa. " heh!!". Brie kaget berusaha berontak untuk bangun namun Richie lebih sigap darinya kini dia memeluk gadis itu dari belakang. " apa yang sedang anda lakukan pak?". ucap Brie kesal sambil berusaha berontak. " Brie... ayolah, aku ini mencintai kamu dan kamu tahu itu !". " Anda ini bicara apa lepaskan saya!". Dengan kesal Richie melepaskan pelukannya dengan kasar sehingga membuat Brie sedikit sempoyongan dan hampir tersungkur ke lantai. " anda... berani sekali anda melakukan itu!! ". Brie dengan marah menodongkan senjata api kearah kepala bosnya itu. melihat itu Richie juga terpancing emosi dan menodongkan senjata api kearah kepala Brie juga. " kamu marah karena aku memaksa mu hah !!!" bentak Richie menggelegar diseisi ruangan itu. " ya... anda sudah sangat keterlaluan!!". Brie balik berteriak. " kurang ajar!!!". teriak Richie sangat keras. sehingga beberapa bodyguard dan anggota nya panik dan masuk kedalam untuk mengecek apakah yang terjadi dan keributan apa itu, mereka kahwatir jikalau ada musuh yang berusaha menyerang bosnya. tapi yang mereka lihat didalam sana betul-betul mencengangkan dimana si bos dan si asisten kepercayaan sedang bertengkar sama-sama menodongkan senjata api kearah kepala masing-masing. mereka bingung dengan situasi seperti itu, mereka bingung siapa yang harus mereka bela. Tapi jika dilihat dari kedudukan dan posisi tentu mereka harus lebih utama melindungi Richie. Seketika dengan sigap mereka menodongkan pistol yang mereka bawa kearah Brie. " turunkan senjata kalian dan pergi dari sini !!!". bentak Richie yang langsung diikuti oleh anak buahnya. mereka dengan cepat berhamburan menuju pintu keluar. sementara keduanya masih memanas dan masih saling berhadapan seolah-olah ingin secepatnya saling membunuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD