Dengan senyum yang merekah, Melody melangkahkan kakinya di koridor sambil bergumam kecil menyanyikan lirik lagu favoritnya. Jangan sampai ada yang mengacaukan mood nya lagi hari ini. Batinnya.
Brakk!
"Aduh, sorry Kak. Nggak sengaja," ujar Mel sambil membantu memungut buku yang berserakan di lantai. Ia akui kalau ini salah dirinya yang tidak hati-hati ketika berjalan, karena pikirannya entah sedang bercabang kemana tadi sampai tidak melihat ada orang di depannya.
"Lain kali, kalo jalan liat-liat!" ejeknya.
"I-iya, kan gua udah bilang sorry."
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, cowok itu langsung melenggang pergi dari hadapan Melody. Membuat gadis itu jadi misuh-misuh tidak jelas. Setidaknya membalas ucapan maaf dari Melody kek atau apa gitu, malah langsung pergi begitu saja. Dasar ngeselin!
"Dasar tidak tahu terima kasih. Udah dibantuin bukannya bilang apa kek gitu, maen pergi gitu aja. Manusia aneh lebih dari Dikta! Kenapa di SMA ini banyak orang aneh sih?" Setelah misuh-misuh tidak jelas seperti itu Melody langsung melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Sesampainya di depan kelas, ia melihat tempat duduknya dengan Adela diisi oleh duo aneh itu sambil bergidik ngeri, pasalnya mereka berdua sedang pelukan? Saat hendak berbalik tangan nya di cekal oleh Dikta. Si ganteng dengan muka flat. Cielahh Mel, udah mulai mengakui ketampanan yang dimiliki oleh Dikta, ya?
"Eits mau kemana, ibu Melody." Danis terkekeh, membuat Melody memutar bola mata malas. Kenapa pagi-pagi sudah disuguhnya penampakan dua makhluk astral ini sih? Tadi cowok aneh tanpa tahu terima kasih, sekarang ditambah terlibat dengan dua makhluk aneh pula. Ingin rasanya Mel pergi dari bumi untuk menghindari para makhluk tersebut!
"Masih pagi, jangan rusak mood gua. Minggir gua mau masuk!" Melody menatap heran kepada keduanya.
Ia baru teringat sesuatu, sejak kapan Danis dan Dikta akrab seperti ini? Masih ingatkan kejadian kemarin di kantin? Kenapa sekarang jadi seperti teman akrab.
"Kenapa? Aneh ya, gua jadi deket gini sama Dikta?" ujar Danis yang sepertinya tau apa yang batinnya katakan.
"Kalian gak belok, kan?" gumam Melody dengan suara kecil. Pasalnya tadi ia melihat Dikta merangkul bahu Danis. Keduanya malah tertawa puas mendengar penuturan Melody barusan.
Pasti tau kan, belok yang di maksud sama Mel itu apa? Gak tau? Tau in aja lah:v
Dikta mengacak rambut Melody, dan di susul oleh Danis. "Kita berdua, masih normal kali Mel. Kalaupun belok gua juga milih-milih kali!" ujar Danis. Sambil melirik Dikta.
Membuat Dikta menoyor kepalanya, "Gua juga, ogah kali." Danis hanya mengedikan bahu nya sambil tersenyum remeh.
"Siapa tau kan, secara gua itu ganteng," ujar Danis sambil menyugar rambutnya penuh percaya diri.
Kali ini bukan hanya Dikta yang menoyor kepalanya, tetapi aku juga ikut melakukan nya. Mana ada orang ganteng , yang ngaku dirinya ganteng.
"Kemaren aja, kaya kucing sama tikus. Sekarang malah kaya perangko..." gumam Melody lebih terdengar seperti bisikan.
"Ngomong apa, Mel?!" sahut keduanya bersamaan.
"Mmm.. itu anu, apa ya. Tadi ada angin lewat bawa handuk. Mau mandi kali," balas Melody sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Keduanya saling tatap dan kemudian tertawa puas, sambil mengacak rambut Melody. Yang di tertawakan justru malah menatap keduanya heran.
"Kenapa ketawa? Gua salah ngomong?" ujarnya polos. Dasar Melody...
"Gua jadi penasaran, Mel. Kaya gimana bentukan angin yang bawa handuk," ungkap Danis yang belum berhenti tertawa.
Dikta tidak kalah terbahak nya seperti Danis, humor mereka receh sekali. Kini keduanya berhenti tertawa ketika melihat ada yang memasuki kelas. Adela.
"Wih, tumben rame. Mel, ada apa?" ujar Adela.
Melody menggeleng, "Nggak tau, tiba-tiba mereka udah disini tadi pagi."
Adela menoleh ke arah Dikta. Kemudian Danis, "Ngapain kalian, di kelas gue?"
"Ini juga kan kelas gue." jawab Dikta sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kalau, Lo?" telunjuk Adela mengarah pada Danis.
"Ya emang gak boleh, maen ke kelas temen sendiri." Teman katanya.
"Btw, sejak kapan ya kita temenan sama mereka Mel?" Melody menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Sejak sekarang!" cetus keduanya bersamaan.
Melody dan Adela kemudian terkekeh melihat tingkah keduanya, sambil menggelengkan kepala.
"Ayo jadi teman?" seru keduanya sambil mengulurkan tangannya. lagi.. lagi bersamaan.
"Argh! Lo gak punya kata-kata lain apa? Ngikutin orang mulu!" tukas Danis kepada Dikta.
"Lo yang ngikutin gue!" balas Dikta tak mau kalah.
"Lo."
"Ssst.. udah stop! Bentar lagi masuk. Mending Lo balik ke kelas sekarang." Danis beranjak menuju kelasnya yang mana berada di sebelah kelas Melody. Biasa tetangga.
---
"Anjir, rok gua bisa kena gunting inimah."
"Argh! Gua bawa make up lagi hari ini, bisa di ambil tuh."
"Topi gua ilang woi!"
"s**t! Gua lupa pake dasi lagi."
SMA Wijaya kini sedang heboh, pasalnya sekarang sedang berlangsung rajia dadakan. Dan itulah sebagian kepanikan dari murid yang berada di kelas 11 ipa 4, inilah alasannya mengapa sebagian murid tidak suka dengan OSIS. Suka seenaknya saja mengadakan rajia dadakan.
Disaat semua sedang heboh, Melody dan Adela justru sedang santai menikmati lagu yang tersambung lewat earphone yang terpasang di telinga masing-masing.
Terdengar derap langkah kian mendekat ke arah pintu masuk kelas 11 ipa 4, hal itu membuat sebagian siswa berdecak. Melody dan Adela pun dengan segera melepas earphone yang menyumpal telinga mereka dan memasukkan nya ke laci meja.
Ketua OSIS memimpin dengan tegas nya di hadapan semua murid di kelas, "Sebelumnya, Assalamualaikum. Saya selaku ketua OSIS SMA Wijaya meminta yang tidak menaati peraturan silahkan maju ke depan! Dan di harapkan tas untuk di letakan di atas meja masing-masing." ujarnya dengan tegas.
Tidak ada yang maju satupun. Hal itu membuat anggota OSIS yang lainnya gemas, dan menatap horor kepada semuanya. Lalu, terdengar decitan meja dan derap langkah yang maju ke depan. Baju yang dikeluarkan, dengan kancing atas yang di buka dan memakai kalung hitam berbandul, Pradikta Candra.
"Sejak kapan sekolah membolehkan memakai kalung seperti ini? Lepas! Atau saya ambil." cetus Dewa. Si ketua OSIS.
Dikta hanya diam, "Baju nya juga tolong di rapihkan," tambah anggota OSIS yang lain.
Dia segera melakukan apa yang di suruh oleh si anggota, dengan sigap ia memasukkan seragamnya ke dalam celana abu nya. Sontak hal itu membuat sebagian siswi menutup mata.
"Yang sopan! Izin, terus pergi ke kamar mandi." tegas Dewa.
"Saya kan cuma laksanakan perintah kak, salah ya?" ujar nya polos, membuat semua tertawa. Ralat, hanya Dewa yang tidak.
"Kalung nya tolong di buka! Atau saya yang lepas?!" tegas Dewa sekali lagi.
"Gak akan!" sarkas nya sambil menghentakkan tangan Dewa yang berada di leher nya. Hal itu membuat sebagian murid terheran-heran, termasuk Melody.
"Mau melawan? Push up sepuluh kali!" perintah nya. Mata keduanya saling beradu dengan kilatan yang sangat tajam.
Dan kemudian Dikta mulai memposisikan dirinya untuk melaksanakan perintah si ketos itu. Dengan d**a yang naik turun menahan amarah, juga smirk yang tercetak di bibirnya selama melakukan push up.
"Dikta, ko aneh ya Del." ujar Melody berbisik kepada Adel.
"Aneh gimana?" Melody menggeleng,
"Lo gak liat tatapan nya tadi, kayak kesel banget di perintah seperti itu sama ka Dewa." Terdengar gebrakan meja.
"Yang di sana! Siapa yang suruh bisik-bisik." Tunjuk anggota OSIS perempuan dengan rambut sebahu, ke arahku dan Adela. Tidak sengaja mataku bertemu dengan sorot tajam milik Dewa.
Terlihat cewe itu berbisik kepada anggota yang lain, dan kini mereka mulai menggeledah satu persatu tas yang berada di atas meja, sambil melihat barang bawaan sebagian siswi apakah pantas untuk dibawa ke sekolah atau tidak.
Satu persatu murid yang tidak menaati peraturan maju ke depan, mulai dari yang memakai rok ketat sampai yang berbisik-bisik pun kena juga. Huft. Kini kami semua dikumpulkan di lapangan, untuk membersihkan daun-daun kering.
"Jangan males! Buruan kerjanya." Cih, Bisa nya cuma memerintah! Coba turun langsung ke lapangan, dengan matahari yang sedang terik-teriknya seperti ini.
Melody merasa pusing tiba-tiba menyerang nya, dan rasanya ia tidak sanggup untuk menopang berat badannya kemudian Melody terjatuh di tengah lapangan.
Terlihat seseorang berlari dari kejauhan, seperti sudah memantau kegiatan Melody sedari tadi. Dan kemudian mengangkat tubuh mungil itu untuk segera di bawa ke UKS.