Adela tidak henti-hentinya menguatkan Melody, bahkan dirinya rela menginap di rumah sakit hanya untuk menemani sahabatnya. Sosok Adela memang sudah di anggap keluarga sendiri oleh kedua orang tua Melody. Adela pun sudah di anggap adik sendiri oleh Anggara. Anggara akan menganggap semua sahabat Melody sebagai adiknya, karena setiap orang yang baik, perlu dibalas baik juga. Itu kata Anggara.
Karena dari SMP memang hanya Adela yang sering berkunjung atau sekedar main dengan Melody, Adela juga yang selalu mengerjakan tugas bareng Melody, bahkan juga sering membantu Yunita memasak dan masih banyak lagi. Sosok yang sangat best friend-able banget.
"Adela. Kamu sebaiknya pulang dulu, kasian ayah kamu takut khawatir anak gadisnya tidak pulang semalaman," ujar Hadi, ayah Melody.
"Mau anaknya pulang atau tidak, ayah nggak akan pernah khawatir," gumam Adela kecil. Hadi menatapnya aneh lalu kembali bertanya.
"Ngomong apa, Nak?" ulang Hadi. Karena lelaki itu melihat mulut Adela bergumam, namun tidak terdengar suara yang keluar.
"Ah, nggak apa-apa kok Om. Adel udah kabarin ayah tadi, jadi dia nggak akan khawatir sama anaknya."
"Tetap saja, Nak. Seorang ayah pasti akan sangat khawatir sama anaknya, apalagi kamu perempuan, ayah mu pasti khawatir."
"Iya, Del. Sebaiknya kamu pulang, kan di sini udah ada Papah sama bang Gara juga. Jadi gak usah khawatir." Melody menambahkan.
"Tapi, gua pengen liat Tante Yun sadar, Mel. Kangen sama bawel nya dia," ujar Adela yang membuat Hadi dan Mel terkekeh. Mereka melirik ke arah tempat tidur berisikan wanita yang tengah terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tangan dan hidungnya.
"Om sama Melody pasti bakal langsung kabarin kamu kalau Tante Yun udah sadar, Nak." Melody mengangguk membenarkan. Ia tersenyum kemudian mengusap lengan Adela.
"Kamu percaya sama Mel, kan? Mel pasti langsung kabarin kamu kalau Mama udah sadar, janji!" ujar Melody.
Hadi baru sampai subuh tadi ketika mendengar kabar, istrinya masuk rumah sakit. Bahkan dirinya langsung pergi sebelum rapat kerja selesai. Biarlah tidak di anggap profesional atau apapun, baginya keluarga adalah prioritas.
"Janji ya Om, bakal langsung kabarin Dela kalau Tante Yun sadar." Hadi mengangguk.
"Iya, Om janji."
"Yaudah kalau gitu Adela pamit pulang dulu, pasti nanti Adel kesini lagi ko." Adela menatap ke arah Melody, "Mel, yang sabar ya. Gua yakin Tante Yun pasti bisa lewatin masa kritis nya, banyak-banyak berdoa. Kalau ada apa-apa langsung kabarin gua oke!" Melody mengangguk.
"Ayo, Del. Om antar kamu." Adela menggeleng.
"Gak usah Om, Om temenin Mel aja disini. Karna bang Gara juga kan lagi keluar. Adel bisa sendiri ko."
"Gak papa Del, diantar sama Papah aja. Gak baik anak gadis pulang sendirian."
"Gapapa, Mel. Suer! Gua bisa sendiri," ujar Adela sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah nya.
"Yaudah deh, tapi janji kalau udah sampe rumah langsung kabarin."
"Sip! Yaudah Adel pamit ya Om, Mel. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di sisi lain, Anggara sedang bertemu dengan Dewa karna dia merasa janggal dengan insiden yang di menimpa mamah nya kemarin.
"Lo yakin, udah cek semuanya? Termasuk cctv?" Anggara mendongak.
"Astaga, gua lupa. Ayo ikut gua sekarang." Gara menarik Dewa keluar dari cafe tersebut. Kenapa bisa dia melupakan hal sepenting itu? Dasar Gara, badan doang gede tapi pelupa.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju ruang cctv untuk mengetahui siapa pelakunya. Tetapi, ini semua seperti nya sudah sangat matang di rencanakan oleh mereka karna hasil cctv tidak menemukan bukti apapun. Yang terlihat hanya di bagian Yunita tergeletak lemah dan bersimbah darah di bagian perutnya.
"Arghh! Gua rasa, mereka semua bukan orang sembarangan. Mereka bisa aja ngelakuin hal yang lebih dari ini, Wa."
"Lo yang tenang, Bang."
"Gimana gua bisa tenang! Karna bisa aja sewaktu-waktu mereka akan mencelakakan keluarga gua lebih dari ini!"
"Terus dengan Lo emosi seperti ini, apa yang mau kita dapetin Bang?! Bersikap tenang! Dan cari jalan keluarnya." tukas Dewa.
Gara mengutuk dirinya sendiri, karna terlalu gegabah dalam urusan seperti ini. Karena bisa saja dengan sikap nya yang seperti ini akan membuat nyawa mereka semua lebih dalam bahaya.
Anggara dan Dewa sebenarnya sudah lama berteman, bahkan umur keduanya pun sama. Yang membedakan adalah Gara yang kuliah dan Dewa yang masih sekolah. Singkatnya begini, keduanya dulu adalah teman satu kelas. Dan di detik-detik akan perpisahan Dewa mengalami kecelakaan yang sangat serius yang membuatnya tidak Lulus. Dan tinggal kelas, di kelas 12.
Meski keduanya seumuran, Dewa sudah terbiasa memanggil Gara dengan embel-embel 'Bang' karna menurut dia Gara lebih tua. Meski awalnya Gara tidak terima, akhirnya terbiasa juga.
"Thanks ya, Wa. Gua minta tolong sama Lo, buat jaga Melody selama di sekolah. Gua gak mau sampe kejadian ini ke ulang lagi." Dewa mengangguk, "Pasti, Bang. Lo gak usah khawatir."
---
"Mel.." seseorang menepuk pundak Mel.
Melody menoleh ke sumber suara, "Bang Gara. Darimana aja sih Lo?" ujar Melody.
"Biasa lah, urusan cowok. Lo gak boleh tau!" Melody mendesis, "hish selalu saja bilang begitu. Emang salah ya kalau aku mau tau?" Gara mengelus puncak kepala adiknya.
"Gimana keadaan mamah? Oh iya papah mana?" Melody menunduk lesu.
"Mamah masih nyenyak banget tidurnya, Bang. Papah tadi bilangnya ada urusan sebentar." Gara mengangguk kan kepalanya.
"Btw, Lo udah berapa hari disini Mel?"
"Mm.. dua hari. Kenapa?"
"Pantes dari tadi, gua nyium sesuatu yang gak enak banget pas masuk. Lo pasti belum mandi yekan?!"
Melody melotot tidak terima, "Enak aja! Eh tapi iya sih. Bau asem banget gua," ujar nya sambil mencium aroma badannya.
"Nah itu ngaku. Mending sekarang Lo pulang dulu, biar gua yang jagain mamah disini." Melody spontan menggeleng.
"Nggak! Gua mau disini. Gua mau pas mamah bangun nanti, muka gua yang cantik ini yang di liat pertama sama mamah."
"Yang ada nanti, mamah syok liat anak gadis nya belum mandi dua hari. Bau asem lagi," ujar Gara sambil menghimpit hidungnya menggunakan dua jari.
"Ish sembarangan banget. Gua masih mau di sini bang," ujar Melody dengan tatapan memohon.
"Gini aja deh. Lo pulang dulu! Mandi terus makan abis itu langsung ke sini lagi. Gimana?"
"Oke deh. Tapi kalo mamah sadar, langsung kabarin gua. Gak mau tau!" Gara mengangguk.
"Iya, adik kecil yang bawel."
"Jangan kemana-mana, sebelum Papah balik ke sini. Awas aja Lo kalau sampai ninggalin mamah!"
"Bawel! Udah sana buruan. Hati-hati di jalan, kalau jatuh bangun sendiri." Melody mendengus, kemudian meninggalkan ruang inap mamah nya.
Sambil menunggu taksi online yang di pesannya, Melody merasa seperti sedang di awasi oleh seseorang di balik pohon besar di samping tempat dirinya berdiri. Rampok? Mana mungkin. Mana ada orang yang mau merampok cewek bau asem kaya dia. Penculik? Mel, makan nya banyak asal kalian tau. Tapi gak gede-gede!
Tidak lama taksi yang di pesan nya sudah tiba, dan Mel langsung memasuki nya. Sepanjang perjalanan Mel hanya mendengarkan musik menggunakan earphone yang tersambung dengan handphone nya.
---
"Rencana awal kita berhasil! Intinya gua gak mau lihat Melody bahagia." ujar seseorang.
"Lo pikir, gua mau? Siapapun yang berada di dekatnya, atau berusaha membantu nya. Basmi!" Seseorang lainnya, tersenyum licik.
Manusia-manusia penuh dendam! Tidak hanya satu atau dua orang yang berada di ruangan tersebut. Di hati dan pikiran mereka sekarang hanya ada dendam! dendam dan dendam!
Manusia apakah tidak bisa, jika membenci sendirian? Mengapa harus selalu, melibatkan orang lain untuk ikut membenci orang yang dia benci. Walau terkadang orang yang di benci justru adalah orang sangat baik. Apa itu tanda nya iri? Dan iri tanda tidak mampu bukan?
"Tidak perlu gegabah, kita pakai cara halus dan tenang. Sesaat dia lengah, baru habiskan."
"Kalian yakin mau melakukan itu semua kepada dia?"
"Yakin lah! Kenapa nggak?!"
"Kalian tau gak? Kalian tuh jahat banget. Yakin tega berbuat sejauh itu hanya karena dendam yang tidak terlalu penting!"
Kedua orang dengan dendam dihatinya menatap nyalang ke arah gadis berambut sebahu tersebut, "apa Lo bilang? Gak penting?! Tau apa Lo soal dendam gua. Lo itu cuma anak bawang di sini, jadi jangan macem-macem!" tegas salah seorang dari mereka.
"Gua gak mau lagi, ikutin perintah kalian," ujar gadis itu, takut-takut.
"Emang gua udah pernah nyuruh-nyuruh Lo? Gak pernah kan. Gua cuma minta Lo buat tutup mulut. Gak lebih!"
Gadis lain menghampiri dan menepuk pundak gadis yang sedang ketakutan ini, "Lo! Cuma anak kecil. Tau apa sih Lo soal dendam?! Tau apa gua tanya?!" teriak nya di depan gadis itu, sambil menjambak rambutnya.
"Pergi Lo! Inget, tutup ni mulut rapat-rapat. Kalau sampai bocor.." seseorang itu menggantung ucapannya, "Nyawa Lo yang jadi taruhan nya! Karena nasib Lo, ada ditangan Lo sendiri!" ujarnya sambil mendorong tubuh mungil itu.