HATI YANG TERBAGI

4620 Words
“Ini akan jadi tender proyek terbesar selama eksistensi SALEEM. Jadi saya berharap, apa yang telah kita menangkan atas lelang tender ini tidak membuat kita berbangga hati. Karena beban berat akan keberhasilan proyek ini akan jadi pertaruhan untuk kelangsungan SALEEM di masa yang akan datang. Saya harap semua divisi bergerak sesuai dengan tugas masing-masing,” Pak Chandra menutup rapat pagi ini di aula yang biasa digunakan untuk pertemuan kepala divisa intern SALEEM GROUP. Semua kepala divisi beserta staff dan sekretaris masing-masing tersenyum menyambut kemenangan lelang tender pembangunan GOR di Surabaya itu. “Oke, selamat bekerja. Dan untuk Saudara Romi dan Ibu Rin, saya mengundang Anda berdua untuk membahas realisasi proyek kita kali ini.” Romi mengangguk sambil menatap Rin yang pagi ini nampak modis dengan stelan blazer dan celana panjangnya. Pun Rinjani juga tersenyum setuju. “Baik, Pak. Saya akan segera ke ruangan Bapak.” Sialan! Bahkan senyumnya semikian manis, Romi merutuk dalam hati ketika menyadari betapa gadis ini begitu manis dan luwes, meski sekedar untuk dilihat. Sederhana, tapi penuh pesona. Bagaimana mungkin aku akan tertarik dengan perempuan yang jauh dari kata seksi ini? Silvi jauh lebih seksi dan menggairahkan, tapi mengapa yang ini lain? Makin hari perempuan ini semakin membuat Romi terpesona. Bahkan senyumnya yang barusan tersungging itu saja sudah membuat Romi sinting memikirkan hal lain diluar kendalinya. Hal-hal lain yang, you know that, selalu tak mampu dia kendalikannya dengan baik. Beberapa pembicaraan yang dilontarkan Pak Chandra seperti dengung lebah yang memenuhi kepalanya. Membuatnya bising dan makin tak mengerti. Sementara Rin dengan santainya menanggapi apa yang diinstruksikan Pak Chandra. Bahkan dengan manisnya mereka berdiskusi. Kekompakan ini merupakan pemandangan aneh menurut Romi, karena bagaimanapun ayahnya tak akan sedemikian akrab dengan bawahan dengan alasan apapun. Dan sekarang? Apa yang terdapat dalam diri perempuan ini yang membuat ayahnya dulu langsung merekrutnya, bahkan kini membuang alasan menjaga martabat kalau terlalu akrab dengan bawahan, hanya untuk berdiskusi dengan sedemikian akrabnya dengan Rin? Aku harus mencari tahu, Romi penasaran. Dan untuk merintisnya menemukan rasa penasarannya itu, dia kembali memusatkan konsentrasinya untuk ikut terlibat dalam diskusi Pak Chandra dan Rin. Rinjani yang telah mencuri perhatian ayahnya dan, well, dirinya juga kalau saja Romi tidak sedemikian angkuh dengan ketertarikannya yang memang memiliki kadar berbeda dengan ketertarikannya pada Silvi. Silvi ? Haaaa…hanya dengan mengingat wajahnya saja Romi seakan tahu apa yang sedang dilakukan perempuan teman kencannya beberapa tahun belakangan ini. Kencan dalam arti sebenar-benarnya tentu saja. Silvi memang sangat cantik dan seksi, tapi entah mengapa justru Rin memiliki daya magnet yang sangat luar biasa. Busana kerja yang dikenakan Rin selalu nampak modis dan sangat – sangat sopan dibandingkan dengan sekretaris atau staff lain. Kalau staf dan sekretaris beberapa divisi di SALEEM selalu berlomba-lomba berpenampilan mewah. Tapi Rin yang bahkan sangat belia dibandingkan dengan para senior itu justru hanya, dan ini selalu, memakai setelan blazer dengan bawahan celana panjang. Kalau semua berlomba-lomba membuat rambut mereka bergelombang layaknya gelombang tsunami, Rin bahkan hanya menyanggul rambutnya dengan sangat rapi. Beberapa jepit minimalis selalu bergantian menghiasi rambutnya yang kelihatan legam meski di sanggul. Kacamata bening dengan frame lebar nyaris selalu rutin nongkrong diatas hidungnya yang ramping. Ketika Silvi selalu bangga dengan lipstick merk luar negeri dengan warnanya yang menunjukkan sensualitasnya, Rin bahkan hanya mengolesi bibirnya dengan pewarna ala kadarnya. Sial, mengapa aku harus membandingkan keduanya? Bukankah mereka memiliki kadar yang tidak sama dalam banyak hal? Diam-diam Romi mengeluh dalam hati ketika tanpa sengaja kepalanya membandingkan kedua perempuan itu. Dan ada perubahan yang tak disadari oleh Romi tengah terjadi di kantor SALEEM. Kalau biasanya kubikel akan penuh pada pukul delapan pagi, tapi semenjak beberapa waktu belakangan ini selalu penuh terisi pegawai bahkan sebelum setengah delapan pagi. Dan ini mengherankan tentu saja. “Memangnya ada peraturan baru yang saya tidak ketahui, Des?” tanya Romi pagi itu ketika pukul setengah delapan dia sudah sampai di depan ruang kerjanya. Desi belum menjawab karena tak begitu paham dengan apa yang dibicarakan bosnya. “Maaf, maksudnya apa ya, Pak?” “Saya lihat kubikel sudah penuh pegawai bahkan sebelum jam setengah delapan? Apakah Pak Chandra menerapkan peraturan baru?” “Ooo…itu?” Desi tersenyum sumringah. “Jadi kamu tahu apa sebabnya?” “Sepertinya semenjak ada Ibu Rin bekerja di sini, semangat pegawai lain ikut terpompa, Pak.” “Maksudnya?” Romi mengerutkan keningnya tanda kurang paham dengan apa yang dikatakan Desi. “Yaa... mereka berlomba-lomba mendapatkan senyum dan sapa segar Ibu Rin setiap paginya,” Desi menjelaskan sedikit hal yang luput dari pengamatan Romi. “Semua pegawai? Tapi bukan termasuk pegawai perempuan kan?” “Nyaris semua, Pak. Pegawai perempuan sekarang semua berpakaian seperti Ibu Rin.” Romi makin tak mengerti. Dia lantas memasuki ruang kerjanya dengan banyak tanda tanya memenuhi batok kepalanya. Dihempaskannya tubuhnya ke kursi empuk kebanggaanya. Tak lama berselang terdengar perbincangan dan sapa ramah tamah antara dua perempuan. Dan tentu saja Romi mengenalinya karena kedua perempuan itu yang akhir – akhir ini bekerjasama dengan dirinya. Tawa renyah dan sapa penuh keakraban tampak terdengar. Lantas terdengar suara pintu ruang kerja yang di buka untuk kemudian suasana sepi dari obrolan kedua perempuan itu. Romi lantas mengingat-ingat, bahwa benar para pegawai perempuan di SALEEM GROUP sekarang berpenampilan feminin, dan sangat sopan. Tak ditemuinya lagi pegawai dengan rok span dan dandanan menor. Semua nyaris berbusana blazer dengan bawahan celana. Terus terang saja, pertamanya terlihat aneh, tapi ketika kemudian terasa nyaman, mereka semakin gemar berblazer. Rinjani ... Ia icon yang mereka ikuti sekarang. Memang sih penampilannya jauh dari kata menor, tapi itu toh tak menutupi pesona ayu yang tidak saja terlihat di luarnya saja. Kenyamanan saat berkomunikasi mungkin yang membuat Pak Chandra betah berdiskusi lama-lama dengan Rin. Atau barangkali Pak Chandra sedang melakukan pendekatan lain-lain? Pikiran kotor sejenak melintasi kepala Romi, tapi laki-laki itu segera menepisnya karena dia sangat paham siapa ayahnya. Rambut Rinjani yang selalu disanggul tak mampu menyembunyikan kebeliaannya yang coba ditutupinya dengan penampilan dewasa. Sikapnya yang santun bahkan membuatnya semakin menggemaskan. Dan, heiiii....kenapa aku harus menilai Rin? Apa hubungannya dengan profesionalitas kerjanya? Lagi-lagi Romi mengutuki dirinya sendiri yang, jujur saja, terjebak arus pesona Rin. Ponselnya yang tergeletak diatas meja tiba-tiba bergetar. Kedipan lampunya menampakkan sebuah nama yang sangat tak asing baginya. Silvi. Siapa lagi yang demikian rajin meneleponnya siang malam kalau bukan Silvi? “Ya, halo?” jawab Romi yang entah mengapa tiba-tiba sangat malas mengangkat telepon Silvi. “Halo, Sayang ... aku sudah didepan sekretaris kamu, nih ... Kayak biasa, aku harus minta izin dulu,” nada suara Silvi kelihatan bersungut-sungut kesal. “Oke, beberapa menit lagi aku akan menemui kamu.” “Cepat ya, Honey ... Aku sebel tau, nungguin kamu di lobi begini?” “Iya...iya ...” Romi menutup handphonenya dengan perasaan hambar. Tak seperti biasanya? Romi keluar ruangan, seiring dengan Rin yang juga keluar dari ruangannya. Mendadak, Romi seperti bingung dan salah tingkah mengingat Silvi telah menunggu di lobi. “Bapak mau keluar?” tanya Rin santun. Padahal jujur saja, jantungnya selalu saja menggelepar tidak karuan dengan hanya berpapasan dengan Romi. Tapi Rin perempuan dengan kepandaian menutupi perasaannya. Kegundahannya dikemas manis dengan sikapnya yang santun. “Ya, ada sedikit urusan. Jika Pak Chandra menanyakan keberadaan saya, katakan saya ke proyek,” jawab Romi sedikit gugup dan salah tingkah. “Baik, Pak.”  Rin mengangguk. Senyumnya yang akan tersungging lantas lenyap tiba-tiba saat dihadapan mereka muncul Silvi yang langsung bersikap posesif, seolah menunjukkan bahwa Romi adalah kekasihnya. “Sayang... kok lama banget sih?” sapanya dengan manja yang langsung disusul dengan elusan lembut menggoda pada lengan Romi, membuat laki-laki itu gugup dan salah tingkah. Heran, biasanya dia asyik-asyik saja dengan aksi menggoda yang Silvi lakukan. Tapi mengapa kini seakan janggal dan risih? Diliriknya Rin dan Desi yang malu dan menahan senyum dengan ulah Silvi. Tanpa permisi, Rin langsung kemudian berbincang dengan Desi  agar tidak makin bersemu merah padam karena merasa risih. Sambil berlalu dengan Silvi, Romi masih sempat melirik Rin yang berdiskusi dengan Desi. Debaran hati Romi kelihatan semakin galau, tanpa sebab. Tapi Silvi tak mengetahui perubahan sikap yang terjadi pada Romi. Segera saja diseretnya langkah Romi meninggalkan kantor. Seperti biasa, mereka akan bertransaksi hari ini. Nafsu Romi yang tak terkendali, dan nafsu materialistis Silvi yang hanya akan terpuaskan oleh dompet Romi. Dan kalau saja cermat, ini tak berurusan dengan hati. “Maaf, Ibu Rin ... Bisa ke ruangan saya sebentar?” Pak Chandra tiba-tiba muncul di depan ruangannya. Diskusi ringan Desi dan Rin terhenti mendadak. “Baik, Pak.” Setelah menatap Desi penuh tanda tanya, Rin mengangguk pada Desi untuk segera ke ruangan Pak Chandra.  Desi merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri Pak Chandra, tapi ia tak tahu dan tak berani berasumsi dengan praduganya. “Sekarang, Pak?” Rin kaget dengan perintah Pak Chandra agar Rin berangkat ke Surabaya, sore ini juga. “Ya! Apakah ada masalah?” Rin menggeleng bingung. “Tapi ini mendadak sekali, Pak. Saya tidak ada persiapan.” “Untuk tiket dan akomodasi, sudah disiapkan oleh Pak Denis. Beliau pimpinan anak perusahaan kita yang ada di Surabaya. Saya ingin, Ibu Rin menghandle dan mengecek ulang laporan yang dikirimkan oleh Pimpro GOR. Ibu Rin hanya akan mengecek kebenaran laporan. Pak Denis yang akan menjadi guide Ibu Rin di sana.” Rin mengangguk ragu. “Ibu keberatan?” Pak Chandra memastikan. “Tidak, Pak Chandra. Saya justru merasa bangga akan kepercayaan ini,”  kata Rin dengan perasaan yang sedemikian bangga dan entah perasaan apalagi. “Oke, Ibu Rin punya waktu hingga menjelang waktu ashar untuk berbenah dan mempersiapkan diri.” Rin mengangguk. Begitulah, setelah menelepon ayahnya, Rin berbenah perbekalan untuk cek proyek di Surabaya. Jam menunjukkan pukul empat ketika Rin sudah sampai di bandara. Masih ada waktu satu jam ke depan sebelum keberangkatan ke Surabaya. Beberapa pesan dia sampaikan pada Desi melalui pesan Watsapp. Rin kadang kasihan dengan Desi karena nyaris seharian penuh berada di kantor. Ia akan pulang bila Pak Chandra sudah keluar dari ruangan beliau. ‘Maaf tadi nggak sempet ngasih kabar, mbak Des,’ tulis Rin di room chatnya dengan Desi ‘Acara apa, Bu?’ ‘Cek proyek.’ ‘Sama Pak Chandra ya?’ Kemudian muncul icon senyum geli muncul di layar. ‘Nggak. Sendiri.’ Desi malah membalas dengan emot menangis. Rin tersenyum sendiri dengan ungkapan Desi. Tepat sejam sesudahnya, pesawat tinggal landas menuju Surabaya, ketika tiba-tiba saja ingatannya terpaku pada peristiwa tadi pagi. Di mana Silvi dengan ringan dan entengnya menggoda  Romi dihadapannya. Tanpa sengaja hati Rin mencelus. Hei? Kenapa harus tak enak hati? Sisi lain hatinya bertanya mengutuk. Biarkan saja mereka mesra dan saling menggoda, toh mereka memang sepasang kekasih? Ada yang salah? Hatinya yang lain berargumen. Tentu saja tak ada yang salah, yang salah adalah hatinya yang tiba-tiba cemburu dengan mereka. Cemburu? Hei? Ada apa ini kok muncul cemburu? Apakah ... Rin menggeleng tanpa sadar. Seorang penumpang disebelahnya melirik dengan dahi berkerut, seolah bertanya kenapa gadis ini menggeleng sendirian.   * * * *   Sepanjang masa magang Rin, semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Meskipun Rin seorang erempuan, nyatanya dia berhasil menghandle pekerjaan dengan gesit, meski tidak setangkas Sultan karena Rin seorang perempuan. Tapi secara keseluruhan, kinerja Rin terlihat sempurna. Itulah yang membuat Pak Chandra akhirnya memutuskan untuk mengangkat Rin sebagai karyawan, dengan memberinya surat kontrak setelah masa magang selama tiga bulan bisa dilaluinya dengan baik. Pagi ini, Romi datang ke kantor agak pagi. Kubikel pegawai masih belum terisi sepenuhnya. Dia segera masuk ke ruangannya, tapi sedikit heran karena melihat meja Desi masih kosong. Dilongoknya ruangan Rin juga masih kosong . Sepi... Mengapa terasa ada yang kurang? Romi kemudian masuk ke ruangannya. Tak lama terdengar Desi datang, segera saja dia keluar dari ruangannya untuk bertanya. “Oh, ya, Des. Biasanya Bu Rin datang lebih awal dari saya?” Desi tersenyum, seolah tahu ada yang tidak pas dalam hati Pak Bosnya kali ini. “Kemarin sore Ibu Rin berangkat ke Surabaya, Pak?” “Surabaya?” Romi terkejut dengan jawaban Desi. “Iya. Katanya beliau di utus sama Pak Chandra untuk cek ulang proyek, apakah sesuai dengan laporan atau tidak.” “Kok Pak Chandra tidak memberitahu saya? Bukannya itu harusnya pekerjaan saya?” “Mungkin karena kemarin Pak Chandra mencari Pak Romi nggak ada, jadi beliau mengutus Ibu Rin.” Tanpa banyak bertanya lagi, Romi memasuki ruangan Pak Chandra. Tanpa mengetuk, ia masuk. Terkejut, beliau mendongak ke arah Romi karena tak biasanya Romi masuk tanpa permisi. “Ayah menyuruh Rin ke Surabaya?” Pak Chandra mengangguk. “Ya. Ada yang salah?” “Itu kan pekerjaanku, Yah? Atau jangan-jangan ada konspirasi nih antara Ayah dengan Rin?” Pak Chandra hanya tersenyum lucu dengan ungkapan Romi. Laki-laki itu hanya geleng kepala dengan sikap arogan Romi yang muncul secara tiba-tiba hanya karena masalah sepele. “Rom, Ayah sudah terlalu tua untuk berkonspirasi dengan gadis muda seperti Rinjani. Dan ungkapan kamu seperti orang yang sedang cemburu?” Pak Chandra menembak telak. Muka Romi merah. “Saya punya Silvi, Yah ... Kenapa juga aku harus cemburu?” Romi membuang muka. Pak Chandra lagi-lagi geleng kepala dengan ulah Romi kali ini. “Urusan Silvi inilah yang membuat Ayah mengutus Rin untuk mengecek ulang proyek kita. Kemarin Ayah terima laporan dari Pak Denis. Semula Ayah akan menyuruh kamu untuk segera ke Surabaya. Awalnya Ayah ingin kamu yang ke Surabaya, tapi seharian HP kamu mati, dan Ayah tak punya pilihan lain.” Romi diam. Tentu saja HP dimatikan, karena dia sedang transaksi dengan Silvi. Romi butuh kepuasan, dan Silvi butuh pemenuhan kebutuhan materi. “Jadi kalau kamu mempercayai Ibu Rin seratus persen, kamu bisa saja tidak menyusulnya ke Surabaya. Tapi kalau kamu merasa sebagai atasan yang baik, kamu nggak akan membiarkan bawahanmu yang seorang perempuan terjun ke proyek seorang diri.” “Tapi bukankah Ayah bilang ada Pak Denis yang memandu Rin di sana?” Romi jual mahal. “Hanya secara teori, karena selanjutnya kita akan menemui segala sesuatu yang jauh dari teori,” sergah Pak Chandra. “Nantilah kalau pegawai kesayangan Ayah itu tak bisa menghandle, aku pastikan akan datang sebelum Ayah memintanya. Agar Ayah tenang, bahwa pegawai Ayah itu dalam keadaan aman,” Romi lantas keluar dari ruangan Pak Chandra. Pak Chandra hanya geleng-geleng kepala, merasa aneh dengan respon Romi yang diluar kebiasaan. Keluar dari ruangan Pak Chandra tak membuat Romi tenang. Mukanya kelihatan tegang, ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Sampai di ruangannya, segera diteleponnya seorang rekan biro perjalanan. “Ya, Bos?” terdengar suara di seberang. “Bookingkan saya tiket ke Surabaya sore ini, Ron.” “Oke. Kelas Bisnis khan, Bos?” “Seperti biasa.” Telepon ditutup dengan cepat tanpa basa basi. Segera saja dibenahinya berkas kerjanya dan dia bergegas keluar ruangan. “Desi, kalau Pak Chandra mencari saya, katakan pada beliau saya terbang ke Surabaya sore ini,” kata Romi meninggalkan pesan pada Desi sambil lalu. “Menyusul Ibu Rin, Pak?” “Ya,” jawab Romi tanpa ekspresi kemudian berlalu. Desi bingung. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Desi mengerutkan keningnya, bingung. Memasuki apartemennya tak lantas membuat Romi sedikit rileks. Beberapa potong pakaian segera dia benahi, dimasukkan ke dalam koper. Setelah semua perbekalan beres, Romi mencoba rileks sebentar. Direbahkannya tubuhnya di atas kasur king size-nya. Sekilas dia ingat Silvi. Apa perlu mengajak perempuan itu ke Surabaya? Ah, tentu saja akan membuat repot dengan selera belanjanya. Dan Rin? Pasti sekretarisnya itu akan semakin memandang rendah dirinya yang membawa pasangan pranikahnya ke area kerja. Rin? Mengapa harus peduli dengan penilaian gadis itu tentang dirinya? Sebaik apa atau seburuk apa, toh tak ada hubungannya dengan perempuan itu, kan? Pikiran tentang Rin membuatnya lelah. Romi terlelap. Meski hari belum lagi jam 12 siang.   * * *   Rapat intern malam ini berjalan dengan sangat baik. Semua laporan yang kemarin dikirim via email, malam ini dibahas dengan suasana yang nyaman, penuh kekeluargaan dan penuh tanggung jawab. “Baiklah, Pak Denis. Besuk pagi kita akan meninjau langsung ke proyek. Saya ingin Bapak bersedia menemani saya untuk cek langsung,” kata Rin menutup acara rapat malam ini. Pak Denis mengangguk. Keluar dari ruangan kantor cabang itu, suasana antara Rin dan Denis tampak mencair. Bagaimana tidak, ternyata Denis yang kepala cabang itu adalah teman kuliah Rin yang dulu sangat dekat dengannya. Tawa mereka lepas. “Aku nggak menyangka karier kamu akan secemerlang ini, Den?” Denis tersenyum lepas. Rasa rindunya pada teman karibnya ini seolah terobati dengan pertemuan yang sangat tidak terduga. “Dan aku yakin, kamu akan memiliki masa depan yang cerah. Karena kamu salah satu teman aku sangat cerdas,” puji Denis. “Dan cantik,” Rinjani meneruskan kesimpulan Denis dengan penuh rasa percaya diri, membuat Denis mencibir kesal sekaligus senang. Keduanya terbahak-bahak seperti layaknya masa kuliah dahulu. Kalau kamu nggak cantik, tentu aku sudah terpaut dengan gadis lain,  nggak terpenjara perasaan cinta seperti ini. Denis membathin dengan pongahnya. “Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?” Denis menawarkan. Rinjani mengangguk. Mereka lantas berjalan ke arah parkir dan kemudian meluncur dengan mobil ke arah restoran. “Aku nggak menyangka kamu akan merubah penampilan kamu,” kata Denis yang melihat Rinjani berpenampilan sangat dewasa. “Bagaimana menurut kamu?” tanya Rin dengan riangnya. Senyum riangmu menyiksa aku, Rin… “Hmmm… luar biasa ... amazing. Kirain kamu akan bertahan dengan tampilan tomboy.” “Ya nggaklah … Kan aku makin dewasa. Lagian tuntutan pekerjaan tidak mengijinkan aku untuk berpenampilan sesuai kesenanganku.” Denis tertawa.  “Bagaimana kabar kamu, Den? Udah menikah?” Denis menggeleng. Rinjani tersenyum. Tak mungkin cowok seganteng Denis nggak ada yang mau menjadi belahan jiwanya. “Kenapa? Emang di Surabaya ini nggak ada yang cantik?” “Nggak ada yang secantik kamu, Rin,” Denis nyeplos membuat Rin tertawa. Diapun tersenyum geli dengan kalimatnya. “Kan aku sudah tahu bahwa aku cantik, nggak pelu lagi kamu katakan,” Rin membalas kalimat Denis dengan pongah dan kepercayaan diri yang melebihi batas. “Kamu sendiri?” Denis balik bertanya. “Yaaa… seperti yang kamu lihat. Aku kemana-mana sendiri, nggak ada yang nelpon selain Ayahku sama Boss aku.” Denis tertawa juga dengan jawaban Rin. “Nasib kamu nggak jauh beda sama aku ternyata.” Keduanya tertawa lepas. “By the way, kenapa kita nggak jadian aja?” tanya Denis tiba-tiba sambil menatap Rin yang berada di sampingnya dengan tatapan serius. Rin semakin tertawa dengan tawaran Denis. “Aku nggak mau bikin cewek-cewek yang tergila-gila sama kamu jadi patah hati hanya karena aku jadian sama kamu,” Rin menjawab asal, sebagaimana dulu mereka suka bicara konyol. “Memangnya kamu tahu ada yang naksir sama aku?” “Ya tahulah. Melani dari tingkat pertama juga naksir berat sama kamu.” “Melani yang mana?” “Yang Psikologi, “Iya kah ? Kok aku nggak tahu,” Denis bergumam lirih. “Nggak tahu apa pura-pura nggak tahu?” “Beneran, Rin … Aku nggak tahu.” Kemudian obrolan mereka berlanjut sampai hidangan makan malam mereka habis dan memutuskan untuk meninggalkan rumah makan. Mereka baru saja meninggalkan restoran ketika handphone Rin berdering. Rin mengangkatnya di hadapan Denis. “Ya, halo?” “Dimana posisi Ibu Rin sekarang?” terdengar Tanya di seberang yang sepertinya Rin tahu siapa penelepon tanpa nama itu. “Boss gue,” Rin berbisik lirih ke arah Denis dan kemudian kembali menjawab telepon tersebut. “Hallo, selamat malam, Pak.” Rin terlihat diam mendengarkan. “Bapak ada di Surabaya? Malam ini? Saya…Saya sedang makan malam, Pak.” Rin diam sejenak, terlihat mendengarkan. “Apa, Pak? Bapak sudah ada di hotel tempat saya menginap?” Tanya Rin yang terkejut dengan pemberitahuan bahwa Romi sudah ada di Surabaya. Rin kelihatan bingung. “Baiklah, Pak. Saya segera kembali ke hotel.” Rin menutup telepon. “Den, antar gue ke hotel ya? Bos gue nyusul. Nggak percaya amat ama kerja gue?” Rin menggerutu. Keduanya masuk ke mobil dan meluncur ke penginapan. “Pak Chandra yang datang, Rin?” “Bukan. Anak beliau yang datang. Tumben?” Denis terdiam, sementara Rin sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa Pak Romi datang ya ? Begitu tiba di penginapan, Denis mengantar Rin sampai di lobi Hotel. Di sana seseorang yang terlihat angkuh telah menunggu. Begitu menatap mata Romi, tiba-tiba ada yang lain dalam penglihatan Denis. Kesombongan Romi memunculkan imajinasi yang terhubung otomatis dengan Rin. Denis menatap keduanya bergantian, seolah mencari sebuah benang penghubung diantara mereka berdua. Tapi kesombongan Romi dan keacuhan Rin mematahkan instink Denis. “Terima kasih sudah mengantar, Den,” ucap Rin. “Oke, sampai jumpa besok di proyek.” Tiba-tiba hati Romi mencelos dan terlihat tak suka dengan keakraban keduanya. Tunggu, memangnya ada yang salah gitu jika mereka berdua dekat? Rin mengangguk dan menatap kepergian Denis dengan penuh tanda tanya. Mengapa Denis menatapnya dan Pak Romi bergantian. “Maaf, Pak. Kok Bapak datang mendadak? Maksud saya, tidak ada pemberitahuan sebelumnya?” “Agar Ayahku tenang karena pegawai kesayangannya aman,” jawab Romi dengan ketus dan nada aneh. Rin kaget dengan nada suara Romi. “Maksudnya?” Rin bertanya dengan nada tinggi. Ditatapnya manik mata Romi tajam. “Lupakan! Saya hanya ingin segera beristirahat karena perjalanan Jakarta Surabaya sedikit melelahkan.” Meski kesal, Rin tetap harus menghormati beliau. “Bapak sudah memesan kamar?” “Ya, dan sialnya saya tak mendapatkan kamar paling rendah sekalipun,” Romi menjawab dengan kesal. “Maksudnya? Kamar hotel terbooking semua?” Rin heran. “Ya, karena penginapan yang kamu pilih ini sebenarnya kurang standar untuk keperluan saya.” Tiba-tiba Rin naik darah dengan penilaian Romi. “Kalau Bapak merasa ini sangat tidak standar, Bapak bisa mencari Hotel yang sesuai dengan selera Bapak. Silahkan!” jawab Rin dengan sewot lalu beranjak pergi. Tapi tiba-tiba Romi meraih tangannya dan menyentakkannya. “Saya bisa mencari hotel termewah sekalipun asal kamu ikut serta dengan saya meninggalkan penginapan sialan ini!” Romi berkata dengan mengatupkan gerahamnya menahan geram, agar tidak terdengar oleh resepsionis yang sepertinya menatap mereka berdua dengan penuh tanya. “Maksudnya?” “Kamu bias check out dari hotel ini dan ikut dengan saya mencari penginapan yang lebih pantas untuk kita!” “Kenapa saya harus pindah? Saya merasa sangat nyaman dengan penginapan ini.” “Oh, ya? Biar ada sedikit kebebasan untuk bertemu dengan Pak Denis yang Pimpinan Cabang? Oh, ya … Kamu harus tahu bahwa saya bisa memindahkan Pak Denis-mu itu jika saya kurang berkenan dengan sikapnya,” Romi makin ngawur tanpa mampu mengontrol kecemburuannya melihat keakraban Rin dengan Denis. “Apa? Memangnya kenapa dengan sikap pak Denis? Setahu saya beliau baik, sopan dan pekerja keras,” Rin makin kurang paham dengan sikap Romi yang aneh. Dengan sewot akhirnya ditinggalkannya Romi di lobi hotel dan dia segera menuju ke kamarnya di lantai empat. Romi juga bingung dengan reaksi otomatisnya, maka dia segera berlari mengikuti Rin dengan tas jinjingan berisi bekal pakaiannya. Sampai di dalam lift yang kebetulan hanya berisi mereka berdua, keduanya adu mulut lagi. “Kenapa Bapak masih mengikuti saya? Bukannya penginapan ini kurang standar?” “Saya hanya ingin memastikan bahwa kamu save.” “Saya yakin bahwa saya akan aman selama saya tidak melakukan hal-hal yang kurang baik,” Rin melotot. Egonya sejenak melupakan bahwa Romi adalah Boss paling disegani di kantor pusat. “Benarkah? Bagaimana jika orang lain yang berbuat tidak baik sama kamu?” Romi menatap tajam pada sekretaris manis yang malam ini tiba-tiba berubah menjadi judes nggak karuan. “Bapak terlalu negative menilai orang lain!” Rin masih saja ngotot. “Karena saya juga laki-laki jadi saya tahu apa yang ada di kepala laki-laki jika melihat perempuan cantik sendirian di hotel,” jawaban cepat Romi yang menyatakan bahwa Rin cantik segera disesalinya. Rin menatap Romi galak. “Sayangnya tidak semua laki-laki seperti Bapak,” kata Rin menggantung tanpa penjelasan membuat Romi semakin melotot. “Kamu..?!” kalimat Romi terhenti karena lift yang mereka masuki berdenting dan berhenti di lantai empat, dan pintu telah terbuka. Rin bergegas keluar diikuti Romi. Kamar Rin yang tak jauh dari lift membuat keributan mereka tak begitu terdengar. Memasuki kamarnya, Rin tak memperdulikan keberadaan Romi yang semakin membuatnya jengkel. Apa hubungan pekerjaan dengan Denis? Nggak ada salahnya juga dengan Denis, pikir Rin. Tapi lantas terdengar ketukan bertubi di pintu. Rin membuka pintu lagi, ditatapnya Romi yang menjulang dihadapannya dengan wajah kesal. “Bukannya Bapak mau mencari penginapan yang layak untuk Bapak?” “Tentu saja! Tapi dengan kamu ikut sama saya! Atau saya akan ikutan nimbrung untuk tidur di kamar ini!” Romi menjawab tegas. Rin melotot geram. Bagaimana mungkin mereka akan tidur dalam satu kamar? “Saya dan Pak Romi bukan suami istri, jadi kita nggak akan satu kamar. Maaf,” Rin menutup pintu. Romi bengong. Baru kali ini ada perempuan yang dengan seenak perutnya ngomong dengan kasarnya didepannya. Bahkan menyia-nyiakan kegantengannya dengan begitu saja. Sial!!! Romi mengumpat dalam hati. Romi mengetuk pintu kamar, tapi tak ada jawaban. Lantas dia berjalan ke arah kursi yang berada di depan setiap kamar di lorong penginapan itu. Mondar mandir dengan kesalnya karena tak mendapat penginapan yang sesuai dengan, setidaknya, standar pribadinya. Didekatinya pintu kamar Rin, hendak diketuknya tapi urung. Dan dia merasa kesal sendiri karena entah mengapa begini nekad menjaga pegawai kesayangan ayahnya ini. Duduk dan bersandar, pikirannya yang lusuh mendatangkan kantuknya.   * * * *   Pagi ini, Rin telah ada janji untuk meninjau proyek dengan Denis. Rencananya, Denis akan mengawalnya  meninjau GOR yang menurut laporan sudah 95 persen itu. Jam enam pagi Rin telah siap dengan gaya dan kostum modisnya dan hendak turun untuk sekedar minum kopi di kantin penginapan. Tapi pemandangan di depan kamarnya membuat Rin terperanjat, karena di sana Romi tertidur di kursi masih lengkap dengan pakaiannya tadi malam. Kenapa nggak mencari penginapan lain? batin Rin pongah. Berdiri didekat Romi, Rin menatapnya lekat, sejenak Rin termenung. Laki-laki sombong ini yang dulu sempat membuat duniaku menghilang, berhenti sejenak pada poros yang tak kutahu ujungnya, menyeretku pada magnet pesona yang tak bisa kulawan. Tapi magnet itu harus tetap kulawan, ada hati yang harus kupertimbangkan sebelum aku membiarkan debaran menghanyutkan ini menguasaiku. Lama ditatapnya wajah Romi. Ketampanan dan wibawanya sama sekali tak hilang meski tertidur dalam keadaan yang sangat tidak nyaman. Rin mendesah, dadanya sesak oleh pesona sekaligus rasa bersalah yang demikian hebat menguasai jiwanya. “Pak Romi,” Rin memanggil Romi pelan, seakan takut membangunkan Romi. Diguncangnya perlahan bahu Romi. Romi terbangun dengan sangat malas. Ditatapnya Rin, sejenak. Seolah mencari tahu keberadaannya sendiri. “Kenapa Bapak tidur disini?” tanya Rin lembut. Sisa kemarahannya tadi malam hilang begitu dilihatnya Romi masih berada di depan kamarnya hingga pagi menjelang. Gish! Bangun tidur ada perempuan secantik ini di depan mata? Kalau saja ini sebuah mimpi, sejujurnya Romi masih ingin terlelap. “Karena aku nggak dapet kamar dan kamu nggak mengijinkan aku untuk tidur dikamar kamu,” Romi angkat bahu. Suaranya masih serak, khas bangun tidur. Rin bingung dan serba salah. “Seharusnya Bapak bisa mencari penginapan lain agar bisa tidur dengan baik.” “Aku nggak akan meninggalkan kamu berada di kamar hotel ini sendirian.” “Tapi saya aman kan? Itu artinya kekhawatiran Bapak tidak terwujud.” “Sampai detik ini, iya. Nanti?” Romi memberi alasan yang sangat tidak masuk akal. “Maaf, saya nggak mau berdebat dengan Bapak untuk jam sepagi ini. Jadi lebih baik Bapak mandi di kamar saya.” “Kamu nggak keberatan?” Rin menggeleng. Dibawanya tas Romi masuk kamar penginapannya. “Bapak bisa mandi dan memakai handuk hotel. Saya membawa bekal handuk sendiri, jadi Bapak nggak perlu kuatir untuk berbagi handuk dengan saya,” kata Rin lunak. Romi mengangguk. “Kamu?” “Saya akan minum kopi di kantin. Sekalian membuka email, mana tau ada kerjaan dari Mbak Desy.” Romi mengangguk. Dibiarkannya Rin beranjak keluar kamar. Sepeninggal Rin, Romi menggeram menahan rasa. Bagaimana mungkin aku begini terpesona dengan perempuan yang satu ini? Dia bahkan lebih pantas jadi keponakanku. Tetapi diakui atau tidak, cerdasnya, cantiknya, dewasanya, caranya berpakaian, semuanya seolah menjadi daya tarik luar biasa yang membuat Romi bersikap defensif secara reflek. Aaaarrrggghhhh….. Romi kesal dengan angannya sendiri.   _ oOo _
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD