“Katakan pada si tua bangka itu untuk keluar sekarang!” kataku tak sabar pada sang penjaga rumah besar. Ditanganku telah tergenggam sebuah lencana. Lencana yang aku dapatkan dari Alvaro, tatkala dirinya membalas surat yang aku berikan padanya beberapa waktu lalu. “Hei, sebenarnya kau ini siapa sampai berani meminta bertemu dengan orang sehebat Gubernur hah?! b***k rendahan sepertimu tidak pantas bertemu langsung dengan Tuan Gubernur!” Aku tidak bicara untuk membalas perkataan pria dengan mulut besarnya. Maka sebagai gantinya aku mengeluarkan pedangku dan menodongkannya pada pria itu. Masih dengan pandangan mata yang sama untuk mengancamnya. “Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk bicara, kalau kau sayang nyawa bukakan pintu untukku. Kalau tidak aku akan menghabisimu sekarang juga,”

