19-Sakit

1151 Words

Sudah lebih dari dua jam Ziddan menatap pintu putih yang tidak kunjung terbuka. Pikirannya hanya Caca, Caca dan Caca. Apa yang terjadi dengan istrinya? Apakah dia kesakitan? Apakah dia sudah siuman? Beribu pertanyaan berkecamuk di pikiran Ziddan. Ziddan mengusap wajah dengan gusar. Berharap ruangan itu terbuka dan menampakkan sosok istrinya yang sehat tanpa luka sedikitpun. Ziddan tertawa miris, bagaimana ia berharap seperti itu padahal kenyataannya tubuh Caca luka dan mengeluarkan darah cukup banyak. Puk... Sebuah tepukan ringan terasa di pundak Ziddan, tanpa menoleh ia tahu itu Cikko yang dari tadi menemaninya. “Makasih. Kalau tadi nggak ada lo gue nggak tahu nasib Caca.” Cikko melihat dengan jelas raut kesedihan Ziddan. Bahkan ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Ziddan yang sep

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD