Pagi ini aku terbangun dengan penuh harapan. Berharap Letti membuka matanya, semalam dokter bilang dia gegar otak ringan.
"Kamu masih belum bangun juga, tee", gumanku
Aku memutuskan untuk mandi, setelah itu kusuruh maid menyiapkan sarapan.
Ddrrtt... Ddrrtt...
Devi is Calling..
'Ya sayang..',
'Babe, lusa ulang tahunku.. Bantu buat bikin pesta ya?',
'Letti sedang sakit, aku tak bisa meninggalkannya',
'Apa? Sepenting itu kah? Kamu suruh Helen atau lainnya jagain kan bisa! Kenapa harus kamu sih?! ",
' Aku coba dulu, kalau mereka tidak bisa, kamu minta bantuan temen-temen kamu aja',
'Temen-temen aku udah pasti bantu lah!',
Tut tut tut
" Ada aja sih!! ",
Aku kembali ke kamar, melihat kondisi Letti.
"kamu yang bawa aku kesini?", kalimat pertama yang aku dengar saat masuk ke kamar
"menurut kamu? Ngapain sih pake acara lembur? Terus kalo sakit kenapa ga bilang?",
"Bilang ke siapa? Kamunya sibuk pacaran..",
"Sorry...",
"Gapapa.. Lagian udah kelar kok kerjaannya..",
"hmm, ada yang sakit?", kudekati Letti dan duduk di sampingnya
"aku laper, om..",
"Aku ambilin dulu, tadi maid udah siapin makan buat kamu",
"Iya",
Buru-buru aku mengambilkan sarapan untuk Letti. Entah kenapa aku lebih khawatir padanya dari pada Devi yang sedang marah.
"aku suapin ya", ucapku sembari menyendok makanan
"Tumben dirumah? Ga ada acara sama Devi?",
"Kesehatanmu lebih penting, tee.. Udah jangan bahas Devi!",
"Biar Al jemput aku habis ini, aku istirahat dirumah aja",
"Ada Al?",
"Iya, tapi dia di rumah Pakuwon",
"Oh.. Ya udah kalo gitu.. Aku bisa tenang kalo kamu sama Al",
"Iya.. Makasih..",
"Untuk apa?",
"untuk semalam dan pagi ini",
"Hmm, habiskan makanannya.. Setelah ini mandi..",
"kau terlihat seperti papaku sekarang.. Hahaha",
"Jika aku papamu, sudah ku kurung kamu biar ga kerja!",
"Ihh.. Papa aku ga gitu kale.. Hahaha",
Senang melihat senyumannya kembali. Aku melihat Letti sedang menghubungi Alletta adiknya.
'Al, jemput aku di rumah Ino dong!',
'kemana mobilmu?',
'Ada di garasi',
'Kamu sakit mbak?',
'Hmm dikit.. Tapi udah mendingan sih',
'Ya udah aku jemput sekarang',
Tut tut tut
"Aku siap-siap dulu ya", ujar Letti mencoba bangun dari tempat tidur
"Mau aku bantu?",
"Ga usah, kamu udah banyak bantu hehe",
"Aku tinggal gapapa? Besok Devi ultah, jadi aku...",
"Oke.. Gapapa kok.. Santai aja kali, om",
"Okay...",
Aku sudah siap dengan setelanku dan barang yang ku bawa.
"Aku pergi dulu... Cup.. Cepat sembuh",
"Thanks..",
Ceklek
Brak
Letti pov
Aku menahan rasa ku agar dia tidak curiga. Bersikap seperti biasanya, menjadi seorang partner.
Alletta datang tepat pada waktunya. Aku keluar dari rumah Ino dan bertemu Adis di depan.
"Tee.. Gimana? Masih sakit? Ini mau kemana?", tanya Adis beruntun
"Udah baikan kok, aku mau balik dulu.. Laporannya ada di meja kerjaku nanti kamu koreksi ya!",
"Oke.. Nanti sore aku sama yang lain main ke apartemenmu ya tee??",
"Iya main aja, aku di rumah kok",
Aku masuk ke dalam mobil Al, dan dia melajukan mobilnya menjauhi rumah Ino.
"Sakit ga rasanya?", tanya Al tiba-tiba
"Maksud lo??",
"Liat om lebih perhatian ke yang lain!, kalo selama empat tahun ini kan kalian cuma main-main aja cari pacar, tapi kayaknya sekarang Ino sedikit serius sama pacarnya",
"Hmm, ga tau juga ya.. Tapi... Kayaknya ga bakal lama lagi bakal putus deh",
"Yakin bener..",
"Iya, soalnya Devi itu kan player.. Pacarnya ada dimanapun",
"Oh, ga tau juga kalo gitu",
"parkir di basementku aja, jadi langsung masuk ke apartemenku",
"oke",
Ciitt...
Ceklek..
Brak...
"Ga ke rumah sakit aja, mbak?",
"Ga perlu, bentar lagi juga baikan. Aku punya dimsum di lemari es.. Mau?",
"Boleh, sini aku bantuin bikin",
Kami berbincang layaknya adik kakak, namun lebih dalam. Al sudah seperti kembaranku, dia selalu tau apa yang aku rasa.
"Jujur, mbak suka sama Ino udah lama, ga pengen apa hubungan partner gaje itu di tiadakan?",
"hmm.. Kalo di tiadakan terus bikin aku sama dia jauh, mending kek gini aja. Hehe",
"hmm, dasar bucin lo, mbak",
"Hahahahha... You know me..",
Ddrrtt... Ddrrtt...
Helen is Calling...
'tantee...',
'Yuhuu... Ada apa Len?',
'kita udah di lobby mau naik nih',
'oke, naik aja langsung hehe',
Tut tut tut
"Temenmu mbak?",
"iya, mereka main kesini",
"Aku tinggal gapapa nih?, ada janji sama Daren soalnya",
"iya tinggal aja gapapa",
"ya udah.. Duluan ya mbak..",
"Iya.. Hati-hati dijalan",
Ceklek
Brak
Ting tong
Ceklek
"Hai.. Masuk guys", sapaku
"Adekmu mau kemana, tee? Padahal mau pedekate", ujar Bayu
"Ada janji sama temennya, hahaha... Kmu bukan tipenya kale...",
"yaelah tee.. Bantu dikit napa!",
"Ogah...",
Ada empat orang yang datang, mereka memang teman yang solid. Yang ga datang biasanya bakal hubungi aku sendiri nanti. Mereka memang punya kesibukan sendiri-sendiri, aku juga tidak bisa memaksakan.
"tee, kasihan tau si om.. Jadi kacung gitu", ujar Adis
"biarin aja dulu, entar juga sadar sendiri", terangku
"tetep aja.. Tau kan si om kalo ga di ketok kepalanya ga bakal sadar, Devi itu cewek ular kali...", omel Adis tidak suka dengan Devi
"tee, besok gimana dong? Bisa ga pemotretannya?", tanya Bayu khawatir
"bisa kok, Bayu temenin aku ya!?kalo sendiri pasti ribet entar disana",
"siap tee..",
"ini laporan kemarin, ada yang salah deh.. Kok ada pengeluaran yang diluar sepengetahuan kita ya?", ujar Helen kesal
"coba lihat..",
Aku mengamati isi laporan itu, nampak jelas ada dana keluar lima puluh juta semalam.
"oh ini... Iya aku lupa bilang, kan CC aku limit habis, jadi aku pinjem deh uang kantor.. Hehe sorry ya aku lupa bilang..", aku beralasan pada mereka
"ooohh... Ya udah ketemu kalo gitu masalahnya, kan yang bisa pake cuma tantee sama om.. Jadi kalo tantee yang pake berarti bener nih laorannya..", ujar Helen lega
'lima puluh juta semalam, kamu buat apa Ino?!, ga biasanya kamu hamburin uang kayak gini', batinku
Cukup lama kami mengobrol hingga ada yang menekan bel pintu.
Ting tong
" Siapa ya? ", tanyaku
" mana kita tau tantee.. Yang punya rumah situ kok nanya ke kita..", sahut Ilham
Ceklek
"Rei",
Rei langsung memelukku erat, dia seperti sangat khawatir padaku.
"Kamu gapapa kan?", tanyanya panik
"Gapapa kok, cuma kepentok nih", sembari menunjuk ke arah kepalaku yang di balut perban
"Sudah kubilang untuk menghubungiku!! Kenapa kamu ceroboh sekali!",
"I'm fine.. Rei.. Jangan berlebihan dong!",
"Kok rame?",
"Ada anak-anak lagi meeting dadakan hehe..",
"apa aku mengganggu?",
"tidak Rei, masuklah..",
Teman-teman sedikit terkejut dengan kedatangan Rei. Mereka mengenalnya karena Rei sering ke petshop.
"hi Rei.. Dari mana nih?", tanya Ilham
"Ham, dari kantor.. Kalian lanjytin deh.. Aku ga akan ganggu kok",
"udah kelar kok, Rei.. Santai aja sama kita.. Sini Rei.. Banyak makanan nih", ujar Adis sok akrab
"Thanks..",
Ddrrtt... Ddrrtt..
Plankton is Calling...
'tantee...',
'yuhuu..',
'sorry ya belum bisa gabung, baru aja turun nih',
'syukurlah kalo udah di bawah.. Ucox gmn',
'tuh lagi makan di warung emak, hahaha',
'salam ya buat yang di sana',
'okay tantee',
Tut tut tut
Seperti yang kuduga, yang ga dateng pasti langsung hubungin aku.
"kita balik dulu ya tee, udah malem banget",pamit Adis
"iya.. Hati-hati ya.. Thanks udah dateng..",
"sama-sama tantee", sahut Ilham
"Rei, kita balik dulu..", pamit Bayu
Rei hanya tersenyum dan mengangguk
Ceklek
Brak
"Rei, aku tinggal sebentar ya?",
"Kemana?"
"mau ganti perban",
"sini aku bantu",
"ya udah sini",
Aku masuk ke dalam kamar, menyiapkan peralatan yang akan kugunakan untuk mengganti perban di kepalaku.
Rei membantuku, dia masih sama seperti dulu. Hanya perasaanku yang kini berbeda padanya. Andai waktu bisa di putar.
"Done..",
"Thanks Rei..",
Rei duduk menjajarkan posisinya agar sama denganku yang sedang duduk. Aku melihat sorot mata Rei yang sama. Dulu aku pernah melihat sorot mata ini, saat dia masih sangat mencintaiku.
"Rei... Ada apa?", tanyaku
Rei tidak menjawab, namun dia menciumku dengan lembut. Tangannya memelukku, mempererat tubuhku dengan tubuhnya. Rei melumat bibirku dengan lembut, dan aku membalas lumatannya. Aku sungguh merindukan sentuhan Rei, sentuhan yang lembut dan penuh kasih sayang.
Rei melepaskan ciumannya, membuatku bisa mengambil nafas lagi.
"Rei..",
"Aku tahu.. Cintaku masih sama seperti dulu, Letti.. Tidak ada yang berubah..",
"Aku bisa merasakannya Rei, tapi..",
"Sstt.. Aku akan terus menunggumu..",
"Tidak Rei.. Banyak wanita yang menyukaimu.. Carilah yang lebih baik daripada aku..",
Rei tidak menjawab, justru dia mendaratkan ciumannya lagi. Aku merasakan tubuh Rei memanas karena ciuman yang dia lakukan. Tangan Rei mulai menjelajahi tubuhku. Aku merasakan remasan lembut di dadaku, membuatku mendesah namun tertahan ciuman kami.
"Letti..", bisiknya di telingaku
Rei menggendongku dan menidurkanku di atas ranjang. Tangannya menumpu tubuhnya agar tak menindihku. Wajahnya nampak merah seperti udang rebus.
Rei melepaskan pakaianku perlahan, dia melihatku menggeleng untuk tidak melakukannya. Namun Rei tak menggubrisku.