Faisya memasuki kamar Akbar dengan tatapan yang memutar ke seluruh penjuru ruangan bercat putih dan biru ini. Kamar ini cenderung netral, tak terlihat seperti kamar pria maupun wanita. Sebenarnya sudah beberapa kali ini Faisya memasuki kamar Akbar saat mereka berkunjung ke rumah mertuanya, tetapi entah mengapa rasanya hari ini begitu berbeda. Setelah mengetahui semua tentang kenyataan kalau Akbar adalah kakak yang selama ini ia dari, hal itu benar-benar membuat Faisya bahagia. Faisya tak merasa ragu lagi kalau Akbar benar-benar mencintainya, perasaan pria itu untuknya sudah lama tertanam di hati. Tak ada rasa takut kehilangan lagi, melainkan rasa lega yang menjalar di dalam hati. Kamar ini tak terlalu luas dan tak terlalu sempit, sangat pas seperti kamar kebanyakan. Tak perlu ada AC di k

