Aku jadi bernafsu lagi melihat tubuh Pratiwi yang luar biasa itu, susunya montok dan kenyal dengan p****g yang berwarna merah muda sangat serasi sekali dengan kulitnya yang putih kekuning kuningan itu, sementara ketiaknya juga berbulu lebat, sesuatu yang sangat aku senangi, sedangkan pangkal paha Pratiwi benar benar menakjubkan, karena meskipun jembutnya sangat lebat, tetapi Pratiwi telah mencukur sebagian jembutnya sehingga hanya tinggal bagian tengahnya tegak lurus dari pusar sampai kebukit nonoknya.
Meskipun saat itu kami masih sama sama berdiri, Pratiwi tak segan segan merapatkan tubuhnya dan menciumku dengan mengeluarkan lidahnya yang hangat menelusuri rongga mulutku, tanganku dengan lincah mengarahkan kont*lku keliang nonoknya yang tepat menempel didepan kont*lku itu. Begitu ujungnya menempel, aku segera menggendong Pratiwi dan menekankan kont*lku sampai amblas kedalam liang nonoknya.
Dengan posisi menggendong Pratiwi dan mulut masih berkutat dengan ciuman aku berjalan menuju sofa. Pratiwi benar benar pemuas nafsu pria rupanya, karena meskipun dalam posisi yang sulit yaitu aku menggendongnya dan kakinya menjepit pantatku, dia masih sempat juga menggerak gerakan pantatnya untuk memilin kont*lku yang sepertinya melengkung karena posisi tubuh kami yang berdiri ini. Begitu kami roboh diatas sofa, ciuman kami terlepas dan Pratiwi melenguh sejenak, mungkin dia merasakan enaknya sodokan kont*lku yang notok sampai keliang rahimnya itu.
Tanpa malu malu Pratiwi mengangkat kakinya tinggi tinggi dan meletakannya diatas bahuku. Posisiku jadi bebas sekali, dengan ringan aku mendayung liang nonok Pratiwi yang sudah mulai becek itu, dan diapun dengan lincah memutar mutar pantatnya mengimbangi tusukan kont*lku. Kurasakan liang nonok Pratiwi yang peret dan berpasir itu membuat kont*lku terasa geli sekali, entah berapa lama aku memaju mundurkan pantatku, tetapi Pratiwi masih juga belum mencapai puncaknya begitu juga diriku sendiri.
Kuhentikan gerakanku dan kuminta Pratiwi untuk menungging agar aku bisa menyetubuhinya dari belakang, aku benar benar mata gelap dengan nafsu. Aku tak perduli lagi kalau mungkin diluar masih ada pasien yang menungguku, yang penting sekali ini aku harus membuat Pratiwi terpuaskan dan selanjutnya membantu kesulitannya agar tertanggulangi.
Ketika Pratiwi sudah menungging, tampaklah nonoknya yang sudah basah kuyup itu dipantatnya juga banyak bulu j****t sebagai tanda kalau memang j****t Pratiwi luar biasa tebalnya. Aku langsung menempelkan ujung kont*lku yang sudah merah padam itu kecelah nonok Pratiwi dan slep…….. bloos…….. kont*lku amblas sampai hanya tinggal pelirku saja yang menggantung diluar. Tanganku meraih buah d**a Pratiwi dan meremas remasnya, saat itu mulai kudengar rintihan Pratiwi mula mula pelan tetapi makin lama makin keras dan tiba tiba kurasakan liang nonok Pratiwi mengejang ejang dan hangat sekali.
Kurasakan rasa geli dan nikmat yang luar biasa saat itu, karena jepitan nonok Pratiwi sementara aku merojoknya membuat kont*lku seperti diurut. Dan tanpa bisa kutahan lagi akupun ambrol merasakan nikmatnya nonok Pratiwi, air maniku menyembur menabrak dinding dinding k*********a dan bercampur dengan lendir yang keluar dari nonoknya. Aku terkulai lemas sementara Pratiwi menggigit pundakku karena menahan rasa nikmat dan agar tidak sampai berteriak karena rasa nikmat tadi.
Dalam keadaan masih gemetar, aku segera memakai pakaianku kembali begitu juga dengan Pratiwi, wajahnya semeringah dan tersenyum terus. Aku berpura pura seperti tak ada apa apa dan setelah kami berdua duduk berhadapan, aku memanggil Lenny masuk.
Lenny tersenyum melihat wajahku yang mungkin kentara kalau habis main seks itu. Aku minta dibuatkan minum dan Lenny dengan patuh membuatkan minuman buat kami berdua. Bagiku masalah Pratiwi bukan hal yang sulit dengan bermeditasi sejenak aku sudah berhasil menyelesaikan masalahnya, karena ada Bapak pejabat yang pernah ditolak olehnya untuk berhubungan intim rupanya sakit hati dan selalu mempersulit Pratiwi.
Aku katakan pada Pratiwi bahwa bapak itu sekarang sudah berubah tetapi sebaiknya Pratiwi jangan sekali kali memberi dia kenikmatan karena berbahaya. Pratiwi mengangguk manja dan ketika mau pulang dia sempat mencium bibirku lama sekali. Aku berjanji pada Pratiwi untuk sekali kali makan siang dengannya tentu setelah itu kita juga perlu kenikmatan seks.