Rama mengajak Anggita ke taman samping rumah Rama, menjauh sejenak dari suasana yang semakin siang semakin riuh. Ada sekitar tiga puluh orang teman-teman Dina yang datang. Anggita memandangi tangannya yang kini digenggaman Rama, hangat yang dirasakan Anggita menjalar hingga kehatinya. Sampai di sudut taman, Rama meminta Anggita duduk di bangku kayu panjang. Lelaki itu juga duduk di samping Anggita, menatap wajah gadis itu lekat. "Maaf ya, aku tahu aku salah melibatkanmu." Anggita tersenyum manis, ia menggeleng seolah berkata semua bukanlah masalah besar. Ia tahu itu hanya rekayasa Rama, tetapi kalau itu sungguhan Anggita amatlah senang. Satu yang baru disadari Rama, ternyata mata sipit gadis itu membentuk bulan sabit jika tersenyum seperti ini. Manis, puji Rama dalam hati. "Tak apa

