Part 5 ~ Perjuangan Fahri

1006 Words
Rama memalingkan wajah saat berpapasan dengan Diva di persimpangan jalan antara kompleks rumahnya dan jalan menuju rumah Diva ketika ia pulang kerja, sementara Diva sudah memasang senyum manis saat melihat Rama dari kejauhan. Lelaki itu sama sekali tak ingin memandang Diva. Sikap Rama membuat Diva heran, tak biasanya Rama bersikap seperti itu. Ia berhenti sejenak, sempat terpikir Diva menyusul Rama tetapi pesanan yang harus diantar membuat Diva mengurungkan niat. Sementara Rama menggeram kesal sesaat setelah memarkirkan skuternya di garasi rumah, ia lepas helm dan sepatunya lalu masuk ke dalam rumah  menuju ke kamarnya. Tidak banyak yang dilakukan Rama, ia berbaring di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Perasaan kecewa terhadap sang Juwita meletup-letup, sehingga ia sulit mengontrol respon dirinya saat berpapasan dengan Diva tadi. Ia merasa hari ini bersikap sangat bodoh. Semalam, Rama melihat Fahri menggenggam erat tangan Diva dengan mulutnya yang melontarkan kata-kata manis yang membuat setiap gadis bertekuk lutut dibuatnya. Rama juga melihat respon Diva yang tak menolak perlakuan pria itu, justru gadis tersebut dimata Rama tampak tersipu-sipu malu. Belum melihat sampai tuntas karena merasa hatinya memanas, Rama segera keluar dari cafe yang sama mereka datangi, harusnya ia menolak saat Devan mengajaknya ke sana. Hatinya terasa sangat panas, terbakar api cemburu. d**a Rama naik turun jika mengingat bayangan kejadian itu, sungguh ini terasa sangat menyakitkan. Lima tahun Rama berjuang mendapatkan hati Diva, sama sekali tak pernah ada jawaban pasti. Diva selalu menganggapnya hanya main-main, padahal Rama sangat serius mencintai Diva. Sedangkan Fahri? Yang Rama tahu, dia adalah orang baru di kehidupan Diva dan dengan mudah memasukinya. Meraih hati Diva. Apa mungkin cara penyampaian rasa Rama kepada Diva yang salah? Atau memang Diva sama sekali tak ada rasa kepadanya dan hanya menganggap Rama sebagai sahabat? Rama sudah berjuang selama ini, selalu hadir dikala gadis itu mendapat perlakuan kurang baik dari sahabatnya sendiri, Denis. Bahkan hubungannya dengan sahabat sejak SMP itu saat ini sudah sangat renggang, Rama sendiri yang menciptakan jarak dengan Denis. "Asem, apa yang harus ku lakukan?" tanya Rama pada dirinya sendiri, perasaannya benar-benar tengah gusar. Rama menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia bangkit dari berbaringnya, menuju seperangkat monitor yang ada di pojok kamarnya. Game, mungkin bisa mengobati hati Rama saat ini. Ia akan bermain game online hingga pagi nanti, tak peduli matanya perih. Sungguh lebih perih hatinya yang sakit. Tak jauh beda dengan Rama, Diva juga tengah memikirkan apa yang terjadi kepada Rama. Seingatnya kemarin siang semuanya masih baik-baik saja, tetapi kenapa siang ini pria itu terlihat aneh? Mungkin nanti saat libur, Diva akan menemui Rama langsung. **** Sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah saat Diva baru saja pulang mengantar keripik pesanan pelanggan, Diva sudah sangat hapal mobil siapa. Gadis itu masuk ke dalam rumah, disambut dengan Fahri yang sedang berbincang dengan ibu Diva. Cepat juga mereka akrab, padahal baru beberapa kali berbicara secara langsung. "Diva pulang Buk." Diva menyalami tangan ibunya. "Kebetulan sekali, Nak Fahri juga baru saja datang. Ibu bikinkan teh dulu ya." Kata wanita berumur separuh baya itu, sambil berlalu masuk ke dalam menyiapkan minuman dan suguhan untuk tamunya. "Fahri, aku kan sudah bilang ...." "Aku akan terus mencoba Diva, sampai kamu benar-benar siap menerimaku." Ucap Fahri tegas, tak peduli penolakan yang ia terima semalam. Ya, Diva menolaknya. Katanya belum siap membuka hati untuk siapapun, karena rasa trauma itu masih terekam jelas dibenak Diva. Tidak kurang sedikit pun. "Biarlah cinta datang karena terbiasa." Lanjut Fahri. Diva menghembuskan napasnya, jujur saja percintaan bukanlah prioritasnya saat ini. Namun jika mengingat omongan ibunya soal calon suami, kadang membuat Diva merasa jengah dan segera menerima siapapun pria yang datang. "Berjuanglah dan mundurlah jika kamu lelah." Ucap Diva akhirnya, ia tak bisa memaksa perasaan seseorang kepadanya. Diva duduk menemani Fahri, dua cangkir teh dan beberapa cemilan menemani mereka. Tak ada perbincangan serius, hanya obrolan yang terasa kaku diantara keduanya. Fahri menatap dalam gadis yang duduk berseberangan dengannya, entah apa istimewa Diva sehingga membuat jantungnya kerap berdetak kencang jika bersamanya. Fahri mengenal Diva sekilas karena mereka berada di divisi yang sama, tetapi lama kelamaan rasa spesial mulai tumbuh dihatinya. Membuatnya berusaha memikat dan mendapatkan hati Diva. "Jika tidak keberatan, aku akan menjemput dan mengantarmu saat bekerja." Kata Fahri. "Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri." "Diva, kamu sudah bilang aku boleh berjuang 'kan?" Diva mengutuk dirinya yang mengizinkan Fahri berjuang meraihnya, jika bisa ditarik maka Diva akan meralat ucapannya. "Terserah kamu saja, Pak Fahri." Ucap Diva kesal, ia tak lagi bisa mengelak. "Terima kasih." Seulas senyum tersungging di bibir tipis Fahri. Pria itu pamit ketika langit mulai senja, berharap besok akan lebih baik untuk hubungan mereka berdua. ****** "Astaga, Rama. Kamu tidak tidur!" ucap Dina, berdiri di ambang kamar puteranya yang terdengar gaduh meskipun sudah tengah malam. Tentu saja Rama tidak mendengar, headset gaming terpasang menutupi kedua gendang telinganya meredam suara darimanapun asalnya. "Rama!" Teriak Bu Dina sedikit kencang, masih sama tidak ada respon dari Rama yang masih sibuk bermain. Kegeraman Bu Dina membawa petaka untuk Rama yang sedang main bareng dengan teman-temannya, dipencetnya tombol power yang ada di monitor. Rama yang tak menyadari kehadiran sang ibu, menatap layar besar di depannya dengan mata memelotot. "Ma, sebentar lagi menang." Rengek Rama yang sepertinya akan menangis. "Ini sudah tengah malam, ingat waktu!" ucap Dina garang, matanya memelotot ke arah putranya membuat nyali Rama menciut. Daripada nanti seperangkat komputer gaming bernasib buruk, Rama menurut saja. Ia segera naik ke atas ranjang, sudah seperti anak SD yang baru saja dimarahi ibunya. Dina keluar dari kamar Rama setelah menyelesaikan misinya, suara u*****n dari bibir Rama terdengar sangat jelas dari kamar Dina yang bersebelahan langsung dengan kamar puteranya. "Haaah, Mama tidak tahu rasanya orang patah hati." Gumam Rama. Rama berpikir sejenak, besok pagi ia harus mengubah rute jalan yang biasa dilewati. Ia tak ingin bertemu Diva, tidak untuk saat ini. "Kalau seperti ini, aku harus curhat dengan siapa?" "Ah, iya. Ada Ida, dia selalu ada ide cemerlang." Ucap Rama yang berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Meskipun sulit, Rama berusaha memejamkan mata. Ia berguling ke sana ke mari untuk mencari posisi nyaman untuk terlelap. Tanpa disadari Rama, ponselnya berkedip tanda pesan masuk. Seseorang menunggu jawaban diujung sana, sepertinya tak ada jawaban membuatnya lelah menunggu. Beberapa pesan kembali dikirimkan oleh orang yang sama, dan masih sama tidak ada jawaban. Sang pengirim akhirnya lelah dan menyadari kalau ini sudah dini hari, hingga akhirnya ia pun terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD