Tantangan Dalam Hubungan

1027 Words
Kayla merasa jantungnya berdegup sangat cepat. Ia tak menyangka jika saat dirinya menoleh kebelakang fajar langsung melihat ke arahnya. "Kenapa bisa pas banget sih momennya. Jangan-jangan dia mikir yang aneh-aneh lagi. Semoga enggak deh!" batin Kayla. "Woy, kok ngelamun lagi sih," ucap Lani. Kemudian menepuk bahu Kayla agar tersadar. "Apa sih!" "Jangan melamun lagi." "Iyaya!" "Gimana Kay. Apa dia lagi ngeliatin kita?" tanya Lani dengan nada menggoda. Kayla mengangguk. Ia menarik bibirnya sedikit tersenyum. "Iya kan, aku bilang juga apa. Dia itu pasti jodoh kamu. Yakin pokoknya, seratus persen." Lani semakin menjadi-jadi untuk mengomentari hubungan Kayla dengan Fajar. "Rasanya kayak gak bisa berpikir sejauh itu. Aku masih takut membuat harapan yang lebih sama Fajar." "Kita doa yang terbaik buat masa depan kamu sama Fajar. Eh, doa yang terbaik juga buat diriku sendiri yang masih jomblo." "Iya! Amin!" "Ngomong-ngomong, kamu nanti pulang bareng sama Fajar. Apa kalian ada rencana jalan bareng?" tanya Lani tiba-tiba. "Kayaknya aku nggak ada rencana pergi. Tapi, nanti pulang dianterin sih." Kayla kemudian tampak sedang berpikir. "Ya ampun, aku baru ingat sesuatu." "Kamu ingat apa?" tanya Lani penasaran. "Aku ingat kalau Fajar nyuruh aku buat kenalin dia ke ibu, tapi aku takut ketahuan ayah," keluh Kayla. "Enggak akan. Aku yakin Tante Rima pasti bisa bantuin kamu buat jelasin ke Om Setyo kalau sampai ketahuan. Lagian Fajar anak yang baik. Ibu sama Ayah kamu pasti suka." "Semoga deh!" ** Sebuah motor berhenti tepat di depan rumah Kayla. Motor model lawas dengan sedikit sentuhan modern ternyata cukup menyita perhatian pak Setyo, ayah Kayla. Ia yang sedang duduk di teras rumah. Tiba-tiba berdiri dan mulai berjalan mendekat kearah motor yang tak lain adalah motor milik Fajar. Di sana, juga ada Kayla yang baru turun dari motor tersebut. "Itukan Kayla," batin pak Setyo yang memperhatikan. Kayla membuka helmnya. Betapa terkejut dirinya saat melihat ayahnya berada di teras rumah. Ia pun secepatnya menyerahkan helm kepada fajar dengan perasaan yang tidak karuan. "Aduhhhh. Ayah kok tumben udah di rumah jam segini," batin Kayla. Fajar melihat kekasihnya memasang wajah cemas. Ia pun ikut memperhatikan ke arah mana Kayla memandang. Dipicingkan kedua matanya agar fokus untuk melihat. Ternyata ada sosok seorang pria yang memandang tajam ke arah Kayla dan dirinya. "Dia siapa Kay?" tanya Fajar. "Dia Ayahku," jawab Kayla singkat. "Ehmm, lebih baik kamu pulang dulu aja. Besok jemput aku pukul tujuh kurang 40 menit. Kalau sempat, nanti aku kenalkan sama ibuku," terang Kayla. Ia kemudian mendorong tubuh Fajar, berharap mataharinya itu segera pergi sebelum ayahnya semakin mendekat. "Oke oke! Tapi jangan lupa baca buku yang aku belikan. Itu bagus banget buat belajar bahasa inggris." "Iya bawel. Sekarang, cepetan pergi. Aku belum siap kalau harus diwawancarai sama Ayah." "Oke!" Fajar kemudian menyalakan motornya. Ia mulai melaju setelah sempat melempar senyum ke arah sosok yang dikatakan Kayla adalah ayahnya. Melihat motor Fajar sudah berlalu. Kayla segera berjalan menghampiri Pak Setyo dengan santai. "Siapa?" tanya Pak Setyo pada Kayla. "Yang tadi. Dia teman sekolah Kayla." "Kok cowok?" "Iya, soalnya cuma dia yang mau ngantar Kayla pulang. Ya udah aku iyain aja!" Mendengar itu, pak Setyo sempat melirik tajam ke arah putrinya. Ia mencium aroma berbohong. "Kamu yakin cuma teman sekolah?" "Iya Ayah, dia itu cuma teman sekolah. Kalau gitu, Kayla masuk rumah dulu. Udah lapar banget." Dibiarkan Kayla masuk lebih dulu. Sambil memandangi putrinya menghilang. Ia masih berdiri di tempatnya tadi. "Anakku udah besar ternyata," batin pak Setyo. Ia kemudian berlalu melangkah pergi. ** Malam ini, Kayla memutuskan untuk tidak menonton TV bersama sang ayah. Ia ingin menemani ibunya sebentar di dapur untuk beres-beres peralatan makanan yang kotor. "Kamu ada masalah sama ayah?" tanya bu Rima. Ia melihat putrinya sedang mengelap meja dengan wajah yang murung. "Enggak kok Bu. Aku cuma mau bantuin ibu dulu," jawab Kayla. "Tumben, ada apa nih! Jangan-jangan kamu mau cerita sesuatu ya." Bu Rima mendekati putrinya. Ia kemudian menarik kursi untuk mengajak Bella duduk bersama lagi di meja makan. Kayla tersenyum. "Ihhhh, Ibu tahu banget sih! Kalau gitu, biar aku buatkan teh dulu ya, sambil dengerin ceritaku," bujuk Kayla pada ibunya. "Ini anak, pinter banget ngerayu ibunya." Tak lama kemudian dua cangkir teh sudah siap dihidangkan. Setelah meletakkannya di atas meja, Kayla mengambil posisi untuk duduk di dekat ibunya. "Ibu! Aku sebenarnya mau kasih tahu sesuatu sama ibu." Kayla berusaha tenang dan mengatur irama jantungnya yang mulai tidak terkendali. Sedangkan Bu Rima mencoba menghirup aroma teh yang masih hangat. Dilihat wajah putrinya sangat serius. Ia rasa, ini sangat penting untuk didengar. "Memangnya kamu mau kasih tahu apa sih Nak?" Kayla tak langsung menjawab. Ia berusaha bersikap wajar seperti biasa. Berat rasanya untuk memulai mengatakan tentang dirinya saat ini. Apalagi ini adalah kali pertama bagi ibunya akan diberitahu. Jika dirinya sudah memiliki seorang pacar. Kedua matanya sempat terpejam beberapa detik. Kayla membayangkan respon ibunya seperti apa setelah ini. "Semoga ibu nggak marah apalagi kecewa," batin Kayla penuh harap. "Kayla Handyta Rahmi. Kamu udah bikin ibu nunggu lho," ucap Bu Rima. "Itu Bu, anu, aduh gimana ya. Jadi, gini lho Bu." Kayla mengatakannya dengan sangat tidak jelas. "Kayla, kamu yang bener dong kalau ngomong!" sahut Bu Rima. "Anu Bu, itu, Kayla sebenarnya udah punya pacar Bu." Bu Rima spontan mendelik. Ia langsung menatap wajah putrinya yang tiba-tiba menunduk tidak mau melihat kearah dirinya. "Aku udah pacaran hampir satu tahun, sejak aku ada di kelas sebelas," jelas Kayla. "Hah, selama itu? Dan kamu baru bilang ke ibu sekarang." "Ibu, jangan marah dong. Tapi, kan aku nggak bermaksud menutupinya dari Ibu. Lagian sekolahku juga masih lancar ajakan meski aku pacaran." Kayla berusaha mengangkat wajahnya meski sedikit ada rasa takut. Ia berusaha mengungkapkan apa yang dirasakan. "Oke, kalau kamu merasa sekolah kamu yang lancar-lancar saja. Tapi, asal kamu tahu Kayla agak kecewa. Kamu tahu kan diantara kita nggak boleh ada rahasia," perang Bu Rima ia semakin memojokkan Kayla agar putrinya itu merasa bersalah. "Tapi Bu. Aku nggak bermaksud buat kecewakan ibu." Bu Rima tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya menatap lurus ke arah Kayla yang merasa bersalah. "Apa ini pertanda ibu nggak akan setuju sama hubunganku dengan Fajar," batin Kayla. Ia pun berharap itu tidak terjadi. Selama sepersekian detik kemudian, muncul bulir bening di matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD