“Aku harus apa kalau ketemu Fajar di sekolah. Apa aku langsung kasih tahu dia kalau aku mau jadi pacarnya. Tapi, apa nggak kecepetan kalau cintanya aku terima. Gimana kalau dia mikir aku cewek gampangan. Ahhh … kenapa aku jadi kepikiran sih. Otakku kenapa juga harus ingat itu. Ingat Kayla, nanti ada ulangan harian. Aku cuma mau mikirin itu aja dulu.” Kayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit keras ia menggaruk hingga membuat rambutnya terlihat acak.
“Kayyyy! Sarapan Sayang!” panggil Bu Rima dari arah dapur yang terdengar hingga kamar Kayla.
“Iya Bu, sebentar lagi.” Kayla membuyarkan lamunannya. Seharusnya ia memang sudah berada di meja makan sepuluh menit yang lalu.
Sementara itu, Bu Rima menyajikan dua piring nasi goreng siap dimakan. Tak lupa segelas teh hangat untuk Pak Setyo, Ayah dari Kayla.
“Kamu itu tumben di kamar lama banget. Biasanya juga kalau abis mandi nggak lama langsung ke meja makan,” ucap pak Setyo saat melihat putrinya baru sampai di meja makan.
“Iya Yah, ada buku yang aku lupa taru mana. Jadi aku cari dulu,” ucap Kayla berbohong. Ia ingat apa yang dilakukan di dalam kamar tadi sehingga membuat dirinya terlambat untuk sarapan.
“Terus, bukunya ketemu?” tanya Pak Setyo.
“Ketemu kok,” balas Kayla dengan tersenyum.
“Ya udah cepetan makan. Kamu nggak mau telat pergi ke sekolah kan?” tanya Bu Rima meyakinkan putrinya.
“Enggak kok Bu. Ya udah aku makan dulu.”
**
Detik jam hampir mendekati pukul tujuh tepat. Kayla yang telah berada di bangkunya berusaha sibuk dengan buku-buku pelajaran. Ia tak berani menatap ke depan pintu kelas, meski hanya sekedar melirik. Takut jika nanti ada Fajar yang lewat sana.
“Kamu kenapa sih Kay. Jangan-jangan kamu belum ngerjain pr ya,” ucap Lani yang melihat tingkah Kayla sedikit berbeda pagi ini.
“Aku! Nggak ngerjain pr. Ya nggak mungkin lha.” Kayla langsung menatap kesal. Bersamaan dengan itu, Fajar lewat di depan bangkunya. Senyuman laki-laki tersebut bisa dilihat Kayla dengan begitu jelas. "Duh, bisa diabetes aku. Manis banget sih!" gumam Kayla.
Samar-samar Lani mendengar Kayla bergumam. “Ngomong apa kamu barusan!”
“Apa! Aku nggak ngomong apa-apa,” jawab Kayla singkat.
Guru akhirnya masuk ke dalam kelas. Kayla tak bisa lama-lama membiarkan perasaannya menguasai dirinya.
“Aku mau tolak aja si Fajar. Baru ditembak aja rasanya udah nano-nano gini. Apalagi kalau sampai pacaran. Bisa nggak fokus belajar aku. Tapi kan sayang cowok sekece Fajar ditolak. Ahhh, mikir apa aku!” Kayla mengalihkan pandangannya ke papan tulis. Ia harap tulisan di sana bisa menghipnotisnya agar secepatnya melupakan Fajar.
**
Jam istirahat telah usai. Guru yang bertugas siang ini ternyata tidak masuk. Kayla memutuskan mengunjungi perpustakaan sampai jam pelajaran kosong selesai.
“Bruuk!” Suara tumpukan buku yang dijatuhkan begitu saja di atas meja petugas perpustakaan.
“Kamu nggak salah Kay, mau pinjam buku sebanyak itu?” tanya Bu Wahyu, staf penjaga perpustakaan yang begitu baik dengan Kayla.
“Nggak salah kok Bu. Tapi, aku nggak papa kan pinjam buku sebanyak ini?” tanya Kayla dengan wajah sedikit cemas.
“Nggak papa kok. Emang mau kamu baca semua?”
“Iya, soalnya aku lagi ada tugas juga.”
“Ya udah!”
Sementara Bu Wahyu mencatat satu per satu judul buku tadi. Kayla memutuskan untuk mendatangi rak buku lagi.
“Kayaknya masih ada yang kurang deh,” batin Kayla.
Ia pun mengambil salah satu buku, dan betapa terkejutnya ada Fajar yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.“Hah, Fajar. Kamu ngapain?”
Dengan wajah tanpa merasa bersalah, karena sudah mengejutkan Kayla. Ia pun tersenyum menyapa. “Aku lagi cariin kamu.”
Kayla segera memalingkan wajah. Lalu berjalan perlahan menjauh dari Fajar. “Aku sibuk!”
“Sibuk banget ya?” tanya Fajar yang masih mengikutinya.
Kayla tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pertanda mengiyakan ucapan Fajar.
Fajar tak ambil pusing akan hal itu. Ia pun memutuskan untuk mengikuti setiap gerak gerik Kayla. Hingga dirinya mendapatkan jawaban dari pernyataan cintanya.
“Kamu mau ngapain sih?” tanya Kayla sambil menatap Fajar yang ada di sebelahnya.
“Nungguin kamu!”
“Buat apa?”
“Buat menghilangkan rasa kangen.”
Sontak wajah Kayla merah mendengar itu. Ia sedikit malu mendengarnya. Namun, ia tidak boleh terlalu berharap. Mungkin saja yang dimaksud Fajar bukan dirinya. Akan tetapi, di sana hanya ada dirinya dan Fajar.
“Aku nggak paham apa yang kamu omongin.” Kayla menyangkal. Ia berusaha menetralkan perasaannya yang sudah sangat berbunga-bunga.
“Ya biar aku nggak kangen sama kamu lah.”
“Fajar, kita berteman ajalah. Aku nggak mungkin pacaran sama kamu.”
“Kenapa? Kamu udah punya cowok!”
“Aku nggak mau pacaran dulu. Aku mau fokus sekolah.”
“Aku nggak akan ganggu kamu sekolah kok. Aku cuma mau jagain kamu aja.”
“Hahhh! Dia benar-benar nggak bisa dibilangin,” batin Kayla. Ia terpaksa menutup wajahnya yang memerah dengan buku yang sedang dibawa. Lalu pergi ke meja petugas perpustakaan.
“Lucu!” batin Fajar menatap Kayla yang pergi menghindar.
**
Perasaan Kayla semakin tidak tenang. Ia merasakan ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya.
“Kay, kamu ada masalah sama Fajar ya?” tanya Lani yang duduk di sebelahnya saat di dalam kelas.
Kayla melirik sekilas. Ia tak ingin menjawab pertanyaan dari Lani. Dihadapkan lagi wajahnya menikmati tulisan di papan tulis yang sedang dijelaskan oleh guru.
“Kay!” panggil Lani sekali lagi dengan suaranya yang lirih.
“Ssssttt, bisa diam nggak. Guru lagi nerangin di depan tu,” celetuk Kayla.
“Iya tahu, tapi Fajar dari tadi lihat ke sini terus. Nggak mungkin kan kalau dia lihat aku.” Lani semakin tidak bisa mengontrol diri untuk tidak ingin tahu. Ia bahkan terus-menerus melihat Kayla yang mengacuhkannya.
“Aukkk ah!”
**
“Duhhhh, hari ini rasanya sekolah nggak tenang banget. Lani beneran resek. Keponya kayak ibu-ibu arisan lagi ngerumpi,” gumam Kayla yang masih berada di sekolah.
Gadis itu mengemasi barangnya. Ia terpaksa pulang paling akhir karena harus mendapatkan amarah dari Guru yang sempat mengajarnya tadi. Gara-gara Lani terus menerus mendesak dirinya untuk berbicara dan terdengar berisik. Ia pun harus mendapat hukuman membersihkan meja guru di kantor setelah jam pulang.
“Beruntung banget itu anak malah lagi dapat tamu bulanan disaat genting kayak tadi. Jadi lolos deh. Ah dasar Lani.” Kayla masih meluapkan emosinya.
“Hay, pulang bareng yuk!” suara yang begitu tidak asing menyapa Kayla.
“Hah, kamu lagi,” batin Kayla sambil memandang tak percaya. “Bukannya kamu udah pulang?” tanya Kayla.
“Tadinya pulang, tapi aku balik lagi soalnya ada yang ketinggalan.” Fajar tersenyum sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Ya udah cepet diambil. Terus pulang,” sahut Kayla.
“Ini mau aku ambil.” Fajar menarik pergelangan tangan Kayla dan menarik untuk mengajaknya pulang.
“Maksud kamu?”
Fajar berusaha menatap intens ke wajah Kayla. “Kay, hati aku udah ketinggalan dalam diri kamu. Apa kamu nggak lihat gimana serius aku buat dapatkan kamu.”
Kayla membeku. Kini ia merasa sedang berada di antara dunia mimpi dan alam nyata. Fajar benar-benar ingin berpacaran dengannya.