Bab 2. Pekerjaan Baru

1271 Words
Mariana dengan cepat keluar dari dalam taksi dan setengah berlari masuk ke dalam lobi kantor yang ditujunya. Mariana begitu panik pagi ini. Bagaimana tidak, taksi online yang dipesannya begitu lama menjemputnya karena sempat terjebak macet, ditambah lagi dengan ucapan Sarah yang mengatakan bahwa bos pemilik perusahaan ini begitu galak bagaikan ibu kos yang sedang PMS. Kedua manik hitam Mariana mengedar ke seluruh sudut lobi. Begitu melihat stasi resepsionis, wajah Mariana berubah menjadi cerah dan segera beranjak mendekati resepsionis itu. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita cantik dengan seragam berwarna merah yang ada di stasi resepsionis kantor itu. “Bentar ya, Mbak.” Mariana berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi. Resepsionis itu terus menatap Mariana sembari menunggunya mengatakan tujuan kedatangannya di kantor itu. “Saya ingin bertemu dengan Pak Nicholas Suhendra,” ucap Mariana begitu napasnya sudah dalam kendalinya. “Apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?” “Sudah, kemarin.” Mariana menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Dengan Mbak siapa ya?” “Mariana.” “Baik, tunggu sebentar.” Resepsionis itu mengangkat sebuah gagang telepon yang ada di dekatnya kemudian menekan satu angka untuk menghubungi seseorang. Setelah berbicara beberapa kata, resepsionis itu kembali melihat ke arah Mariana tanpa menutup panggilan teleponnya. “Maaf, Mbak. Bisa beritahu nama lengkapnya? Karena Pak Nicholas merasa tidak mengenal nama Mariana.” “Sial laki-laki itu! Dia yang nyuruh datang, dia juga yang sok nggak kenal. Apa laki-laki kemarin itu hanya pura-pura mengaku sebagai pemilik perusahaan ini ya?” Mariana menggigit bibir bawahnya, mulai takut kalau dirinya ditipu oleh laki-laki yang ditemuinya di jembatan semalam. “Mbak?” panggil resepsionis itu karena tak kunjung mendapat jawaban dari Mariana. “Bilang saja Mariana yang di jembatan semalam,” jawab Mariana tersadar dari lamunannya. Resepsionis itu terdiam beberapa detik. Wajahnya terlihat terkejut dan tatapannya penuh selidik melihat ke arah Mariana kemudian kembali berbicara dengan seseorang di telepon. “Dia pasti menyangka aku wanita yang nggak bener. Kalau laki-laki itu masih tidak mengenalku, berarti fix aku benar-benar ditipu laki-laki itu semalam,” gumam Marina menggeram. “Mbak Mariana, mari saya antarkan ke ruangan Pak Nicho!” ucap Resepsionis itu begitu ramah pada Mariana begitu mendapat konfirmasi dari atasannya. “Jadi beneran dia kenal dengan saya, Mbak?” tanya Mariana setengah tidak percaya. Resepsionis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Mari, Mbak.” “Wah, ternyata semalam aku telah menyelamatkan seorang presdir,” gumam Mariana tersenyum bangga sambil berjalan mengikuti resepsionis itu. Mereka masuk ke dalam sebuah lift dan naik menuju lantai di mana ruangan presiden direktur berada. Seorang laki-laki berpakaian setelan jas rapi telah berdiri menantikan kedatangan mereka di depan sebuah ruangan. “Terima kasih, Diana,” ucap laki-laki itu pada resepsionis yang mengantarkan Mariana. “Saya permisi, Pak.” Resepsionis itu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Mariana. “Pak Nicho telah menunggu anda. Mari ikut saya,” ucap laki-laki itu pada Mariana. Laki-laki itu mengetuk pintu sebuah ruangan. Sebuah suara terdengar dari dalam baru laki-laki itu berani membuka pintu ruangannya. “Ibu Mariana sudah datang, Pak,” ucap Roy- asisten pribadi Nicholas. Nicholas langsung melihat ke arah pintu ruangannya. Mariana telah berdiri di sana. Tatapan mereka beradu. “Silakan duduk, Mariana,” ucap Nicholas sambil bangkit dari tempat duduk kerjanya menuju ke sebuah sofa tamu di ruangannya. Mariana berjalan masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di sebuah sofa berhadapan dengan Nicho. “Oke kita langsung saja. Kamu sedang mencari pekerjaan, ‘kan?” tanya Nicho. Mariana menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Ya, benar.” “Kamu mau menjadi sekretaris saya?” Mariana membelalakkan kedua matanya. Kemarin dia mengikuti tes untuk mengisi lowongan itu namun dia langsung kalah dengan kandidat lain yang jauh lebih baik darinya. Bahkan banyak diantara kandidat itu yang lulusan luar negeri. “Sekretaris, Pak? Bukannya kemarin perusahaan ini sudah mendapatkan kandidat yang lulus tesnya?” “Saya ingin kamu yang menjadi sekretaris saya. Kamu mau, ‘kan?” tanya Nicho dengan serius. “Mau, Pak. Mau banget,” jawab Mariana sambil menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dia tidak menyangka akhirnya bisa mendapatkan posisi itu dengan mudah seperti ini. “Tapi ada syaratnya.” Wajah sumringah Mariana mendadak berubah. “Syarat? Syarat apa?” “Kamu harus merangkap sebagai pengasuh anak semata wayang saya.” “Pengasuh?” “Kamu harus mengurusnya dari bangun tidur sampai malam dia tidur kembali. Kamu akan di bantu oleh asisten rumah tangga saya. Jadi kamu hanya perlu menemani anak saya saja tanpa memasak ataupun mengurus keperluan lainnya. Kamu ke kantor hanya di saat anak saya sedang di sekolah. Pekerjaan kamu di sini juga akan di bantu oleh Roy, laki-laki yang mengantarkan kamu masuk ke ruangan ini tadi,” jelas Nicholas. Mariana terdiam mendengar penawaran dari Nicholas. “Gaji kamu sebagai sekretaris merangkap pengasuh anak saya sebesar lima puluh juta sebulan,” lanjut Nicholas begitu melihat raut keraguan pada wajah Mariana. Dia tidak ingin kehilangan Mariana karena inilah kesempatan emasnya untuk membuat anak semata wayangnya kembali tersenyum bahagia. “Li-lima puluh juta?” Mariana membelalakkan kedua matanya. “Apa masih kurang?” Mariana menggelengkan kepalanya. “Itu lebih dari cukup, Pak Nicholas.” “Tapi kamu harus tinggal di rumah saya. Saya ingin kamu totalitas dalam mengasuh dan merawat anak saya.” Mariana tercekat. “Harus menginap, Pak?” “Ya.” Nicholas menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu gaji kamu saya tambahkan lagi menjadi tujuh puluh juta sebulan.” Mariana berbinar kemudian mengulurkan tangannya dengan cepat ke arah Nicholas. “Deal!” ucap Mariana dengan tegas. Siapa yang bisa menolak gaji sefantastis itu? Sejak keluarga mendiang suaminya merebut semua harta milik dia dan suaminya dulu, Mariana begitu hancur bagaikan debu. Padahal semua harta itu adalah hasil kerja keras Mariana bersama suaminya sejak awal mereka berumah tangga. Dengan sombongnya pihak keluarga mendiang suaminya mengatakan Mariana tidak punya hak atas itu semua dan memalsukan semua dokumen properti milik mereka. Mariana adalah seorang sarjana lulusan universitas terbaik dalam negeri. Hanya karena dia menikah, akhirnya dia merelakan karirnya sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar dan memilih untuk membantu suaminya merintis sebuah bisnis bersama. Kini tabungan yang dimiliki oleh Mariana pun sudah semakin menipis untuk bertahan hidup. Dengan gaji sebanyak itu, Mariana akan mulai bangkit kembali. Nicholas tersenyum kemudian membalas jabatan tangan Mariana. “Surat perjanjian kerjanya akan segera diberikan oleh Roy di depan. Silakan kamu baca dan isi identitas kamu di sana. Setelah itu segera tanda tangani perjanjian itu. Sore ini orang suruhan saya akan datang menjemput kamu dan membawamu ke rumah saya.” “Baik, Pak. Saya permisi.” Mariana menganggukkan kepalanya. “Silakan.” Mariana dan Nicholas bangkit dari tempat duduk mereka dan berjalan menuju ke pintu keluar. Baru beberapa langkah beranjak, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita cantik dengan balutan dress sopan nan anggun masuk ke dalam ruangan itu. “Mas, aku bawa sarapan nih. Kita sarapan bareng ya,” ucapnya sambil tersenyum. Sebuah bungkusan terlihat dalam genggaman tangannya. Senyumnya memudar dan bungkusan itu terjun bebas dari genggaman tangannya yang mendadak mengurai terbuka begitu melihat Mariana di depannya. “Ya Tuhan, Yoana!” teriaknya histeris. Kedua matanya membulat sempurna seakan baru saja melihat penampakan makhluk halus di depannya. “Lora!” Nicholas dengan cepat meraih tubuh wanita cantik itu yang hampir saja meluruh ke lantai. “Bagaimana bisa Yoana ada di sini, Mas?” tanya Lora pada Nicholas. “Mariana, kamu silakan keluar dan temui Roy,” perintah Nicholas sebelum menjawab pertanyaan Lora. “Baik, Pak.” Mariana menganggukkan kepalanya meski masih bingung dengan suasana di sana. Begitu tiba di luar ruangan kerja Nicholas, Mariana tertegun diam. “Siapa Yoana? Kenapa Pak Nicholas dan wanita itu sama-sama memanggilku dengan nama itu?” gumam Mariana bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD