Nicholas menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya. Kepalanya terasa pusing. Semakin lama dia bersama dengan Mariana, semakin kepalanya terasa sakit. Sulit rasanya untuk menyinkronkan isi kepala dengan isi hatinya.
“Jangan mengada-ada, Nicho. Dia Mariana. Hanya seorang sekretaris sekaligus pengasuh anakmu. Dia wanita yang hampir saja menjatuhkanmu ke jurang dari atas jembatan. Dia sama sekali bukan tipemu dan bukan kelasmu!” mulut Nicho berkomat kamit seakan sedang membaca mantra sambil memijit lembut pelipis kepalanya.
“Tapi dia juga sudah berhasil membuatku mengeluarkan puluhan juta pagi ini hanya demi membelikannya baju kerja.” Suara helaan napas terdengar dari bibir Nicholas begitu dia menyadari hal berlebihan yang sudah dilakukannya pada Mariana di pagi yang seharusnya tenang itu.
Nicholas memejamkan kedua matanya. Dia memang harus mengakui kalau kecantikan Mariana benar-benar mengingatkannya pada Yoana, mendiang istrinya. Hanya saja, Mariana sangat mampu membuatnya pusing tujuh keliling setiap kali mereka bertemu.
Tiba-tiba pintu kantornya diketuk oleh seseorang dari arah luar.
“Masuk!” perintah Nicholas sambil memijit pelipis kepalanya yang terasa pusing.
Pintu ruangan itu terbuka perlahan.
“Mas!” panggil seorang wanita sambil tersenyum.
“Lora?” Nicholas terhenyak beberapa saat sebelum akhirnya menghelakan napasnya. Dia sempat mengira bahwa yang akan muncul dari balik pintu itu adalah Mariana.
“Apa kedatanganku mengganggu Mas?” tanya Lora sambil berjalan mendekati Nicholas.
“Tidak apa, Lora,” jawab Nicholas sambil tersenyum.
“Aku membawakan Mas sarapan. Tapi maaf aku kesiangan datang. Semuanya masih hangat kok.” Lora duduk di sebuah sofa tamu di ruangan Nicholas sambil mulai mengeluarkan kotak makan yang dibawanya dari dalam sebuah tas.
“Aku baru saja sarapan, Lora. Letakkan saja di sana. Nanti pasti akan aku makan,” ucap Nicholas.
Tangan Lora seketika berhenti bergerak.
“Mas sudah akan dari rumah? Tumben sekali. Biasanya Mas tidak pernah sarapan dari rumah.” Lora menatap Nicholas yang terlihat masih betah di tempat duduknya tanpa ingin mendekati Lora di sofa tamu.
“Tadi pagi aku sudah sarapan dengan Rafa, dan setengah jam yang lalu sarapan lagi dengan Mariana. Aku benar-benar kenyang, Lora. Letakkan saja di sana. Nanti akan aku minta Mariana untuk menghangatkannya kembali ketika aku ingin memakannya,” jawab Nicholas.
Lora menghelakan napas halus. Dimasukkannya kembali kotak-kotak makan yang tadi sempat dikeluarkannya ke dalam tas bekal dan membiarkannya di atas meja.
“Sepertinya Mariana sangat telaten dalam bekerja. Dia pandai mengurus Rafa dan ayahnya dengan baik,” ucap Lora sambil berjalan mendekati Nicholas.
Nicholas menganggukkan kepalanya menyetujui kalimat Lora yang sebenarnya sebuah sindiran.
“Mariana sangat cekatan dalam mengurus Rafa dan Rafa juga sangat menyukai Mariana. Aku sangat senang melihat wajah ceria Rafa lagi sejak kedatangan Mariana,” ucap Nicholas.
“Mas ingin mengatakan kalau aku tidak sepandai dan secekatan Mariana dalam mengurus Rafa?” Lora sengaja memberikan wajah sedihnya sebelum akhirnya mengalihkannya dari tatapan Nicholas.
“Bukan begitu, Lora. Aku sama sekali tidak bermaksud membandingkanmu dengan Mariana.” Nicholas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Lora untuk membujuknya.
“Tidak apa Mas jika memang seperti itu. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku juga senang kalau Rafa akhirnya bisa menemukan keceriaannya lagi bersama dengan Mariana. Aku hanya sedih karena tidak bisa menjalankan amanah dari mendiang Yoana. Dia mempercayakan Mas dan Rafa padaku tapi aku gagal melakukannya,” jawab Lora sambil terisak. Kedua tangannya menutup wajahnya.
Nicholas terdiam. Ada rasa bersalah dalam hatinya.
“Jangan menangis lagi, Lora. Kita coba mendekati Rafa pelan-pelan lagi ya. Aku yakin suatu hari nanti dia juga pasti akan luluh padamu. Mariana hanya pengasuhnya, tidak lebih,” ucap Nicholas berusaha menghibur Lora.
“Mas akan mendukung aku mendekati Rafa lagi?” Lora menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya kemudian menatap Nicholas yang sedang berdiri di dekatnya.
“Tentu saja. Kamu berhak untuk hal itu, Lora.” Nicholas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Lora.
Lora membalas senyum Nicholas kemudian spontan memeluknya. Nicholas seketika terkejut mendapatkan respon ekstrim dari wanita yang sejak dulu memang dekat dengannya itu. Nicholas hanya terdiam mematung membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Lora tanpa berniat untuk membalas pelukan itu.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk oleh seseorang beberapa kali dari arah luar sebelum akhirnya terbuka dan wajah Mariana muncul.
Mariana seketika membeku melihat pemandangan yang ada di depannya.
“Maaf, Pak. Saya akan kembali lagi nanti,” ucap Mariana yang dengan cepat mengalihkan tatapannya dan tubuhnya.
“Tunggu Mariana!” panggil Nicholas.
Mariana menghentikan gerakannya yang akan keluar dari dalam ruangan itu.
“Sebaiknya kamu kembali pulang, Lora. Rapat kami akan segera dimulai sebentar lagi,” ucap Nicholas sambil melepaskan pelukan Lora dari tubuhnya.
Lora terlihat kikuk begitu pelukannya mengurai paksa oleh Nicholas. Kedua matanya sekilas menatap tajam Mariana yang masih berdiri di dekat pintu.
“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya, Mas. Nanti kalau Mas sudah pulang, kabari aku. Aku ingin bertemu dengan Rafa malam ini,” ucap Lora sambil tersenyum pada Nicholas.
“Baiklah. Nanti aku akan menjemputmu sepulang dari kantor,” ucap Nicholas.
Lora berjalan mengambil tasnya dari atas meja, “Jangan lupa bekalnya dimakan, Mas.”
Nicholas tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Lora berjalan menuju ke pintu keluar.
“Hai, Mariana,” sapanya pada Mariana yang masih berdiri di dekat pintu.
“Selamat siang, Bu Lora,” balas Mariana sambil menganggukan kepalanya.
Lora tersenyum sekilas namun tatapannya begitu tajam ke arah Mariana. Setelah itu Lora berjalan keluar dari ruangan itu dan pergi pulang.
“Mariana,” panggil Nicholas yang kini sudah kembali duduk di kursi kerjanya.
Mariana yang tadi fokus melihat ke arah Lora pun tersentak terkejut.
“Ya, Pak,” jawab Mariana kemudian berjalan mendekati meja kerja Nicholas.
“Kamu ingin mengingatkan tentang jadwal rapat kan? tanya Nicholas.
“Benar, Pak. Lima belas menit lagi rapat akan segera di mulai.”
“Bahan rapatnya sudah kamu persiapkan?” tanya Nicholas.
“Sudah, Pak.” Mariana menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Tunggu saya di luar. Saya selesaikan berkas ini dulu.”
“Baik, Pak. Saya permisi,” jawab Mariana.
Mariana berjalan keluar dari ruangan itu. Baru beberapa langkah menuju ke meja kerjanya, Mariana terhenyak begitu melihat Lora sedang berdiri tepat di depan meja kerjanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu Lora?” tanya Mariana.
“Kita belum sempat berkenalan secara langsung, Mariana. Saya Lora.” Tangan Lora mengulur ke arah Mariana.
Mariana segera menyambut uluran tangan dari Lora, “Saya Mariana, Bu.”
“Kamu pasti bingung siapa saya dalam keluarga Nicholas Suhendra kan?” Lora tersenyum. “Saya akan segera menjadi pengganti Yoana. Calon ibu sambung bagi Rafa dan Calon istri Mas Nicholas.”
Mariana terdiam mendengar ucapan Lora. Termasuk Roy yang juga berada di dekat mereka.
“Rafa mungkin membutuhkan waktu untuk melepaskan dirinya dari bayang-bayang Yoana. Terlebih sekarang kamu yang mengasuhnya. Saya kira hal ini akan mempersulit Rafa untuk segera move on dari mendiang ibunya karena wajah kamu mirip dengan wajah mendiang ibunya. Karena itu, saya ingin kau perlahan menjaga jarak dari Rafa. Saya akan mulai sering menemui Rafa dan melakukan pendekatan dengannya. Saya harap kamu mau membantu saya dengan permintaan saya tadi,” ucap Lora sambil tetap tersenyum dan nada bicara yang lembut.
“Mohon maaf sebelumnya, Bu Lora. Sejak awal, Pak Nicholas yang meminta saya untuk menemani Rafa dari bangun tidur sampai dia tertidur lagi. Hanya saat dia sekolah saya di perbolehkan jauh darinya dan bekerja di kantor ini. Karena Pak Nicholas yang membayar gaji saya, maka Pak Nicholas yang berhak memerintah saya dalam hal pekerjaan ini. Semua sudah ada di dalam surat perjanjian dan saya tidak akan merusak isi perjanjian itu tanpa perintah langsung dari Pak Nicho,” jawab Mariana.
Kedua tangan Lora mengepal mendengar penolakan dari Mariana.
“Mas Nicho pasti tidak akan keberatan dengan hal ini, Mariana. Dia pasti akan mendengarkan permintaanku,” balas Lora bersikeras.
“Silahkan bicarakan dahulu hal itu dengan Pak Nicho. Setelah itu, Pak Nicho akan mendiskusikannya lagi dengan Saya,” jawab Mariana tegas.
Lora menatap tajam Mariana dan menghelakan napasnya dengan kasar.
“Satu lagi, Bu Lora. Siapapun tidak berhak menghapus kenangan seorang ibu dari anaknya. Itu suatu hal yang sakral. Ikatan ibu dan anak bukan ikatan biasa yang bisa diputuskan begitu saja meski oleh maut,” lanjut Mariana.
Lora semakin merasa panas. Bisa-bisanya Mariana menasehatinya. Semua pegawai dan anak buah Nicholas tidak ada yang berani membantahnya selama ini. Namun Mariana sudah berani membantah perintahnya dihari kedua mereka bertemu.