Bukan Lagi Manusia

1207 Words
"Kita bakalan ambil rute ini" Saat ini kami sedang duduk di dekat perapian, membicarakan rencana untuk kembali ke tempat camping. "Masing-masing pegang 2 senjata. Untuk tas suplai makanan dan lain-lain biar gue dan Leah yang bawa. Jangan lupa selain alat komunikasi, ambil hal lain yang menurut kalian bisa bermanfaat untuk kita bertahan. Tapi kalau seandainya rencana kita berhasil, kita kembali dulu ke tempat ini sebentar. Mencoba memberi informasi dan mencari bantuan, sebelum akhirnya menyusuri jalan keluar hutan" Jason mulai menjelaskan rencananya panjang lebar. Dia juga sudah mengatur bundelan yang harus kami bawa. "Ingat, tembak tepat di tengah. Kita bisa nembak kaki atau tangannya untuk memperlambat gerakan mereka. Tapi usahakan seminimal mungkin. Untuk mereka yang belum sepenuhnya menjadi zombie masih bisa merasakan sakit. Ingat jangan sampai tergigit. Pergerakan mereka seharusnya masih lambat, apalagi di siang hari" Lagi-lagi perasaan tak nyaman muncul di hatiku. Mendengar penjelasan Jason dan apa yang dia gambarkan di kertas membuatku bertanya-tanya. Bukankah Jason terlalu paham dengan kondisi yang kami hadapi? Dan, bukankah dia terlalu hapal dengan rute-rute di hutan ini?. "Masing-masing dari kita harus saling melindungi, tapi tetap harus fokus pada 1 orang sebagai prioritas utama. Leah dan Nelsie, gue dan Selena. Kalau salah satu dari kita ada yang tergigit langsung pergi dan tinggalkan" Jason mengakhiri ucapannya, lalu mulai mendistribusikan senjata dan bundelan yang sudah dia sesuaikan dengan kemampuan kami. Aku menelan ludah, bukankah kami sangat kejam sekarang?. Bisa saja nanti kami terpaksa harus menembak tepat di tengah kepala zombie. Dan Jason bilang, begitu bagian kepala tertembak, maka nuclei yang berada di kepala Zombie akan meledak dan mereka akan benar-benar mati. Rasa sakit menjalari hatiku saat mengingat orang-orang yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu sekolahku, bahkan satu kelasku. "Kejam memang, tapi kita harus bertahan" Ucap Jason seakan bisa membaca pikiranku. Aku hanya mengangguk sembari menarik nafas dalam-dalam lalu memandang Selena. "Jangan lupa tembak gue di kepala Sel kalau gue kegigit" Selena membalas pandanganku dengan dengusan "Yakin deh si zombie ogah gigit elu Nels, yang ada rugi zombienya. Lu malah bisa nyantai sambil gigitin zombie lain" Jawabnya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Selena. Aku yakin di balik ucapannya yang terlihat tegar, ada ketakutan yang luar biasa. Sama sepertiku, jujur saja aku juga merasa sangat takut. Takut kalau-kalau tak bisa bertemu lagi dengan keluargaku, takut jika merasakan sakit (yang ini bahkan jauh lebih besar daripada ketakutanku untuk mengeluarkan energi berlebih). Setelah memastikan semua persiapan selesai, kami saling menepuk bahu sejenak, mencoba saling mendukung sebelum akhirnya melangkah keluar, menuju medan pertempuran yang siap mengambil nyawa *** Pusat Penelitian Christoff Alfonso membanting bundelan kertas di tangannya. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menyembul, menandakan bahwa dia benar-benar sangat marah sekarang. "Sialan" Dia memaki lagi sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya memandang kembali bundelan kertas yang berisi informasi mengenai jumlah warga yang telah terinfeksi virus ini. Seperti yang pusat penelitian ini harapkan, virus yang mereka ciptakan sukses menyebabkan huru-hara hanya dalam 3 hari. Sementara vaksinnya baru sedikit yang selesai. Kondisi ini memaksa para peneliti bekerja ekstra untuk memproduksi vaksin secara massal. Tentu saja para petinggi pusat penelitian Christoff sudah sangat bahagia membayangkan bahwa mereka akan bisa menikmati jumlah uang yang luar biasa dan tentu saja kekuasaan dunia yang bisa mereka genggam. Tapi hanya sedikit vaksin yang bisa di produksi dan untuk membuat lebih banyak tentu saja dibutuhkan waktu yang lebih lama. Alfonso mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit ruangannya. Tiba-tiba senyum getir terlukis di bibirnya saat mengingat sebuah hal yang sudah dia lupakan sejak lama. Objek penelitian nomor 18. Berbeda dengan objek penelitian lain, objek ini mereka dapatkan dari sejak bayi karena kebetulan ibu si objek adalah salah satu petugas keamanan disini. Sebenarnya bukan kebetulan mereka mendapatkan objek 18. Mereka sengaja menyuntikkan cairan perangsang antibodi untuk menciptakan kekebalan tubuh absolut bagi bayinya. Si ibu meninggal begitu melahirkan karena pendarahan hebat dan tubuhnya yang memang sudah lemah karena terlalu banyak disuntikkan cairan antigen. Sementara si anak terlahir sehat dan di rawat di pusat penelitian sebelum secara misterius menghilang dan tak bisa mereka temukan. Alfonso juga menjadi salah seorang yang berusaha mati-matian menemukan si objek no 18, mencocokkan antibodi yang dia punya dan mengubahnya menjadi obat untuk mengatasi virus LivDeath. Tapi tentu saja obat itu tak akan dijual murah, dan tentu saja resikonya bisa menimbulkan kematian bagi si objek no 18. Alfonso meringis, menepuk pipinya kuat-kuat, mencoba menghilangkan pikirannya tentang si objek nomor 18. Bukankah sebagai seorang ayah tak layak dia mengorbankan anak orang lain hanya untuk memenuhi pundi-pundi keuangan pusat penelitian ini. Tapi ringisan Alfonso perlahan berubah menjadi senyuman getir. Ah, mana layak seseorang yang sudah berkecimpung lama dalam dunia gelap ini membicarakan rasa cinta kepada anak. Senyum Alfonso semakin getir, bukankah dulu dia juga mengorbankan anak kesayangannya?. *** "Tetap waspada dan perhatikan langkah kalian" Jason mengulangi kalimatnya yang entah sudah keberapakali kami dengar. Kami hanya menjawab dengan anggukan, tetap fokus memantau keadaan sekitar. Sudah hampir 20 menit kami berjalan, tapi belum satupun kami menemui tanda-tanda kehadiran zombie. "20 menit lagi menuju lokasi camping" Ucapan Jason hampir membuatku terhenyak. Wah, bukan hanya punya kekuatan fisik dan skill yang bagus, sepertinya Jason cocok juga menjadi spedometer atau kompas sekalian. "perhatikan langkah lu, Sel" Ucapan Jason keluar bersamaan dengan kaki Selena yang tersandung ranting pohon. Dengan sigap Jason menangkap Selena dan menyeimbangkan posisinya. Sementara Selena hanya menggerutu, mengucapkan terima kasih tapi seperti bukan terima kasih. "Lu juga hati-hati Nels" "Oke" "Jalannya agak cepetan, jangan kayak siput. Porsi sarapan Lu udah paling banyak tadi" Aku langsung melontarkan tatapan galak ke arah Jason yang memasang wajah datar tanpa dosa dengan tatapan fokus ke arah depan. Wah, sekarang aku paham alasan Selena selalu kesal saat bersama Jason. Tentu saja alasannya karena pria satu ini tidak bisa membaca situasi. Selebihnya kami hanya diam, terus fokus dengan keadaan sekitar hingga akhirnya kami melihat siluet tenda yang sudah tumbang. Jason menghentikan langkahnya yang otomatis membuat kami ikut berhenti. "Mulai dari sini kita semua harus fokus. Tim Leah meriksa area kiri dan tim gue meriksa ke area kanan" perintah Jason. Kami serempak mengangguk dan mulai semakin mendekat. Seketika detak jantungku meningkat 6 kali lebih cepat. Bahkan detak jantung orang yang sedang jatuh cinta atau berjumpa dengan idola yang mereka suka akan kalah cepat dengan detak jantungku. Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku akan mengalami hal menegangkan seperti adegan film yang sering ku tonton. Kalau sudah begini, aku seakan menjadi pemeran utama film Resident Evil dengan senjata di tangan. Aku dan Leah mulai menyusuri satu persatu hal yang ada di tanah. Lagi-lagi perasaan mual menjalari diriku. Masih ada sisa potongan tubuh di sekitar tempat kami memeriksa. Jelas sekali menggambarkan betapa mengerikannya malam yang harusnya diisi dengan kesenangan berubah menjadi petaka. Kami lalu memasuki tenda yang di huni para guru. Tenda berwarna orange ini terlihat robek di segala sisi, bahkan isi dalamnya sudah di obrak-abrik. Aku bertugas menjadi pencari barang sementara Leah bertugas mengamati kondisi sekitar. "Ketemu!" Ucapku riang begitu membuka isi tas besar yang baru saja kutemukan. "Isinya Handphone siswa" Leah mengacungkan jempolnya lalu kembali fokus berjaga. Aku hanya mengambil HP milikku, Leah, Jason dan Selena. Sisanya ku keluarkan hingga hanya tasnya saja yang tersisa. Aku lalu mencoba menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk kami gunakan. "Sial!" Aku langsung memandang Leah yang kini menatap tepat ke arah depanku dan selanjutnya suara erangan saling bersahutan terdengar, bercampur dengan suara tembakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD