Fajar duduk di halaman rumahnya. Hari ini ia bolos mengamen. Ibunya merasa sangat ketakutan sejak terakhir kali pergi keluar dan mendengar suara-suara itu, sehingga ia meminta Fajar untuk tetap di rumah menemaninya.
Laki-laki itu merasa sangat bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Setelah lulus SMA, ia sudah tidak memiliki tugas untuk dikerjakan. Ia juga belum pernah melamar pekerjaan. Beberapa temannya yang bernasib sama sepertinya bekerja serabutan sebagai pekerja di bengkel atau pelayan di restoran, namun Fajar merasa tidak dapat membayangkan dirinya melakukan pekerjaan seperti itu. Pasti sangat membosankan. Ia lebih memilih seperti yang selama ini ia lakukan, mengamen dari jalan ke jalan sambil mengumpulkan uang.
Ia punya mimpi yang lebih besar untuk menjadi penyanyi dan pemain musik di tempat-tempat makan, tapi untuk sampai ke sana tidaklah mudah. Biasanya mereka harus mengenal pemilik rumah makan tersebut. Fajar tidak mengenal seorang pun dari antara mereka. Ia juga harus mengenakan pakaian-pakaian modis agar pengunjung restoran merasa terhibur dengan penampilannya, tidak dengan pakaian lusuh yang seadanya begini. Fajar tidak pernah punya pakaian modis.
Kini, ia hanya menatap kosong ke halaman rumahnya yang sepi. Tembok rumahnya mulai mengelupas di beberapa tempat akibat pohon besar yang akarnya menjalar di bawah pagar. Tanaman seperti itu selalu merusak bangunan apabila bertumbuh terlalu besar.
Ketika ia sedang bengong, Ibunya memanggil dari dalam.
"Fajar, mari makan."
Fajar beranjak masuk.
"Cuma ada ikan," ucap Ibu Fajar, "diberi tetangga kemarin."
Fajar mengangguk dan mengambil piring beserta nasi. Ikan saja sudah cukup enak untuknya. Ia dan ibunya duduk berdua dan makan bersama. Namun, walau raganya berada di tempat itu, pikiran Fajar sedang berada di tempat lain.
Berada seharian di rumah terasa begitu menyusahkan hatinya, seakan-akan ia adalah manusia tak berguna yang tak punya pekerjaan dan tak membantu apa-apa di rumah. Ia seakan dituduh oleh hakim-hakim tak kasat mata sebagai orang tak bermasa-depan. Ia sadar keluarganya bukanlah orang berada, dan ada banyak harapan ditumpukan pada bahunya. Ia seharusnya bisa membantu Ibunya. Bagaimana caranya?
Kemudian Fajar teringat sesuatu. Ia sesungguhnya bukan satu-satunya tumpuan harapan. Masih ada Ayahnya! Ibunya sangat merindukan Ayahnya. Ia pasti sangat senang apabila dapat menghabiskan waktu kembali bersama dengan dirinya. Apa yang akan ia lakukan sekarang untuk menemukan Ayahnya?
Kemarin, laki-laki teman ayahnya itu menyuruhnya mencari tahu komunitas-komunitas teater maupun musik yang berafiliasi dengan ayahnya. Itu bukanlah hal mudah. Kebanyakan komunitas pasti menutupi hubungannya dengan pihak luar yang sedang menjadi buronan. Fajar juga tidak banyak bergaul dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Satu yang ia tahu hanyalah komunitas fotografi tempatnya selama ini menghabiskan waktu.
Namun, tidak ada jaminan kalau Ayahnya ada di sana. Fajar hanya bisa mencoba dan mengadu nasib. Ia merasa ini adalah hal yang penting dan akan menyenangkan Ibunya.
Belakangan, Fajar tahu Ibunya merasa sendirian dan sangat takut. Walaupun kakaknya menikah dan tinggal di tempat yang berbeda, Fajar dulu masih ada menemaninya setiap sepulang sekolah. Kini Fajar juga sering pergi seharian sampai malam. Ibunya semakin sendirian. Ia sering ketakutan. Oleh sebab itulah, Fajar ingin mencari Ayahnya untuk membuat Ibunya bersenang hati.
Ia tidak tega melihat ibu yang ia kasihi ketakutan dan kesepian seperti itu.
Mumpung hari ini tidak pergi mengamen, Fajar berencana menyambangi tempat komunitas fotografi itu berkumpul nanti malam. Rencana itu membuatnya bersemangat dan tak sabar. Dengan lahap, Fajar memakan nasi dan ikan yang Ibunya masak.
"Pelan-pelan, Fajar."
"Iya, Bu."
"Habis ini istirahat, ya. Ibu mau jahit."
"Nanti malam aku pergi ya, Bu."
Ibu Fajar mengangkat wajahnya. "Pergi kemana?"
"Ke ... komunitas fotografi."
Sari terdiam. "Dimana itu? Jauhkah?"
"Gak kok, Bu. Dekat."
"... Hati-hati, Fajar."
"Ya, Bu."
"Aku serius," ucap Ibunya lagi, "kesanalah mereka biasanya mencari Ayahmu. Tempat-tempat seperti itu. Berhati-hatilah."
Fajar mengangguk. Selepas mengatakan itu, Ibunya berdiri dan menaruh piring di bak cuci, kemudian pergi ke ruang tamu untuk kembali menjahit.
Jam menunjukkan pukul enam sore. Fajar baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, namun pakaiannya begitu rapih seakan-akan hendak pergi ke sebuah perhelatan bergengsi. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana panjang hitam.
"Ibu, aku pergi dulu," pamitnya.
Ibu Fajar mengangguk. Ia memperhatikan Fajar yang berangkat sambil membawa gitarnya menjauhi rumah. Tak terasa, setitik air mata menetes di pipinya. Ibu Fajar cepat-cepat menghapus air mata itu dan kembali masuk ke rumah. Pintu ditutup rapat.
Sementara itu, Fajar terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang. Tujuannya kali ini adalah rumah seorang teman yang terletak beberapa RT dari sini, yang sering menjadi tempat nongkrong anak-anak dari komunitas fotografi yang ia ikuti. Fajar pernah bergabung beberapa kali dengan mereka, walaupun ia hanya menyimak, karena ia tidak punya latar belakang fotografi maupun alat untuk terjun dalam dunia fotografi.
Fajar sampai di sana setelah berjalan kurang lebih selama sepuluh menit. Udara malam yang sejuk membuatnya tidak berkeringat sama sekali. Rumah itu tak terlalu besar, namun cukup besar untuk menampung belasan orang di halamannya. Mereka semua berkumpul di atas sebuah tikar dengan lampu remang-remang kuning menyala di atas kepala.
Fajar duduk di dekat pintu masuk dan bergabung dengan beberapa orang yang sudah pernah ia kenal sebelumnya.
"Hai, Fajar!"
"Fajar, udah lama gak dateng."
"Apa kabar, bro?"
Fajar tersenyum. "Halo, baik-baik."
Ia selalu suka suasana komunitas yang terbuka seperti ini, tak peduli bagaimanapun status sosialnya. Ia selalu merasa diterima setiap kali mampir. Walaupun ia tidak memiliki karya untuk ditunjukkan, dan mungkin pengetahuannya kurang di bidang ini, namun tidak ada seorang pun yang menghakimi. Fajar justru diajak ikut duduk bersama mereka dan mendengarkan obrolan dengan seru.
Seorang laki-laki menunjukkan majalah fotografi terbaru yang ia miliki untuk dibaca bersama-sama. Di dalamnya ada tren fotografi tahun itu dan contoh-contoh karya dari seluruh dunia. Mereka membahas setiap karya dengan serius bagai kritikus seni termutakhir. Seorang yang lain menyebutkan beberapa tempat yang sepertinya cocok untuk dijadikan lokasi pemotretan pada malam hari. Mereka semua mempertimbangkan itu untuk menjadi rencana bersama.
Fajar sendiri terus berdiam diri dan memikir-mikirkan cara yang tepat untuk menanyakan maksud kedatangannya. Ia tak mungkin tiba-tiba masuk ke dalam obrolan dan berkata, 'hai, apa kalian tahu dimana wira nagara berada?' Topiknya tidak cocok. Hal itu juga pasti terdengar sangat mencurigakan.
Malam semakin malam, dan obrolan terus berlanjut tanpa Fajar sempat bertanya. Makanan ringan dikeluarkan lagi oleh tuan rumah, kali ini singkong rebus dengan gula pasir yang diletakkan di sebuah piring bambu. Komunitas itu membuat rencana bersama untuk mengunjungi beberapa tempat dan hunting foto bersama di sana. Foto-foto itu kelak akan dipamerkan di event bulanan komunitas fotografi ini dan menjadi portofolio pekerjaan mereka.
Fajar memutar otak. Bagaimana ia dapat mengatakannya? Ia tidak tahu banyak mengenai kabar Ayahnya belakangan ini. Ia tidak akan membiarkan perkumpulan itu bubar hari ini sebelum ia sempat bertanya.
Tepat ketika ia sedang dilanda kebingungan, seorang lain datang dan bergabung dengan mereka. Orang itu duduk di sebelah Fajar.
Mereka yang lain menyambut orang ini dengan riang. Ia ternyata salah satu senior di sana yang sudah lama tidak bergabung. Ia tersenyum dan bersalaman dengan banyak orang sebelum kembali duduk. Fajar memperhatikan penampilan orang itu. Kaos hitam, celana pendek biasa, dan sandal jepit. Sangat berbeda dengan penampilannya. Ia terlihat sangat santai.
Orang itu sepertinya sadar diperhatikan. Ia menoleh menatap Fajar, kemudian matanya ganti menatap gitar yang masih disandangkan Fajar di bahunya.
"Bolehkah aku meminjam gitarmu?" Tanya orang itu.
Fajar menoleh dengan terkejut, kemudian menyerahkan gitarnya. "Silakan."
Orang itu tersenyum dan mengambil gitar Fajar. Ia memetik beberapa senar dengan merdu, membuat seluruh perkumpulan terdiam mendengarkan, kemudian mulutnya melantunkan sebuah lagu.
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki adanya
Semua orang semakin serius mendengarkan, begitu juga Fajar. Ia belum pernah tahu ada lagu seperti ini sebelumnya. Lagu yang dinyanyikan itu terdengar begitu pilu. Apakah ini lagu baru yang sedang tren? Fajar perlu mempelajarinya, manatahu kelak ada orang yang memintanya menyanyikan lagu ini ketika mengamen.
Orang baru itu terus melanjutkan nyanyiannya.
Kau lebih suka membangun rumah
Merampas tanah
Kau lebih suka membangun jalan raya
Membangun pagar besi
Ia memelankan suaranya, kemudian berhenti bernyanyi. Semua orang bertepuk tangan. Fajar ikut terpesona dengan kemampuan orang itu mempengaruhi suasana hati begitu banyak orang hanya dengan nyanyian. Seisi perkumpulan itu sekarang duduk melingkar memperhatikan orang baru itu dengan tatapan kagum. Ada yang bertanya: "Lagu siapa yang kau nyanyikan?"
Laki-laki itu menjawab. "Lagu baru beliau."
Sepertinya itu adalah ucapan yang langsung dimengerti mereka. Mereka bertanya lagi, "Apa judulnya?"
"Judul lagu ini sangat menarik. Coba tebak."
"Hmmm, bunga yang tak kau kehendaki tumbuh?"
"Terlalu panjang."
"Bunga?"
"Terlalu pendek."
Orang-orang mulai menebak, dengan berbagai macam celetukan dan terkaan yang entah benar atau tidak. Orang itu tersenyum meledek kemudian berkata sendiri, "Judulnya adalah Bunga dan Tembok."
Fajar masih menatap penasaran pada orang itu. Siapakah beliau yang mereka maksud? Sepertinya hanya dirinya yang tidak mengetahui hal itu karena yang lain langsung menerima saja jawaban tadi. Bunga dan Tembok? Fajar juga belum pernah mendengar judul lagu itu. Ia akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Siapakah beliau?"
Orang itu mengerling sejenak, berhenti bicara dan bercanda dengan orang-orang lain. Ia kemudian menatap Fajar tepat di mata dan berkata, "Beliau, Wira ... Nagara."
Hati Fajar tertohok ketika mendengar hal itu. Ia tidak dapat memikirkan apa-apa untuk diucapkan. Setelah berjam-jam berusaha mencari cara untuk bertanya mengenai ayahnya, kini topik itu hadir sendiri tepat di depan matanya. Tanpa ia sadari, matanya melotot dan dirinya terdiam. Ia baru sadar ketika orang-orang sudah mengganti topik obrolan dan tidak bicara mengenai lagu itu lagi.
Fajar memperhatikan orang yang tadi bermain gitar di sebelahnya dan hendak bertanya sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya. Orang itu terlihat begitu tegang. Pakainnya yang santai tidak dapat menyembunyikan otot-otot lengannya yang kuat. Fajar hanya mencuri-curi pandang ketika orang itu bergabung dengan obrolan dan bicara mengenai fotografi dengan fasih.
Jam malam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Fajar sudah berusaha, namun ia tidak berhasil menemukan kesempatan lain untuk menyela pembicaraan dan bertanya mengenai ayahnya lebih jauh.
Begitulah kebiasaannya yang menjengkelkan. Ia sangat kesulitan untuk bicara pada orang baru, terutama apabila berhadapan dengan sekumpulan banyak orang. Ia jadi terlihat sangat kikuk dan ia sebal dengan dirinya sendiri karena tidak dapat mengendalikan dirinya. Kadang-kadang, Fajar mengumpat dalam hati dan menyebut dirinya sendiri bodoh.
Bahkan setelah usaha semalaman ini, ia hanya mendapat sedikit sekali tambahan informasi.
Fajar akhirnya berdiri. Ia menyandangkan gitar di bahu kanannya dan pelan-pelan mengucapkan pamit kepada beberapa orang di sekitarnya.
"Saya pulang dulu ya, saya pulang dulu Mas," ucap Fajar. Ketika tiba ke orang yang tadi bernyanyi, ia sedikit menunduk. "Saya pulang dulu, Kak."
Orang itu mengangkat wajahnya dan menggenggam pergelangan tangan Fajar dengan kencang. "Tunggu sebentar."
Fajar diajaknya berdiri dan pergi ke ruang tamu di dalam. Ia tidak tahu apa yang laki-laki ini hendak lakukan, namun ia tidak berani menolak. Cengkeramannya sangat kencang. Dalam hati Fajar menyesal karena tidak membawa semprotan merica yang biasanya ia letakkan di saku. Ketika mereka sampai di sana, ternyata tidak ada orang di sana. Ruang tamunya sangat sepi.
Ia dan Fajar duduk berdua di sebuah sofa. Tangannya masih digenggam erat. Laki-laki itu kemudian bertanya, "Siapa namamu?"
"Saya?"
"Ya. Siapa namamu?"
"Nama saya ... Jafra."
Mata laki-laki itu menyipit selama beberapa saat, kemudian ia berkata, "Baiklah, Jafra. Aku tidak pernah mendengar namamu dan aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya, namun aku harus tahu apa tujuanmu datang ke sini."
Hati Fajar berdegup kencang. Ia tidak mengerti apa yang laki-laki ini hendak sampaikan, namun pikirannya sudah penuh dengan gelombang rasa antisipasi.
"Saya hendak belajar mengenai fotografi."
"Ya, ya, baiklah," laki-laki itu berkata lagi, "tetapi mengapa kau begitu terkejut ketika aku menyebutkan nama beliau tadi?"
"Aku belum pernah mendengar mengenai dirinya sebelumnya."
"Kau yakin?" Laki-laki itu mengerutkan alis. Fajar merasa terintimidasi dengan gerak-gerik tubuhnya. "Bagaimana kalau aku membuktikan sebaliknya?"
Fajar terdiam. Ia tidak percaya dengan laki-laki ini sehingga tidak berani untuk mengatakan hal yang sebaliknya. Laki-laki itu masih menggenggam tangannya sehingga ia pun tidak mungkin lari.
Kemudian, seseorang datang menyelamatkannya.
"Keno, apa yang kau lakukan?!" Teman Fajar yang beberapa kali pernah mengenalnya sebelumnya datang. "Fajar, ada apa?"
Ternyata laki-laki itu bernama Keno. Fajar memandang temannya yang datang itu dengan pandangan sangat berterima-kasih karena ia telah diselamatkan dari penghakiman tanpa alasan itu. Teman Fajar tadi berkata lagi, "Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Aku sedang menanyainya beberapa hal," ucap Keno. "Ia orang baru disini?"
"Ia sudah beberapa kali datang," ucap teman Fajar. "Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya."
Keno menarik napas, kemudian melepaskan genggamannnya dari tangan Fajar. "Kau betul-betul tidak mengenal Wira Nagara?"
Pertanyaan itu tidak sempat dijawab oleh Fajar, sebab temannya menyela. "Apa maksudmu?! Ia adalah anak Wira Nagara!"
Keno melotot. Fajar menciut. Ia ketahuan berbohong. Namun bukannya meledak marah, Keno malah melotot kepada Fajar. "Kau anak Wira Nagara?"
"Ya...."
"Siapa namamu?"
"Umm, namaku ... Fajar Nagara. Maaf aku berbohong! Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku takut ada di antara kalian yang bersekongkol melaporkanku...."
"Kami berguru pada Wira Nagara!" Teman Fajar itu melotot."Bukankah sejak kau datang sudah kami katakan, tidak mungkin kami melaporkanmu!"
Keno ikut protes. "Kalau tahu kau adalah anak Wira Nagara, aku sudah sejak tadi mengantarmu pulang!"
Fajar merasa tidak enak hati dengan teman-teman barunya ini, namun bagaimanapun juga ia masih merasa sedikit takut. Kini mereka duduk di hadapannya dengan gestur yang lebih bersahabat. Fajar mengatur napasnya dan detak jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang, kemudian perlahan-lahan menyusun kalimat yang tepat untuk dikatakan. Ia belum menyiapkan diri untuk situasi seperti ini.
Melihat Fajar terdiam, Keno bicara lagi, "Fajar, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku ... mau mencari Ayah," ucap Fajar. Ia memberanikan diri untuk bicara jujur. Keno dan temannya itu memperhatikannya sejenak, kemudian berkata, "Mencari Ayah?"
"Ya.... Apa yang kalian ketahui mengenai Ayahku? Aku harap aku bisa bertemu dengannya."
Keno menatap Fajar dengan tatapan yang dalam itu, kemudian berkata, "Kau bagus bertemu denganku. Datang lagi besok dan ikuti aku."