aku tidak tahu yang akan terjadi

2091 Words
Dibandingkan saat Abhi minta izin atau lebih tepatnya memaksa Laras mengizinkannya untuk menikah lagi,saat Abhi membawa Mona untuk tinggal bersama mereka jauh lebih menyakitkan bagi Laras. hatinya hancur lebur. harga dirinya terasa terinjak tanpa bentuk lagi. entah dianggap apa dia dimata suaminya. setidak berharga inikah dia sekarang? sampai hal sesensitif ini tidak jadi pertimbangan bagi Abhi. Dia hanya memaksakan argumennya dengan dalih demi mendekatkan anak-anaknya dengan ibu kandungnya sendiri. dia mengenyampingkan hati dan perasaan Laras. Laras mulai tidak mengenali suaminya lagi. orang seperti apa yang sudah dia gantungkan hidupnya selama ini. saat ini Laras dan kedua anaknya sedang berdiam diri didalam kamarnya karena sejak kedatangan papa dan mamanya mereka sedikit mengambek karena pada dasarnya mereka berdua bukanlah orang yang gampang bebaur dengan orang dan suasana baru. Laras menduga karena alasan itulah Abhi masih mempertahankannya. " kakak kenapa tidak bergabung bersama mama dan papa di luar?" tanya Laras pada Sinta yang terlihat bengong disudut kamar. " kakak bingung bu..." " bingung kenapa?" Sinta menatap Laras dengan tatapan yang Laras tidak fahami. " sinta bingung apa kehidupan seperti kita ini normal. punya satu papa dengan dua orang ibu dalam satu rumah...". Laras tidak menyangka Sinta akan bertanya seperti itu. " apa Sinta mau Ibu pergi agar Sinta tidak bingung?" tanyanya menahan rasa sakitnya. Sinta menggeleng cepat ", Sinta nggak mau! Sinta mau ibu tetap disini sama kami". Laras memeluk tubuh Sinta erat, setetes air bening mengalir disudut matanya. meski selama ini hubungannya tidak sedekat dengan Rara ternyata Sinta juga menginginkannya. " Sinta bingung harus bagaimana" Lirih anak baru gede itu. " kakak sama Ibu kenapa?" suara Rara membuat dua orang itu melepaskan pelukannya. " Ibu mau ngomong sama kalian berdua tolong didengarkan ya..." pinta Laras mengabaikan pertanyaan Rara. kedua anak perempuan itu mengangguk. " mulai sekarang mama akan tinggal disini, ibu minta kalian menghormatinya seperti kalian juga menghormati ibu ya?" " ibu nggak marah?" Laras menggeleng," kalian harus buat mama nyaman tinggal disini". bohong. Laras membohongi dirinya sendiri. bagaimana mungkin itu yang diinginkannya. jujur dia takut anak-anak akan menjauh darinya, tergantikan oleh ibu kandungnya, bagaimanapun darah pasti lebih kental dari airkan? tapi... Laras juga ingin hubungan Mona dan kedua anaknya juga membaik. " ayo kita keluar..." ajak Laras. Pemandangan cukup menyesakkan hati Laras menyambut mereka di ruang keluarga. Abhi dan Mona sedang duduk di depan televisi dengan jarak yang sangat dekat. suara langkah mereka membuat dua insan itu menoleh. dengan terpaksa Laras tersenyum. Rara langsung duduk keatas pangkuan papanya. Laras memilih duduk disofa singel disamping Mona sedangkan Sinta duduk dikarpet didekat kaki Laras. " Mulai malam ini mama akan tinggal disini. papa harap kalian bisa menerimanya dengan senang hati" ucap Abhi sambil melirik pada Laras. yang dilirik memilih untuk diam saja," Sinta tolong kamu ajak mama kekamar tamu, mulai saat ini kamar itu akan jadi kamar mama". " kok kamar tamu mas?" tanya Mona membuat Laras mengerutkan dahinya. jangan bilang?" kamar tamu ada dibawahkan?" tanyanya lagi ",berarti aku sendirian dibawah yang lain kamarnya diataskan?" tanya Mona sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tempat mereka duduk. ruang keluarga yang memang berada di lantai atas. " disini gak ada lagi kamar yang kosong". jawab Abhi menjelaskan. dilantai dua memang cuma ada tiga kamar yang masing-masing sudah mereka tempati. diLantai bawah juga ada tiga kamar. dua kamar kosong yang sering ditempati oleh tamu yang kebetulan datang berkunjung. satu lagi kamar asisten rumah tangga yang terletak disamping dapur. " untuk sementara kamu dibawah saja dulu, ntar aku panggil tukang buat renovasi gudang itu biar dijadikan kamar". jawab Abhi menenangkan Mona. Mona tampak masih belum bisa menerimanya. " bagaimana bisa aku bisa cepat dekat dengan anak-anak kalau aku dikucilkan di bawah sedang kalian semuanya tinggal diatas". dikucilkan? mantap sekali pemilihan kata-katanya. " aku juga nanti akan gantian tidur dibawah". " tapi mas, kamar inikan dulu milik kita". ucap Mona merajuk. Laras melongo. Abhi terlihat terkejut dengan penuturan Mona yang diluar dugaannya. " kenapa bukan kamar yang dulu aja yang aku tempati?". Laras tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana. jangan bilang kalau Mona ingin dia yang menempati kamar tamu. Apa yang sebenarnya Mona ingin sampaikan. salahkah kalau Laras menganggap Mona sedang ingin menunjukkan keakuannya pada dia? Laras dan Abhi saling berpandangan. " mas.." panggil Mona masih dengan nada merajuk. " biar kakak saja yang pindah kamar". kata Sinta diluar dugaan. Laras menggeleng. " nggak apa-apa bu, kakak mau kok pindah kamar". jawab Sinta meyakinkan. " Ibu saja kak..." putus Laras sambil berdiri menuju kamar," kakak tolong panggil bik Asih sama mang Asep buat bantu Ibu mindahin barang ya" pintanya pada Sinta yang langsung diangguki oleh Sinta. sampai dikamar segera dibukanya lemari pakaian untuk mengeluarkan koper yang ada disudut lemari. " Ras," panggil Abhi menyusul istrinya. meski mendengar panggilan Abhi namun Laras memilih abai dan meneruskan pekerjaannya mengeluarkan bajunya. melihat Laras mengacuhkannya diraihnya tangan Laras. " Ras " panggilnya lagi." kamu nggak perlu pindah, aku akan coba ngomong kembali dengan Mona". janjinya tak enak hati. Laras diam saja. " kamu tetap disini, ini sudah jadi kamar kita". " apa benar kamar ini dulu kamar kalian?" tanya Laras dingin. setaunya dari ibu mertua rumah ini bahkan baru Abhi tempati setelah kepergian Mona. " apa rumah ini adalah rumah yang kamu bangun untuk Mbak Mona?" ulangnya. Abhi diam. bingung untuk menjawab apa. rumah ini memang dia bangun untuk Mona dan anak-anaknya tapi belum sempat terealisasi Mona sudah keburu pergi karena sudah tidak sabar lagi. Mona tidak sabar menunggu Abhi mewujudkan cita-citanya untuk membahagiakan mereka. " kamu diam berarti benarkan?" Abhi menghela nafasnya kasar. masih enggan untuk menjawab. " aku mengerti mas, sudah seharusnya aku yang pindah". " tapi Ras..." " sudahlah mas jangan memperpanjang masalah lagi. sebaiknya kamu keluar biar aku selesaikan pekerjaanku dahulu". Abhi menyerah. dengan langkah gontai dia keluar juga. mencari bik Asih demi memintanya membantu Laras. disudut hatinya dia merasa tidak nyaman dengan yang terjadi. kenapa rasanya dia telah berbuat tidak baik pada istrinya itu. tapi dia meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja nantinya. mereka akan bisa melewati semuanya. dia tahu Laras wanita baik. bukan, dia wanita yang teramat baik. Menjelang tengah malam barulah Laras selesai memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah. bik Asih dan mang Asep yang membantu tidak banyak bicara. keduanya hanya mampu menatap iba pada majikannya yang selama ini telah sangat baik kepada mereka. baru kali ini mereka bekerja tapi seakan tidak bekerja pada orang lain, seolah mengerjakan pekerjaan sendiri karena dianggap seperti keluarga sendiri. sulit dipercaya oleh mereka tuan yang selama ini terlihat mencintai nyonyanya itu sanggup memadu istrinya dan membawa istri mudanya tinggal serumah dengan mereka. terasa rumit karena istri kedua sang majikan tak lain mantan istrinya sendiri. baru saja merebahkan tubuhnya Laras mendengar Abhi memasuki kamar. bajunya sudah berganti dengan piyama untuk tidur. sepertinya Abhi akan tidur bersamanya untuk pertama kali sejak dia menikah kembali. repleks dia kembali duduk. " ada apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu. " nggak ada" " terus?" " aku cuma mau tidur disini... kangen" ucapnya sambil tersenyum yang dibalas oleh Laras dengan tatapan datar. " aku lagi mau sendiri" Abhi tahu Laras marah padanya dan dia memakluminya. " tapi aku kangen " ulangnya tak sepenuhnya berbohong. meski bermaksud membujuk tapi hatinya juga merasakan rindu. " tapi mas..." Abhi tidak peduli dengan penolakan Laras. langsung naik keatas ranjang setelah mematikan lampu utama menggantikan dengan lampu tidur. ditariknya pelan kaki Laras sehingga tubuh Laras menjadi rebah dipeluknya erat tak peduli Laras yang meronta. "stt... ayo kita tidur. sudah malam". akhirnya Laras hanya bisa pasrah. memejamkan matanya. untuk pertama kali semenjak menikah dia merasa pelukan Abhi bukan lagi pelukan yang mendamaikan gundah hatinya. meski raga mereka hampir menyatu tapi terasa jauh. entahlah, apa cuma perasaannya saja yang masih sulit menerima permainan takdir yang baru merubah nasibnya. Pagi saat terbangun Laras sudah tidak menemukan lagi Abhi disampingnya. sepertinya dia sudah meninggalkan kamar sebelum pagi menjelang. tanpa bisa dicegah hati Laras terasa diiris sembilu tak kasat mata. setelah selesai membersihkan diri dia keluar menuju dapur. bik Asih sudah berada disana menanti perintah dari Laras. " pagi bik, anak-anak sudah turun?" sapanya seperti biasa. " belum bu mau bibik bangunkan?" " boleh bik, biar aku yang bikin sarapan". sepeninggal bik Asih Laras langsung membuka kulkas mengeluarkan bahan untuk membuat nasi goreng. kedua putrinya sangat suka makan nasi goreng saat sarapan. Sinta dan Rara memasuki dapur bersamaan dengan selesainya nasi goreng buatan Laras. " pagi sayang, gimana tidurnya?" sapa Laras seriang mungkin. demi hari yang indah bagi keduanya dia mampu menyimpan sedihnya sendiri. " pagi bu... " jawabnya serentak" ibu bikin nasi goreng ya?" tanya Rara senang. " iya dong... nasi goreng kesukaan adek" " ibu memang terbaik" ucap Rara menirukan salah satu iklan televisi.Sinta cuma tersenyum melihat antusias adiknya. sudah terlalu biasa Rara bertingkah seperti itu saat sedang senang. setelah mengisi kedua piring anaknya Laras turut duduk menemani mereka sarapan. Abhi masuk kedapur bersamaan dengan Mona dengan rambut sama-sama terlihat masih lembab. buru-buru dipalingkan pandangannya sebelum kedua sejoli itu menyadari arah pandangannya. " nasi goreng ya, papa mau dong" sapa Abhi pada Laras. " maaf mbak tolong diambilin mas Abhinya" ucap Laras cuek pada Mona. " oh iya, tunggu bentar ya mas..." ucap Mona kelewat lembut. Abhi menatap Laras, yang ditatap seperti tidak peduli. Laras meneruskan sarapannya. dia tidak perlu lagi mengurus hal begituankan? toh Abhi punya istri yang lain, yang Laras sadari jauh lebih diinginkan lebih daripadanya. " mau teh mas?" tawar Mona yang diangguki oleh Abhi. biasanya Laras yang menyiapkannya. dahi Abhi langsung mengkerut saat teh baru dicobanya. rasanya tak karuan. tak sesuai dengan seleranya. demi menjaga perasaan Mona terpaksa tetap diminumnya juga. dia yakin Mona tidak tahu takaran gula yang harus dimasukkan. rasanya manis sekali sampai membuat sakit pangkal tenggorokannya. " gak enak ya mas?" sepertinya Mona menyadari raut wajah suaminya. Abhi berdehem" enak ko ma.." jawabnya berbohong. Mona tersenyum senang " berarti mama masih ingat dengan selera papakan?" Abhi mengangguk dengan senyum dipaksakan. Laras seolah tuli saja. demi menjaga hatinya dari luka yang semakin dalam. dari cemburu lebih tepatnya. " hari ini papa yang antar sekolah" Laras menoleh mendengar ucapan Abhi. " pak ujang akan mengantar mama kekantor, jadi Kalian kesekolah sama papa." oh itu maksudnya. " ibu sekalian papa yang ngantar ke toko ya". " gak perlu" tolak Laras. Abhi menoleh meminta penjelasan. Niat hatinya ingin mengantar Laras dan anak-anaknya agar nanti dia punya waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi malam. alasan yang memaksanya pindah tidur ke kamar Mona. bukan karena keinginannya tapi karena Mona yang memaksa dengan alasan belum terbiasa tidur ditempat yang baru. " aku nggak berangkat ketoko hari ini. mau bantuin ibu-ibu masak dirumah pak Yanto. Yuyun mau lamaran ntar malam". Abhi mengangguk saat ingat beberapa hari yang lalu mendapat pesan dari pak Yanto yang merupakan ketua Rt di kompleknya mengundangnya untuk hadir nanti malam untuk menyambut kedatangan calon besannya. menurut pak yanto dia sudah datang kerumahnya untuk mengundang secara langsung tetapi tidak bertemu. tentu saja tidak bertemu karena bertepatan dengan acara bulan madu singkatnya. semua telah berangkat ketujuan masing- masing, Laras pun segera berjalan menuju rumah pak Yanto yang berjarak tiga rumah dari rumah mereka. sedari awal memasuki pekarangan belakang rumah pak yanto tempat para ibu berkumpul Laras sudah merasakan bahwa dia diperhatikan dengan tatapan yang berbeda. seolah ada yang mereka sembunyikan dari dia. " Nak Laras bisa kita bisa sebentar" bisik bu Aminah, istri pak Yanto. wanita yang sehari- hari dipanggil buk haji itu membimbing Laras kedalam rumah. sampai diruang tamu yang sepi karena semua yang datang berkumpul diarea belakng rumah buk haji Aminah mempersilahkan Laras duduk. " ada apa ya buk haji?" tanya Laras was-was. " sebelumnya ibu minta maaf ya nak Laras. ibu merasa tidak enak dengan apa yang akan ibu bicarakan. tapi hati ibu jauh lebih tidak tenang jika tidak menanyakan secara langsung. ibu takut ghibah dan menjurus kearah fitnah." Laras sudah menangkap arah pembicaraan buk haji Aminah. ternyata tetangganya sudah mulai tahu. " apa benar Nak Abhi menikah lagi?" Laras mengangguk. " wanita itu mantan istrinya, jeng Mona?". kembali Laras mengangguk. Buk haji Aminah menarik nafasnya prihatin. dia tahu ini pasti berat bagi Laras. " kamu tahu dan mengizinkannya?" " aku tidak punya pilihan buk". buk haji Aminah menggenggam tangan Laras erat. " kamu yang sabar ya nak... anggap ini ujian yang insyaAllah balasannya syurga" " aku tidak tahu apa akan bisa kuat atau tidak buk..." jawab Laras jujur. dia memang tidak berniat menutupi apa telah terjadi dihadapan buk haji Aminah. mereka sangat dekat selama ini. sudah saling menganggap sebagai keluarga sendiri. " teruslah berusaha semampumu. serahkan semuanya pada yang diatas". nasehat buk haji Aminah dengan senyum yang meneduhkan. dalam hati Laras berharap dia mampu melakukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD