'SAMBALA BALA SAMBALADO TERASA PEDAS TERASA PANAS'???
Jam istirahat pun berakhir, berganti dengan jam pelajaran terakhir. Pelajaran yang sebenarnya sangat di sukai Nia tapi karena suasana hatinya sedang buruk, tentu saja mempengaruhi mood belajarnya menjadi menurun.
"Hhh.. Bel pulang masih lama ya" gumam Nia
"What!! Ngga salah dengar gue? Biasanya cinta belajar, sekarang tiba-tiba ngga sabar nunggu bel pulang" bisik Siska dengan dahi berkerut tak percaya
"Bukan gitu Sis, Nia cuma ngerasa agak gak enak badan jadi pengen tidur gitu" bisik Nia sambil menutup wajahnya menyadari alasannya sangat tidak masuk akal
"Oh gitu.. Yaudah sabar dikit lagi juga bel ko"
"Niaaa!!! Siskaa!!! udah selesai arisannya?" bentak Bu Sandra
"Eh iya Bu"
"Maaf Buu.."
Selang 10 menit bel pulang pun berbunyi
"Baiklah semua sampai di sini dulu pembahasan kita, untuk pekerjaan rumah kerjakan soal dari halaman 25 sampai 28" tegas Bu Sandra
"Baik Bu" jawab semua murid
"Sampai jumpa di pelajaran selanjutnya" ucap Bu Sandra sambil berjalan keluar kelas
Semua siswa dari tiap kelas berhamburan keluar kelas menuju parkiran. Sama hal nya Nia yang bergegas keluar kelas begitu saja sebelum Andra menghampiri kelasnya.
Baru saja Siska selesai membereskan buku dan akan mengajak Nia pulang bersama, Nia sudah menghilang dari pandangannya.
Tiba tiba sebuah tepukan di pundak Siska yang cukup keras mengagetkannya.
"APAAA!!" Bentak Siska. Tepat saat menolehkan kepalanya seketika Siska terdiam dan menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Eh Ka Andra kirain siapa"
"Lo liat Nia? Kemana dia" Tanya Andra sambil melihat sekeliling
"Loh emang Nia gak nyamperin Kaka?"
"Kalo Nia nyamperin gue, gue gabakal nanyain dia sama lo"
"Oh. Iyaya. Lagian juga Kak. Lo kan udah putus, ngapain masih nyariin Nia" pertanyaan Siksa sukses membuat Andra kesal
"Bukan urusan lo! Gausah ikut campur masalah gue!" bentak Andra sambil pergi meninggalkan Siska
'Yaa Tuhannn! Ko gue sampai kelepasan gini' batin Siska sambil menutup mukanya
"Maaf Kak!" kata Siska sedikit teriak.
"Bukan maksud gue ikut campur. Tapi gue juga bingung sama kelakuan dia"
Andra langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Siska lagi.
"Maksud lo" tanya Andra tidak mengerti
"Semenjak balik dari party lo kemarin. Nia mendadak jadi pendiem, suka ngelamun gitu" Jelas Siska
Seketika dunia Andra terhenti, entah apapun perasaan itu, tapi tentu hal ini membuat Andra sangat khawatir
"Gue balik duluan"
Setelah itu Andra langsung menuju kerumah Nia.
0~0~0
Tokkk.. Tokkkk.. Tokkk..
"Permisi.. Any body homee.." Panggil Andra
"Sebentarr" Jerit Nia, sambil berlari menuruni tangga
Setelah membukakan pintu
Seketika wajah Nia menjadi pucat melihat Andra tepat di hadapannya.
Refleks Nia langsung menutup pintu kembali. Sayangnya, Ia kalah cepat dengan gerakan Andra yang menahan gagang pintu agar tidak tertutup lagi.
Entah dorongan dari mana dan dengan alasan apa sehingga hal tersebut menjadi alasan Andra untuk mengembalikan sikap Nia seperti biasanya.
"Tunggu! Biarin gue masuk sebentar" cecar Andra
"Bu.. Bukan gitu Kak. Nia cuma kaget aja hehe.." ucap Nia sambil menggaruk tengkuknya
"Lo masih kesel sama gue? Apa lo lagi ada masalah?"
"Ehh Ng.. Nggaa ko Kak. Ngga ada apa-apa. It's ok, I'm fine. Oya Kaka ada apa ke sini"
"Ya karena tadi gue samperin lo ke kelas, tapi lo nya gak ada. Siska bilang lo pergi nyelonong gitu aja"
"Oh itu. Sorry Kak. Nia cuma sedikit gak enak badan aja. Mau istirahat, tapi serius gak apa-apa ko."
"Ya sukur deh kalo lo baik-baik aja. Tapi kalo ada masalah lo harus cerita juga sama gue. Ya walaupun gue bukan siapa-siapa lo lagi. Yaudah gue pulang dulu"
Mendengar perkataan Andra seketika membuat hati Nia hancur. Ia hanya terdiam dan tersenyum kecut
Setelah mobil Andra pergi dari hadapannya. Nia langsung membanting pintu dan berlari ke kamarnya.
'Maafin Nia karena belum siap jujur sama Kaka' jerit batin Nia
Saat ini Nia hanya ingin menyendiri untuk menenangkan diri dari keterkejutannya atas pernyataan Andra tadi
Nia sadar bahwa akibat atas pernyataan kepada Rian dulu akan sangat berdampak besar di hati Andra. Nia menyadari bahwa peluang untuk kembali bersama merajut kasihnya hanya tinggal harapan semu
Nia mengerti bentuk perhatian dan kepedulian Andra kepadanya sekarang hanyalah sekedar rasa simpati, tidak lebih seharusnya tidak ada alasan lagi untuk berjuang mendapatkan hati Andra. Tapi di satu sisi Nia sangat tidak rela melepaskan Andra dari sisinya.
Membayangkan hal tersebut membuat Nia frustasi