Bab 19 Kokeshi Bergaun Merah

712 Words
Wataru mengerutkan kening. Matanya terkunci pada perempuan bermata empat itu. "Hei." Tegurnya lambat-lambat, sorot matanya merendahkan dan arogan. "Kau pikir kita akan ke taman bermain?" Misaki menelan ludah gugup. Sepertinya ia salah kostum. Wataru berdiri di depan pintunya, berpakaian resmi. Ada yang berbeda dari penampilan biasanya, selain memakai jas rapi serta rambut side part yang membuatnya terlihat dewasa, sebuah kacamata bening bertengger di hidungnya. Sangat berkelas, mewah, dan begitu high profile. Dan parfum yang dipakainya membuat Misaki serasa ingin melayang saja! Ini Toshio si playboy tidak jelas itu? Batin Misaki, penuh tanda tanya. Pikirannya sibuk melakukan flashback perbandingan antara penampilan sehari-hari lelaki itu dengan yang ada di hadapannya. Dasar tampan, dipoles dikit aja malah makin tampan! Kagum Misaki dalam hati. Berbeda dengannya, ia memakai celana jeans biru gelap dan baju rajut abu-abu lengan panjang saat ini. Wajah Wataru memercikkan api kesal yang membuat Misaki merinding. "Apa lagi sekarang?" "Toshio-san. Bukannya kita hanya akan belajar table manner agar aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar? Soalnya, kan, semua yang akan hadir adalah orang-orang kelas atas. Kenapa formal sekali? Lalu, bukannya hanya acara reuni kampus saja?" tanyanya ragu-ragu. "Apa? Kapan aku bilang acara reuni ini bersifat casual? Reuni yang akan kita hadiri itu bersifat resmi. Kau ini level pemahaman otakmu seperti apa, sih? Kenapa suka memutuskan sesuatu seenaknya saja?" "Tunggu, Toshio-san!" telapak tangan kanannya maju ke depan. "Kalau acara ini mengharuskan table manner dan pakaian resmi, bukannya ini disebut acara resmi?" "Acaranya bersifat semi-formal. Jadi harus tetap belajar table manner. Orang sepertimu kalau kubawa begitu saja ke acaraku, yang ada bukan aku yang malu, tapi kau. Paham?" Memang benar. Misaki tidak begitu paham tentang table manner. Ia pernah belajar table manner bertahun-tahun lalu di SMA, itu pun dia banyak bolos waktu itu. Apalagi dengan kondisi amnesianya yang melupakan beberapa hal. Profesi penulisnya tidak banyak membantu, memang mewajibkannya punya wawasan dan ilmu luas, tapi semua hanya sekedar teori untuknya. Masalah praktek itu lain hal pastinya. "Jadi ini acara resmi?" Misaki bertanya, lebih kepada dirinya ketimbang lelaki itu. "Bukan. Hanya bersifat semi-formal saja." "Sama saja, kan?" protes Misaki. "Kubilang beda, ya, beda." Misaki menyipitkan mata. Sebenarnya sejak awal ia tak tahu acara macam apa yang harus ia datangi besok. Pikirannya terlalu sibuk diobrak-abrik dengan sikap dan kelakuan tiran majikannya itu. Masa bodohlah dengan type dan sifat acara itu. Yang penting hadir dulu saja. "Arus listrik otakmu pendek, ya? Cepat ganti baju! Reiko membawa banyak baju, kan? Pilih yang paling mewah dan berkelas." Maaf saja, ya, arus listrik otakku pendek! Omel Misaki dalam hati. Mau tak mau Misaki menurut saja, ia menggigit bibir bawah seraya menahan kesal. Percuma berdebat dengannya saat ini. Buang-buang waktu, terlebih Reiko pasti sudah menunggu mereka di sana. Perempuan itu kebingungan memilih baju yang hendak ia kenakan. Terlalu banyak dan terlalu bagus semuanya. Sepintas ia memikirkan harga-harga baju yang ia pegang, membuat jantungnya berdegup kencang. Benar bahwa Reiko telah memberikannya, tapi tetap saja rasanya mengaduk-ngaduk timbunan baju-baju mahal sekarang ini, rasanya sangat salah! Ia seperti mengaduk-aduk ratusan juta uang yang sangat berharga seperti orang boros tak tahu diri. "Cepat sedikit, Misaki!" "I-iya! Tak mau lama-lama membuat Wataru menunggu dan memicu perang, ia pun meraih gaun jatuh bertekstur halus warna merah di atas lutut, dengan panjang lengan sebatas siku, plus lehernya berbentuk V hingga memperlihatkan tulang selangkanya. Rambutnya digerai menutupi sebagian tampak depan dan belakang tubuhnya. Jika ada yang melihat hal itu, mungkin mengira Misaki adalah boneka kokeshi hidup versi modern dan dewasa. Wataru tak mengatakan apa-apa saat Misaki muncul dengan pakaian itu. Matanya sibuk mengamatinya sesaat seperti sesuatu yang menarik untuk dipandangi berlama-lama. Ia mendecakkan lidah, kilau matanya terlihat tak senang. "A-apa aku salah lagi?" Ia tersipu malu. Kalau bukan karena kontrak mereka, mana mau ia memakai pakaian selevel Reiko. Mana pantaslah dia! Pasti lelaki itu sedang sibuk meledeknya diam-diam dalam hati. "Hah!" Ia memperbaiki letak kacamatanya, berbalik menuju arah tangga dan berkata dengan nada rendah. "Lumayan juga. Ayo, cepat. Reiko bisa cerewet kita terlambat." Misaki bergegas mengejar lelaki itu, tak sempat untuk merasa bangga atau tersipu. Jalannya cepat sekali! Keluhnya membatin. Saking terburu-burunya mengejar langkah Wataru menuruni anak tangga, akibat tak biasa memakai sendal tumit tinggi, kakinya goyah. BRAK! Wataru berbalik, bola matanya membesar. Kepanikan menyerbu  d a d a  dan pikiran lelaki itu seperti kilat yang menyambar tanpa peringatan. "MISAKI!" -------------------   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD