Bab 39 Lelang Dansa Pasangan (4)

2114 Words
Ishikawa menang mutlak dalam pelelangan itu. Seketika juga menjadi bisik-bisik yang membuat satu ruangan itu cukup menyebar rumor adanya pihak ketiga. Biasa, perempuan dengan hati iri ketika melihat seorang wanita diperebutkan oleh dua lelaki tampan. Ada banyak pujian dan caci-maki silih berganti di grup alumni LIME, tak kalah heboh pada Grup Anti-Akabane Merry. Penerangan ballroom itu kembali normal, para hadirin bertepuk tangan antusias dengan hasil lelang tersebut. Ada banyak pasang mata yang mulai terlihat tidak sabaran untuk melihat adegan menarik selanjutnya. Saat pemenang lelang dipersilahkan maju naik ke atas panggung untuk memberi sedikit sepatah kata, Misaki melihat sang wanita pemenang lelang adalah wanita yang bersama Wataru waktu itu. Rahang Sang dewa bisnis mengeras menatap perempuan cantik pemenang lelang itu, mata mereka bertemu. Aiko tersenyum lembut seolah tak ada rasa bersalah pernah mengganggu tunangan orang lain (walau palsu, sih), atau merasa tak enak karena sudah main belakang. Misaki memandang cemas pada Wataru, hatinya tak tahu harus merasakan apa. Tapi sebagai tunangan, ia harus bersikap sesuatu agar tak ada yang curiga ada keanehan pada hubungan mereka. "Ternyata benar perempuan itu. Apa kau serius akan berdansa dengannya?" Ryo bertanya cemas. Wataru melirik. "Ini cuma dansa amal. Bukan sesuatu yang hebat. Kenapa cemas begitu?" Ada apa ini? Mereka sudah tahu? pikir Misaki, cukup terkejut. "Tapi, Wataru," Naoko melirik Misaki sekejap, "apa Akabane-san sudah tahu rumor itu?" Lelaki itu tak berkata apa-apa. Misaki meliriknya penuh tanda tanya, menunggu reaksi. "Wataru, kau bisa mempermalukan Akabane-san jika begini sikapmu." Gin melemas, tampak protes melalui bahasa tubuhnya. "Aku tahu," bohong Misaki seketika, daripada ia tampak seperti orang bodoh. Toh, dia sudah lihat secara langsung tanpa perlu dijelaskan secara rinci. Mereka tampak terkejut, termasuk Wataru sendiri. Sang tunangan palsu melirik dingin Misaki. Masih tak berkata apa-apa. "Sungguh? Kau tidak cemburu? Apa pula yang dipikirkan oleh tunangan perempuan itu?" Naoko melempar pandangan pada meja tak jauh dari mereka, kini ruangan sudah terang seperti sebelumnya. Dari jauh, sang tunangan beruang tampak puas dengan senyum garang di wajahnya. "Aku percaya pada Wata-chan. Hatinya sudah terjerat dalam genggamanku. Benarkan, sayang?" Misaki ingin bergidik mengatakan ini, tapi ditahannya mati-matian. Sekali akting, mesti total, deh. Sudah kepalang basah. Wataru berpikir sesaat, lalu menyahut rendah. "Tentu." "Yeah... percaya pada sang playboy..."  Gin meringis, dan disambut lirikan tajam dari Wataru. Lelaki itu panik membuang muka. Melihat ini, Misaki berkata lagi. "Seperti yang dikatakan oleh Wata-chan. Semua ada akhirnya, bukan? Dia sudah menemukan pelabuhan terakhirnya padaku. Jika aku tak percaya pada keseriusannya, aku tak akan berada di sini bersamanya walau dia orang paling kaya di alam semesta atau pun orang terakhir di muka bumi. Aku tak tertarik pada percintaan sesaat. Murahan sekali. Sama sekali bukan levelku." Mereka yang mendengar hal ini tertawa kecil, sedikit terkejut, dan Wataru mendengus geli karenanya. "Haaaaa.... Kalian masih belum paham?" Matsuda menggeleng pelan, terlihat dramatis. "Apa maksudmu?" Naoko menoleh padanya. "Kumato-san ingin menunjukkan bahwa ia percaya pada sang tunangan dan menepis rumor itu. Pendek sekali pemikiran kalian." "Ah, begitu, ya?" Naoko terpana. Wataru sebenarnya sudah menduga ini, tapi hal ini terlalu berisiko. Jika muncul skandal dari rumor tak jelas itu, ia benar-benar mungkin akan murka, entah hal buruk apa yang akan dia lakukan untuk meredam skandal yang akan beredar itu. Perbincangan di meja itu akhirnya terpusat pada Ishikawa yang kini mendapat giliran berbicara,  sebelumnya Aiko memberi pidato yang cukup mengesankan tentang pentingnya tolong-menolong sesama umat manusia. Dan menyebutkan bahwa ini adalah ide dari tunangannya, lalu dengan lancarnya ia mengatakan betapa ia mencintai sang tunangan karena kebaikan dan kerendahan hatinya. Misaki sampai muram sendiri melihat kebohongan dengan wajah cantik begitu. Aktingnya sangat natural, mungkin ia bisa mendapat penghargaan tingkat dunia dengan kemampuannya itu. DUNIA SUNGGUH TEMPAT YANG MENGERIKAN! pekiknya dalam hati. Ishikawa berpidato cukup serius. Ia tak ingin membiarkan ada rumor menyertainya dalam pelelangan itu, lalu dicap sebagai pihak ketiga pada hubungan orang lain. Sang lelaki kharismatik itu pun menjelaskan sedikit perubahan Misaki dengan cerita yang sudah disesuaikan, tentang bagaimana keamanan dan layanan hotel yang ditanganinya membuat kesalahan pada Misaki. Wataru melirik Misaki yang pandangannya tampak terpana pada pembawaan pidato si penolongnya itu. Di matanya, ia menangkap Misaki memandang Ishikawa seolah wanita yang tertarik pada seorang pria, aslinya Sadako mini market itu kagum pada pemilihan kata dan cara bicara yang sangat baik. Maklum, penulis. Namun, Wataru yang tak tahu hal ini, terlanjur memandang kesal dan jijik padanya. Jengkel entah kenapa, ia menggebrak meja sedikit dengan menggeser posisi tubuhnya. Misaki yang sadar akan hal ini, menghindari tatapan Wataru yang seolah menyerangnya dengan pertanyaan tak terucap. "Uesugi-san memang terkenal baik. Tak heran dia membantu tunanganmu. Apalagi cara dia mengatasi masalah yang ada. Hotel ini adalah hotel kelas atas dengan predikat level dunia. Jelas sangat memalukan jika sampai tunangan ternama Miyamoto Group mendapat perlakuan tak layak." Gin tertawa ke arah Wataru, sekilas menangkap kerisauan lelaki itu. "Kau tidak cemburu, kan?" Mai tersenyum mengejek. Wataru hanya memandang Mai dengan dingin dan rendah. "Dia memang seorang gentlemen. Aku heran dia masih sendiri," Naoko tersipu mengatakan ini. "Yeah... tidak seperti seseorang,"tatapan galak Mai dihujamkan pada Wataru. Lelaki yang sempat bersemangat ikut lelang di meja mereka hanya bisa memandang pasrah pada Misaki terus-menerus, seolah tampak ingin menangis. Matsuda menepuk-nepuk pundaknya, benar-benar Mai versi cowok! "Tapi, Akabane-san. Kenapa kau tidak berdandan seperti ini sejak awal. Semua orang bisa langsung dengan mudahnya setuju dan pasrah jika kau pilihan nomor satu Wataru. Aku tidak mengerti." Misaki melirik sejenak pada tunangan palsunya, tak langsung menjawab pertanyaan Matsuda, tapi lelaki itu tak bereaksi apa-apa. Matanya sibuk ke arah panggung, tajam dan tegas. "Aku suka fashion-nya, menampilkan ketegasan yang saya anut. Itu adalah alasan kenapa Wata-chan penasaran pada saya, dan kami akhirnya menjalin hubungan. Dandanan saat ini terjadi karena orang yang dipilih oleh Uesugi-san adalah tipe kompleks yang sulit untuk dihadapi. Dan Uesugi-san tak berhenti memohon sampai saya mengiyakan permintaannya," kilahnya. Dalam hati, Misaki bersyukur punya profesi rahasia sebagai penulis, gampang sekali mengarang cerita buatnya! Sekali lagi, Wataru melirik Misaki. Kali ini cukup lama hingga Misaki kaget menyadarinya. KENAPA LAGI????? Keluhnya nyaris ingin menangis sejadi-jadinya dengan sikap tak bisa ditebak lelaki itu. Akhirnya, pasangan lelang itu dipersilahkan maju ke lantai dansa. Sang pembawa acara bertugas sebagai komando musik dan dansa malam itu. Semua pada posisi masing-masing. Wataru tak berekspresi, sementara sang wanitanya tersenyum anggun. "Aku tidak pandai berdansa, Uesugi-san," bisik Misaki, cemas. "Aku akan mengajarimu secara perlahan," ia tersenyum. Musik mulai bermain. Kedua pasangan itu kini berdansa bagaikan pasangan romantis yang keluar dari komik-komik roman populer, cantik dan tampan. Orang-orang yang melihat hal ini begitu terpana dengan gerakan anggun dan pemandangan indah dari lantai dansa. Sesaat, ruangan itu tenggelam oleh atmosfer yang membuat hati siapa pun tersentuh dalam sekali. Indah, mewah, dan romantis! Kurang sempurna apa lagi coba tontonan langsung itu? "Apa kau senang?" bisik Aiko. Wataru tak menjawab. "Tunanganmu bersama orang lain. Lelaki tampan dan kaya, melelang tunangan sang playboy dengan harga luar biasa seratus juta dollar. Apa hanya ini ekspresi yang bisa kau berikan pada publik?" ia mencoba mengujinya. "Bukan urusanmu," Wataru membalik Aiko, dan menatapnya dingin, lalu kembali berdansa. "Lihat. Mereka tampak mesra sekali di sana. Aku akui perempuan itu sangat cantik luar biasa, tapi, apa benar tunanganmu? Sementara hatimu masih ada padaku, kan?" Aiko tersenyum penuh kemenangan. Kali ini, sang dewa bisnis tak langsung menjawab. "Jangan terlalu percaya diri," balasnya, cuek. "Lalu, ciuman tadi itu apa?" ia menundukkan kepala menahan tawa geli. Wataru terdiam. Benar. Ia lepas kendali saat itu, dan diakuinya itu sebuah kesalahan. "Aku hanya mengetesnya." Mendengar ini, Aiko tidak senang tapi masih ingin mengusik lelaki itu. "Apa yang kau sukai dari perempuan itu? Kecantikannya? Atau...." ia pura-pura berpikir. "Jangan bertanya hal yang tidak-tidak. Perempuan itu berbeda denganmu." Aiko mendengus geli, tak terima dibandingkan. Lalu ia tak kehabisan akal untuk memanasinya. "Lihat lagi, pipi tunangan berhargamu merona hebat. Kalau aku, tak akan begitu selain pada dirimu. Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Uesugi-san tak pernah melepas senyumnya sedikitpun. Jangan bilang kini kau punya saingan? Lucu sekali." Dan ini, di luar dugaan, menarik perhatian sang playboy. Matanya melirik pada pasangan yang kini tampak sangat bahagia seolah dimabuk cinta, begitu anggun dan aura romantisnya kuat sekali. Hati sang dewa bisnis sampai berpilin jadinya. Ia serasa ingin menghancurkan kedekatan kedua makhluk beda gender itu. Selama beberapa menit mereka berdansa, semuanya terdiam dan menikmati irama dansa yang berjalan mulus. Beberapa orang tampak asyik merekam, ada pula yang benar-benar menikmati tontonan luar biasa itu. Seperti mahakarya dunia dalam siaran langsung! Kening Wataru berkerut. Tak tahan juga melihat senyum dan tawa genit Misaki di sebelahnya (sudut pandang Sang playboy, aslinya tentu lain), ia pun memutar tubuh Aiko. Wataru mendekat ke arah Ishikawa dan berkata dengan nada setengah memerintah dan mengancam. "Tukar pasangan." Eh? Misaki melongo. Ishikawa sejenak mengabaikan perkataan Wataru. Kesal tak ditanggapi, ia mendekat lagi dan sengaja menabrak sedikit belakang Misaki. Ampun! Apa ini kode darinya? Mau apa, sih, dia? jerit Misaki dalam hati. "Tukar!" kali ini, nadanya agak membentak. Ishikawa menahan tawa. "Bagaimana ini? Ada yang marah rupanya? Padahal aku masih ingin berdansa dengan Akabane-san? Ah, maksudku Merry." Suaranya agak dibesarkan sedikit saat menyebut nama pemberian palsu Misaki tanpa gelar kehormatan. Tampang Wataru terlihat tak senang jelas sekali. "U-Uesugi-san! Jangan memancingnya, kumohon! Aku bisa kena masalah nantinya!"  pekik Misaki, setengah berbisik. "Kenapa? Kau sangat menyukai tipe sepertinya? Sayang sekali..." raut wajah Ishikawa terlihat muram. Ingin sekali Misaki menjelaskannya, tapi ia tak bisa. Lagi pula, tatapan galak Wataru dari arah depan membuat nyali Misaki ciut. Kenapa, sih, dengannya! Apa maunya? Dia, kan, sudah berdansa romantis dengan selingkuhannya itu? Misaki cemberut tanpa sadar. "Merry-san. Lelaki itu egois. Kau jelas melihat kejadian tadi, bukan? Ke depannya, mungkin kau akan lebih menderita lagi. Bukan hanya cahaya yang ditarik dari wajahmu seperti saat di lift itu." Ishikawa menarik tubuh Misaki mendekat padanya, setengah memeluk. Seluruh penghuni ruangan tiba-tiba terhenyak. Kaget bercampur panik lalu sebagian wajah hadirin merona malu sendiri melihat tindakan nekat itu. Wataru nyaris saja menerjang melihat hal ini, tapi Aiko menahannya. "Apa kau sungguh serius dengannya, Wataru?" Aiko menatap wajah lelaki itu, tapi sayangnya mata sang pasangan dansa sibuk memicing pada pasangan dansa kontroversial itu, bengis dan dingin. Aiko jelas kesal terhadap situasi ini. Karena tak ditanggapi, ia akhirnya memilih diam saja menahan amarah dan cemburu di dalam d**a. "U-Uesugi-san..." Misaki gelagapan, ini pertama kalinya ada seorang pria memeluknya seperti ini, terlebih lagi di depan umum! "Biarkan saja. Aku bisa mengarang cerita lagi untuk hal ini." Suara Ishikawa terdengar lembut di telinga Misaki. Wajah Misaki merona hebat, untuk menutupi ini kepalanya ditundukkan. Tambah hebohlah seisi ruangan itu. Gosip tak enak pun semakin kencang beredar, ini bahan bagus untuk para anti-Akabane Merry. "Apa kau tak bisa untukku saja, Merry?" bisiknya setengah memohon. "U-Uesugi-san...." "Wajah menderitamu sungguh membuat hatiku sakit..." Waduh! seru Misaki membatin, panik. Sepertinya Ishikawa salah tafsir melihat ekspresi wajah pucat dan suram Misaki sewaktu di lift. Itu adalah ekspresi karena mendapat kabedon dari seorang pria asing secara tiba-tiba, dan seingatnya untuk kali pertamanya. Ditambah juga takut ketahuan dan kontraknya bisa batal, bukan karena ia terguncang melihat perselingkuhan lelaki itu yang tertangkap basah. Misaki jelas tak bisa, pun tak mau meluruskan salah paham ini, toh, memang itu yang harus diyakinkannya pada semua orang bahwa ia tunangan sang dewa bisnis. "Jangan main-main, kumohon..." Misaki tanpa sadar menenggelamkan kepalanya pada Ishikawa. Ruangan riuh melihat hal ini. "Tukar." Wataru memisahkan pasangan yang dirasanya sok romantis itu dengan tetap menjaga image-nya Glek! Tunangan palsunya itu kini berwajah dingin sekali hingga bulu kuduknya berdiri. Ishikawa tersenyum ramah, lalu menyerahkan tangan Misaki. "Tentu." Setelah berganti posisi, mereka kembali berdansa. Ratusan mata yang melihat ini sampai deg-degan sendiri jadinya! "Kau berani juga, ya, bergenit-genit ria dengan pria lain di depan umum, di depan tunanganmu sendiri?!" bisiknya tajam dan dingin, setengah menuduh. Wataru menyembunyikan ekspresi kesal dan jengkelnya dengan menarik Misaki ke dalam pelukannya, kepala tertunduk. Terlihat sangat romantis, tapi tubuh Misaki seperti es batu, campuran antara keringat dingin yang mulai menyerangnya dan tubuhnya yang mulai kaku. JANGAN KUMAT SEKARANG! mohonnya dalam hati agar phobianya tak muncul. "Bu-bukan begitu, Toshio-san." "Oh, ya? Lalu apa?" Sang dewa bisnis memutar tubuh Misaki, lalu menarik kencang tubuhnya ke arahnya. Tatapan mata mereka terkunci. Ruangan kembali riuh dengan 'O' rendah yang setengah terpana, setengah iri. Wataru mengelus lembut sepanjang kontur wajah Misaki, tatapannya sendu dan menawan. Sadako mini market itu tanpa sadar terbawa suasana. "Ini tempat umum, loh!" Ishikawa berbisik ke arah mereka, tersenyum ramah. Misaki mengerjapkan mata. Wataru terdiam, lalu perlahan kembali berdansa dengan ritme lambat. "Apa kau hanya seharga seratus juga dollar, hah?" bisiknya lagi. Misaki tak berkata apa-apa. "Baru sedikit saja melangkah masuk ke duniaku, kau sudah bertingkah seperti ini. Menggoda pria kelas atas. Kau memang matre, ya? Tak kusangka kau murahan sekali seperti ini. Menjijikkan." katanya setengah mengejek, setengah merendahkan. Ini terlihat dilakukan dengan cara yang romantis di telinga Misaki, padahal aslinya sedang menginjak-injak harga diri perempuan itu. DEG! Misaki tertegun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD