Bab 9 Jangkauan Lelaki Itu

701 Words
Ruangan itu sunyi. Pun tak ada suara dari tetangganya itu. Ditebaknya, mungkin lelaki itu pergi jauh-jauh menghindar darinya. "Seenaknya saja mengatai orang amnesia…" bisiknya serak, air matanya menuruni kedua pipinya. Bibirnya masih saja bergetar hebat. Sebenarnya, ia tak mempermasalahkan kata 'amnesia' itu, hanya saja jika hal itu keluar dari mulut Si playboy, ia seolah seperti dicabik-cabik. Ngeri sekali jika sampai masa lalu menyedihkan dan kelamnya diketahui Toshio. Seumur hidup, pastinya akan jadi bahan lelucon tiada habis. Playboy itu berkata dia alergi padanya, lalu apa yang akan dikatakannya nanti jika tahu masa lalunya? Kotor? Menjijikkan? Sampah yang lebih dari sampah? Perlakuan Toshio yang dianggapnya akting saja itu membuat dirinya seperti makhluk yang hina sekali. Ia pun tak bisa memutus kontrak begitu saja. Tabungannya sudah defisit jauh sekali, sementara biaya rumah sakit harus dibayar lagi bulan depan. Royalti pun masih lima bulan lagi diterimanya. "Ayah… berat sekali hidup ini. Aku tak sanggup… ingin menghilang saja rasanya…" ia menyeka lelehan air matanya dengan punggung tangan. Ponselnya berbunyi. Diraihnya dengan ogah-ogahan, dan berusaha menahan isak tangis. "Halo?" "Misaki-chan? Ini mama. Telepon mama dicuri orang. Jadi terpaksa pinjam punya tetangga. Kau baik-baik saja? Perasaan ibu tidak enak akhir-akhir ini." Rasanya tenggorokannya seolah diganjal sesuatu. Perutnya bergejolak hebat. Insting alami seorang perempuan itu memang luar biasa! "Ya." Suaranya nyaris berupa jeritan, ia berdehem sekali dan tertawa kering. "Aku agak pilek. Tapi sudah mendingan." Hidungnya ditekan sehingga terdengar sengau. Keceriaan palsunya seperti cakar binatang yang mencabik-cabiknya dari dalam. "Ah… Mama khawatir sekali. Jangan bekerja terlalu keras. Kau tahu, kan, kalau firasat mama selalu benar. Entah kenapa akhir-akhir ini mama sering kepikiran kamu. Apa karena belum datang berkunjung lagi setelah sekian lama? Mama jadi tidak bisa tahu kondisimu." "Aku akan datang minggu depan, Ma. Mungkin bersama Eikichi." "APA?" nada suaranya naik satu oktaf. "Kau bilang Eikichi? Sarutobi Eikichi?" "Iya, Ma. Aku bertemu dengannya kemarin." Mereka berdua terdiam. "Bagaimana keadaanmu, Misaki? Apa kau masih punya suplai obat penenang?" Lama baru dijawab, senyum perih terlihat di wajahnya. "Aku baik-baik saja, Ma. Semua aman terkendali. Sudah lama aku berhenti mengkonsumsinya, kok." "Tolong kunjungi dokter Shin meski hanya sekali." Ibu Misaki terdiam. "Sejauh ini tak ada yang tahu tentang jati dirimu yang sebenarnya, kan?" "Akan aku lihat jadwal kerjaku. Dan tak ada.  Tak ada yang tahu. Aku tetap membatasi diriku dalam bergaul. Tenang saja." "Misaki… Mama takut jika jati dirimu diketahui orang lain… khususnya mereka di masa lalu…" "Tak akan ada yang tahu. Aku jamin itu. Eikichi juga mengerti hal ini sebelum ke luar negeri. Penampilanku juga jauh sekali dari yang dulu, dan hanya orang terdekat seperti Eikichi saja yang bisa mengenaliku." "Anak itu… kenapa mesti pergi saat kau mengalami hal berat sendirian? " "Itu bukan salah Eikichi. Lagi pula itu bukan tanggung jawabnya. Aku bukan siapa-siapanya Eikichi. Hanya teman masa kecil. Jangan berlebihan. Kasihan dia." Ibunya menghela napas panjang. "Betul. Kasihan sekali dia. Malang sekali nasibnya." "Kok, malang, sih?" "Sudahlah. Lupakan saja. Eikichi anak yang baik. Pastikan kau datang bersamanya saat menjenguk nanti." "Baiklah." Setelah cukup yakin Misaki baik-baik saja. Telepon ditutup. Firasat mamanya selalu benar. Apakah akan ada masalah besar yang akan menimpanya kelak? Penyesalan layaknya anak panah yang dilepaskan seketika menghantamnya untuk membantu lelaki itu. Ke acara resmi, artinya akan ada banyak orang. Bagaimana jika ada yang mampu mengenalinya? Memikirkannya saja membuatnya lemas. Fujihara Misaki. Itu bukan nama aslinya. Setelah tragedi di SMA dan keluarganya mendapat kesialan tiada henti, ia memutuskan mengubur semuanya, termasuk mengganti namanya. Ia tak ingin masa lalunya diketahui orang lain, bukan hanya karena itu aib yang pernah membuatnya hampir mengakhiri hidupnya sendiri, tapi jika sampai ketahuan, keluarganya bisa jadi bulan-bulanan orang yang tak berperasaan dan tak berotak. Alasan kuat inilah yang membuatnya jadi seperti hikikomori, lari dan bersembunyi. Sejauh mungkin dari keramaian, dan kedatangan Toshio dalam hidupnya menjangkaunya dari sudut yang gelap, membuat dirinya nyaris lupa diri oleh kilauan dan hiruk pikuk dunia lelaki itu yang penuh keberuntungan. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebuah kartu nama. "Halo?" jawab suara lembut dan seksi di seberang sana. "Miyamoto-san? Ini aku Fujihara Misaki." "Ah! Fujihara-san! Ada apa meneleponku? Apa adik bandelku sudah pulang ke apartemennya?" "Sebelum itu, apa aku bisa minta tolong?" "Menarik. Kau pintar juga tawar-menawar rupanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD