"Wuah... Ru-rupanya niatmu menghentikanku minum pembersih toilet tidak murni, ya?" sebelah mata Misaki menutup menahan sakit, antara cekikanWataru dan lengannya yang dicengkeram kuat kini mulai menyakitinya—kelamaan ditekan menggantung ke dinding olehnya. Wataru gemas melihat ekspresi Misaki, ingin rasanya ia membuat perempuan itu menangis seperti kemarin. Tangisan karena dirinya! Sangat menyenangkan! Ia mengamati kedua mata Misaki yang bengkak di balik kacamata, hatinya seketika seperti roller coaster, naik-turun tidak karuan. "Mau nangis lagi? Wajahmu sudah kacau begini, tambah jelek saja, tahu?!" "Le-lepas! Sakit!" Misaki berusaha melepas tangan Wataru di lehernya. Namun, lelaki itu begitu kokoh. "Kenapa? Bukankah, kau mau mati kemarin? Plin-plan sekali kau ini?" ia mendekatkan bibi

