Jam pulang, Luna langsung menuju ke ruangan Gama. Gadis itu mengetuknya sekali dan tanpa menunggu sautan dari Gama, Luna langsung masuk ke dalam. Luna melihat Gama masih bergelut dengan laptopnya. Sampai hapal dengan posisi Gama saat ini. Kaca mata yang bertengger, posisi tegap, laptop di depan mata serta tangan yang bergerilya di atas keyboard. Baju kerjanya sudah tidak rapi, dengan kemeja yang kancing teratas terbuka dua kancing. “Mas Gama.” Panggil Luna. Gama melirik Luna sekilas, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. “Iya, Sayang? Apa?” “Mas lembur?” “Belum tahu. Kerjaan saya banyak.” Luna menghempaskan punggungnya di sofa empuk ruangan Gama. Ia bahkan selonjoran karena lelah. Seharian ia rajin sekali bekerja membantu karyawan. Karena pekerjaan di bagian keuangan sedang

