" Han aku mau ngomong sesuatu"
Hana menatap lekat wajahku, ia merasa heran tak seperti biasanya aku ngomong serius seperti ini.
" ada apa Kay?? gak seperti biasanya kamu ngomong serius seperti ini ?" Hana mendekatiku menunggu apa yang ingin aku bicarakan.
" kamu punya kenalan detektif gak?"
" buat apa Kay?" tanya Hana heran.
" aku ingin mencari tau tentang keluargaku"
Hana menghela nafas mendengar jawabanku, ia menatap lurus kedepan sesat hingga Hana beralih menatapku lekat-lekat.
" kamu sungguh ingin mencari tau keluargamu Kay? sampai kapan kamu berharap kepada mereka Kay! sudah jelas mereka sudah membuangmu ke panti"
bicara Hana mulai tak bersahabat, aku sangat ingat ketika aku cerita kalau aku dibuang oleh keluargaku sendiri, ia begitu sedih mendengar kisah pilu hidupku.
" Kayla kok lama dikamar " suara bunda memanggilku dari balik pintu kamarku.
" iya bunda ini juga mau keluar" teriakku.
" ayo han kita keluar kasihan bunda sudah nunggu dari tadi " aku berjalan keluar dari kamar diikuti Hana dari belakang.
acara makan pun selesai semua anak-anak sudah masuk kedalam kamar masing-masing tinggal bunda, Hana dan aku.
" Hana mau nginep disini?"
bunda membuka percakapan untuk mengakhiri kecanggungan ku dengan Hana.
" enggak Bun besok aku ada acara sama keluarga " Hana tersenyum canggung.
aku menatap Hana yang hanya diam tak menanggapiku seperti biasanya.
aku tau Hana hanya ingin menghindariku saja, terlihat ia menatapku serasa egan ' ah dasar Hana bikin aku pusing dengan tingkatnya ini ' batinku.
" aku pamit ya Bun, udah malem soalnya " Hana pamit sama bunda mencium tangan dan beranjak begitu saja tanpa menghiraukan aku yang notabene ada disampingnya.
Hana berjalan keluar segera ku susul, sedangkan bunda yang melihat tingkah kami pun merasa ada sesuatu yang tidak beres.
" Han tunggu sebentar " teriakku.
" ada apa lagi Kay "
Hana berhenti dan menoleh kearah ku.
" kamu marah sama aku " tanyaku hati-hati.
" enggak!" jawabnya singkat.
" kok kamu diam aja gak seperti biasanya, aku tau kamu Han " kataku lirih.
Hana yang mendengar suaraku menghela nafas memang ia tak bisa untuk marahan denganku.
" aku gak marah Kay "
Hana mendekat dan menatapku lekat-lekat, ia tersenyum untuk menghilangkan rasa canggung.
" besok coba aku cari orang detektif untuk mencari keberadaan orang tua kamu Ok! "
" terimakasih Han kamu memang sahabatku "
ku peluk tubuhnya menyalurkan rasa sayang di antara kami.
" aku pulang, besok aku kabarin lagi "
Hana melepaskan pelukanku ia tersenyum menatapku dan ku balas anggukkan.
" hati - hati di jalan yan Han "
" Ok! "
Hana berjalan menjauh hingga tak terlihat lagi, aku berjalan masuk kedalam ingin segera istirahat karena besok harus bangun pagi dan memulai kerja.
" gak terasa ternyata udah mulai tengah malam "
" kamu belum tidur sayang "
suara bariton bunda mengagetkanku, ia tersenyum kearahku.
" iihh bunda bikin kaget aja "
" maaf bunda tidak bermaksud mengagetkanmu, kenapa belum istirahat? sudah malam besok harus kerja kan ?"
" iya Bun besok kerja, ya sudah aku masuk kamar dulu ya Bu "
" ya sudah istirahat gih "
" malam bunda "
" malam sayang "
ku tinggalkan bunda begitu saja aku langsung masuk ke kamar, sebelum tidur seperti biasa aku gosok gigi ke kamar mandi dulu baru tidur.
" semoga besok hariku menyenangkan "
batinku dan tak butuh waktu lama aku masuk kedalam mimpi.
****
pagi ini seperti biasa ku jalani rutinitas seperti biasa, gak terasa sudah satu Minggu aku kerja di PT Wijaya grup.
ternyata sangat menyenangkan pertama kali kerja mempunyai teman-teman yang bisa membuatku semangat dalam bekerja contohnya seperti Tania, ia orang yang humoris membuatku nyaman dekat dengannya, yah walaupun tak sedekat Hana sahabatku namun Tania bisa menjadi teman yang bisa diandalkan dalam bekerja.
" pagi Tan! " sapaku pada Tania.
" pagi juga Kay! tumben semangat banget "
" iya dong! kerja itu harus semangat iya gak dav?? "
" iyain aja lah " jawab David sekenanya.
" David gak asik deh! " kesalku padanya.
sedangkan David hanya diam saja tak menanggapi perkataan ku, Tania yang mengerti keadaan berusaha mencairkan suasana dengan buka percakapan diantara kami yang hanya diam. Tania segera beranjak dari duduknya untuk siap-siap kerja karena sudah waktunya kami mulai menjalankan perkerjaan yang sudah menanti.
" udah ayo kerja nanti dimarahin pak Toni " kata Tania bijak.
" ya udah ayo! " ajakku kepada Tania.
David menatapku dengan tatapan aneh mungkin ia juga bingung dengan tingkah ku ini. tapi bodoh amat dia aku tinggal begitu saja karena aku merasa kesal dengannya, gak tau kenapa moodku yang tadinya bagus menjadi jelek gara - gara David, entahlah aku juga bingung dengan diriku sendiri.
kami berdua seperti biasa membersihkan loby kantor terlebih dahulu seperti kaca dan mengepel lantai yang terlihat kotor karena kemaren sempat hujan. setelah selesai semua baru membersihkan ruangan bos yang sebentar lagi bakalan datang tuh bos kampret, aku masih sangat kesal kepada nya karena mempermalukan aku di depan umum, mentang-mentang ia pemimpin yang seenaknya pada bawahannya.
" Tan aku bersihin ruangan bos dulu ya nanti keburu datang " kata ku pada Tania.
" Ok! "
aku mulai menaiki lift menuju lantai 10 dimana ruangan bos kampret itu, ' andai saja aku bisa kerjain dia pasti seru ' kataku dalam hati.
" ahh tapi aku masih butuh uang buat kuliah "
ruangan yang luas dan tertata rapi ternyata sangat nyaman, ada banyak rak tumpukan buku dan dokumen disetiap sudut ruangan, ada juga fasilitas seperti kulkas dan sofa melengkapi ruangan ini.
aku mulai membersihkan ruangan tersebut mulai dari meja, berkas yang berserakan dan aku pun tak tau berkas apa itu, setelah semua tertata rapi aku mulai membersihkan lantai.
" akhirnya selesai juga "
aku tersenyum melihat hasil kerja kerasku, semaunya sudah bersih dan juga tertata rapi.
" perfect "
aku mulai membereskan peralatan pembersih ku untuk segera pergi dari ruangan tersebut namun tak ku sangka pintu terbuka membuat ku kaget dan menjatuhkan peralatan yang sudah aku bawa ' ahh ternyata bos kampret sudah datang ' batinku.
itulah julukan ku kepada CEO yang sudah mempermalukan ku ditempat umum, segera aku punguti peralatan agar cepet pergi dari ruangan itu.
" kamu kerja memang gak tau beres! "
Revano berjalan masuk dan meletakan tas nya diatas meja dan duduk di kursi kebesarannya.
" maaf pak saya segera beresin kekacauan ini " kataku.
setelah semuanya sudah beres aku pamit untuk pergi dari ruangan tersebut, namun Revano menghentikan ku.
" tunggu sebentar! "
aku balik badan menatap Revano yang masih menatap layar laptopnya.
" tolong buatkan saya kopi tapi jangan manis dan jangan pahit "
begitu arogan nya Revano bicara tanpa melihat orang yang di ajak bicara, aku bengong mendengar perkataannya ' dasar bos aneh ' batinku.
" baik pak "
aku pergi keluar menuju kepantri untuk membuat kopi pesanan bos kampret itu.
" selesai "
aku mulai berjalan mengantarkan kopi yang sudah saya buat agar tugasku selesai.
Tok Tok Tok
" masuk "
terdengar jawaban dari dalam aku mulai masuk dengan membawakan minuman yang sudah ku buatkan.
" ini pak kopinya "
kutaruh meja kopi yang masih panas itu lalu aku segera pergi dari ruangan tersebut, namun Revano suruh tetap berdiri ditempat.
" tetap disitu! "
' apa sih maunya bos kampret ini ' batinku kesal.
Revano mulai mencicipi kopi buatanku namun ia mutahkan kembali kedalam cangkir yang masih ia pegang.
" Apa-apaan kamu!! kamu mau meracuni saya Ha!! " marah Revano.
" maaf pak tapi saya sudah membuat pesanan yang bapak suruh " jawabku sekenanya.
" buatkan lagi " katanya tanpa beban.
" baik pak "
setelah aku keluarkan dari ruangan dan membuat kopi kembali segera aku antarkan kepada bos menyebalkan itu.
" ini pak kopinya "
Revano mulai meminum kopi buatanku, namun lagi-lagi ia memuntahkan kopinya.
" kamu ini gimana sih bisa tidak membuat kopinya!!"
" maaf pak tapi itu sudah takaran nya "
aku langsung mengambil kopi dan meminumnya, ' enak kok tapi kenapa bos kampret ini senang sekali menyusahkan ku saja ' batinku kesal.
" bapak bohong kan kalau kopi ini tidak enak? " tanyaku
" siapa yang bohong! memang kopi buatan kamu pahit kaya gitu " jawab Revano salah tingkah.
" sudah sana buatin lagi " suruhnya.
" dasar bos tak berperasaan! " kataku ketus.
" apa kamu bilang!! " suara Revano meninggi membuat suasana menjadi mencekam.
" kamu sudah bosan kerja disini Ha!!" Revano menatapku dengan tatapan tajam.
" ya Tuhan apa lagi ini, aku masih butuh perkerjaan ini masa aku gak meneruskan kuliah kalau aku berhenti dari sini " batinku bingung.
" maaf pak saya segera membuatkan lagi kopinya " jawabku lirih.
" gak perlu! sekarang kamu susun berkas ini sesuai urutannya "
Revano menyerahkan tumpukan kertas kepada ku, segera aku ambil mencari tempat duduk sofa dan mulai menyusun satu persatu.
" Jagan duduk disitu! "
baru saja mau duduk namun aku urungkan ' memang bos menyebalkan ' batinku mengumpat.
" kamu duduk sebelah sofa saja! "
katanya.
" ya Tuhan berikan aku kesabaran menghadapi bos arogan ini " batinku.
" baik pak " kataku.
segera aku susun tumpukan kertas yang ada di depanku satu persatu, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok Tok Tok
" masuk "
suara pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita modis berjalan menghampiri Revano dengan gaya baju kurang bahan namun anehnya ia tampak anggun dan elegan, kalau gak salah ia seorang artis papan atas yang sedang naik daun saat ini.
" sayang ayo dong kita keluar " ajaknya kepada Revano yang masih sibuk dengan laptopnya.
" maaf aku gak bisa stel " tolak Revano.
Stella Cornelia berjalan menghampiri Revano yang masih fokus, ia mulai duduk dipangkuan Revano yang masih tak mengalihkan pandangannya dari laptop.
" saya gak bisa Stella, kamu bisa pergi sendiri "
gadis itu tak kehabisan akal, ia mulai memeluk Revano dan menciumi bibirnya namun Revano tak menolak sama sekali, Revano sangat menikmati ciuman itu dan saling membalas satu sama lain.
sedangkan aku masih duduk di samping sofa seperti melihat layar tancap didepan mataku, ' oh tuhan mataku telah ternodai oleh mereka ' batinku.
" He' em "
aku berdehem menghentikan aksi mereka yang masih b******u membutuhkan satu sama lain.
" kamu siapa " tanya Stella.
bersambung . . . . ..