Malam tiba...
Di rumah keluarga Venus sudah terlihat beberapa orang ada disana. Termasuk keluarga Xafier yang datang untuk melakukan pertunangan.
Xafier masuk ke dalam rumah Adrian dengan wajah datar dan dinginnya. Tak hanya itu, pengawal yang mendampingi Xafier juga terlihat menyeramkan.
"Jadi apa yang ingin kalian jelaskan?"
Xafier tak ingin basa basi karena semua ini sudah di atur. Perjodohan bisnis, dimana dia di tuntut untuk segera mempunyai istri agar para pemilik saham tak membuat onar di perusahaan.
"Tuan muda, ma-maaf. Semua ini adalah kesalahan kami yang lalai dalam mendidik anak. Sabitha yang ingin bertunangan dengan tuan muda, tiba tiba sakit parah dan harus menjalani pengobatan di luar negeri. Kami sebagai orang tuanya tak bisa memaksa nya untuk menikah dengan tuan. Takut jika nanti penyakit Sabitha kambuh dia akan merepotkan tuan."
Adrian memulai penjelasan itu dengan nada yang takut. Keringat dingin bercucuran dari keningnya karena aura Xafier yang mengintimidasinya.
"Lalu?"
Adrian kembali meneguk ludahnya susah payah karena dia tertekan dengan keberadaan Xafier yang sebenarnya terjadi sangat menakutkan.
"Kami mempunyai putri yang lain, dan dia yang akan menggantikan Sabitha."
Asisten Xafier yang mendengar itu tentu saja marah karena merasa jika Adrian mempermainkan mereka.
"Berani sekali orang seperti mu mempermainkan tuan muda!" teriak asisten Xafier.
Rosi sedikit berjingkat karena takut dengan teriakan Asisten Xafier.
Tapi dia berusaha untuk tenang, karena dengan adanya pernikahan ini, dia bisa membuang Venus selama lamanya. Terlebih mereka tahu jika Xafier adalah orang yang tak punya belas kasihan.
"Kami sepenuhnya akan menyerahkan putri kami yang ini kepada tuan Xafier. Dan setelah pertunangan ini terjadi kami tak akan lagi mengusik tuan Xafier dan juga putri kami." ucap Rosi tegas.
Mereka menjual putrinya kepadaku? batin Xafier.
Xafier tak langsung menjawab, dia masih mengamati semua gerak gerik Adrian dan Rosi.
Adrian menyenggol lengan Rosi untuk segera mengajak Venus turun menemui Xafier.
"Aku akan memanggilnya."
Rosi buru buru bangkit dari duduknya. Dia setengah berlari untuk naik ke lantai atas memanggil Venus.
"Venus, sudah waktunya kamu menemuinya!" perintah Rosi galak.
Venus yang memang sudah siap, berdecih sinis. Mata Rosi memindai gaun yang di kenakan oleh Venus terlihat mahal dan mewah. Padahal Rosi sudah menyiapkan gaun biasa untuk di kenakan Venus saat ini. Venus yang melihat wajah tak terima Rosi menyeringai. Dia berjalan mendekat ke arah Rosi dan terdiri tepat di sebelahnya.
"Apa kamu pikir aku akan menurut dengan mu? Gaun murahan yang kamu berikan hanya akan membuat kulitku alergi!!"
Setelah mengatakan itu Venus berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Rosi yang mengepalkan kedua tangannya yang menahan marah.
Sialan kamu Venus, lihat saja setelah ini hidupmu pasti akan menderita. Karena Xafier bukan laki laki yang suka wanita pembangkang seperti mu!
Venus yang awalnya percaya diri saat berhadapan dengan Rosi merasa aneh karena detak jantungnya tiba tiba berdegup kencang. Rasanya langkah kakinya berat saat ini sampai ke ruangan dimana Adrian dan calon suaminya itu berada.
"Kok rasanya aneh begini?" gumam Venus lirih.
Venus sudah sampai di ruangan itu, melihat Adrian yang menatapnya dengan penuh peringatan.
Lalu matanya beralih pada laki laki yang duduk di depan Adrian. Dan seketika matanya membola saat tahu siapa laki laki itu.
"Kaito?" gumam Venus lirih.
Tangan Venus mencengkeram sisi gaun yang di kenakan nya.
Xafier yang awalnya tak percaya saat mencium bau parfum yang amat di kenalinya memastikan berkali kali jika dirinya salah. Tapi saat dia melihat siapa wanita yang ada di depannya barulah dia yakin, wanita itu adalah wanita yang akan bertunangan dengan nya.
Asisten Xafier yang mengetahui jika Venus lah yang akan menggantikan Sabitha juga kaget. Dia sangat tahu bagaimana tuan mudanya itu kepada Venus.
"Kenapa malah berdiri disana, cepat kemari. Tuan Xafier tak punya banyak waktu!"
Adrian meninggikan suaranya karena melihat Venus hanya diam terpaku di tempatnya berdiri. Xafier yang mendengar Venus di bentak seperti itu mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Marko sang asisten menahan pundak Xafier untuk tak berbuat ulah saat ini.
"Tenangkan dirimu bos!" bisik Marko pelan.
Venus melangkah kaku ke ruangan itu. Jantungnya terus berdetak dengan kencang saat semakin dekat dengan Xafier.
Kenapa namanya Xafier? Dia mengatakan jika namanya Kaito. Apa mereka kembar?
Venus mencoba menebak semua yang terjadi dalam waktu singkat ini.
"Tuan, ini Venus. Putri pertama ku. Dan dia yang akan bertunangan dengan anda sebagai pengganti Sabitha."
Venus mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit ketika mendengar Adrian mengatakan itu semua. Dan semua ekspresi Venus tak luput dari mata Xafier. Rahangnya mengeras, seolah dia bisa merasakan apa yang di rasakan Venus saat ini.
"Aku tak akan bertunangan dengan nya!"
Suara dingin Xafier terdengar di ruangan itu. Marko langsung menoleh ke arah Xafier dengan wajah bingungnya.
Venus menatap Xafier dengan wajah tak terimanya seolah dia tak ada harganya saat ini.
Xafier yang melihat perubahan wajah Venus tersenyum samar.
"Tapi aku akan langsung menikahinya besok. Dan sesuai yang kalian katakan, setelah menikah dia tak ada hubungan lagi dengan kalian!"
Deg....
Tubuh Venus membeku, dia menatap Xavier tak percaya. Lalu beralih kepada Adrian.
Rosi yang mendengar itu merasa ada yang janggal karena semudah itu Xafier menerima Venus. Tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya.
Rosi ingin bertanya pada Xafier soal ini.
"Apa tuan Xafier dan Venus sebelumnya pernah bertemu?"
Mata Venus membeliak, dia melihat ke arah Xafier dengan penuh ketakutan. Venus takut jika Xafier akan membongkar semuanya saat ini.
"Jangan terlalu banyak bicara. Karena kamu tak punya hak istimewa untuk berbicara dengan ku!"
Rosi mengepalkan kedua tangannya, dia semakin tak senang dengan Venus saat ini. Terlebih melihat dari cara mereka bertatapan seolah mengatakan jika mereka saling kenal saat ini.
"Marko, siapkan perjanjiannya sekarang. Berikan semua uang yang diminta mereka sebagai mahar untuk memboyong putri mereka yang sudah resmi menjadi istriku. Dan malam ini juga putri kalian akan ikut dengan ku!"
Mata Venus membola, tapi melihat ini kesempatan untuk dirinya bisa keluar dari rumah itu dia akan jadi gadis penurut kali ini. Meskipun dia harus merendahkan harga dirinya di depan Xafier.
Belum genap sehari mereka bertemu tapi takdir malah mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini.
"Bisa aku ke atas dulu? Aku ingin mengambil ponsel dan tasku."
Alis Xafier naik sebelah, merasa jika Venus lebih lembut dari tadi pagi mereka bertemu. Dan itu membuatnya penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya itu.
Xafier menggangguk, dan setelah mendapat jawaban dari Xafier, Venus segera kembali ke kamar miliknya. Dia mengambil ponsel dan juga beberapa barang penting lainnya. Meninggalkan semua baju dan barang yang lainnya. Karena dia tak butuh itu semuanya.
Saat Venus keluar dari kamarnya, tangan Venus di cengkeram erat oleh Rosi yang menatapnya tajam.
"Katakan padaku, apa kamu mengenal Xafier sebelumnya?"
Venus yang kesal menghempaskan tangan Rosi sampai tubuh Rosi terhempas ke belakang.
"Jaga batasanmu, kalian yang menjual ku padanya. Aku yang bahkan tak mengenalnya dan baru melihatnya pun harus kamu curigai? Ingat, aku bukan putrimu yang jalang itu. Yang setiap tempat kenal dengan banyak laki laki!"
Tangan Rosi sudah terangkat ke udara tapi suara berat dan dingin terdengar di telinga Rosi. Seketika tubuh Rosi menggigil karena tatapan Xafier.
"Apa yang akan kamu lakukan pada istriku?"
Rosi terhuyung ke belakang, sementara Adrian yang melihat Rosi ingin menampar Venus pun geram.
Plak....
Suara tamparan keras terdengar, tapi bukan pada pipi Venus melainkan pada pipi Rosi.
Tamparan keras itu berasal dari Adrian yang geram.
Venus sedikit terkejut, tapi dia memilih untuk tetap diam dan menikmati pertunjukan itu.
"Pa, kenapa kamu nampar aku?" tanya Rosi tak percaya.
"Tuan muda maafkan sikap istriku, tuan muda bisa membawa Venus pergi dari rumah ini. Dan sesuai kesepakatan, kami tak akan mengusik kehidupan Venus lagi setelah ini."
Xafier tak menjawab, dia memilih mengulurkan tangannya pada Venus.
Venus yang melihat Xafier ragu, tapi detik berikutnya dia menerima uluran tangan Xafier.
Venus sempat terkesiap karena tiba tiba Xafier menggenggam tangannya erat. Berbeda dengan genggaman mereka sebelumnya. Dan ini rasanya lebih hangat dari pada dua waktu yang lalu.
"Ayo pulang."
Venus mengangguk pelan, dia terus menatap wajah Xafier dari samping. Venus bahkan tak berpamitan dengan Adrian atau mengucapkan sesuatu pada papanya itu.
"Aku nggak salah kan?"
to be continued