Pernikahan Xafier hanya di hadiri oleh orang orang terdekat Xafier saja. Begitu juga dengan Venus yang menghadirkan Dilan dan Adoy. Awalnya mereka berdua tak terima tapi setelah tahu siapa suami Venus mereka malah semakin mendukung Xafier. Seperti sekarang, dua orang itu terus bersama Xafier dan juga dua sahabat Xafier.
"Lihat, bahkan mereka mengabaikan ku saat ini. Jika tahu begini, aku nggak mau mempertemukan mereka." gerutu Venus kesal.
Hari ini memang Xafier sengaja mengadakan pesta itu di sebuah hotel secara private dan itu juga atas permintaan Venus. Dia tak ingin orang orang tahu mereka tinggal dimana saat ini.
"Kenapa wajahnya di tekuk begitu?"
Venus sempat terkejut karena tiba tiba Xafier memeluknya dari belakang.
"Kai, apa yang kamu lakuin? Lepasin, di lihat banyak orang."
Venus berusaha melepaskan diri dari Xafier tapi Xafier malah semakin mengeratkan pelukannya pada Venus.
Akhirnya Venus memilih untuk pasrah saat ini. Karena percuma juga melawan Xafier dengan tenaga yang tak bisa dia lawan.
Cup....
Xafier mencuri sebuah ciuman dari Venus yang membuat Venus melototkan matanya.
"Nggak usah melotot kayak gitu, nanti bola mata kamu lepas dari tempatnya."
Venus mendengus kesal, sedangkan Xafier tertawa renyah melihat wajah kesal Venus.
Dari kejauhan Adoy dan Dilan melihat wajah Venus yang berubah ubah ekspresi nya.
"Sepertinya adik kecil kita udah ketemu pawangnya." ucap Adoy.
Dilan mengangguk setuju, dia juga merasa Venus lebih banyak mengeluarkan ekspresi wajahnya dari pada sebelumnya lebih sering diam dan hanya berwajah datar.
Mereka berdua mendekati Venus dan Xafier.
"Jadi, laki laki ini yang berapa tahun lalu membuat kamu mengurung diri selama seminggu di dalam kamar." goda Dilan.
Bugh ...
Venus meninju perut kakak angkatnya itu dengan keras yang membuat Dilan meringis kesakitan, sedangkan Adoy melipat bibir bawahnya karena menahan tawa. Sementara Xafier baru tahu jika ada hal seperti itu dulu.
"Jangan didengarkan. Lebih baik, kakak berdua segera istirahat." usir Venus kesal.
"Bilang aja kalau mau berduaan."
Setelah mengatakan itu Dilan menarik tangan Adoy untuk menjauh dari Venus saat melihat wajah Venus merah padam karena marah.
Xafier tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Venus saat ini.
"Lebih baik kita juga istirahat, besok aku akan membawamu pergi."
"Kemana?" tanya Venus bingung.
"Aku ada perjalan bisnis di luar negeri selama seminggu, karena aku sudah punya istri jadi aku akan membawamu ikut dengan ku."
"Sekalian kita honeymoon." bisik Xafier di dekat telinga Venus.
Wajah Venus berubah merah, tiba tiba hawa panas menyerangnya. Dia mengibaskan kedua tangannya agar hawa panas itu hilang dari wajahnya. Hal itu membuat Xafier semakin gemas dengan Venus saat ini.
Detik berikutnya, Xafier menarik tangan Venus dan membawanya pergi ke kamar khusus yang di pesan oleh Xafier. Dalam perjalanan menuju kamarnya Xafier selalu menggoda Venus dan membuat Venus kesal. Tapi tanpa Venus sadari dia nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Xafier saat ini. Dia tak perlu berpura pura menjadi orang lain di depan Xafier.
Tiba di depan kamar mereka, tiba tiba tangan Venus di tarik oleh seseorang, dan sebuah tamparan mendarat di pipi Venus.
Plak....
Xafier yang sedang membuka pintu kamar terkejut mendengar suara tamparan yang keras. Dia menoleh ke arah istrinya, matanya melotot melihat Venus baru saja di tampar oleh seseorang yang tak dia kenali.
Saat dia ingin membantu Venus ternyata Venus sudah membalas perempuan itu.
Plak
Plak....
Brak....
Venus bahkan tak segan membuat perempuan itu berlutut di bawah kakinya.
"Wah ...."
Xafier terkesan dengan apa yang di lakukan Venus pada perempuan itu. Akhirnya dia memilih untuk tak ikut campur karena Xafier tahu jika Venus bisa mengatasi semua itu.
Venus berjongkok di depan perempuan itu lalu tangannya perlahan mengusap rambut perempuan itu.
"Argh .... lepasin Venus!" teriak perempuan itu kesakitan.
Bagiamana tidak, Venus menarik rambut perempuan itu dengan keras sampai kepala perempuan itu mendongak ke atas.
"Sepertinya aku terlalu baik padamu Amitha, sampai kamu berani menamparku!" ucap Venus dengan nada suara yang rendah.
Amitha yang rambutnya masih di tarik keras oleh Venus memukul tangan Venus agar Venus mau melepaskan rambutnya. Tapi semakin Amitha memberontak, Venus semakin kuat menariknya.
Xafier benar benar terpesona dengan kemampuan istirnya itu.
Dia benar benar menarik, banyak sekali kejutan yang aku terima.
"Lepasin Venus, kamu cewek sialan." teriak Amitha keras.
Xafier yang melihat Venus terlalu lama berjongkok dengan masih mengenakan heelsnya menarik pelan tangan Venus agar kembali berdiri.
Dan benar saja saat Venus berusaha berdiri kembali tubuhnya limbung. Xafier dengan sigap memeluk tubuh Venus.
"Siapa dia?" tanya Xafier ingin tahu.
Amitha yang melihat Venus ternyata bersama seorang laki laki yang juga di kenalinya kaget. Terlebih saat ini Amitha juga bekerja di bawah perusahan Xafier.
"Tuan Xafier, kenapa tuan Xafier ada disini? Dan bersama...."
Kalimat Amitha menggantung karena Amitha semakin syok dan tak bisa berpikir jernih saat ini.
"Kamu kenal dia?" tanya Venus dengan raut wajah tak suka.
Xafier menggeleng, karena dia benar benar tak kenal dengan Amitha. Selama ini wanita yang dia ingat hanya Venus. Tak ada lagi yang lainnya.
Amitha yang melihat Xafier dari dekat wajahnya berbinar. Dia mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya. Tapi Xafier tak menggubris nya sama sekali.
"Aku Amitha, aku kerja di perusahaan tuan bagian promosi dan tim penjualan. Aku juga seorang leader yang beberapa waktu lalu di promosikan naik jabatan menjadi supervisor." jelas Amitha percaya diri.
Venus semakin kesal dengan Amitha yang berusaha menggoda Xafier.
"Oh, kamu karyawan ku?" tanya Xafier basa basi
Venus yang kesal ingin pergi dari sana, tapi Xafier semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Venus. Tak lupa juga kerlingan nakal dari nya di berikan pada Venus.
Amitha yang mendapat pertanyaan dari Xafier langsung mengangguk senang. Amitha juga melihat Venus dengan tahapan sinis nya.
Xafier mengeluarkan ponselnya menghubungi Marko.
"Marko, lakukan sesuatu untuk ku. Pecat seorang karyawan bernama Amitha yang baru saja di promosikan naik jabatan. Dan blacklist dia dari semua perusahaan. karena dia sudah berani menampar istriku. Dan sekarang kemari lah karena perempuan sialan itu ada disini. Bawa dia pergi dari sini. Tuntut dia karena sudah melukai tangan dan pipi istriku!"
Venus menatap Xafier tak percaya sedangkan Amitha syok saat mendengar ternyata Venus adalah istri Xafier.
Terlebih mendengar dirinya di pecat dari pekerjaannya yang selama ini dia impikan.
"Tidak, jangan lakukan ini tuan. Venus tolong aku. Kamu nggak boleh melakukan ini padaku!"
Amitha mencengkram tangan Venus erat yang membuat Venus meringis kesakitan.
Xafier yang semakin marah menepis tangan Amitha keras dan mendorong tubuh Amitha sampai terjatuh ke lantai. Berbarengan dengan itu, Marko tiba disana dengan beberapa anak buah Xafier.
"Bawa dia pergi jauh!" titah Xafier.
Amitha di seret dari sana dengan terus meraung minta ampun. Memberontak ingin di lepaskan. Tapi anak buah Xafier tak menggubrisnya.
Xafier mengangkat tubuh Venus untuk di bawanya masuk ke dalam kamar.
"Kaito, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" pekik Venus tertahan.
Semua yang di lakukan Xafier tak aman untuk jantungnya.
Xafier menurunkan Venus di pinggir ranjang lalu dia berjongkok di depan Venus. Meraih kaki Venus, membuka sepatu heels milik Venus. Memijat pelan pergelangan kaki Venus yang sepertinya terkilir.
Venus tertegun melihat perlakuan Xafier kepadanya.
"Kai, jangan seperti ini. Aku bisa sendiri."
Xafier tuli, dia tetap melanjutkan apa yang dia inginkan saat ini.
Dan saat dia mendongak tatapannya tertuju pada pipi Venus yang membiru bekas tamparan tadi.
Tangan Xafier terulur ke arah pipi istrinya mengusapnya pelan. Lalu menciumnya sekilas.
Venus memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya karena menahan diri agar tak salah tingkah di depan Xafier saat ini.
"Jangan digigit sayang, aku udah bilang sama kamu, biar aku yang gigit bibir kamu." ucap Xafier lirih.
Dia juga mengusap bibir Venus dengan lembut..
Tatapan mereka beradu, dan detik berikutnya bibir mereka sudah menempel. Perlahan bibir itu bergerak dengan lembut dan semakin menuntut. Xafier mendorong tubuh Venus sampai terlentang di atas ranjang. Sementara dia membuka kemeja bagian atasnya. Menampilkan roti sobek miliknya ke arah Venus.
Venus meneguk ludahnya kasar melihat itu meksipun dia sudah dua kali bersama Xafier. Tapi kali ini merasa sama sama dalam keadaan sadar.
"Kenapa diam aja? Mau sentuh?"
Belum sempat Venus menjawab, tangan Venus sudah di tarik untuk menyentuh perut Xafier yang menggoda Venus.
To be continued