3. Setitik Senyum Untuk Ibu

1060 Words
Aku mengibarkan uang di depan Aa yang tengah asyik nonton televisi tabung. Wajahnya fokus melihat siaran televisi tentang berita kenaikan harga sembako. Akhri-akhir ini, acara berita sering menjadi tontonan yang disukai Aa. Padahal, belum lama ini Aa masih suka menonton film kartun kesukaannya dari kecil. Mungkin, karena sudah beranjak remaja kesukaannya pun berubah. Berdiri di depan TV menghalangi Aa dari layar yang menyala. Terus mengipas-ipaskan selembar itu di depan Aa. Entah kenapa, dari dulu suka sekali mengganggunya. Ujung-ujungnya, ya, aku pasti lari sekencang-kencangnya. "Linza, awas atuh! Aa lagi nonton," pekiknya dengan kening mengerut. "Nih, Linza punya uang segini. Mau, gak?" Godaku pada Aa. Aa berdecak sebal. Itulah yang menjadi tujuanku, buat Aa marah. "Gak mau. Uang Aa lebih banyak. Udah, awas! Pergi, ah!" Sekali lagi Aa mengusirku. "Ih! Galak amat punya Aa. Kalau lebih banyak, mana, coba, uangnya?" Aku menantangnya. Sebenarnya, aku hanya ingin bermain saja dengan Aa. Sejak dua tahun lalu, aku seperti kehilangan waktu dengannya. Ya, sejak memakai seragam putih biru. Aa sering berangkat sekolah sangat pagi. Bahkan, sesekali setelah jamaah di masjid. Seringkali tanpa sepengetahuan Ibu. Jika ditanya, Aa akan menjawab, "Biar lebih banyak waktu baca di perpus." Alasan itu menjadikan Ibu tak khawatir. Asalkan anak-anaknya belajar yang benar, bagi Ibu tak masalah. Tapi, mendengar kabar bahwa Aa pernah bolos sekolah dan telat datang ke kelas aku jadi curiga. Apa Aa berbohong? Aku tak menceritakan pada Ibu, karena selama di rumah tak ada yang berubah dalam diri Aa. Hanya saja, ia lebih menghabiskan banyak waktunya di luar. Setelah Ibu sampai rumah, ia keheranan melihatku mengerucutkan bibir. Lalu, melirik Aa yang fokus sekali dengan tontonannya. Ibu sudah bisa menduga, pasti aku dan Aa bertarung lagi. "Akhir-akhir ini Aa jadi suka berita, ya," ungkap Ibu menghampiri Aa. "Iya, Bu. Seru aja," jawabnya santai. Aku menghampiri Aa kembali. Lupa bahwa aku tengah marah padanya. "Dimana letak serunya?" Kedua alisku terangkat. "Anak kecil gak akan ngerti," sahutnya seraya mengusap wajahku dengan telapak tangannya. Kucubit lengan Aa yang usil padaku. Lalu, aku duduk disamping Ibu. Menyandarkan kepala di atas pahanya. Menyelonjorkan badan seraya menatap uang yang sedari tadi kupegang. Rasanya bahagia sekali saat memegang uang sebesar itu. Ya, wajarlah. Orang sepertiku paling besar cuma punya selembar bergambar pahlawan Frans Kaisiepo. Itu pun jarang sekali. Paling sering, ya, gambar Pattimura atau Muhammad Hoesni Thamrin. Pikiranku melayang. Kelak, kalau aku punya uang segepok warna biru atau warna merah, ingin sekali merenovasi rumah agar layak tinggal. Gak banyak yang bocor seperti sekarang sehingga kalau hujan kami selalu sibuk mencari ember lalu berlindung di kamar Ibu, kamar yang satu-satunya aman. Setelah reda, kami selalu membersihkan rumah yang banjir sama-sama hingga bersih kembali. Setelah itu, ingin sekali membawa Ibu dan Bapak naik haji. Mengelilingi kakbah, berlarian di Masjidil Haram yang luas. Melihat payung-payung di sana yang bisa terbuka sendiri saat terik. Lalu, kembali ke Indonesia dan membuat kedai bakso tahu untuk Bapak agar Bapak tak berkeliling terus saat berdagang hingga benjolan farises muncul di kakinya yang kekar. "Dipandang terus uangnya, Lin," kata Ibu membuyarkan lamunanku. "Iya, Linza bingung uangnya mau dipakai apa. Keinginan Linza banyak, Bu. Daripada pusing mikirinnya, mending Ibu ambil aja, deh. Linza mah minta jatah buat es krim aja," jawabku lalu menengadahkan wajah. Memberikan uang itu pada Ibu. Kulihat dari bawah wajah Ibu yang tampak berpikir sesuatu. Gurat lelah tergambar di kulitnya yang kusam. Pertanda kulit wajah Ibu jarang tersentuh krim perawatan. "Simpan aja buat keperluan kamu," tolaknya lembut. "Tapi, kalau Ibu yang pegang uang ini bisa jadi bermacam-macam, lho, Bu. Jadi sayur sop, semur ayam, sambal terasi dan semur jengkol kesukaan Bapak." Lagi, Ibu tak berkutik. Ibu bisa menangkap apa maksudku tanpa menjelaskan bahwa aku berniat memberikan uangku padanya. Dari kelas satu, kalau dapat uang dari sekolah selalu kuberikan pada Ibu. Kali ini, Ibu memberi kebebasan padaku untuk dipergunakan dan diatur sendiri. "Aturlah sendiri uang kamu, Lin. Belajar mengelola, ya. Itu uang kamu, hak kamu. Bukan hak Ibu." Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Kutatap wajahnya lekat. Kasih sayang yang selalu kurasa bisa terlihat dari sorot matanya. Kuraih jemari Ibu. Uang selembar itu kusimpan di atas telapak tangannya. "Linza mau uang ini Ibu belikan lauk buat besok. Kalau minta semur jengkol buat Bapak, boleh, nggak? Ibu gak keberatan, kan?" Sudut bibir Ibu sedikit terangkat. Menahan haru yang begitu dalam. Aku memaksa Ibu untuk menerimanya. Haru yang menyentuh hati Ibu berwujud senyum bahagia. "Aa mau, dong. Es krim satu, ya? Samain aja sama kamu. Eh, tapi, Magnum atau Cornetto kayaknya enak, Lin," timpal Aa membuatku menoleh padanya. Tiba-tiba Aa mendekati seraya memberikan senyum terbaiknya. Kalau ada maunya, berubah manis. Dasar, Aa! Tadi saja dia cuek sekali. Mengusirku dari hadapannya. Biar kubalas sekarang kelakuan Aa. Aku berusaha mengembalikan tatapan pada Ibu. Meneruskan obrolan kami yang belum sempat Ibu jawab karena terpotong oleh selaan Aa. "Bu, kalau Aa mau es krim, beliin aja es kacang ijo yang seribuan di warung. Sisa dari belanja besok, pakai saja buat Ibu jajan bakso. Linza gak butuh uangnya, Linza lebih butuh makanan yang Ibu buat setiap hari. Selain mengenyangkan, makanan Ibu selalu enak. Beda sama di warteg. Lagian, hadiah segitu buat Linza gak ada artinya, kok. Hadiah Bapak lebih berarti buat Linza." Ibu masih tetap mematung di tempat. Melihatku yang kali ini sibuk merogoh sesuatu di saku celana. Lalu, kuangkat benda itu tepat di depan wajah Ibu. "Ini hadiah dari Bapak. Akan Linza simpan baik-baik. Nah, kalau Ibu mau ini, Linza gak bisa berikan sebab ini dari Bapak. Jadi, pakailah uang yang itu." Segera aku berlalu menuju kamar. Meninggalkan Ibu yang menggenggam selembar uang pemberian Bu Safia. Aa, yang tak mendapat respon dariku meracau sendiri di hadapan Ibu. Emangnya enak! Perihal hadiah yang Bapak beri memang tak seberapa. Namun, nominal tidaklah menjadi ukuran berharga atau tidaknya pemberian seseorang. Di dalam uang kertas bernilai lima ribu itu terkandung segunung perjuangan yang tak akan pernah bisa terbalaskan. Tersirat tangisan Ibu yang tak diketahui siapapun. Terlukis keringat Bapak yang menjadi bercak di atas dasarnya. Kesabaran dan keikhlasan Bapak menyayangi anaknya. Aku tahu, sebenarnya Bapak dan Ibu pasti ingin memberikan hadiah untuk aku dan Aa. Dikarenakan kondisi finansial yang belum membaik, jadi mereka belum bisa memenuhinya. Kalau besok Ibu memberiku uang, aku akan segera melaminating uang lima ribu ini. Diabadikan menjadi hiasan dinding yang akan menjadi penyemangat dalam hidup. Bagiku, uang ini lebih berharga daripada selembar seratus ribu. Kukecup lembar itu. Masih tercium keringat Bapak yang penuh perjuangan. Kasih Ibu yang tak mampu kugambarkan. BERSAMBUNG..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD