Bab.9 Pindah Ruangan Dengan Lancar

1089 Words
  Saat Hadi berbicara di telepon dengan Bapak Zamri, Mahmud Wachidi, Kepala Lembaga Kesehatan Kota Lautan Timur, sedang berada di kantornya.   Kring Kring ……   Telepon kantor berdering.   “Halo, dengan siapa ini?” Mahmud mengangkat telepon menempelkannya ke telinga.   Tahun ini Mahmud berusia empat puluh lima tahun, dengan rambut yang sudah jarang dan penglihatan yang sudah mulai buram, pada jenjang usia ini, tidak banyak orang yang dapat mencapai karir tertinggi di lembaga kesehatan.   “Aku, Casril Sawad.” terdengar suara samar yang menjawab dari telepon.   "Bapak Casril!"   Mahmud langsung menjadi serius, dan nadanya terdengar lebih sopan.   Dia tidak menyangka bahwa orang seperti Casril akan menelponnya secara langsung.   Casril adalah penanggung jawab Kantor Cabang Indonesia Timur, dia memegang seperempat dari garis kehidupan ekonomi seluruh wilayah Cabang Timur Indonesia di tangannya, dan merupakan tokoh yang disegani di seluruh Timur Indonesia.   Dibandingkan dengan Casril, Mahmud bukan siapa-siapa.   "Tolong bantu aku." Casril berkata secara langsung dari ujung telepon.   “Bapak Casril ada masalah apa? Katakan saja.” Mahmud tersenyum, jika Casril meminta bantuannya, itu berarti Casril berhutang budi pada Mahmud!   Jika Casril berhutang budi kepada Mahmud, dan jika dia manfaatkan dengan benar, Mahmud yakin dirinya bisa menjabat posisi tinggi di pusat kota dalam waktu lima tahun!   “Mohon informasikan kepada orang-orang di Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur untuk meminta mereka memindahkan seorang pasien bernama Tazuddin Yasmudi ke unit perawatan intensif tingkat tertinggi di rumah sakit tersebut, dan lakukan secepat mungkin,” kata Casril.   "Baik, baik! Aku akan melakukannya sekarang!"   Bagi Mahmud ini adalah hal yang sangat mudah, hanya tinggal memberikan perintah maka semua akan beres.   “Baiklah, Tuan Muda pasti akan senang dan akan mengingat ini.” kata Casril, lalu dia menutup telepon.   "Tuan Muda…..."   Mata Mahmud berkedip, seolah memikirkan sesuatu, pupil matanya mengecil, dia tampak ketakutan dan napasnya menjadi pendek.   "Apakah hal ini adalah tugas yang diperintahkan oleh orang itu…..."   Mahmud menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri, jika dia sudah membantu orang tersebut, maka akan sangat mudah baginya untuk naik pangkat!   Mahmud segera berteriak, "Rizki, tolong hubungi Rumah Sakit Umum Lautan Timur…... Tidak, aku yang akan menghubunginya sendiri!"   ...   Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur.   “Maaf, Hadi, aku tidak bisa melakukan ini.” di telepon, Bapak Zamri meminta maaf, tapi nadanya masih terdengar angkuh.   “Ha?” Ekspresi Hadi berubah, dia berhenti berbicara sejenak. “Bapak Zamri, sebelumnya…...”   “Sekarang sudah berbeda, Anda harus minimal menjadi pejabat tingkat rendah agar bisa dilayani di unit perawatan intensif tingkat tertinggi, sedangkan Ayah Anda hanyalah orang biasa,” kata Bapak Zamri.   "Jika Anda memintanya dua hari yang lalu, saya masih bisa melakukannya, tapi untuk beberapa waktu belakangan ini, para atasan sedang melakukan inspeksi besar-besaran, saya tidak ingin dimarahi hanya karena membantu Anda.”   Setelah berbicara, terdengar suara "bip".   Bapak Zamri menutup telepon.   "Bagaimana, Hadi?"   Melihat Hadi menutup telepon, semua kerabat penasaran dan bertanya.   Hadi juga telah merasakan asam garam dalam pekerjaannya, meskipun dia kecewa karena Bapak Zamri menolaknya, namun wajahnya tidak memperlihatkan perasaan itu.   Dia tersenyum dan berkata. "Bapak Zamri berkata, ia akan berusaha mengurusnya, namun tidak menjamin bisa memindahkan kamarnya.”   "Ya, bagaimanapun juga, ICU kelas tertinggi tidak sembarang bisa ditempati."   "Hadi bisa mengenal orang seperti Bapak Zamri saja sudah termasuk hebat, koneksinya banyak!"   Paman Fernando mengacungkan jempol pada Hadi, dia terlihat iri.   "Anakku ingin mengikuti ujian pegawai negeri tahun ini. Hadi, apa kamu bisa membantunya?"   “Paman, jangan khawatir, serahkan saja padaku!” Hadi menepuk dadanya.   Tidak lama kemudian, seorang dokter dengan jas putih tiba-tiba masuk ke kamar.   Dokter ini berumur kira-kira lima puluh tahun, berkacamata tebal, tapi sorot matanya tajam dan sangat berwibawa.   Begitu dia masuk, dia mengamati orang-orang di sekitarnya dan berkata.   "Siapa anggota keluarga pasien Tazuddin?"   "Saya!"   Dengan mata yang berbinar, Hadi menyapanya. "Saya adalah menantu dari Keluarga Yasmudi, Hadi."   "Ternyata Tuan Hadi."   Dokter memandang Hadi dengan tatapan sedikit memuji. "Halo, saya Qadir Latief, Direktur Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur, saya baru saja menerima informasi dan datang ke sini khusus untuk mengatur pemindahan kamar Tuan Tazuddin. "   "Apa?"   Hadi tercengang, dia mengira dirinya salah dengar.   Bukankah Bapak Zamri mengatakan tidak bisa membantunya menangani masalah ini melalui telepon? Mengapa direktur rumah sakit datang tepat setelah mereka selesai telepon?   Dan sepertinya hal tersebut telah menyelamatkan Hadi kali ini!   Direktur Rumah Sakit Umum Kota Lautan Timur sampai melakukan ini kepada keluarga pasien?   "Ini pasti karena kehebatan Hadi!"   Begitu para kerabat mendengar ini, ekspresi mereka berubah dan mereka pun mulai berkomentar.   "Tanpa diduga, Tazuddin bisa dipindahkan ke kamar lain hanya lewat telepon!"   "Memang, apa kamu tadi tidak dengar? Orang yang baru saja dihubungi Hadi adalah pejabat kota!"   "Wah, Hadi banyak koneksinya!"   "Dibandingkan dengan Fernando, meskipun Fernando mampu membayar dua ratus juta rupiah, tapi dia tidak ada apa-apanya!"   "Ada uang tapi tidak ada koneksi, Fernando tidak akan bisa memindahkan kamar!"   Hadi menanggapinya dengan tersenyum.   "Kalau begitu, saya serahkan pada Bapak Qadier!"   Setelah berbicara, Hadi membungkuk sopan kepada Qadir.   "Oh, Tuan Hadi, jangan sungkan-sungkan!"   Ekspresi Qadir berubah, dia cepat-cepat mendekat dan mengangkat badan Hadi yang membungkuk, dengan tampang malu-malu dia berkata.   "Merupakan kehormatan bagi saya karena bisa melakukan sesuatu untuk Anda!"   Setelah berbicara, Qadir menyeka keringat di dahinya, seolah-olah dia benar-benar tegang.   "Mohon menunggu selama lima belas menit, Bapak Tazuddin akan dipindahkan ke kamar baru, yaitu unit perawatan intensif tingkat tertinggi di rumah sakit kami!"   Segera setelah selesai berbicara, lima perawat masuk dan mulai bersiap.   "Baiklah…...baiklah…...!"   Hadi masih bingung, kenapa direktur tersebut baik padanya!   Mungkin karena Bapak Zamri. Jika bukan karena Bapak Zamri, Qadir tidak akan memperlakukannya seperti ini.   Sepertinya nanti Hadi harus berterima kasih kepada Bapak Zamri!   Setelah beberapa saat, pemindahan kamar pun selesai, Tazuddin berhasil dipindahkan ke ICU tingkat tertinggi di Rumah Sakit Umum.   Semua yang ada di sana juga sudah pindah ke kamar baru.   “Lihatlah kamar tingkat tertinggi ini, betapa luasnya! Pencahayaannya bagus dan peralatannya juga yang paling canggih!” para kerabat melihat ke sekeliling dan mengeluarkan banyak berkomentar.   "Katanya akan ada perawat profesional yang merawat Tazuddin selama 24 jam, berbeda dengan kamar biasa barusan!"   "Ya, semua ini adalah berkat Hadi!"   "Sama-sama menantu tapi perbedaannya sangat mencolok."   “Tidak, tidak!” Hadi melambaikan tangannya, dia sangat puas dipuji seperti itu, tetapi dia berpura-pura rendah hati.   "Semakin besar kemampuannya, semakin besar tanggung jawabnya! Fernando belum cukup mampu, bisa mengeluarkan uang untuk membantu saja sudah bagus. Sebagai Kakak iparnya, tentu saja aku harus lebih banyak berpikir, mengeluarkan tenaga, dan memanfaatkan relasi!"   "Selain itu, Ayah kita bisa dipindahkan ke kamar yang ini, itu semua berkat Bapak Zamri!"   “Lihat, Hadi sangat rendah hati!” Paman Fernando mengacungkan jempol ke arah Hadi.   "Betapa bagusnya jika Fernando bisa memiliki setengah dari kemampuanmu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD