Ratu berjalan menyusuri koridor yang masih sepi, ia berangkat lebih awal karena ada jadwal piket kelas hari ini. Dinginnya udara pagi yang merambat membuat tubuh gadis itu menggigil dengan telapak tangan yang mulai memucat.
"Sial! Gimana gue mau kuliah ke luar negeri kalau kena dingin sedikit aja langsung begini, yang ada satu jam disono gue udah kek ikan cupang beku." Gumam Ratu sambil menyapu setiap sudut kelasnya.
Pergerakan gadis itu kemudian terhenti saat ada sepasang kaki yang menghadang ujung sapunya.
Ratu mendongak, menatap sosok tidak asing itu datar.
"Minggir!" Ucap Ratu dingin.
Tidak ada pergerakan dari yang diajak bicara, membuat Ratu berdecak sebal.
"Lo punya kuping, kan? Lo ngerti bahasa Indonesia, kan?" Tanya Ratu yang hanya dibalas sorot lurus dari sang ketua Kingster.
"Lo kenapa, sih, gangguin gue mulu? Ingat kita udah nggak ada urusan lagi!" Sarkas Ratu yang mulai geram.
Braaak!
Tubuh Ratu didorong kuat oleh Raja sehingga menghantam papan tulis kelas. Suasana sekolah yang masih sangat sunyi, membuat tidak ada satupun makhluk yang melihat kejadian ini.
Disini hanya ada Raja dan Ratu.
"Lo ingat kalau gue nggak akan lepasin lo begitu saja?" Akhirnya Raja membuka suara dengan kedua tangannya mencengkram lengan Ratu kuat.
"Le-lepash!" Cicit gafis itu saat merasakan kuku-kuku Raja terasa menancap di lengannya.
"Gue nggak bakal ngelepasin lo." Ucap Raja dengan seringai jahat.
"Lo penjahat, gue benci sama lo!" Teriak Ratu tepat didepan wajah sang Raja.
"Orang yang udah berani menyakiti orang yang gue sayang, dia harus mati." Pungkas Raja santai.
"Siapa yang lo sayang?!" Teriak Ratu lagi dengan lengannya yang masih dicekal oleh Raja pada papan tulis kelas.
"Lo nggak berhak tau."
" Lo juga nggak berhak untuk ngatur gue!" Nafas Ratu memburu, hatinya terasa sakit seperti ada yang mencubitnya didalam sana.
Tidak berhak tau? Tentu saja, karena Ratu bukan siapa-siapa dari seorang Raja justi. Tidak sepatutnya ia kesal ataupun marah.
"mencari masalah dengan Kingster artinya siap tiada." Raja kembali menyeringai.
"Gue, Raja justin tidak akan membuat mangsa bernafas dengan tenang." Imbuhnya Raja dengan seringai semakin seram.
"Gue, Ratu Grethavia juga nggak akan takut apalagi gue nggak melakukan kejahatan seperti lo!" Ucap Ratu yang masih belum menurunkan nada suaranya.
"Oh ya, lo nggak takut sama gur?" Raja mencekam dagu Ratu kasar sehingga gadis itu semakin meringis.
"Lepasin gue, bastard! Lo psikopat!"
"Permintaan gue nggak banyak, gue cuma mau lo stay sama gue." Ucap Raja seraya menjauhkan tangannya dari dagu Ratu yang telah memerah.
Ratu tersenyum sinis, "Nggak tau malu banget, sih, lo! Gampang banget ngomongnya kek orang berak."
"Gue nggak mau! lo kasar, lo udah nyakiti gue." Imbuh Ratu dengan sorot penuh kebencian.
"Gimana, dear?" Tanya Raja tanpa mengindahkan ucapan Ratu sebelumnya.
"Nih, gue kasih tau, ya, kalau GUE NGGAK MAU SAMA LO!" Jawab Ratu sambil menekan setiap kata penolakannya.
"Gue nggak terima penolakan." Ucap Raja santai.
"Gue nggak peduli."
"Turuti atau nggak sama sekali?!" Bentak Raja yang membuat Ratu refleks menutup matanya.
"Gimana, sayang?" Tanya ulang Raja sekali lagi.
Tidak ada jawaban dari gadis itu yang ada hanya deru nafas memburu dari seorang Ratu Grethavia.
"Gue anggap keterdiaman lo adalah jawaban yang ingin gue dengar." Sahut Raja lagi seraya menepuk pipi Ratu pelan, bahkan sangat pelan, hampir menyerupai sebuah usapan.
"Dengan satu syarat." Jawab Ratu akhirnya dengan suara lantang dan tatapan tak terbaca dari gadis itu.
Raja menaikkan alisnya, bermaksud mempersilahkan Ratu untuk mengutarakan apa yang ia inginkan.
"Jauhi cewek itu." Jawab Ratu tanpa emosi, namun terdengar titah mutlak yang tidak bisa diubah.
Seringai dan segala macam ekspresi yang dimiliki oleh Raja tadi seketika lenyap. Kini wajah tampan cowok itu berubah datar dengan sorot mata keberatan.
"Kenapa diam? Lo nggak bisa?" Tanya Ratu dengan senyum manisnya.
Tidak! Hati-hati dengan senyum manis itu! Terkadang komposisi yang membuatnya terbit adalah sebuah kemurkaan, sakit hati, dan kekecewaan.
"Kalau gitu, jauhi gue!"
Ratu menghempaskan tangan Raja yang masih menahan lengannya dengan kasar dan berniat untuk kembali menyelesaikan tugas piketnya sebelum suara dingin milik cowok itu kembali menginterupsi.
"Baik, dengan senang hati gue akan jauhi dia." Jawab Raja tanpa beban.
Ratu membalikkan badannya, turut membalas senyum manis sosok didepannya. Kedua senyum yang tengah bersautan itu seperti tidak tulus - maksudnya hanya seperti sebuah kedok semata yang mereka lontarkan, didalamnya adalah sebuah amarah yang terpendam.
"Gue tunggu dikantin pas istirahat." Ucap Raja lagi dan langsung berlalu dari sana.
Ratu bingung dengan opini dan fakta yang terkait. Kejahatan setiap orang pasti punya alasan dibaliknya, yang membuat setiap sosok tersesat dihutan yang gelap nan lebat. Prihal Raja, cowok itu terlihat memiliki dua sisi yang berbeda, itu semua sudah jelas dari apa yang ia tunjukkan pada Ratu.
Tidak semua orang bisa berpikir bahwa setiap kejahatan dari seseorang selalu memiliki alasan, karena pada faktanya apa yang mereka lihat itulah yang mereka pikirkan.
Lalu Ratu, haruskah dirinya memahami kedua sisi tersebut? Atau bahkan beberapa opini tersebut? Jika ia sudah sadar akan ilmu yang ia dapat, seharusnya Ratu mempelajari dan mengerti akan keadaan.
Ingat baik-baik Ratu hanya ingin berusaha untuk mengerti, berusaha untuk tidak pergi, karena ia tidak ingin dianggap egois oleh dirinya sendiri.
Namun jika ia gagal, tolong ingatkan kembali bahwa Ratu juga manusia yang memiliki perspektif yang berubah-ubah kapan saja. Namun pada garis besarnya adalah, jangan gampang menyerah.
••••
Bukan hal yang asing lagi jika sebuah kantin selalu ramai, memang tempat jajal anak sekolah itu akan selalu dipadati oleh sang pelajar yang ingin mengisi perut atau sekedar melepas dahaga.
Begitu-pun dengan Ratu dan kedua sahabatnya, langkah kecil gadis itu mulai memasuki area kantin yang sudah sangat ramai, bahkan indra penglihatannya saja sangat sulit menangkap sosok Raja.
"Hai!" Sapa Ratu dengan senyum mengembang kepada teman-teman Raja saat gadis itu telah tiba ditahta Kingster.
"Ehh, dedek gemesh. Gini dong kali-kali gabung sama kita disini." Sambut Geo dengan sekali kedipan mata.
"Iya kak." Jawab Ratu sekenanya sambil sesekali melirik Raja yang kini juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.
"Eh, ada Novela juga. Makin cantik aja Novela mah." Tutur Geo lagi seraya melontarkan qsenyum maut menggoda wanita andalannya.
"Bibir lo buriq, nggak usah senyum." Jutek Novela dengan tatapan malas pada Geo.
"Yaudah, sama gue aja Novela." Sahut Boby dengan gaya sok kerennya seraya menggeser bangku yang ia duduki agar lebih dekat dengan Novela.
"Nggak usah dekat-dekat lo, Boby!" Novela mendelik menatap sengit Boby tanpa ampun.
"Lo itu ada magnetnya, jadi gue tertarik terus."
"Cielah, nggak mempan rayuan lo anaconda."
"Novela, kan, hanya milik Geo, mana namanya udah serasi yakan." Celetuk Geo lagi yang tak mau kalah saing.
"Jadi udah nggak mau memiliki gur lagi?" Balas celetuk Ratu pada Geo dengan raut sedih buatanya.
"Kanjeng Ratu udah milik Baginda. Ntar kalau gue pepet yang ada gue di smackdown sama dia." Jawab Geo seraya bergidik ngeri menatap Raja.
"Ingatlah, guys kata Spongebob, bahwa semua kilauan itu bukanlah emas." Sahut Nicho bermaksud menyadarkan teman-temannya dengan kata-kata bijak milik kartun kesayangan itu.
"Heleh, ntar lo liat yang glowing juga lo peper, Nic." Sewot Boby.
"Hai semuanya, gue boleh ikut gabung nggak?" Tanya sosok lain tepat dibelakang Raja.
••••