Hanya disini Kau Aman

1556 Words
"Buka mulutmu, Sayang." Perintah itu terdengar lembut, rendah, seperti beludru yang menyembunyikan bilah pisau di baliknya. Otoritas mutlak dalam suara itu membuat saraf motorik Aira bereaksi tanpa perlu diperintah otak. Aira Wiranata, atau kini lebih dikenal sebagai Nyonya Pradipta, istri sang Raja Bisnis yang misterius, sedikit mendongak dari bantal sutra putihnya. Bibirnya yang pucat perlahan terbuka, membiarkan jemari kokoh Bastian meletakkan sebutir pil kecil berwarna putih di lidahnya. "Telan," titah Bastian lagi. Kali ini, pria itu menyodorkan gelas kristal berisi air hangat tepat ke bibir Aira. Aira meneguk air itu, merasakan pil pahit tersebut meluncur turun melewati tenggorokannya. Ia tidak bertanya obat apa itu. Ia tidak pernah bertanya. Selama dua tahun terakhir, rutinitas ini sama sakralnya dengan matahari terbit. Bastian bilang itu suplemen khusus untuk menjaga kinerja satu ginjalnya agar tetap prima. Dan Aira, dengan segala rasa percaya dan ketidakberdayaan yang ia miliki, mematuhinya tanpa bantahan. "Istri pintar," puji Bastian. Senyum tipis terbit di wajah tampan pria itu. Wajah yang dipahat dengan kesempurnaan seorang dewa Yunani, namun memiliki sorot mata setajam obsidian. Bastian mengusap sisa air di sudut bibir istrinya dengan ibu jari, gerakannya begitu posesif seolah ingin menghapus jejak udara yang berani menyentuh milik-nya. "Jam berapa kau tidur semalam?" tanya Bastian sambil beranjak berdiri. Ia sudah rapi dengan setelan jas tiga potong berwarna charcoal buatan penjahit Italia. Kemeja putihnya licin tanpa kerutan, dasinya terikat simpul Windsor yang presisi, dan cufflinks berlian hitam berkilau di pergelangan tangannya. Kontras sekali dengan Aira yang masih terlihat rapuh dalam balutan gaun tidur satin, seperti boneka porselen yang disimpan di dalam kotak kaca. "Jam sepuluh. Sesuai jadwal," jawab Aira pelan. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang empuk. Bastian menyipitkan mata, seolah sedang memindai kebohongan di wajah istrinya. "Benarkah? Sensor gerak di perpustakaan aktif pukul sebelas malam." Jantung Aira berdesir. Ia lupa. Rumah ini, Penthouse dua lantai di puncak gedung tertinggi Jakarta, bukanlah sekadar hunian. Ini adalah benteng. Atau lebih tepatnya, sangkar emas dengan fasilitas bintang lima. Tidak ada sudut yang luput dari pengawasan Bastian. Tidak ada media sosial, tidak ada internet tanpa filter, tidak ada dunia luar. "Aku... aku hanya bosan," cicit Aira, menundukkan kepala, takut menatap mata suaminya yang mulai menggelap. "Aku mencari buku lama untuk dibaca ulang. Aku tidak bisa tidur." Bastian menghela nafas panjang. Langkah kakinya terdengar mendekat lagi. Kasur kembali melesak di samping Aira. Tangan pria itu meraih dagu Aira, memaksanya mendongak. "Jangan berkeliaran sendiri malam-malam, Hm. Kau bisa terpeleset. Kau bisa jatuh. Kau bisa pingsan dan tidak ada yang tahu," bisik Bastian. Suaranya tidak membentak, tapi dinginnya mampu membekukan darah. "Kau tahu aku benci jika kau tidak dalam jangkauanku." "Maaf..." "Kalau kau bosan, bangunkan aku. Aku akan membacakan buku untukmu. Atau kita bisa melakukan hal lain agar kau lelah dan tertidur," jari Bastian mengusap bibir bawah Aira dengan makna ganda yang membuat pipi wanita itu memerah. Bastian mengecup kening Aira, lama dan dalam, menghirup aroma tubuh istrinya seolah itu adalah oksigen satu-satunya. "Aku hanya ingin kau aman, Sayang. Dunia diluar sana penuh bakteri, penuh orang jahat, penuh bahaya. Hanya di sini kau aman. Bersamaku." "Aku Mengerti." "Bagus. Sekarang bangun, sarapan sudah siap. Aku ingin melihatmu menghabiskan bubur oat dan putih telurmu sebelum aku berangkat rapat." ** Ruang makan penthouse itu didominasi marmer hitam dan lampu gantung kristal yang menjuntai dramatis. Pemandangan kota Jakarta di pagi hari terhampar luas di balik dinding kaca setinggi enam meter. Namun, bagi Aira, pemandangan itu terasa seperti lukisan bisu. Ia bisa melihatnya, tapi tidak bisa menyentuhnya. Tidak ada ponsel di samping piringnya. Aira tidak memilikinya. Bastian bilang radiasi ponsel buruk untuk sarafnya, dan media sosial adalah racun yang hanya akan membuat Aira stres dengan komentar jahat netizen tentang masa lalunya. Jadi, Aira hidup dalam keheningan digital. Temannya hanyalah para pelayan yang menunduk patuh dan buku-buku tebal di perpustakaan. Pelayan menuangkan jus bit murni ke gelas Aira. Tidak ada kopi, tidak ada teh, tidak ada nasi goreng berminyak yang dulu sangat ia sukai. Menu makanannya telah diatur dengan presisi militer oleh ahli gizi yang disewa Bastian. Bastian duduk di ujung meja, membaca berita bisnis dari tabletnya sambil menyesap espresso. Sesekali, matanya melirik piring Aira, memastikan setiap sendok masuk ke mulut istrinya. "Bas..." panggil Aira ragu, memecah denting sendok. "Hm?" Bastian tidak menoleh, matanya masih fokus pada grafik saham. "Boleh aku keluar sebentar hari ini?" Gerakan tangan Bastian terhenti. Suasana ruang makan yang sejuk mendadak turun beberapa derajat. Bastian meletakkan tabletnya perlahan. Ia menatap lurus ke arah Aira. "Ke mana?" tanyanya datar. "Toko buku," jawab Aira cepat, meremas serbet di pangkuannya. "Aku sudah membaca semua novel di perpustakaan. Aku ingin mencari suasana baru. Hanya ke toko buku di mal seberang. Aku janji akan pakai masker, dan Rian bisa mengawal tepat di sampingku." "Tidak." Jawaban itu singkat, padat, dan mematikan harapan. "Kenapa? Aku sudah sehat, Bas. Kreatinin-ku stabil. Aku bosan di rumah terus..." Aira mencoba menawar, meski ia tahu itu sia-sia. Ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dua tahun ia diperlakukan seperti tawanan perang yang dimanja. Ia rindu melihat wajah manusia lain selain suaminya dan pelayan. Bastian menatapnya tajam. Aura dominasinya menguar, membuat udara terasa sesak. "Kau mau buku? Tulis judulnya. Nanti sore aku suruh asistenku membelikan seluruh rak bukunya untukmu. Kau mau suasana baru? Kita bisa dekorasi ulang perpustakaan. Ganti cat, ganti sofa, terserah kau." "Bukan itu maksudku..." mata Aira mulai berkaca-kaca. "Aku butuh melihat orang. Aku kesepian." Bastian berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti di belakang kursi Aira. Ia membungkuk, melingkarkan lengan kekarnya di leher Aira, mengurung wanita itu. Bibirnya menempel di telinga Aira. "Kesepian?" bisik Bastian, nada suaranya terdengar terluka sekaligus mengancam. "Apa aku kurang bagimu, Ra? Aku berikan duniaku. Aku pulang tepat waktu. Aku menemanimu setiap malam. Apa itu tidak cukup?" "Bukan begitu..." "Dunia luar itu jahat, Aira. Kau lupa bagaimana mereka menghinamu dulu? Kau lupa bagaimana Sucipto merendahkanmu? Di luar sana, orang-orang akan menatapmu, menilai fisikmu, membicarakan ginjalmu. Aku tidak rela. Aku tidak rela ada satupun mata kotor yang menatap milikku." Bastian mencium pipi Aira dengan penekanan. "Kau ratuku. Ratu tidak berjalan kaki di antara rakyat jelata. Ratu tinggal di istana. Mengerti?" Aira memejamkan mata, menahan air mata agar tidak jatuh. Berdebat dengan Bastian sama seperti berteriak pada tembok beton. Pria itu memiliki pembenaran atas segalanya atas nama 'cinta' dan 'perlindungan'. "Mengerti." "Pintar." Bastian menegakkan tubuh, merapikan jasnya. "Aku berangkat. Jangan coba-coba keluar dari pintu utama. Kode akses sudah ku ubah tadi pagi." "Hati-hati di jalan." Pintu utama yang berat tertutup. Bunyi kunci elektronik yang berbunyi bip menandakan sang tuan rumah telah pergi, dan sangkar emas telah terkunci kembali. Keheningan yang menyakitkan menyergap penthouse seluas lima ratus meter persegi itu. Aira meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang sudah. Ia berjalan gontai menuju ruang tengah, langkah kakinya tenggelam dalam karpet bulu tebal. Ia berdiri di depan dinding kaca, menatap mobil-mobil yang tampak seperti semut di jalanan Jakarta jauh dibawah sana. Ia tidak punya teman untuk di telepon. Ia tidak punya akun i********: untuk melihat kabar dunia. Satu-satunya teman Aira adalah kesunyian. Dan dalam kesunyian itu, pikiran manusia menjadi sangat tajam dan observatif. Aira berjalan menuju kalender dinding antik yang tergantung di dekat meja kerja Bastian. Satu-satunya benda analog di rumah serba digital ini. Aira suka menandai hari-harinya di sana dengan spidol merah. Matanya menelusuri deretan angka yang dilingkari. 12 Oktober 2028. Hari ini. Aira merasakan sensasi familiar di perut bawahnya. Kram halus yang selalu datang tepat waktu. Ia tidak perlu ke kamar mandi untuk memeriksa, ia tahu 'tamu bulanan'-nya sudah datang. Jari telunjuk Aira menyentuh lingkaran merah di bulan sebelumnya. September tanggal 14. Agustus tanggal 16. Juli tanggal 18. Setiap siklus berjarak tepat 28 hari. Selalu. Darah itu selalu keluar di pagi hari, dengan volume yang sedikit, dan selesai tepat dalam tiga hari. "Terlalu rapi..." gumam Aira pelan. Suaranya memantul di ruangan kosong. Dulu, sebelum sakit, siklus haid Aira berantakan. Kadang maju karena stres, kadang mundur karena lelah. Dokter bilang itu wajar. Tubuh manusia itu dinamis, dipengaruhi hormon dan emosi. Tapi sekarang? Selama dua tahun ini, tubuhnya bekerja seperti mesin jam Swiss. Tidak peduli dia sedang flu, sedang sedih, atau sedang bahagia, siklusnya tidak pernah meleset satu jam pun. Aira teringat satu-satunya buku medis tua yang tersisa di perpustakaan rumah, buku yang mungkin luput dari penyitaan Bastian karena sampulnya tebal dan membosankan. Aira membacanya minggu lalu karena kehabisan novel. Bab tentang Sistem Reproduksi Wanita. "Siklus menstruasi alami dipengaruhi oleh fluktuasi hormon LH dan FSH yang dinamis. Keteraturan mutlak hingga ke hitungan jam sangat jarang terjadi secara alami, kecuali pada penggunaan kontrasepsi hormonal yang merekayasa siklus haid buatan.” Jantung Aira berdegup kencang. Ia tidak memakai KB. Bastian selalu menggunakan pengaman. Bastian sangat disiplin soal itu karena, katanya, kehamilan akan membunuh Aira. Jadi, tidak ada alasan bagi Aira untuk meminum pil hormon. Aira menoleh perlahan ke arah meja nakas di samping tempat tidurnya yang terlihat dari pintu kamar yang terbuka. Di sana, tergeletak botol kaca kecil tanpa label merk. Botol berisi pil putih yang baru saja ia telan satu jam lalu. "Suplemen ginjal," kata Bastian. Selalu itu jawabannya. Aira melangkah mendekati meja itu. Tangannya gemetar saat meraih botol tersebut. Tidak ada tulisan komposisi. Hanya ada logo apotek RS Medika. Selama ini dia percaya. Dia percaya Bastian adalah pelindungnya. Dia percaya Bastian hanya menginginkan kesembuhannya. Tapi, keteraturan yang mengerikan di kalender itu seolah mengejek kenaifannya. Mungkinkah? Mungkinkah pria yang memujanya seperti dewi, yang rela membakar dunia demi dirinya, membohonginya setiap pagi selama 730 hari terakhir? Aira meremas botol itu erat-erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD