"Jangan lakukan itu lagi!" Hamas hampir membentaknya. Nisa gila. Ia benar-benar menatap tajam lalu berjalan pergi. Nisa tentu saja memanggilnya. Masih mengikuti langkahnya. Ia bahkan tak perduli dengan berbagai tatapan orang-orang yang menatap ke arah mereka. Persetan! Ia hanya perduli dengan urusannya. "Kaaaaaaaak!" Langkahnya masih mencoba menyusul tapi kepala puskesmas lagi-lagi memanggil Hamas. Tentu saja tak akan berani memanggil Jisa dan juga memarahinya. Tahu kan jabatan ayahnya Nisa? Berat baginya jika harus berhadapan dengan lelaki itu juga. Jadi Hamas saja yang ditumbalkan berhubung ia memang bukan anak siapa-siapa. Hanya mantan rektor yang kebetulan menjadi tersangka koruptor. Hamas segera berbelok namun Nisa menghentikan langkahnya. Ia tampak ngos-ngosan hanya karena ber

