Ganti Firman yang uring-uringan. Sebelumnya Greyzia yang gelisah tak keruan. Kali ini Firman yang khawatir. Gigi-gigi Firman bergemelutuk. Pikirannya melayang ke mana-mana. Bukannya menyimak khotbah yang masih dibawakan Eddie Tjandra, ia malah memperhatikan Greyzia yang duduk beberapa baris dari bangkunya. Firman menghela nafas. Ia menyesali keputusannya terdahulu. Andai ia masih bisa menerima penjelasan dan kata-kata minta maaf dari Greyzia, mungkin tidak akan seperti ini. Sekarang, ia menuai apa yang ia tabur. Greyzia yang sebenarnya masih ia cintai, mendadak dingin. Tadi saja, saat ia bertemu dengan Greyzia di meja penyambut tamu, Greyzia untuk kali pertama membuang muka. ”Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. Karena tidak ada masa depan

