15. Ujian dan Rapor

1774 Words
Hari ini merupakan hari pertama ujian kenaikan kelas di SD Swasta Alfa. Beberapa murid tampak tegang, takut tidak bisa menyelesaikan soal-soalnya. Walau banyak juga yang tenang-tenang saja. Begitu pun halnya dengan siswa-siswa yang berada di kelas 2 A. Meski mereka termasuk murid-murid yang pintar, tapi itu tidak membuat mereka santai. Namun, bukan berarti dengan itu mereka ribut atau sebagainya. Mereka malah duduk membaca buku dengan tegang. Berbeda dengan Fani yang terlihat tenang dan santai di bangkunya. Anak itu tengah membaca buku dengan tenteram. Fani di kelasnya hanya duduk seorang diri tanpa teman sebangku. Bukan, bukan karena tidak ada yang mau duduk dengan Fani. Hanya saja, anak itu yang ingin duduk sendiri dan lagi teman-teman sekelasnya telah memiliki partner masing-masing. Hanya Fani yang duduk tanpa teman di sebelahnya. Bagi Fani itu bukan suatu masalah yang harus dibesar-besarkan. Dia tidak apa-apa duduk sendirian. Toh, lebih baik duduk sendiri. Tidak ada yang mengganggu saat Fani tengah membaca, tidak ada yang berisik, dan merecokinya. Fani itu merupakan anak yang pintar dan berprestasi. Dari anak kecil itu masih duduk di Taman Kanak-Kanak, dia sudah mendapat prestasi yang sangat bagus. Fani mendapat peringkat pertama di TK. Anak itu mendapat juara umum pertama. Sungguh anak yang sangat pintar dan berprestasi, bukan? Lain hal dengan Fina. Dia tidak sepintar sang kembaran. Saat kelas satu, Fani sudah masuk kelas unggulan, 1 A. Sedangkan Fina masuk 1 D. Begitu juga dengan kelas dua saat ini. Di kelas terbaik pun, Fani mendapat juara pertama. Bahkan juara pertama umum. TEEET Suara bel berbunyi. Menandakan sebentar lagi ujian akan terlaksana. Membuat beberapa siswa dan siswi merapalkan doa dan mengembuskan napas pelan. Mencoba tenang. Fani menghela napasnya. Memejamkan mata sebentar seraya merapalkan doa. Bukan karena Fani anak yang pintar dia jadi tidak berdoa. Bahkan, di setiap doanya saat salat, anak itu meminta yang terbaik dan berharap nilainya bagus. Seorang guru perempuan muda cantik yang memiliki rambut hitam digulung rapi memasuki kelas 2A. Guru yang biasa murid panggil dengan Miss Laila. Guru bahasa Inggris yang sangat mencintai kedisiplinan dan begitu tegas. "Siapkan!" perintahnya begitu duduk di bangku guru dengan wajah datar. "Stand up!" Suara dari ketua kelas membuat semuanya berdiri. "Let's pray begin!" Mereka semua tertunduk dengan tangan tertampung, berdoa. "Give the greeting!' "Good morning, Miss." Suara kompak nan penuh semangat, tapi bergetar tak tenang membuat Miss Laila menyunggingkan senyum tipis. "Morning, sid down please." Setelah mendapat instruksi mereka kembali dudu. "Ready for the exam?" Miss Laila bertanya sembari membagikan kertas ujian. "Ready, Miss!" Senyum tipis terpatri di wajah cantik Miss Laila. "Semangat! Anak Miss pasti bisa." Miss Laila berbisik pelan pada Fani. Fani mendongak menatap wajah Miss Laila yang sedang mengedipkan sebelah matanya membuat Fani menganggukkan kepalanya semangat dan tersenyum manis. Selama ujian berlangsung, sebenarnya Fani sedikit tidak fokus. Makanya anak itu sampai membaca soalnya berulang kali. Pikirannya terbagi dua, sedih akan keadaan persaudaraannya dengan Fina dan ujian ini. Fani merasa frustrasi. Namun, Fani berusaha meyakinkan dirinya untuk fokus pada ujian di depan matanya saat ini. Semua akan baik-baik saja. Akhirnya, konsentrasi Fani dapatkan kembali dengan baik. Anak itu menyelesaikan soal dengan baik tanpa kesulitan sampai ujian selesai. ??? Setelah memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas, Fani berdiri dan menatap kelasnya yang telah kosong dengan helaan napas pelan. Hari ini mungkin merupakan hari terakhir Fani duduk di kelas 2, karena besok sudah pengambilan rapor. Senyum tipis terbentuk menghiasi wajah Fani. Sekali lagi, Fani menghela napas, tapi kali ini dengan kasar. Mengedarkan pandangannya ke sepenjuru kelas. Lalu menatap ke bawah. Setelah puas menatap kelasnya, Fani segera melangkahkan kakinya dengan gontai keluar kelas. Wajah anak itu tidak seceria biasanya. Terlihat menahan sesuatu dan murung. Memang, dua minggu belakangan ini Fani tidak tampak ceria dan riang. Dia lebih ke pendiam dan murung. Hanya beberapa kali saja senyum terhias di wajahnya. Itu pun hanya senyum tipis, tidak sampai menyentuh mata. Masih dengan langkah gontainya, Fani berjalan menuju pagar sekolah. Tangannya mencengkeram kuat tali tas ransel biru muda yang tersampir di punggungnya. Fani dapat melihat mobil hitam milik Papanya terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah. Fani mengerutkan dahinya dengan kebingungan melanda. Pasalnya, itu bukan mobil Papanya yang biasa dipakai Deni untuk mengantar jemput dirinya dan juga Fina. Tidak ingin mengambil pusing, Fani berjalan ke mobil hitam Papanya yang terparkir di pinggir jalan. Saat Fani telah sampai, seorang perempuan yang amat dia rindukan keluar dari dalam mobil masih dengan pakaian kantornya. Senyumnya mengembang melihat Fani. "Mama!" Fani berlari dan memeluk Mamanya erat. Bukan tanpa alasan Fani memeluk Mamanya dengan erat, tapi memang Mama dan Papanya tidak ada di rumah semenjak ujian kenaikan kelas di hari pertama. Keduanya melakukan perjalanan bisnis ke Korea Selatan untuk menjalin hubungan kerja sama. Sekalian memantaunya secara langsung. Itu yang membuat Fani begitu merindukan Mama dan Papanya. Itu pulalah yang menjadikan dia dan Fina belum berbaikan. Sang kembaran masih marah pada Fani karena kejadian sebelum orang tua mereka pergi ke luar negeri. "Papa mana, Ma?" Fani melirik ke dalam mobil dan tidak melihat papanya di dalam. "Papa sama Fina lagi beli air mineral. Papa kehausan, Fina juga, botol airnya udah kosong." Dina mengelus puncak kepala Fani dengan sayang. "Masuk yuk, panas." Dina membukakan pintu penumpang untuk Fani. Mereka masuk ke dalam mobil, tapi Dina duduk di sebelah kemudi yang akan dikemudikan suaminya. Padahal Dina tadi sudah menyuruh agar Deni saja yang menyetir, tapi Rian menolak. Dina kasihan pada suaminya itu, mereka baru sampai langsung ke sekolahan milik Papa mertuanya. Setelah beberapa saat, Rian kembali dan mengelus kepala Fani dengan sayang. Mereka langsung beranjak dari sana menuju restoran langganan mereka, juga salah satu tempat kesukaan Fani. Selama perjalanan, Fani hanya diam dan menatap keluar jendela mobil. Memandangi bangunan-bangunan tinggi yang mereka lewati. Lain dengan Fina yang bercerita banyak hal pada Rian dan Dina. Mereka akhirnya sampai di restoran tujuan mereka. Setelah pesanan tersaji, mereka langsung menyantapnya dengan tenang tanpa suara hingga makanan mereka habis. Berbincang adalah hal yang mereka lakukan selanjutnya. "Mama sama Papa sengaja pulang cepat, biar bisa ambil rapor kalian. Besok pengambilan rapor, 'kan?" Rian menatap Fani dan Fina bergantian. Fani hanya mengangguk pelan sambil memainkan sedotan. Sedangkan Fina menjawab dengan antusias. "Oh ya, Fani, soal janji Papa. Setelah ambil rapor besok, Minggu kita langsung berangkat." Rian menatap Fani saat mengerti pandangan Dina pada anak pertamanya itu. "Beneran, Pa?" Fani menatap Rian dengan berbinar. "Beneran dong, sayang." Rian mengacak rambut Fani dengan senyum manisnya. Membuat beberapa pengunjung terpesona dengan senyum manis Rian. Mereka menjadi melting, bahkan ada yang menatap Rian sambil menggigiti sendok. Dina mencium pipi Fani dengan gemas. Fani memang sangat menggemaskan, apalagi dengan mata jernihnya yang berbinar dan pipi chubby ditambah senyum menawan. "Kita mau ke mana?" Fina menatap Rian bingung. "Pantai, sayang." Rian mengecup pipi Fina. "Beneran?" "Iya, selama kalian liburan kita akan ke pantai." Rian mengusap kepala Fina. "Pantai mana, Pa?" Fani membuat Rian mengalihkan pandangannya dari Fina. Fina yang melihat itu mengembuskan napas dengan kasar, menatap kembarannya dengan pandangan tidak suka. "Pantai Kuta, Bali, sayang." Rian tersenyum hangat pada Fani. Fani yang tidak tau di mana itu, dia hanya ber-oh ria dan mengangguk. Di pikiran Fani hanya dia akan berlibur ke pantai. Meski, ada perasaan sedih yang mengganjal hatinya. Setelah selesai menghabiskan minumannya, mereka akan ke kedai ice cream dulu. Setelah itu baru pulang ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh. ??? Sekolah Alfa sangatlah ramai. Bagaimana tidak? Jika siswa SD, SMP dan SMA-nya sekaligus mengambil rapor kenaikan kelas. Mereka tampak tegang. Begitu pun Fani dan Fina. Rian dan Dina membagi tugas, Rian yang akan mengambil rapor di kelas Fani. Sedangkan Dina akan mengambil rapor di kelas Fina. "Mimi Finara Alfarizi." Seorang guru yang berbadan besar memakai kacamata yang tak lain adalah wali kelas 2 D memanggil nama Fina. Dina maju, berhadapan dengan guru gemuk berkacamata itu. Di belakangnya Fina mengikuti Dina dengan tangan berkeringat dingin. Biasanya, saat Fina sedang gugup seperti ini. Fani akan dengan sigap menggenggam tangannya erat. Menguatkan Fina, berucap bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, kali ini pemikiran itu segera dibuang jauh-jauh oleh Fina. Anak itu masih marah pada kembarannya yang dia tuduh berbohong. "Fina sekarang lebih rajin belajar ya, Bu? Nilainya meningkat." Sang wali kelas tersenyum tipis saat menyerahkan rapor Fani. "Iya, Bu." Ternyata, Fina dapat peringkat kelas 10. Wah, sungguh pencapaian yang bagus, sebab Fina sebelumnya mendapat peringkat 18. Dina sungguh merasa bangga pada Fina yang sudah bisa masuk peringkat 10 besar. Itu sudah sangat membuat Dina bahagia dan merasa bangga. Keluar kelas, Dina mengecupi pipi Fina dengan gemas. Mencurahkan kasih sayangnya dan rasa bangganya pada sang anak. Padahal, tanpa diketahui Rian dan Dina. Fina bisa dapat peringkat 10 itu karena dia mau belajar dan yang memerintahkan Fina untuk belajar tak lain adalah sang kembarannya sendiri, Fani. Kedua perempuan berbeda generasi itu beralih menuju kelas Fani. Tampaknya Fani belum mendapat rapornya. Dina menunggu di bangku depan kelas Fani bersama Fina. Dari luar sini, mereka dapat mendengar bahwa nama Fani telah dipanggil oleh sang wali kelas. Setelah itu, keluarlah Fani bersama Rian. Rian menghadiahkan Fani dengan kecupan-kecupan di pipi chubby anaknya itu. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekeliling mereka. "Gimana? Fani dapat peringkat berapa?" Dina bertanya dengan tidak sabar saat Rian dan Fani telah berdiri di dekatnya. "Satu, Mama." Fani memeluk Dina setelah berucap. Dina membalas pelukan sang anak dengan terharu dan bangga. Menghadiahkan Fani kecupan di pipi kanan dan kirinya. "Fina berapa?" Rian menatap Fina dan melirik Dina. "Sepuluh, Pa." Rian memberikan kecupan sama seperti Fani tadi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Para orang tua dan siswa tidak langsung pulang. Melainkan menunggu sebentar untuk pengumuman juara umum satu sampai dengan tiga. "Oke, langsung saja ya. Juara umum tiga diperoleh oleh Renata Anjelin dari kelas 2B. Selamat Anjelin, mohon untuk maju ke depan," ucap Bu Tari. "Dan juara umum dua, diperoleh oleh ... Tri Utami Zeeya dari kelas 2A. Selamat Zeeya, mohon untuk maju ke depan." "Dan juara umum pertama! Inilah yang ditunggu-tunggu, siapakah yang memperoleh juara umum pertama? Dia adalah ... Rara Fanisha Alfarizi dari kelas 2A! Selamat untuk Fani, mohon maju ke depan." Sambutan tepuk tangan meriah untuk para siswa yang mendapat juara umum. Mereka berkumpul di depan podium. Namun, untuk juara umum tiga yaitu Anjelin tidak dapat hadir. Jadi, hanya diwakilkan saja. Juara umum pertama mendapat hadiah, tidak bayar uang sekolah selama delapan bulan, juara dua enam bulan, juara tiga empat bulan. Bukan hanya itu, tapi juga uang. Juara satu mendapat uang sebesar 1 juta, juara dua 800 ribu, dan juara tiga 600 ribu. Dan yang pasti beserta piagam. Setelah selesai, Fani mendekati kedua orang tuanya. Rian dan Dina merasa sangat bangga pada anak kembarnya. "Karena Fani dan Fina dapat nilai yang bagus. Kita akan jalan-jalan ke Dufan," ucap Rian pasti. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD