Pagi ini Rick terbangun terlebih dahulu, ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Jadwal Rick akan padat untuk hari ini, begitupun dengan Beth. Mereka akan melakukan pekerjaan masing-masing untuk kali ini. Awalnya Beth mendengus kesal, ia ingin melimpahkan pekerjaan pada asistennya. Sayangnya, kali ini perusahaan milik Beth mengadakan meeting besar yang akan di datangi oleh ayah Beth sendiri.
Setelah lima belas menit ia berada didalam kamar mandi. Akhirnya Rick keluar hanya dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah saja.
"Kau tak ingin bersiap?" tanya Rick pada Beth yang masih ingin bermalas-malasan diatas ranjang.
"Aku sangat malas untuk hari ini, bisakah kita pergi saja?"
"Apa maksudmu? Hari ini aku akan berada dilokasi hingga petang, jadi sangt tidak memungkinkan untuk menghindar."
"Baiklah, aku akan mandi kalau begitu."
Beth turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi dengan langkah malasnya.
Rick telah selesai mengenakan pakaian lengkapnya. Ia menuju ruang makan terlebih dahulu. Lelaki itu bahkan tidak menunggu Beth untuk sarapan bersama. Setelah selesai pun ia langsung berangkat menuju lokasi syuting.
"Dasar lelaki tak tau diri! Bagaimana bisa ia meninggalkanku!" gerutu Beth kesal.
"Maaf Nona, meeting akan dimulai dalam dua jam lagi," ujar Greg mengingatkan.
"Ya, aku sarapan dulu setelah itu kita berangkat."
Greg hanya menundukkan kepalanya, lelaki itu mengambil langkah mundur meninggalkan Beth.
***
Beth sedang berada dikantor, ia tengah duduk bersanding dengan ayahnya. Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu, kali ini Beth terlihat sangat manja didepan lelaki dengan tinggi 185cm, memiliki bulu halus disekitar wajahnya, tatapannya membuat orang bergidik.
"Papa, apa mama baik-baik saja?" tanya Beth pada ayahnya.
"Ya, mama-mu baik-baik saja. Kapan kau akan pulang untuk mengunjunginya?"
"Hmm, entahlah. Aku terlalu sibuk disini," ujar Beth beralasan.
"Perusahaan sudah berkembang pesat semenjak kau yang menjalankannya, apa semua yang kau inginkan sudah terpenuhi?"
"Belum, aku menunggu satu keinginanku. Hanya saja sedikit sulit, tetapi akan segera kudapatkan!"
"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku tahu kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan."
Beth sedang tidur dipangkuan ayahnya, dengan belaian lembut dari tangan ayahnya membuat Beth merasa nyaman.
"Maaf, Tuan Evacska. Meeting sudah bisa dimulai, para petinggi sudah hadir didalam ruangan," ujar asisten Beth mengingatkan.
"Baiklah, kami akan segera menuju ruang meeting."
Beth beranjak dari posisinya, ia merapikan pakaiannya yang lusuh karena posisi tidurnya. Dengan setelan blazer berwarna abu-abu dan rok yang senada Beth terlihat lebih dewasa. Sepatu heels berukuran 7cm menyempurnakan penampilannya.
Mereka berjalan bersama dengan Beth yang melingkarkan tangannya pada lengan sang ayah. Sedangkan dibelakang mereka ada Greg dan sekertaris Beth.
Meeting berjalan cukup lama, karena mereka sangat jarang bertemu. Setelah perbincangan mengenai bisnis selesai, mereka memutuskan untuk makan siang bersama, lalu mereka merundingkan beberapa tender kecil juga hal lain yang tidak begitu penting.
Beth mulai merasa bosan dengan obrolan yang dilakukan orang-orang didalam ruangan itu. Ia memilih untuk diam dan hanya menjawab jika ada yang bertanya padanya.
"Beth, kau terlihat bosan. Kau boleh pergi, papa tidak ingin melihatmu marah atau menyalahkan papa," ujar Evacska pada anak kesayangannya itu.
Senyum Beth mengambang, wanita itu langsung mengundurkan diri dari ruangan. Ia berjalan diikuti Greg yang pasti mengekor padanya kemana saja.
" Nona, anda ingin pergi kemana? "tanya Greg pada Beth yang kini sudah duduk di kursi belakang.
" Aku ingin pulang ke mansion, "ujar Beth.
Greg terlihat mengeryitkan dahinya heran. Tidak biasanya Beth pulang begitu saja. Jika tidak menghampiri Rick ditempat kerjanya, Beth akan pergi berbelanja. Namun, kali ini ia memilih untuk pulang ke mansion besarnya.
Greg mengemudikan mobil range over milik Beth menuju mansion. Selama perjalanan tak ada suara didalam mobil. Beth lebih banyak diam dan memainkan ponselnya.
***
Beth sedang berada di minibar, ia meminta bartender untuk menuangkan wine pada gelasnya. Sudah satu botol ia habiskan sendiri, wanita itu nampak begitu kesal. Entah apa yang membuatnya kesal hingga ia tak bersuara. Greg yang melihat Beth bertingkah seperti itu membuatnya khawatir. Pasalnya, jika wanita itu bersikap seperti ini maka akan terjadi masalah. Entah siapa yang berani membuat mood wanita ini hancur.
"Nona, anda sudah menghabiskan lima botol wine. Saya rasa anda sudah cukup mabuk," ujar Greg yang kini menahan berat tubuh Beth.
"Biarkan aku disini! Duduklah, Greg!"
Kali ini Greg tidak peduli dengan kata-kata Beth. Ia menggendong Beth dan mengantarkannya kekamar. Beth hanya mengomel tidak jelas, hingga sampai didepan kamar, ia meminta agar Greg menurunkannya.
"Turunkan aku, Greg!"
"Nona, saya akan merebahkan anda didalam kamar."
Greg merebahkan tubuh Beth diatas ranjang. Ia juga melepaskan sepatu yang dikenakan Beth. Lalu Greg menyelimuti tubuh Beth. Setelah memastikan Beth tertidur, Greg melangkah keluar dari kamar.
Saat itu hari masih sore, jadi mungkin Beth akan sadar saat sudah petang. Greg melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu kamar Beth perlahan.
Tepat pukul tujuh malam, Beth terbangun. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Ia meleaskan pakaiannya lalu membersihkan dirinya. Matanya terlihat masih berat untuk terbuka. Ia membasuh wajahnya dengan air di wastafel, lalu menyiram tubuhnya dibawah shower.
"Sialan kau Rick! Beraninya kau membohongiku!" gumamnya.
Dua puluh menit sudah Beth berada didalam kamar mandi. Setelah selesai dengan rutinitasnya, ia keluar hanya mengenakan kimono. Beth berjalan menuju walk in closet memilah pakaian untuk ia kenakan.
Beth memilih setelan kaos tipis berwarna putih dengan celana pendek diatas lutut. Beth berjalan keluar dari kamar, ia menuju ruang makan untuk makan malam.
Sebelum sampai diruang makan, Beth bertemu dengn Greg. Lelaki itu kembali mengekor pada Beth.
"Apa anda baik-baik saja, Nona?" tanya Greg yang khawatir.
"Aku baik-baik saja, Greg. Kau tak perlu khawatir dengan kondisiku!"
"Maaf Nona. Anda sangat mabuk tadi, saya pikir anda mengalami sesuatu yang buruk hari ini."
"Jangan pikirkan, masalah itu sudah ku tangani."
Beth duduk pada kursi di ruang makan. Ia mengambil makanan yang ingin ia makan,lalu menghabiskannya hingga tak tersisa.
Setelah selesai, Beth menuju ruang kerjanya. Ia terlihat sedikit santai, memandang laptop di depannya dan sesekali seperti mengirim pesan pada seseorang.
"Kau sungguh membuatku kesal hari ini!" gumam Beth saat melihat foto di laptopnya. Foto itu menampilkan Rick yang tengah menemui Pedro di sebuah kamar hotel.
Tepat pukul sembilan malam, pintu ruang kerja Beth terbuka. Nampak Rick yang masuk kedalam lalu menyapa Beth.
"Kau belum selesai dengan pekerjaanmu?" tanya Rick.
Sembari menutup layar laptopnya, "aku menunggumu, pekerjaanku bahkan telah selesai sejak siang. Aku menemuimu dilokasi, sayangnya mereka memberitahuku bahwa kau sedang makan siang bersama Catherine."
Wajah Rick menegang, lelaki itu kini hanya terdiam kaku dihadapan Beth. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan karena rasa bersalahnya telah membohongi Beth.
" M-maafkan aku, "ujar Rick terbata.
" Tidak apa-apa, aku langsung pulang tadi. Sedikit kecewa memang, tapi sudahlah. Kau pasti lelah, ayo ke kamar. Mandilah agar tubuhmu terlihat segar, "sembari berjalan menggandeng tangan Rick.
Rick sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sikap manis Beth sedikit membuatnya curiga. Pasti sesuatu akan terjadi padanya atau Pedro setelah ini. Rick mencari celah agar dapat mengirim pesan pada Pedro. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada kekasihnya.
"Setelah selesai mandi, temani aku untuk minum di minibar. Kau mau?" tanya Beth.
"Tentu, aku akan mandi dengan segera, agar kau tak menunggu terlalu lama."
"Baiklah, aku akan menunggumu disini."
Setelh Rick masuk kedalam kamar mandi, Beth memilih duduk disofa dan berkutat dengan ponselnya.