Sang jenderal duduk bersandar sambil mengusap-usap kepala istri mudanya. Tadi perempuan itu menangis-nangis, lalu dia menenangkan yang pada akhirnya berakhir dengan berbagi peluh. Baru beberapa saat lalu pergumulan mereka selesai, dua ronde. Istrinya itu sudah tidur saat ini, tidak dengannya yang baru saja selesai membersihkan diri dan bergabung di ranjang. Menatap istri mudanya yang tertidur, dia menghela napas sembari terus mengusap kepala perempuan itu. Istrinya tadi begitu sedih, di sisi lain dia teringat anak sulungnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia kelepasan melayangkan tangannya kepada anaknya tersebut. Pasti anaknya itu kecewa dengannya. Mengingat sang anak, dia menghentikan usapannya kepada kepala istrinya. Dia meraih ponsel di atas nakas sebelah tempat tidur. Tak ada

