“Dellia, kamu sudah selesai? Putri dan Novita sudah menunggu di depan!”
“Iya, sebentar, mah!”
Dellia yang sedang memasukkan buku-buku yang sesuai jadwal hari itu segera menyelesaikan kegiatannya itu dengan terburu-buru. Dengan segera ia menggendong ranselnya dan merapikan rambut berantakannya di depan cermin menggunakan tangannya, tidak ada waktu untuk menggunakan sisir yang akan membuatnya kesakitan karena rambutnya yang kusut.
Ia baru saja akan membuka pintu kamarnya saat teringat dengan ponselnya yang masih sementara diisi dayanya di atas meja belajarnya. Ia segera berlari meraih benda persegi tersebut dan kembali berlari keluar dari kamarnya dengan sedikit bantingan di pintunya yang membuat kaget ibunya yang sedang menyapu di sekitar ruang tamu.
“Ya ampun, Dellia. Kamu hampir saja bikin mamah jantungan pagi-pagi.”
“Maaf, mah, Dellia lagi buru-buru.” Dellia meraih sepatunya dan memakainya dengan kecepatan secepat kilat, tak memperdulikan omelan ibunya yang mulai mengganggu telinganya di pagi hari atas kelalaiannya sendiri.
“Makanya kalau bangun itu jangan kesiangan. Itulah gunanya mamah bangunin kamu pagi-pagi biar tidak terlambat. Bukannya bangun pagi-pagi tapi masih mainin ponsel, ya jelas terlambat lah. Kamu tidak kasian sama Putri dan Novita yang setiap hari harus menunggu kamu di depan rumah?”
Setelah selesai mengikat tali sepatunya dengan kencang, Dellia segera berdiri dan meraih gagang pintu, bersiap untuk kabur dari omelan ibunya yang tidak aka nada habisnya jika ia tetap di sana. “Dellia pergi dulu, mah,” ucapnya dan segera berlari keluar rumah tanpa menunggu respon dari ibunya yang hanya geleng-gelang kepala melihat tingkahnya.
“Astaga anak itu kalau dibilangin bukannya didengar malah kabur.”
*****
“Kamu kenapa lagi, Dell? Habis kerja jadi kuli semalam?” Novita melontarkan pertanyaan sambil tertawa pelan melihat tingkah Dellia yang sejak tiba di sekolah sibuk memukul-mukul punggung dan bahunya yang terasa pegal.
“Biasa, pasti habis buka jasa tukang pijat tadi malam. Kayak kamu tidak tahu pekerjaan sampingan Dellia saja.” Putri menimpali dengan tawa yang lumayan keras, mengundang perhatian beberapa siswa yang sudah ada di kelas menunggu jam pelajaran pertama dimulai.
“Aku capek, Put, Nov. Bukannya bantuin malah diketawain. Kalian tahu sendiri ‘kan papah aku kalau minta dipijit itu tidak akan selesai sampai beberapa jam kemudian,” keluh Dellia sambil tetap melakukan kegiatannya tersebut, itu juga alasan kenapa ia bisa bangun terlambat pagi ini karena rasa capek yang susah untuk ia lawan di pagi hari.
“Makanya sudah kubilang, kalau papah kamu suruh pijat itu bilang sama dia jangan lama-lama. Daripada kamu yang menderita.” Putri berujar sambil menatap layar ponselnya mencari gossip terbaru di sekolah mereka yang mungkin saja dilewatkan oleh mereka, namun hanya mendapat gossip lama yang sudah basi. Bibirnya cemberut mengetahui hal itu.
“Sudah kubilang, tapi papah aku tetap tidak mau, Put.”
“Tolak aja kalau begitu.”
Dellia menatap Novita dengan wajah yang penuh kengerian. Dalam hati ia berpikir apa temannya itu sudah gila atau lupa ingatan saat mengatakan kalimatnya itu. “Terus aku diamuk mamahku begitu? Tidak mau lah, Nov. Kamu tahu sendiri mamah aku bagaimana.”
“Eh, ngomong-ngomong.” Putri meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap kedua sahabatnya yang kini menoleh padanya dengan tatapan penasaran. “Bagaimana semalam? Kamu sudah dapat izin, Dell?”
Senyum Dellia kini tampak di wajahnya, rasa lelah yang ia rasakan tadi seolah hilang begitu saja mendengar pertanyaan Putri yang membuat hatinya kembali bahagian. Ia merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan surat izinnya yang di mana di atas nama orang tua sudah terdapat tanda tangan ayahnya dengan rapi. Ia menunjukkannya di hadapan Putri dan Novita dengan rasa bangga di hatinya, senyumnya tentu tak pernah meninggalkan wajahnya.
“Kamu dapat izin, Dell? Ya ampun, Dell, aku senang banget.” Novita memeluk Dellia dengan penuh haru, ia benar-benar senang akhirnya bisa melakukan kemah bersama dengan Dellia yang memang sudah absen tahun lalu. Bayangan tentang mereka bertiga bisa kemah bersama tahun ini yang tentunya akan jauh lebih menyenangkan dari tahun lalu, sudah berputar-putar di kepalanya layaknya kaset.
Putri ikut memeluk keduanya dengan perasaan haru yang sama. Kebahagiann sahabatnya adalah kebahagiaan bagi dirinya juga. “Syukurlah, Dell. Akhirnya kita bisa menikmati kemah bersama tahun ini dan tentunya semoga tahun depan juga.”
*****
[Kamu ikut kemah tahun ini, tidak?]
Dellia sedikit terkejut melihat pesan Raka yang tiba-tiba masuk saat ia sedang bersantai di kamarnya sambil menikmati cokelat panas yang memang sangat cocok untuk dinikmati di kala hujan seperti saat ini. Beruntung mereka sudah tiba di rumah masing-masing sebelum hujan deras mengguyur kompleks perumahan mereka dan membuat mereka bertiga basah kuyup.
[Ikut, kalau kamu?]
Dellia menyeruput cokelatnya yang menghangat sambil menunggu Raka menyelesaikan ketikannya, ia sudah tidak sabar menunggu balasan pemuda tampan itu. Apakah dirinya juga akan ikut atau tidak mengingat kesibukannya di sekolah sebagai siswa terpintar dan mengikuti beberapa kegiatan organisasi yang tentunya memiliki jadwal yang lebih sibuk dibanding dirinya yang tidak punya kesibukan sama sekali. Bahkan untuk mengerjakan tugas saja biasanya baru akan ia kerjakan saat sudah tiba di hari di mana mereka harus mengumpulkannya yang tentunya dengan bantuan dari Putri atau Novita.
[Ikut, dong. Apalagi tahun ini adalah tahun terakhirku.]
[Aku pikir kamu tidak akan ikut. Maklum orang sibuk.]
[Aku tidak sesibuk itu, kok. Ngomong-ngomong, tahun lalu kamu ikut tidak?]
[Tidak.]
Dellia hanya menjawab singkat, malas untuk menjelaskan lebih panjang tentang alasan yang membuatnya tidak bisa mengikuti kemah bersama tahun lalu. Merasakan angin yang mulai kencang memasuki kamarnya melalui jendela kamarnya yang terbuka dan juga air hujan yang mulai masuk membasahi tirai kamarnya, membuatnya beranjak dari duduk santainya di atas ranjang dan menutup jendelanya dengan cepat. Tak ingin membiarkan hujan semakin masuk dan membasahi tirainya dan membuatnya harus mencucinya lagi, apalagi ia baru saja mencucinya kemarin. Ia baru saja kembali duduk di pinggir ranjangnya saat ponselnya berdering singkat tanda Raka sudah membalas pesannya.
[Pantas saja aku tidak melihatmu dan cuma ada kedua temanmu waktu itu.]
Mata Dellia sedikit terbelalak membaca pesan Raka yang membuatnya terkejut, ia tidak menyangka bahwa pemuda tampan itu sudah mengenalinya sejak ia masih kelas satu.
[Kamu sudah tahu aku sejak kelas satu?]
[Memangnya kamu pikir siapa yang bakalan lupa sama siswa baru yang tertidur di saat pemberian materi dan akhirnya dihukum untuk menyatakan cinta sama panitia di tengah lapangan menggunakan toa. Kamu tidak lupa ‘kan waktu menyatakan cinta sama siapa?]
Dellia rasanya ingin menenggelamkan wajahnya saat itu juga. Ia tidak menyangka Raka akan tahu kejadian paling memalukan yang terjadi seumur hidupnya itu. Ia tentu tidak akan pernah lupa saat ia dengan percaya dirinya membaca surat cinta yang ia tujukan pada Raka hari itu, padahal itu bukan surat cinta yang ia tulis sendiri. Putri dan Novita yang membantunya menulis dan tidak menyangkat bahwa surat itu ditujukan pada kakak kelas paling tampan dan paling popular di sekolahnya.
Alhasil setelah kejadian itu ia menjadi incaran kakak kelas yang naksir dengan Raka. Makanya sampai saat ia ini ia begitu anti dengan pemuda tampan itu, ia menjadi bulan-bulanan kakak kelas yang cemburu akibat ulah kedua sahabatnya yang memang sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah SMA Cahaya Bangsa sudah jatuh cinta dengan sosok Raka. Hal itu tentu saja membuatnya trauma hingga saat ini.
[Astaga itu aib, jangan diingatkan lagi. Padahal aku sudah hampir lupa dengan kejadian itu.]
[Kenapa? Padahal ‘kan lucu. Apalagi mengingat ekspresimu waktu itu seolah-olah kamu beneran lagi jatuh cinta.]
[Ya ampun, sudah cukup. Jangan dibahas lagi, please.]
[Oke, oke. Aku tidak akan bahas lagi, daripada nanti kamu nangis.]
[Siapa juga yang mau nangis?]
[Oh? Memangnya tidak? Kupikir tadi air yang menetes dari atap genteng kamarku itu air mata kamu.]
[Itu air hujan, astaga.]
Dellia tertawa pelan, ia tak menyangka di balik sikapnya yang dingin dan cuek, ternyata pemuda tampan itu cukup suka bercanda juga dan tentunya cukup mengiburnya. Ia jadi makin tidak sabar menantikan acara kemah bersama yang tinggal tiga hari lagi.
*****