"Siapa yang mengirimkannya?" tanya Naya pada pria tinggi besar yang kini menyodorkan sebuah kotak beserta sebuket bunga padanya. Naya ragu menerimanya. Dia hanya diam dan menatap itu dengan dengan kedua alis berkerut. "Seorang laki-laki mengatakan kalau itu dari Tuannya, Jonathan." Sebuah nama yang tiba-tiba membuat tubuh Naya tersentak begitu disebut. Tangannya yang baru saja menyentuh benda itu, langsung tertahan. Ada rasa tidak percaya dengan semua ini. Mustahil. Sejak kapan laki-laki itu bersikap seperti ini? Atau mungkinkah Jonathan memiliki tujuan lain? "Apa ada pesan yang dia sampaikan?" "Tidak ada, Nona." Mengherankan. Naya menatap dua benda itu dengan canggung, walau pada akhirnya dia menerimanya dan membiarkan pria itu pergi. Meninggalkan dirinya yang kini tengah duduk di rua

