Kita Sama?

1316 Words
Naya duduk diam di ruang perpustakaan, dia mengambil buku apa saja untuk dibacanya. Setidaknya, untuk menambah sedikit wawasan. Sekolah? Jelas tidak. Naya tidak lagi bisa bersekolah semenjak dia harus menjadi wanita malam. Tepat setelah kematian keluarganya. Kini, sebuah kesempatan emas datang padanya. Naya akan memanfaatkan apa yang Jonathan berikan padanya. Bukan harta, tapi akses untuk memakai apa pun yang dia inginkan. Tidak ada larangan di mana Naya tidak boleh memasuki kamar tertentu. Jonathan mempersilakannya, dengan satu catatan, jika Naya tidak boleh melarikan diri. Pilihannya jatuh pada ruang perpustakaan, tempat ribuan buku dengan macam-macam kategori, berjejer rapi di dalam rak-rak besar yang menjulang sampai ke atas. Tidak heran, ini pasti karena Jonathan membutuhkan semuanya. Tak beda jauh dengannya, laki-laki itu juga tidak pernah sekolah, tapi bukan berarti Jonathan bodoh. Sebuah artikel menjelaskan tentang perjalanan bisnis Jonathan dalam membangun J&Rys Property. Perusahaan yang berjalan dalam bidang real estate. Memiliki gedung pencakar langit tepat di pusat ibukota. Mall, perumahan mewah dan bahkan hotel. Semua dijelaskan dalam garis besar, tidak benar-benar detail, tapi setidaknya itu cukup untuk membuktikan jika Jonathan tidak bisa diremehkan begitu saja. Kecerdikannya dalam memengaruhi orang juga patut diacungi jempol. Akan tetap, ayah dari laki-laki itu tidak pernah mengakui kehebatan dan kecerdasan anaknya. Pria tua bangka–yang saat ini mungkin tenang di alam kubur–sempat berkata, jika Jonathan tidak pernah mendapat pendidikan apa pun. Laki-laki itu tidak tahu aturan sejak masih kecil. Hal yang tentu akan sangat memalukan bagi keluarga Rhys dan Vincent sangat enggan mengakui Jonathan sebagai anaknya. Meski hitam di atas putih sudah cukup untuk menjelaskan hubungan keduanya sebagai ayah dan anak. Naya sendiri tidak pernah tahu, kenapa Vincent bisa berkata seperti itu. Sudah seharusnya, setiap anak membutuhkan orang tua sebagai sosok yang bisa memberi dukungan. Ya harusnya demikian. Namun Naya tidak memiliki hubungan yang mengharuskan dia ikut campur dalam keluarga mereka. "Menyedihkan," desah Naya, sedikit prihatin dengan kondisi hidup Jonathan. Meski dia tidak tahu terlalu banyak, tapi Naya seolah ikut merasakan apa yang Jonathan rasakan. Mungkin karena kurangnya kasih sayang dan bimbingan orang tua, juga lingkungan sekitar yang acuh tak acuh, Jonathan bisa berubah menjadi monster yang begitu mengerikan. Naya sempat berpikir jika laki-laki itu sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Menyiksa dan membunuh orang tanpa ada kata maaf. Benar-benar seperti íblis, tapi setelah beberapa hari terakhir, entah hanya perasaannya saja atau memang Jonathan sedikit berubah. Laki-laki itu tidak terlalu memaksakan kehendaknya. Naya juga tidak pernah lupa saat melihat tatapan penuh khawatir di wajah Jonathan, ketika dia bermimpi buruk atau mengalami kejadian yang kurang mengenakkan di pesta. Tak dapat disangkal, Naya melihat kecemasan di mata Jonathan. Namun, dia tidak bisa menemukan jawabannya secara pasti. Bagaimana sifat laki-laki itu sesungguhnya dan apa yah sebenarnya Jonathan inginkan darinya? "Sial, apa sekarang dia penting bagiku?" Naya menggerutu. Kesal saat dirinya tak mampu menghentikan pikirannya akan Jonathan. Rasa iba itu harusnya tidak pernah ada. "Siapa yang kaupikirkan?" sahut seseorang dari balik punggung Naya. Suara bariton diiringi langkah sepatu yang terdengar mendekat, membuat Naya tersentak dari posisi duduknya. Napasnya terdengar tercekat dan menatap lantai marmer dengan wajah tegang, sebelum menolehkan kepalanya ke belakang. Laki-laki berkemeja biru dengan lengan yang dilipat dan menyiratkan rasa lelah tampak sudah berpangku tangan seraya menatap matanya intens. Jonathan datang dan berjalan mendekat ke arahnya. Langkahnya tegap dan tegas, penuh intimidasi hingga membuat tubuh Naya sulit bergerak. Terpaku di tempat. "Siapa yang kau pikirkan?" Jonathan mengulang pertanyaan yang sama. Dia menajamkan tatapannya, menghunus menatap tepat ke dalam bola mata wanitanya. Tak main-main, seolah menyiratkan sesuatu jika Jonathan sangat amat ingin tahu, apa maksud perkataan Naya. Laki-laki lain? Siapa yang lebih hebat darinya hingga mampu membuat wanitanya berpaling? "Bukan siapa-siapa." Naya enggan menjawab. Wanita cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun itu, memilih memalingkan muka. Pipinya merona merah. Entah karena malu atau karena udara yang mendadak terasa panas semenjak kehadiran laki-laki itu di ruangannya. AC seolah tak berfungsi dan membuat Naya sedikit gelisah. Berhadapan langsung dengan Jonathan adalah hal yang selalu tidak pernah Naya inginkan. Dia merasa sangat tidak nyaman. Sampai beberapa saat kemudian, dagunya tiba-tiba diangkat. Mendongak, menatap manik mata hitam bak mata elang. Tajam. Namun terselip sesuatu yang bisa membuat setiap wanita, tenggelam saat menatapnya. "Kenapa kau ada di sini?" "Aku sedang belajar," jawab Naya, tanpa rasa takut dan gentar. Hingga perkataannya, cukup berhasil membuat Jonathan melirik ke arah meja, di mana buku-buku yang sempat dibaca Naya berjejer rapi. Menanti untuk dibuka dan diselami. Jonathan langsung melepaskan cengkeraman tangannya di dagu Naya. Dia ikut duduk di samping wanita itu dengan tatapan yang tidak pernah lepas memandangi Naya. Wajah cantik yang selama bekerja, tidak bisa Jonathan hilangkan. Dia merindukan Naya yang selama tiga hari terakhir jarang dilihatnya. Kenapa? Padahal Naya bukan wanita satu-satunya yang pernah menjadi teman ranjangnya. Ada wanita yang berkali-kali lipat lebih menggoda, seksi, cantik dan menggairahkan dibanding Naya, tapi hanya dengan menatap mata safir itu, sesuatu dalam diri Jonathan langsung bergetar. Dia bergairàh. "Apa aku tidak boleh berada di sini?" tanya Naya, ketika melihat tatapan tajam yang Jonathan perlihatkan. Dia sangat risi oleh tatapan laki-laki itu. Jonathan seolah tengah menelanjanginya. "Tidak. Kau boleh ke sini kapan pun kaumau," jawab Jonathan dengan suaranya yang terdengar serak. Dia berusaha mengalihkan pikiran dan matanya dari tubuh Naya. Apa mungkin karena sibuk bekerja dan tak sempat mengunjungi wanitanya, dia jadi sedikit gampang tergoda? Hanya tatapan. Naya menatapnya. Tidak menggoda atau mengerang seperti pada wanitanya. "Kalau begitu, berhenti menatapku dan keluarlah." "Tidak bisa. Aku akan tetap di sini. Lakukan apa yang kaumau." Naya menghembuskan napas kesal saat mendengar nada perintah dari mulut Jonathan. Dia sangat tak nyaman, tapi laki-laki itu bukan orang yang bisa dibantah olehnya. Jika satu kalimat sudah diucap, maka tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Alhasil, kini Naya memilih untuk tidak peduli. Dia berusaha mengabaikan laki-laki itu dan fokus pada buku-buku di hadapannya. Meski rasanya sangat sulit, tatapan Jonathan sangat terasa di tubuhnya. Mengubah suasana yang tadinya santai dan tenang, menjadi panas dan rasanya membuat Naya ingin beranjak pergi. Sialan! "Apa sebelumnya, kau tidak pernah belajar?" Naya sontak mendelik ketika pertanyaan Jonathan kembali mengganggu konsentrasinya. Namun tak ayal, dia menjawabnya dengan nada malas, "Apa kaupikir wanita sepertiku masih bisa belajar?" "Kenapa tidak? Kau bisa melakukannya disela-sela melayani pelanggan." Jonathan yang cukup tertarik dengan topik pembicaraan, sedikit bergeser tubuhnya ke arah Naya. Seperti ada magnet yang membuatnya sulit berjauhan. Dia merasa penasaran tentang kehidupan wanita itu, sebelum menjadi seorang wanita penghibur. Tanpa perlu disuruh, dia sudah menyelidiki latar belakang Naya sebelumnya. Hanya entah kenapa, dia belum mendapatkan identitas pasti, perihal wanita yang menjadi penghangat ranjangnya. Kesimpangsiuran terjadi ketika dia bertanya pada orang yang memperkerjakan Naya. Sebagian benar dan sebagian lainnya hanya praduga. Sebelum sampai dan menjadi wanita malam, seseorang pernah mengatakan padanya kalau wanita itu pernah dijadikan barang lelang di suatu pasar gelap. Sampai Naya dibeli dan dijadikan seorang wanita penghibur. Wajah dan tubuhnya yang seksi, membuat Naya menjadi primadona di sana. Tidak semua laki-laki dapat dengan mudah menyentuhnya. Hanya mereka yang berani membayar harga paling tinggi untuk bisa menghabiskan satu malam bersama Naya. Hanya itulah informasi yang dia dapat. Sialnya, entah berapa banyak sang ayah membeli wanita ini, hingga hampir dan nyaris menjadi ibu tirinya. Menikahi wanita yang usianya bahkan tak jauh darinya. Jonathan tidak percaya takdir, tapi dia senang saat wanita itu menjadi miliknya. Walau rasanya, Jonathan tidak percaya jika sang ayah belum menyentuh Naya. Ayahnya hanyalah pria mata keranjang. Tidak ada wanita yang tidak berhasil ditidurinya. Bukan pula pria baik hati yang akan mengasihi orang lemah, tapi meski demikian, Jonathan tidak bisa melepas Naya. Lagi pula, dia dan wanita itu sama-sama kotor. Tidak ada yang salah jika dia dan Naya bersama. Dunia membenci orang-orang seperti mereka. Jika saat ini semua orang sibuk mengagung-agungkannya, percayalah itu hanya kepalsuan. Jonathan yakin, di balik semua pujian, ada celaan dan hinaan di dalamnya. "Apa kau ke sini hanya untuk menggangguku?" Jonathan kembali menegakkan tubuhnya, ketika melihat Naya menutup bukunya cukup keras, hingga menimbulkan suara. "Tidak. Aku hanya sedang memikirkan cara untuk bisa mengenalmu lebih dalam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD