"Apa yang kau bicarakan pada Naya?" Jonathan menatap penuh emosi pada lelaki di depan matanya. Tatapan yang menusuk sangat kentara terlihat di sana. Jika saat ini dia menuruti egonya, sudah dipastikan dirinya akan langsung menghajar Rey tanpa banyak bicara. "Maksudmu? Kau memintaku bertemu hanya untuk menanyakan itu?" Tawa meremehkan keluar dari mulut Rey. Menatap Jonathan seolah laki-laki itu sedang bercanda. Bagaimana tidak? Jonathan memintanya bertemu malam-malam di sebuah bangunan bekas yang tak lagi digunakan. Di saat dia harusnya tengah bersantai memimpikan Naya. "Jangan berpura-pura bodoh. Kau sudah tahu kalau Naya tunanganku sekarang." "Aku tidak percaya. Kau pasti memaksanya lagi." Jonathan melangkah maju dan meraih kerah baju Rey. Terdengar suara gigi yang saling bergemeletu

