Satu bulan yang lalu.
Bianca sedang berada di ruangan keluarga rumah kedua orang tuanya, bukan hanya Bianca tapi kedua orangtuanya dan juga Abang beserta kakak iparnya juga ada di sana. Sudah 10 menit mereka berada di ruangan ini, namun tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan. Melihat itu Bianca manusia yang super sibuk tidak tinggal diam dan memilih untuk mulai angkat bicara. Bagi Bianca waktu adalah uang, jika dia sedang tidak mencari yang maka waktunya yang sangat berharga itu akan digunakannya untuk istirahat.
“Ehm ini gak ada yang mau mulai buat ngomong?” tanya Bianca buka suara menatap keempat orang yang ada dihadapannya.
Mama Sheila dan Papi Arya diam tak menjawab keduanya saling berkomunikasi melalui tatapan mereka.
“Ma?” panggil Bianca karna tak kunjung mendapat jawaban.
Mama Sheila diam tanpa menjawab panggilan Bianca.
“Pi?” panggil Bianca beralih menatap Papinya.
“Sebentar ya sayang.” Ujar Papi Arya lembut membuat Bianca menghela nafas panjang.
"Oke, tapi sebelumnya Bian minta maaf, Bian ada syuting sekarang jadi Bian undur diri ya.” Ujar Bianca sambil menatap Mama Sheila dan Papi Arya bergantian.
“Mama udah minta schedule kamu diganti.” ujar Mama Sheila menatap Bianca.
“Mama!” pekik Bianca tak terima.
“Bianca.” Tegur Zayn, Abang Bianca yang tak jauh dari dirinya.
“Mama tuh ngeselin!” ujar Bianca tak terima atas teguran Zayn padanya. Zayn hanya menatap adik bungsunya itu membuat Bianca hanya bisa mengendus kesal.
“Bianca.” Panggil Papi Arya.
“Akhirnya----- iya papi.” Jawab Bianca.
“Papi dan Mama sudah sepakat akan hal ini, jadi Papi harap kamu juga sepakat dan menerima ini.” Ucap Papi Arya hati-hati.
Bianca mengernyitkan dahinya heran. “Maksudnya gimana pi? Jelasin pelan-pelan, Bian gak paham.” ujar Bianca sambil menatap Papi nya.
Papi dan Mama Bianca kembali saling bertatapan.
“Pi?” panggil Bianca tak sabar.
“Euumm--- Papi dan Mama sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak teman papa.” ujar Papi Arya.
Mata Bianca membelalak lebar mendengar apa yang diucapkan oleh Papinya. Perjodohan? Itu adalah hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Bianca akan terjadi di hidupnya.
"Tunggu-tunggu----Bian gak salah dengar ini? Papi buat perjodohan untuk Bian sama anak teman papi?” tanya Bianca sembari menunjuk dirinya dengan wajah tercengang.
Papi Arya menarik nafas dalam dan menghelanya perlahan lalu mengangguk mantap sebagai jawabannya.
"Kamu mau kan?" tanya Papi Arya menatap Bianca dalam.
“Pi, Bian masih 23 tahun, masih dikategorikan remaja pi. Bian bukan perempuan 32 tahun yang belum nikah sampai harus dijodohkan.” terang Bianca tak terima akan niat dan maksud papi nya.
“Bian.”
“Gak ma enggak, Bian gak mau.” Ujar Bianca memotong ucapan Mama Sheila.
“Kamu harus mau Bian, Mama sama Papi udah sepakat dan juga kami sudah menentukan tanggal pertunangan kamu.” Ujar Mama Sheila setelahnya.
“Mama!" bentak Bianca keras.
“Bianca jaga nada kamu.” Tegur Zayn sekali lagi saat mendengar nada tinggi Bianca.
Bianca menoleh pada Zayn, Abang satu-satunya.
“Jangan bilang abang tau?” todong Bianca tepat sasaran.
Zayn diam tak menjawab, dia tidak bisa menjawab iya pada Bianca karena takut akan respon adiknya itu tapi dia juga tak bisa menjawab tidak karena dia tau akan hal ini.
“Jangan bilang abang udah sepakat sama hal konyol ini?” tanya Bianca lagi karna tak kunjung mendapat jawaban dari Zayn.
“Sudah.” Jawab Zayn singkat.
“Abang!!!” pekik Bianca tak terima.
Zayn menatap adik bungsunya itu intens. Bukan takut Bianca malah mengabaikan tatapan Zayn padanya. Mata Bianca kini beralih pada Clarissa kakak iparnya, yang duduk di sebelah Zayn.
“Kak Rissa juga?” tanya Bianca menatap Clarissa.
“Sorry Bian," jawab Clarissa merasa bersalah.
“Pada kenapa sih semuanya? Bian ingatin sekali lagi ya, Bian itu masih 23 tahun, masih muda," cerca Bianca masih tak terima apa yang terjadi padanya.
“Mama tau Bian, tap---
“Kalau Mama tau kenapa harus ada perjodohan? Bian bisa kok nyari sendiri, Mama gak perlu bantu Bian untuk hal ini,” potong Bianca.
“Mama tau kamu bisa mencari sendiri, tapi mau kamu dapat suami yang terbaik untuk kamu.” Jawab Mama Sheila.
“Bian bisa cari yang terbaik untuk Bian mama tanpa perjodohan ini," kekeh Bianca.
“Butuh berapa lama Bian? Apa kamu bisa dapat yang terbaik itu dalam 1 Minggu?” tanya Mama Sheila beruntun membuat Bianca diam tak berkutik.
Bianca yakin dan percaya dia bisa mendapat lelaki yang terbaik untuknya namun Bianca juga percaya jika sangat mustahil baginya untuk mendapatkan Pria terbaik dalam waktu 1 minggu. Bianca adalah Diva yang sangat populer, kecantikan wajahnya membuat banyak Pria jatuh hati padanya. Namun sangat mustahil untuk Bianca mendapatkan Pria yang baik untuk di nikahi-nya.
“Kalau pun kamu dapat laki-laki yang menurut kamu baik, waktunya gak akan cukup untuk membuktikan dia benar-benar baik untuk kamu.” Ujar Mama Sheila lagi.
“Mama." panggil Bianca.
“Bian."
“Pi, usia Bian masih 23, Bian belum pengen nikah. Nikah gak ada di dalam agenda hidup Bian, Bian masih mau berkarir," ujar Bianca masih bertahan dengan argumennya.
“Kamu gak perlu itu semua Bian, Papi bisa ngasih semua yang kamu butuh, tanpa kamu harus jadi artis.” Ujar Mama Sheila membuat Bianca menghela nafas panjang.
“Mama, kita udah sepakat untuk gak bahas soal kerjaan Bian," ujar Bianca sambil menatap Mama nya.
“Terima perjodohan itu kalau begitu."
“Tap—.”
“Mama mohon.” mohon Mama Sheila sambil menatap lembut Bianca. Bianca kembali diam tak bisa menjawab permintaan Mama Sheila.
“Turutin Bian.” Ujar Zayn menatap adiknya.
Bianca menatap tajam Abangnya. “Abang jangan ikut campur! Ini hidup Bian, Bian yang nentuin!” ujar Bianca dengan nada kesalnya.
“Bianca," tegur Papi Arya.
“Bian belum mau nikah papi, semua rancangan hidup yang udah Bian susun kacau Pi kalau Bian turuti untuk menikah sekarang,” ujar Bianca dengan nada memelas pada Papi Arya.
“Dengan menerima perjodohan ini kamu gak akan langsung menikah sayang. Papi akan kasih kamu waktu untuk menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan calon suami kamu.” Ujar Papi Arya.
Bianca kembali diam tak menjawab.
“Kamu mau kan?” tanya Papi Arya.
“Enggak.” Ujar Bianca cepat.
Mama Sheila menghela nafas panjang. Bianca hanya menoleh pada mamanya.
“Ya udah kalau kamu gak mau.” Ujar Mama Sheila sambil berdiri dari duduknya dengan wajah kecewa, kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
Setelah mamanya pergi ke kamar, Papi Arya juga menghela nafas tak kalah panjang. “Papi harap kamu pikir kembali.” Ujar Papi Arya pada Bianca.
“Papi.”
“Semua demi kebaikan kamu Bian, demi kebaikan mama dan kebaikan kita semua.” Ujar Papi Arya membuat Bianca terdiam sejenak.
Belum sempat Bianca menjawab, papinya sudah berdiri dan berlalu ke kamar. Kini tinggallah Bianca dan kedua kakaknya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan aneh yang tak Bian sukai.
“Kenapa perjodohan itu terbaik buat Bian? Bian gak ngerasa kalau hal ini yang terbaik buat Bian.” Ujar Bianca meluapkan emosinya.
“Karena kamu gak mau untuk menerima kebaikan itu, makanya kamu gak bisa merasakan jika ini yang terbaik buat kamu.” Ujar Zayn menjawab kekesalan Bianca.
Bianca menoleh pada Zayn.
“Abang gak tau rasanya tiba-tiba diminta nerima perjodohan disaat Abang udah nyusun rancangan hidup!" cerca Bianca menatap tajam Zayn.
“Abang tau Bian," jawab Zayn.
“Liar! Abang gak tau, Abang sama kak Rissa nikah setelah pacaran bertahun-tahun," balas Bianca.
“Abang ngerasain hal itu ketika Abang diminta untuk mau menerima perjodohan kamu ini," balas Zayn membuat Bianca terdiam dan tak bisa kembali mempertahankan argumennya.
Rissa menyentuh tangan Zayn untuk memberi sedikit kekuatan dan rasa tenang pada suaminya, dia tak mau jika Zayn salah berucap pada Bianca.
“Abang merasa sangat berat diawal, tapi setelah melihat dari berbagai sisi. Abang yakin jika ini yang terbaik buat kamu dan juga kita semua.” Ujar Zayn lagi.
Bianca menatap Zayn dalam. “Kalian gak jual Bian untuk perusahaan kan?” tanya Bianca asal.
Zayn tertawa sumbang. “Andai itu alasannya, akan lebih mudah untuk Abang berdiri di sisi kamu dan menolak ide gila ini.” balas Zayn dengan nada remeh.
“Kalau bukan karena hal itu, kenapa Bian harus nerima perjodohan ini?” tanya Bianca lagi.
“Karna ini yang terbaik.” Ujar Zayn mantap.
Singkat, padat, jelas. 4 kata yang diucapkan oleh Zayn membuat Bianca tidak bisa menjawabnya lagi. Dia dibuat tak bisa berkata-kata, namun meski begitu hatinya belum bisa menerima ide perjodohan ini.
“Pikirkan hal ini lagi Bian, suatu saat kamu pasti akan mengerti mengapa Abang menyetujui perjodohan ini.” ujar Zayn lagi.
Seperti kedua orang tuanya, Zayn beranjak dari duduknya sebelum Bianca menjawab ucapannya. Dan lagi tinggallah Bianca dengan segenap rasa ragunya.
“Kak Rissa.” Panggil Bianca.
“Yang diucapkan Zayn bener Bian. Gak mungkin semua keputusan besar ini diambil tanpa sebab Bian. Kakak gak ada hak ikut andil dalam urusan masa depan kamu. Tapi jika kamu tanya apa pendapat kakak mengenai ini---- di mata kakak ini juga adalah yang terbaik untuk kamu.” Ucap Clarissa tulus menambah rasa ragu di dalam diri Bianca.
“Sama siapa?”
“Hm?”
“Bian dijodohin sama siapa?” tanya Bianca sambil menoleh pada Clarissa. "Setidaknya Bian tau kan siapa orangnya?" tanyanya lagi.
“Kamu mau nerima?” tanya Clarissa semangat.
“Mungkin, tergantung siapa dia. Kalau itu sesuai kemauan Bian mungkin Bian mau," jawab Bianca tak yakin dengan apa yang diucapkannya.
Clarissa tersenyum singkat.
“Kamu kenal siapa dia," ujar Clarissa yakin.
“Siapa?” tanya Bianca dengan alis yang terangkat sebelah.
“Rezvan Resgiantana.”
“What?!” pekik Bianca kuat. Suara gadis itu bahkan menggelegar satu ruangan.
“Bian.”
“Sorry kak, gak sengaja. Bian kaget.” Maaf Bianca sambil tersenyum kikuk.
“Kenapa kamu kaget sekarang? Tadi perasaan tadi enggak deh.” ujar Clarissa menatap bingung adik iparnya.
“Tunggu tunggu-- sebentar--- ini yang kakak maksud Rezvan Resgiantana anaknya om Evan, teman Papi yang ganteng gak ketulungan itu?” tanya Bianca dengan muka yang mengingat-ingat.
“Huusshh Bian,"
“Memastikan kak, om yang ganteng itu kan?”
“Iya Rezvan anak om Evan.”
“Yang adiknya Dylan?” tanya Bianca lagi.
“Hm gimana? Abangnya Dylan maksud kamu?” tanya Clarissa membenarkan pertanyaan Bianca.
“Haa, iya itu pokoknya."
“Iya Rezvan itu.”
“Rezvan yan----
“Iya Rezvan yang itu, Rezvan sahabatnya Abang kamu.” Potong Clarissa tau kemana arah pertanyaan Bianca.
“No no no, Bian gak mau sama dia. Dia tua banget kak.” Ujar Bianca tak terima.
“Beda umur itu biasa dek.” balas Clarissa enteng.
“Kenapa gak sama adik nya aja kalau emang mau jodohin?” tanya Bianca lagi.
Clarissa menggedikkan bahunya singkat, itu di luar batasan Clarissa, jadi dia tidak bisa menjawabnya.
“Tapi bukannya dia gay ya kak?” tanya Bianca dengan wajah polos.
“Kata siapa?” tanya Clarissa dengan wajah kaget.
Pasalnya selama dia mengenal manusia bernama Rezvan dia tak pernah mendengar kabar tersebut dan Zayn juga tak pernah mengatakan hal itu padanya. Jika dia terlalu setia kawan pun, dia pasti tidak akan mengorbankan adiknya demi melindungi rahasia gelap temannya.
“Bian pernah liat di media sosial.” ujar Bianca.
“Jangan kemakan hoax kamu.”
“Tapi buktinya gak pernah ada cewek yang deket sama dia. Satu nama pun gak pernah ada, padahal dia pengusaha terkenal dan juga masih keluarga artis yang banyak disorot," jelas Bianca.
“Gak ketahuan kali kalau dia dekat sama cewek," ujar Clarissa membela Rezvan.
“Gak mungkin kak, fans dia kan gila banget. Mana mungkin mereka gak tau.” Ujar Bianca tak mau kalah argumen.
“Kok kamu tau?” tanya Clarissa balik.
“Hm? Bukannya udah rahasia umum?” tanya Bianca dengan wajah kikuk.
“Enggak, kalau kamu gak bilang kakak gak tau tuh," jawab Clarissa.
“Mungkin itu karena kakak kebanyakan main sama anak makanya gak tau berita terkini,” Ujar Bianca mencari pembelaan.
“Masa?” tanya Clarissa dengan wajah menggoda Bianca, Bianca hanya bergumam tak mau memperpanjang obrolan tentang hal itu.
“Terus jadi gimana? Mau kan?” tanya Clarissa.
“Big no! Dia tua kak.”
“Gak keliatan kok, kalau jalan sama kamu masih cocok kok, gak keliatan beda jauh umurnya.” ujar Clarissa membujuk Bianca.
“Maksudnya aku yang tua gitu?” tanya Bianca tak terima.
“Ahh? Bukan bukan, bukan gitu maksud kakak. Umur kalian memang lumayan terpaut jauh. Tapi masih cocok kalau jalan bareng ke kondangan.” jelas Clarissa jujur.
Ya memang benar yang dikatakan Clarisa, Rezvan manusia yang tidak pernah menua. Meski sudah menginjak kepala 3 dia masih terlihat seperti berkepala 2.
Mendengar ucapan kakak iparnya sontak membuat Bianca menggedik ngeri seketika.
“Pikirin lagi Bian. Dia laki-laki baik kok dan kakak jamin dia bisa jadi yang terbaik untuk kamu.” ujar Clarissa menutup pembicaraan mereka.
Bianca hanya diam tak menjawab. Otaknya saat ini sedang berfikir dengan keras akan perjodohan ini. Menerima tentu sangat berat baginya namun menolak akan lebih sulit lagi baginya..
===
Dua Minggu berlalu.
Sudah 2 Minggu ini Bianca tidak pulang ke rumah orang tuanya. Bukan karena sedang merajuk atau mengadakan demo perihal perjodohannya. Namun Bianca tengah disibukkan syuting film. Selama 2 Minggu ini, Bianca harus menginap di tempat yang tidak jauh dari tempatnya syuting agar tidak ribet. Hari ini Bianca sudah selesai syuting, tidak ada lagi alasan untuknya tidak pulang ke rumah orang tuanya.
“Mama.” Sapa Bianca dengan riang.
Mama Sheila hanya bergumam pelan. Sudah 2 Minggu ini mamanya bersikap acuh tak acuh padanya. Jangankan untuk mengunjungi ke lokasi syutingnya, menelpon atau memberi kabar saja tidak. Bianca sangat tau apa penyebab merajuknya mamanya, tentu saja tak lain dan tak bukan adalah perihal perjodohan yang tidak jelas di mata Bianca.
“Ma, Bian udah gak pulang 2 Minggu masih mau dikacangin?” tanya Bianca dengan bibir yang mengerucut.
“Kan kamu suka gak pulang, suka karena gak ada Mama yang gak maksa buat nerima perjodohan kamu.” Ujar Mama Sheila ketus.
“Ihh mama enggak, mana ada kayak gitu.” Ujar Bianca tak terima atas tuduhan Mama nya.
“Iya, terserah kata kamu aja. Mama capek, mau istirahat dulu, kamu ke kamar sana tidur.” Ujar Mama Sheila tanpa menoleh pada Bianca.
“Ma.” panggil Bianca.
“Besok masih harus keluar lagi kan, ada acara di mana itu rasanya? Aduh lupa mama, di mana sih itu."
“Mama, dengerin Bian dulu," ujar Bianca menatap lembut Sheila.
“Hm, iya. Kenapa?” tanya Mama Sheila mengalah.
“Mama masih marah sama Bian soal perjodohan itu?” tanya Bianca dengan sikap pura-pura tidak tau.
“Enggak. Kalau kamu gak mau yasudah. Mama gak akan maksa kok." ujar Mama Sheila sambil tersenyum pada Bianca.
Bianca tau akan sangat ada apa-apa jika dia tidak menuruti keinginan ibu negaranya ini. Mungkin saat ini Mamanya berdalih jika dia tak akan memaksa namun di belakang dia yakin mamanya akan mencak-mencak pada Papinya.
“Ya udah iya.” Ujar Bianca pasrah.
“Ya udah mama ke kamar ya.” Pamit Sheila.
“Mama," panggil Bianca merengek.
“Apalagi Bian?” tanya Sheila.
“Bian kan udah jawab iya. Kenapa mama masih marah sama Bian?” tanya Bianca lucu.
Sheila bergumam sambil mengernyitkan dahinya.
“Ya udah iya Bian mau, Bian di jodohi sama orang pilihan Mama? Sama kak Rezvan atau Dylan?” tanya Bianca beruntun.
Mata Sheila berbinar menatap Bianca. “Kamu beneran mau Bian?” tanya Sheila semangat.
Bianca hanya bergumam pelan sebagai jawaban.
“Bian.”
“Iya mama.”
“Makasih sayang.”
“Iya.”
“Tapi bentar kok kamu tau sama Rezvan?” tanya Mama Sheila sambil menyipitkan matanya.
“Kak Rissa yang ngasih tau.”
“Hmm begitu, jangan bilang kamu mau karna tau sama Rezvan.” Tuduh Mama Sheila sambil tersenyum menggoda Bianca.
“Dihh apaan, enggak ma. Bian malas aja dengar mama merajuk lama-lama. Mana Raffa sampai ngadu sama Bian kalau muka Nena nya ditekuk mulu.” ujar Bianca mengelak dari apa yang dituduhkan oleh Mama Sheila.
Sheila tersenyum lebar berbanding terbalik dengan sebelumnya. “Tapi kamu beneran mau kan ini?” tanya Mama Sheila memastikan.
“Iya..”
“Ya udah mama mau ngasih tau yang lain dulu. Mama mau nyiapin semuanya dari sekarang. Kamu gak masalah kan kalau tunangan Minggu depan?”
“Ma..”
“Tenang aja, semua mama yang ngurus, kamu syuting aja. Kamu terima beres aja.” Ucap mama Sheila membuat Bianca melongo mendengar ucapan mamanya.
Bukankah wanita yang di panggilnya Mama ini tadi mengeluh lelah? Mengapa dia terlihat begitu bersemangat saat ini?
“Terserah mama terserah. Bian pusing dengernya.” Ujar Bianca sambil berdiri dari duduknya hendak beranjak ke kamarnya. “Tapi ma.” Ujar Bianca sambil menatap Mamanya.
“Tapi? Tapi apa?”
“Hmm. Gak masalah kan kalau semua ditutupi dulu?” tanya Bianca pelan.
Sheila menatap putri nya bingung.
“Kan mama tau Bian lagi syuting film sekarang, gak masalah kan kalau ini ditutupi dari publik sampai film ini rampung semua.” Ujar Bianca memberi penjelasan pada Mamanya.
Mama Sheila hanya diam tak menjawab.
“Bian cuman gak mau film ini kena dampak dari berita Bian.” Ujar Bianca lagi memberi pengertian pada Mamanya.
“Oke. Asal kamu gak aneh-aneh. Dan juga tidak ada pembatalan pada pertunangan ini, apapun yang terjadi.” Ujar Mama Sheila memberi kesepakatan dengan Bianca.
Bianca diam sejenak memikirkan jawaban akan permintaan Mamanya.
“Oke Bianca?” tanya Mama Sheila tak sabar.
“Oke ma, lagian Bian mau aneh-aneh apa coba."
“Good, ya udah sana kamu istirahat.” Perintah Mama Sheila dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Iya ma.” Ujar Bianca sebelum akhirnya Bianca beranjak pergi dari tempatnya berdiri.
“Ini udah bener kan? Gak masalah kan nerima permintaan mereka? Ingat Bian, anggap ini yang terbaik buat kamu.” Batin Bianca sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
To be continue..