BUA 2

1620 Words
Happy Reading... Malah hari seperti biasa Alvin membacakan cerita pengantar tidur untuk Aina. Kebetulan malam ini cerita yang di bacakan Alvin adalah cerita tentang nabi yusuf as. "Papa Nabi Yusuf kok nda malah dibuang ke sumul?" tanya Aina. "Enggak karena nabi Yusuf tau sesama manusia kita enggak boleh saling marah, enggak boleh saling dendam,  enggak boleh iri hati. Begitu sayang." "Papa Ngantuk." ucap Aina sambil mengucek mata. "Yaudah sekarang Aina baca do'a dulu ya. Coba papa mau dengar." " بِسْمِكَ االلّٰهُمَّ اَحْيَا وَبِاسْمِكَ اَمُوْتُ Bismika Allaahuma ahyaa wa bismika amuutu Artinya: "Dengan menyebut nama-Mu, Ya Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati" Ucap Aina "Pintarnya putri papa. Sekarang bobo ya." ucap Alvin sambil memeluk dan mencium putrinya. Alvin memastikan dulu apa Aina sudah benar benar tidur. Setelah itu barulah Alvin pergi ke kamarnya sendiri dan kembali mengerjakan pekerjaan yang seharian tertunda karena Aina yang selalu menempel dengan dirinya. Tak terasa sudah berjam jam Alvin duduk di meja kerjanya. Ternyata sudah tengah malam. Sebelum dirinya tidur Alvin kembali ke kamar Aina untuk mengeceknya. Alvin duduk di samping tempat tidur Aina sambil mengelus rambut putrinya kemudian membacakan do'a : رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ (Robbiy habliy mil ladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka sami’ud du’a’) “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa" (Qs.al-Furqon : 38) رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ (Robbij’alniy muqimash sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a’) “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku" (Qs.Ibrahim : 40) Setelah itu Alvin mencium kening dan rambut Aina lalu membaringkan tubuhnya di samping Aina. Entahlah Alvin ingin bersama putrinya malam ini. Membesarkan seorang anak sendiri tentu bukan hal mudah apalagi Alvin masih tergolong muda. Untunglah banyak yang selalu mendukungnya. Tapi sudahlah takdir bukan untuk terus diratapi. Pagi sekali bahkan sebelum waktunya bangun Aina sudah bangun lebih dulu kemudian memeluk Alvin yang masih berbaring di sebelahnya. "Assalamualaikum. Putri Papa udah bangun ya." Aina yang baru membuka mata belum mau menanggapi. Ia malah kembali memeluk Alvin. "Ikut Papa shalat subuh ke masjid gak?" Aina menggeleng. "Aunty Zia tadi ngajak Aina ikut ke sekolahnya Abang Azzam loh. Aina mau ikut gak?" "Papa?" "Papa kan harus ke kantor sayang. Kemarin kan udah main sama Aina. Aina ikut aunty Zia mau?" Aina mengangguk. Pukul 06.00 Alvin sudah selesai mengurus Aina. Aina sudah rapi sekarang giliran Alvin sendiri yang bersiap. "Nah Aina udah siap. Aina tunggu Papa siap siap ya." "Iya Papa." Seperti anak kecil pada umumnya, Aina yang belum lama menunggu sudah merasa bosan. Ia keluar dari kamarnya lalu menuju kamar Alvin. "Papa. Papa." panggilnya sambil memukul pintu dengan kedua telapak tangan kecilnya. "Iya sayang kenapa? Papa kan udah beritahu sama Aina, kalau masuk rumah, masuk ruangan atau masuk kamar itu harus apa?" tanya Alvin setelah membuka pintu dan berjongkok si depan Aina. "Talam ikum Papa." (Note : Ini bukan berniat melecehkan salam ya kawan. Hanya mengikuti sudut anak usia 3 tahun yang belum sempurna dalam pengucapan salam. ) Alvin mengusap kepala Aina. "Ayo Papa Aina au temu bang kembal." "Oke sayang yuk berangkat. Mau bawa s**u gak?" tanya Alvin. "Bei aja ama aty Zia." "Yaudah kita berangkat." "Ndong." kata Aina sambil merentang tangannya. "Gak ah berat Aina endut." kata Alvin lalu berdiri. Terlihat Aina sudah cemberut dan bibirnya bergetar. "Hahaha Papa becanda sayang. Hmm gemes banget si anak shalehah nya Papa." kata Alvin lalu menciumi Aina. "Nakal." jawab Aina sambil cemberut. "Uduu jadi malah nih tuan putli nya papa?" kata Alvin dengan meniru gaya anak kecil. "Papa nakal." "Haha iya sayang maaf ya. Papa cuma bercanda maaf oke." kata Alvin sambil mengusap pipi tembam Aina. Aina mengangguk masih sambil cemberut. "Senyum dong kalau Papanya udah dimaafkan." Aina masih enggan tersenyum. Alvin mengangkat Aina lalu menciuminya semuka muka sampai ke perut hingga Aina tertawa karena kegelian. "Haha dah Papa dah Papa." kata Aina di tengah kegeliannya. "Nah gitu dong ketawa. Kiss dulu Papa nya." kata Alvin. Aina menurut ia mencium pipi Alvin. "Oke sekarang kita berangkat." kata Alvin sambil memindahkan Aina ke pundaknya. "Yeee tinggi." kata Aina yang memang kesenangannya digendong di pundak. Alvin tersenyum, tekadnya selalu sama hal sekecil apapun yang membahagiakan Aina dan baik untuk Aina maka itu yang akan Alvin lakukan. Sampai di rumah Arvan dan Zia, setelah salam pada uncle dan auntynya Aina langsung mencari abang abang nya. "Aty Zia, bang Zam tama bang kembal mana?" "Ada di kamar Aina ke kamar aja." Aina langsung berlari ke kamar. "Jangan lari sayang." kata Zia mengingatkan. Tapi Aina sudah jauh berlari. "Nitip ya kak, bang. Nanti Alvin pulang kantor langsung jemput." "Iya udah tenang aja." "Abang gak ke Rumah Sakit?" "Nanti siangan. Azzam pengen ditemani sama dua duanya." "Alvin udah sarapan belum? Sarapan bareng aja di sini sama abang." kata Zia. "Ah ide bagus tuh kak. Alvin belum sarapan kebetulan." "Dek pake ditawari kesenengan dia mah." canda Alvin  "Ya Allah bang sama adeknya juga masa gitu." "Nah bener tuh marahi kak." ucap Alvin. "Alvin diam." tegur Arvan. "Udah ah kenapa sih. Ini bapak bapak udah pada beranak juga masih aja suka ribut." "Sana sarapan. Kalau gak mau yaudah." kata Zia sambil meninggalkan keduanya. "Gak di temani dek?" tanya Arvan. "Nggak udah berdua aja sama Alvin." "Ya tapi..." "Udah si bang jangan manja. Alvin aja biasa makan sendiri biasa aja." "Ya kau emang sendiri." "Sembarangan Alvin emang sendiri tapi jangan salah yang ngantri banyak kalau niat mah cari buat menemani makan aja sih banyak yang mau." "Suka suka kau Vin." kata Arvan meninggalkan Alvin. Aina bersama Arzia sekeluarga sedang dalam perjalanan ke sekolah Azzam. Aina tampak senang bercerita bersama Azzam di sepanjang perjalanan. "Adek nanti adek sekolahnya di sekolah abang aja ya." "Napa?" "Iya biar abang bisa jaga adek nanti. Adek kan perempuan, perempuan kan harus di jaga. Iya kan yah?" kata Azzam meminta persetujuan Ayahnya. "Iya sayang." jawab Arvan sambil mengemudi. "Aina mau cekolah." celetuk Aina. "Emang usia Aina sekarang berapa tahun?" tanya Zia. "Tli." jawab Aina. "Boleh kok kalau Aina mau sekolah. Aina tinggal bilang aja sama Ayah. Nanti Aina sekolahnya di sekolahan Abang Azzam aja biar sekalian uncle anterin." kata Arvan. "Yee Adek sekolah sama Abang." kata Azzam. "Yee cekolah." kata Aina mengikuti Azzam. Sampai di sekolahan Azzam, Azzam langsung masuk ke kelas dan persiapan untuk perform sedangkan Arvan, Zia dan Aina duduk di tempat yang di sediakan untuk tamu. "Bang mana?" tanya Aina. "Abangnya masih siap siap dulu sayang nanti sebentar lagi." kata Arvan. Selesai dengan perform nya Azzam menghampiri Aina. "Adek ikut abang yuk." "Mau kemana bang?" tanya Zia. "Beli es krim bunda." "Bei e klim. Ayo bang." sahut Aina. "Boleh ya bun." bujuk Azzam. "Yaudah tapi hati hati. Jaga adeknya ya bang." ucap Zia "Iya bunda siap." jawab Azzam "Tiap." kata Aina menirukan. Aina pergi bersama Azzam untuk membeli es krim, tidak jauh dan masih dapat terpantau oleh Arvan dan Zia mangkanya mereka membiarkan anak anak pergi sendiri. Saat sudah mendapatkan es krimnya Aina nampak asik dengan es krimnya hingga berjalan tidak melihat lihat. Alhasil ia harus rela kehilangan es krimnya yang mendarat ke tanah. Tapi bukan hanya itu sebelum jatuh es krim yang dipegangnya terlebih dahulu mengotori pakaian orang lain yang tidak sengaja tertabrak oleh Aina. "Eh aunty maafkan adek ya." ucap Azzam. "Eh iya gak apa apa sayang. Aunty gak apa kok. Adek juga gak apa apa kan?" tanya wanita itu sambil berjongkok menyamakan posisinya dengan Aina yang masih berjongkok di haapannya sambil memandangi es krimnya. Didekati seperti itu Aina malah menangis. "Loh kok nangis." kata wanita itu sambil mengusap pipi Aina. "Adek mau es krimnya lagi?" tanya wanita tersebut pada Aina. Aina menggeleng dan masih tetap menangis. "Ini adek makan punya abang aja." kata Azzam sambil menyerahkan es krimnya pada Aina. Lagi lagi Aina menggeleng. "Mau beli lagi sama aunty?" tanya wanita tersebut. Aina kembali menggeleng. "Terus kenapa masih nangis?" tanya wanita tersebut dengan sangat lembut. "Maaf Aty." kata Aina sambil menangis. Wanita itu merasa gemas sendiri ia langsung memeluk Aina. "Maaf untuk apa?" tanya wanita tersebut sambil mengusap air mata di pipi Aina. "Baduna aty dadi kotol." jawabnya sambil terisak. "Gak apa apa sayang. Nantikan bisa aunty cuci sendiri." jawabnya tanpa nada marah sedikitpun. "Aty gak malah?" tanya Aina. "Enggak dong kan adek gak sengaja. Udah ya gak boleh nangis lagi. Aunty juga minta maaf ya soalnya tadi aunty jalannya buru buru." Aina dan Azzam sama sama mengangguk. "Oh iya adek namanya siapa?" tanya wanita tersebut. "Aina." jawab Aina. "Cantik." kata wanita itu sambil mengusap kepala Aina. "Kalau ini abang, namanya abang Azzam ya." kata wanita itu sambil melihat Azzam. "Iya." jawab Azzam. Dari kejauhan Arvan yang melihat anak anak berinteraksi dengan orang asing langsung menghampiri mereka.  "Assalamu'alaikum." sapa Zia. "Wa'alaikumsalam bunda." jawab Azzam. Wanita itu yang awalnya berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan Azzam dan Aina kini sudah berdiri dan menyapa Arvan dan Zia. "Wa'alaikumsalam." katanya ikut menjawab. "Adeknya kenapa bang?" tanya Arvan. "Eh maaf pak bu. Saya tadi tidak sengaja bertabrakan dengan adek ini. Es krimnya jadi jatuh dia nangis." jelas wanita itu. "Oh iya maaf perkenalkan saya Haifa." kata wanita itu lagi sambil mengulurkan tangan pada Zia. "Zia." sambil menerima uluran tangan Haifa. Sedangkan pada Arvan, wanita itu hanya menangkupkan tangan di d**a. "Iya bunda adek tadi nabrak aunty ini. Terus es krim adek jatuh kena baju aunty terus jatuh. Tapi adek udah minta maaf kok sama aunty. Iya kan aunty?" "Iya bu. Maaf saya juga lancang peluk adeknya soalnya saya terlalu gemas. Adeknya cantik dan baik sekali. Jarang anak seusia ini berani meminta maaf." jelas Haifa. "Sekali lagi saya minta maaf ya. Dan mohon maaf saya harus permisi. Assalamu'alaikum." pamit Haifa. "Waa'alaikumsalam." Sementara itu Aina masih diam saja. Entah karena es krimnya yang jatuh atau karena merasa bersalah mengotori pakaian orang lain. Entahlah hanya Aina yang faham dengan keterdiamannya. "Sayang sini." kata Zia lalu menggendong Aina. "Aina udah minta maafkan sama aunty nya?" Aina mengangguk. "Pintar." kata Zia sambil mengelus kepala Aina. "Aina nakal. Nanti Papa malah tama Aina. Kalau Papa malah Aina tama tapa?" *** To be continued... Thanks you...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD