"Pokoknya, hari ini kita pesta!" teriak Lea yang membuat Selma, Fasha dan Zidan tersenyum.
Hari ini mereka semua makan malam di sebuah restoran yang berada di Jakarta untuk merayakan hari pernikahan Selma dan Fasha. Keluar kecil itu saling bersenang-senang, tertawa bersama dan membuat kenangan yang indah. Lea sedari tadi makan sembari terus mengoceh hingga Zidan menegurnya.
"Makan yang benar, jangan ngomong terus!" tegur Zidan dan Lea hanya mengerucutkan bibirnya membuat orang yang melihatnya menjadi gemas.
Selma dan Fasha hanya tertawa melihat tingkah laku kedua anak mereka. Hingga tiba-tiba, datang seorang perempuan dan satu anak remaja perempuan menghampiri meja tersebut.
"Mas." Perempuan tersebut memanggil Fasha yang membuat Fasha terkejut.
"Dia siapa, Mas?" tanya Selma yang membuat Fasha gusar.
"Dia itu ...."
"Siapa?" tanya Selma lagi.
"Saya istrinya Mas Fasha."
Selma menatap tak percaya sementara Lea hanya menampilkan ekspresi bingungnya.
"Istri? Papa punya istri dua?" tanya Lea yang membuat hati Fasha merasa teriris.
"Bukan gitu, Papa ...."
"Udah, Mas. Cukup! Lima belas tahun kamu ninggalin kewajiban kamu. Ini Aletta, anak kamu," jawab perempuan itu sembari menunjuk gadis remaja yang bernama Aletta Azilia.
"Aletta?" tanya Lea. "Aletta itu kan aku."
"Dia siapa? Jawab yang jujur, Mas!" teriak Selma dengan air mata yang mengalir deras.
"Dia istri aku," jawab Fasha pelan.
Selma mengambil gelas berisikan air yang berada di atas meja kemudian menyiramnya ke arah Fasha.
"Aletta, Zidan. Ayo kita pulang!" seru Selma sembari menarik lengan Lea.
Semenjak kejadian itu, keluarga Lea benar-benar tidak harmonis. Mereka tinggal serumah dengan Ranti yang merupakan istri kedua Fasha. Lea tidak lagi mau dipanggil Aletta karena Lia memiliki nama depan yang sama dengannya.
Lia selalu mencari perhatian di depan semua keluarganya, hingga oma dan opa Lea menyayangi Lia lebih dari mereka menyayangi Lea. Lea membenci itu. Sampai suatu ketika, Ratna meninggal dan Lea yang dituduh sebagai penyebab meninggalnya Ratna.
Perlahan mata Lea terbuka. Kenangan itu muncul lagi di kepalanya. Lea benar-benar membencinya. Setelah kejadian mencekik leher Fasha, Lea memilih menenangkan diri di kamarnya. Penampilannya benar-benar kacau saat ini.
Mengalami alter-ego kembali adalah hal yang paling Lea benci. Baginya, sebutan gila adalah hal yang pantas untuknya. Dia merasa dirinya perusak, seorang pengecut yang tidak berani berbicara jujur. Seorang pembenci tetapi tidak ingin menghancurkan.
Lea pergi menuju ke dalam toilet untuk mencuci wajahnya. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan Lea tidak bisa tidur.
Semuanya berjalan begitu cepat, ucapan Fasha benar-benar mengganggu pikiran Lea. Jika dirinya adalah anak Ratna, maka Lia sudah membunuh ibu kandungnya dan ia harus membuat perhitungan dengannya. Lea membasuh wajahnya kemudian menatap dirinya di pantulan cermin. Seringaian licik muncul di wajah cantiknya.
"Lest play the game, Aletta!"
Lea hanya tertawa meremehkan kemudian keluar dari kamar mandi tersebut. Merebahkan dirinya di atas kasur, menyiapkan seragam dan sepatunya untuk ia pakai sekolah besok karena sudah lebih dari satu minggu ia tidak sekolah.
*****
Pukul enam lewat tiga puluh menit, Lea segera keluar dari kamarnya untuk berangkat ke sekolah. Ia melewati keluarnya begitu saja kemudian keluar dari rumah. Lea menunggu angkutan umum yang akan membawanya menuju sekolah. Jujur, Lea membenci sekolah. Namun sekarang, Lea lebih membenci rumah dibanding sekolah. Setelah menemukan sebuah bus, Lea segera menaiki bus tersebut dan pergi menuju sekolah.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke sekolahnya. Dari depan gerbang sudah banyak murid-murid yang menggunakan seragam khas SMA Fortuna. Lea berjalan santai melewati gerbang. Banyak orang yang menatapnya namun gadis itu tidak memperdulikannya.
"Lea!" panggil Irsyad yang membuat Lea menoleh ke arahnya. Pria itu berlari menghampiri Lea. Meninggalkan ketiga temannya, Beno, Romeo dan Januar.
"Dasar, bucin!" teriak Beno dan Irsyad hanya membalasnya dengan mengacungkan jari tengahnya.
"Lo ke mana aja? Gue nggak lihat lo di sekolah seminggu lebih," tanya Irsyad.
"Gue liburan," jawab Lea asal.
Keduanya kini berjalan menuju kelas. Banyak tatapan aneh namun mereka bersikap tidak acuh dan tetap meneruskan langkah mereka.
"Irsyad!" Mereka berdua berhenti setelah mendengar suara Lia yang memanggil nama Irsyad.
"Gue duluan," pamit Lea yang membuat Irsyad menatap kesal ke arah Lia.
"Lo ngapain, si?" tanya Irsyad kesal.
"Ya, mau nyamperin lo," jawab Lia sembari bergelayut manja di lengan Irsyad yang membuat Irsyad risih. Di saat itu, ketiga teman Irsyad datang dan langsung menertawakan Irsyad.
"Cie, yang digelayutin sama monyet," ledek Romeo yang membuat Beno dan Januar menahan ketawanya.
"Maksud lo? Gue monyet?" tanya Lia dengan nada kesal.
"Lo sendiri yang bilang, bukan gue," jawab Romeo santai dan Irsyan menahan ketawanya
"Lo kasih pisang aja, Syad. Biar itu monyet jinak," ujar Beno yang membuat tawa ketiga pria yang ada di sana pecah.
"Udah, biarin Irsyad jadi tukang topeng monyet, kerja sampingan buat bayar SPP," ucap Januar dan akhirnya pergi bersama Romeo dan Beno.
"Makannya, nggak usah gatel!" sarkas Irsyad.
*****
Lea masuk ke dalam kelasnya dan langsung mendapat tatapan aneh dari teman-temannya karena Lea sudah seminggu lebih tidak sekolah.
"Lontenya sekolah udah masuk, Guys!" seru salah seorang teman sekelasnya, Nico.
"Mulut lo nggak pernah disekolahin?" tanya Almi dengan wajah yang sudah murka.
"Lah? Bukannya Lea emang l***e sekolah?" tanya Nico yang membuat emosi Almi semakin terpancing.
"Kalau gue l***e sekolah kenapa? Lo mau gue puasin?" tanya Lea dengan nada dingin.
"Pernah lo ngelihat gue bispak?"
"Pernah lo ngeliat gue main sama Om atau jadi wanita bayaran?"
"Punya mulut dijaga! Jangan jadi banci yang beraninya ngatain cewek! Bahkan mungkin banci sendiri derajatnya lebih tinggi dari lo."
Nico diam. Ucapan Lea benar-benar membuat dirinya telak dan bisu. Lea benar-benar seperti obat bius yang dapat membuat orang diam.
Lea berjalan ke mejanya dengan sebelumnya menggebrak meja Nico kemudian membisikan sesuatu. "Kalau lo mau hidup lo tenang, jangan pernah ngeluarin sepatah kata apapun di hadapan gue! Ngerti?" tanya Lea dan Nico hanya mengangguk kaku.
Lea kini sudah berada di mejanya. Memasang earphone ke telinganya kemudian menyetel musik dengan volume yang kencang, kebiasaannya ketika berada di dalam kelas. Mengabaikan orang-orang yang menatapnya, memilih menaruh kepalanya di atas meja kemudian memejamkan matanya dan tertidur.
Baru saja memejamkan mata, ia merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Sekuat tenaga Lea menahan tubuhnya supaya tidak melakukan hal yang dapat melukai seseorang. Gadis itu mengambil sesuatu di dalam tasnya. Kemudian berlari keluar kelas yang membuat teman-temannya menatap bingung ke arahnya.
Lea pergi ke toilet dan mengunci dirinya di salah bilik yang terdapat di dalam toilet tersebut. Dirinya segera mengeluarkan sesuatu yang tadi ia ambil di dalam tasnya. Obat penenang. Les segera meminum obat tersebut dan mendudukan dirinya di lantai kamar mandi.
"Lo benar-benar kacau, Lea."