2.Fuck School

1050 Words
Lea terus saja menggerutu saat dirinya sudah keluar dari ruang OSIS. Ia benar-benar mengumpati ketua OSIS yang bernama Alfa itu. Lihat saja, Lea akan membuat perhitungan dengan pria itu.   "Aw!"   Lea meringis. Sebuah bola basket mengenai kepalanya dan itu sangat kencang. Lea melihat ke arah lapangan dan mendapati lima orang pria sedang menatap ke arahnya.   Ada satu orang yang melirik Lea sinis. Zidan, kakak kandungnya.   Tiba-tiba saja seorang pria menghampirinya dan mengambil bola yang berada di ujung sepatu Lea. Pria itu kemudian berdiri menatap kearah Lea.   "Tadi gue yang ngelempar bola. Sorry, nggak sengaja," ujar pria itu namun Lea hanya diam dan pergi begitu saja.   Irsyad Arkama. Ketua basket yang berada di kelas sebelas IPS 3 hanya bisa melongo saat melihat Lea pergi dari hadapannya.   "Tuh cewek gagu?" gumam Irsyad.   "Syad, gc! Lama banget si, lo!" interupsi dari Zidan membuat Irsyad kembali kelapangan dan melanjutkan permainannya.   Sebelumnya Irsyad telah melihat name tag Lea dan berniat mencari gadis itu sepulang sekolah.   Sementara itu. Lea kini sudah berada kembali di kelasnya dan duduk di bangkunya sembari memasang kembali earphone ke telinganya. Memutar lagu sekencang mungkin dan kembali menelungkupkan tubuhnya ke atas meja.   Perlahan, Lea menutup matanya dan tertidur pulas sampai tidak sadar jam masuk telah berbunyi.   Plak!   Sebuah penghapus papan tulis tiba-tiba saja terjatuh di atas kepala Lea membuat ia mau tak mau membuka matanya dan langsung terkejut saat seorang guru sedang menatap tajam ke arahnya.   Lea segera melepas earphonenya. Menyengir ke arah sang guru kemudian menunduk.   "Cuci muka kamu!" ujar Pak Martin.   Lea segera bangkit dari tempatnya kemudian pergi menuju kamar mandi.   Suasana koridor sekolah sangat sepi. Mungkin karena jam pelajaran telah dimulai. Meski ini hari pertama masuk sekolah. Hanya ada beberapa kelas yang terdengar seperti ada kehidupan. Yang lainnya sunyi.   Lea menggulung baju seragamnya kemudian mencuci mukanya di washtafel sekolah. Setelah selesai dirinya memutuskan untuk pergi kelapangan setelah melihat sebuah bola basket yang menganggur.   Dengan lihai Lea mendrible bola basket tersebut kemudian memasukkannya ke dalam ring.   "Hari pertama sekolah, dan lo udah mabal?"   Suara seorang pria membuat Lea membalikan tubuhnya. Setelah mendapati siapa yang berbicara Lea hanya menatap sinis ke arah pria itu.   "Bukan urusan lo," ujar Lea kemudian kembali melanjutkan permainannya.   Alfa. Pria itu kini merebut bola basket secara paksa dari tangan Lea dan mengangkat tinggi ke udara.   "Lo itu bisa nggak si, nggak usah ngerusuhin hidup gue?" tanya Lea dengan nada kesal.   Alfa kembali menurunkan tangannya dan melempar bola basketnya secara asal.   "Lo tau peraturan di sekolah ini, kan? Dan gue ketua OSIS, jadi gue berhak menegur atau mungkin menghukum murid yang ngelanggar aturan," jawab Alfa santai.   "Lo cuma babu sekolah! Jangan bangga!" ucap Lea sinis.   Alfa hanya tertawa renyah mendengar perkataan Lea yang mengatainya dengan julukan 'babu sekolah'.   "Tapi babu yang lo maksud bisa ngejadiin lo babu juga," jawab Alfa.   "Mau lo tuh apa sih?" tanya Lea emosi.   "Lo juga kelayapan pas jam pelajaran sekolah, kan? Yaudah artinya lo juga mabal!"   "Gue gak kelayapan. Gue cuma ngurusin murid bandel kaya lo," jawab Alfa masih dengan nada santai yang membuat Lea semakin kesal.   "Mau lo itu sebenarnya apa sih?" tanya Lea dengan wajah dan nada yang emosi.   "Gue mau lo masuk OSIS," jawab Alfa.   "Gue gak bakal pernah mau masuk organisasi yang isinya anak-anak pansos semua!" jawab Lea penuh penekanan.   "Kalo gitu mau gue, lo, jadi pacar gue," jawab Alfa yang membuat Lea membulatkan matanya.   "Gila, lo, ya?" tanya Lea dengan nada tinggi.   "Lo gak bakal bisa ngatasin cewe brandal kaya dia."   Suara seorang pria membuat Alfa dan Lea menengok ke arah sumber suara tersebut dan mendapati Zidan sedang berjalan ke arah mereka berdua.   Lea tertawa sinis di tempatnya kemudian menatap Zidan dengan tatapan yang sinis pula.   "Sebegitu gabut nya hidup lo sampai ngurusin hidup gue terus di manapun?" tanya Lea sinis.   "Harusnya yang lo urus ni cowo, bukan gue. Lo ajarin caranya sopan sama wanita," lanjutnya kemudian pergi meninggalkan kedua pria yang menurutnya tidak penting.   Alfa menoleh ke arah Lea sampai suara Zidan membuatnya terdasar.   "Lo suka sama Lea?" tanya Zidan dan Alfa menggeleng.   "Kalaupun gue suka sama dia, itu juga bukan urusan lo," jawab Alfa kemudian.   "Lea adik gue," ujar Zidan yang membuat Alfa terkejut.   "Anaknya gak bener. Nggak yakin gue ketua OSIS alim kaya lo, bakalan suka sama cewek berandalan kaya dia."   "Bener kata Lea. Lo harus belajar caranya sopan sama cewek." Alfa kemudian pergi meninggalkan Zidan.   *****   Lea benar-benar benci sekolah. Lea benci Alfa dan juga Zidan. Dua pria menyebalkan yang mengganggu hari pertama Lea sekolah.   Dirinya kini berada di halte untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Rok biru yang ia kenakan benar-benar tidak rapi.   Tiba-tiba saja ada seorang pria yang duduk di sebelahnya. Lea kenal wajah pria itu. Pria yang saat jam istirahat bermain bola basket dan mengenai kepalanya.   "Lo nungguin jemputan?" Irsyad bersuara.   "Nunggu ajal."   Irsyad tertawa saat mendengar jawab Lea yang menurutnya sangat lucu meskipun dengan nada sinis.   "Nama gue Irsyad. Nama lo, Lea, kan?" tanya Irsyad dan Lea hanya membalasnya dengan dehaman.   "Lo mau gue anter pulang?" tawar Irsyad dan Lea hanya diam.   Akhirnya angkutan umum yang Lea tunggu tiba. Ia memasuki angkutan umum tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Irsyad.   "Unik," gumam Irsyad.   Di dalam angkutan yang Lea tumpangi. Gadis itu kembali memasang earphone di telinganya dan kembali memutar musik. Mungkin musik adalah satu-satu teman yang setia dengan Lea.   Gadis itu turun di pintu masuk perumahan rumahnya setelah sebelumnya membayar ongkos kepada abang angkutan.   Lea berjalan dengan santai ke arah rumahnya. Perumahan yang ia tempati memang terkenal sepi. Kebanyak pemilik rumah bekerja dan rumah-rumah tersebut hanya diisi oleh pekerja-pekerja yang berada di rumah tersebut.   Sama halnya dengan rumah Lea. Saat ia pulang dirinya hanya mendapati para pekerja rumah yang sedang bekerja kemudian menegur kearahnya. Lea tidak membalas teguran tersebut bahkan hanya dengan senyuman sekalipun. Para pekerja di sana sudah tahu bagaimana sikap Lea.   Saat memasuki rumah, dirinya mendapati Zidan yang sedang menuruni tangga sambil bermain ponsel. Beda halnya dengan Lea, Zidan selalu membawa mobil kesekolah.   "Naik angkot, lo?" tanya Zidan saat dirinya sudah berada didekat Lea.   "Masalah, buat lo?" tanya Lea balik.   "Harusnya lo sadar diri. Kehadiran lo itu gak pernah dianggap di sini," ujar Zidan yang membuat Lea menatap kesal ke arahnya.   "Harusnya lo sadar diri. Kalau bukan karena gue, lo udah di penjara dan gak bakal bisa nikmatin harta bokap lo!" jawab Lea yang membuat Zidan bungkam
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD